Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
One Step Closer


__ADS_3

Maryam dan Jamie Scott, pada akhirnya harus tidur berdesakkan di atas sofa ruang tamu. Sepasang pengantin baru itu, bahkan masih terlelap meskipun hari sudah siang. Hal itu, membuat jiwa kesepian Rosmawati yang melihat mereka berdua seketika memberontak. Rosmawati tiba-tiba ingin segera menikah juga. Gerah hatinya ketika melihat Maryam yang tengah tertidur dalam dekapan Jamie Scott.


Gadis itu bergegas masuk ke kamar. Ia segera mengeluarkan koper dan membereskan semua barang-barangnya. Niat untuk bertemu dengan Mehmet semakin bulat, sebulat onde-onde  buatan Ceu Nining, tukang kue keliling yang biasa menjajakan kue buatannya setiap pagi, jika tidak hujan. Jika hujan, ya pake payung. Masa hujan-hujanan, kan ngga mungkin.


"Memet-ku, sayang-ku, pujaan hati-ku ... tunggu bidadari-mu datang," Rosmawati bicara pada dirinya sendiri sambil memeluk koper yang baru selesai ia tutup.


Di sisi lain, Tuan Edder merasa bingung sebingung-bingungnya. Pria paruh baya itu tertegun di dalam kamar mandi rumah milik Mak Odah yang menurutnya terlihat begitu aneh. Di sana, ada bak mandi yang cukup tinggi dan sebuah closet jongkok. Mr. Edder berkali-kali mengernyitkan keningnya. Namun, suara alarm darurat yang sejak tadi berbunyi, membuatnya terpaksa menghilangkan segala rasa ragunya.


Mr. Edder naik ke atas closet jongkok itu. Ia kemudian menurunkan celana tidur yang dikenakannya. Dengan segera, pria bertubuh tambun itu kemudian berjongkok sambil menghadap ke dinding bagian belakang closet. Tak lupa, ia meletakan kedua telapak tangannya pada dinding itu. Sikapnya seperti seorang pendekar yang tengah menyalurkan sebuah tenaga dalam.


Tidak nyaman? Tentu saja. Merasa aneh? Itu sudah pasti. Mr. Edder tidak sadar, jika dirinya telah menggunakan closet jongkok dengan posisi terbalik. Namun, pria itu tetap melanjutkan aktivitas rutinnya hingga selesai.


Nah, yang menjadi masalahnya sekarang, Mr. Edder merasa kembali bingung. Ia tidak menemukan shower atau apapun di sana. Ia juga bahkan tidak melihat ada tisu toilet yang selalu tersedia, seperti di dalam kamar mandinya di London. Mr. Edder menggaruk kepalanya yang setengah botak dan setelah itu mengelusnya beberapa kali. Dengan terpaksa, ia harus berteriak memanggil Mrs. Harlekin.


"Darling! Kemarilah! I need your help," suara Mr. Edder terdengar sampai ke telinga Mrs. Harlekin yang saat itu juga tengah merasa bingung karena ia melihat Mak Odah menyajikan ceker ayam dengan lalapan petai di atas meja makan.


"Why do you cook chiken feet, Mrs. Saodah?" tanya Mrs. Harlekin seraya mengernyitkan keningnya.


"Yes, Mrs. Edder. This is delicious. Ceker hayam is my favorit food. Pokoknamah teu aya duana. Sok Mrs. Edder cobian, meh pinter kokoreh jiga hayam," ujar Mak Odah. sambil cekikikan. Ia juga telah membuat Mrs. Harlekin menjadi bersin-bersin akibat sambal terasi yang tengah dimasaknya. Aroma dari sambal terasi itu begitu menyengat dan membuat Mrs. Harlekin menjadi kalang kabut. Di tengah-tengah bersinnya itu lah, Mrs. harlekin seperti mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Wanita paruh baya itu terdiam sejenak dan menajamkan pendengaran.


"Darling!" seru suaminya yang sepertinya tengah berada dalam masalah. Mrs. harlekin menoleh dan mencari arah suara yang ternyata berasal dari dalam kamar mandi.


"Honey! Are you alright?" tanya Mrs. Harlekin was-was.


"Di mana tisu toiletnya? Kenapa tidak ada tisu toilet di dalam sini? Bagaimana aku bisa membersihkan diri?" protes Mr. Edder.

__ADS_1


"Oh, pakai ember, Mister. Embernya diisi air dulu, nanti airnya disedokan pake gayung," instruksi kang Dayat yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mrs. Harlekin.


Mrs. Harlekin yang terkejut dan tak mengerti sama sekali kalimat kang Dayat, hanya bisa geleng-geleng kepala. Beruntunglah Rosmawati datang menghampiri dan menjelaskan padanya.


"Baiklah, aku mengerti," ucap mr. Edder.


"Nanti kalau sabun habis, saya bisa belikan ke warung depan," sambung kang Dayat.


"Astagfirullah, Dayaat!" kalimat kang Dayat disela oleh teriakan nyaring mak Odah. "Heh, Dayat. Isuk keneh geus asup ka imah batur. Rek naon silaing?" (pagi-pagi udah masuk rumah orang seenaknya, mau ngapain kamu?) mak Odah berkacak pinggang dengan mata melotot.


"Bade nambut palu, Bi. Kangge nanceupkeun paku," (mau pinjem palu buat nancepin paku) kata Dayat.


"Rek nanceupkeun di mana?" (mau nancepin dimana?)tanya mak Odah.


"Di kepala istri saya, Bi. Siapa tahu ngomel-ngomelnya bisa berkurang, diganti sama tawa cekikikan aja," jawabnya asal sambil ngeloyor pergi. Pria empat puluh tahun itu menghampiri abah Jaka yang sedang asyik memberi makan beberapa ekor ayam jago peliharaannya, dengan hanya memakai kaos dalam dan sarung yang digulung di pinggang, sehingga bagian bawah sarung itu menggantung hingga sebatas betisnya. "Pinjem palunya sebentar, Mang," sayup-sayup terdengar suara kang Dayat yang tak lelah dan putus asa mencari palu.


"Honey! Apa yang terjadi?" seru mrs. Harlekin. Rautnya terlihat sangat khawatir. Buru-buru ia membuka pintu kamar mandi dan terperanjat setengah mati melihat suaminya berendam di dalam bak mandi. Air di dalam bak yang mulanya bening, kini berganti menjadi putih dan penuh busa.


Rosmawati dan mak Odah yang juga penasaran, ikut mengintip ke dalam kamar mandi. "Ya Allah, eta bak mandi kakara diberesihan tadi subuh! (Ya, Tuhan! Bak mandiku. Padahal baru dibersihkan tadi subuh)," isak mak Odah.


"Bath up di sini bentuknya aneh, Darling. Bukannya memanjang, melainkan meninggi," ujarnya enteng tanpa dosa. Dia bahkan mengacungkan ibu jarinya pada mak Odah sambil tersenyum riang.


Rosmawati hanya mendengus kesal. Banyak kejadian aneh di sekitarnya yang semakin membuat gadis oleng itu tidak betah. Yang dia inginkan hanyalah buru-buru pulang ke Mojokerto dan menemui Mehmet yang sudah berhari-hari menunggu kedatangannya.


"Sabar ya, mak Odah. Sebentar lagi besannya kan pulang. Saya juga sekalian pamit pulang," tutur Rosmawati menenangkan hati wanita paruh baya yang sedang menyeka air matanya.

__ADS_1


"Aa Jamie juga ngajakin Neng pulang sekarang, Mak. Masa cutinya udah abis," timpal Maryam yang sudah berpakaian rapi sambil menggandeng lengan kekar Jamie Scott.


"Eh, Mun. Kok lu udah ganti baju aja? Perasaan tadi masih ngorok di sofa ruang tamu?" ujar Rosmawati. "Si Jamie juga!" tunjuknya.


"Gampang, mandi mah nanti-nanti aja. Ntar juga keringetan lagi," jawab Maryam kalem.


Mak Odah hanya memandang Rosmawati dan Maryam bergantian, mengikuti pembicaraan mereka.


"Lu nggak kasian apa sama penumpang pesawat lainnya? Polusi bau badan itu namanya," cibir Rosmawati.


"Jadi ... jadi kalian semua mau pada pulang? Meninggalkan emak sendirian, begitu?" mak Odah kembali terisak sambil berkali-kali mengusap pipi. Ia juga mengelap ingus yang menetes dari hidungnya, dengan serbet yang sejak tadi menggantung di atas pundak sebelah kirinya.


"Eh, jangan nagis, mak. Mama dan papa Edder doang yang balik ke Inggris. Neng sama Aa' mau ikut Ijem pulang kampung," rayu Maryam sembari mengusap lembut punggung ibunya itu.


"Apa!" Rosmawati melotot sewot pada Maryam. "Nggak bisa, nggak bisa, nggak bisa!" gadis oleng itu menggerak-gerakkan tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan. "Gue mau kencan berdua sama Memet! Nggak boleh ada yang ganggu!" tolaknya.


"Kayak anak abegeh aja lu, mau kencan segala. Kayak gue gini nih, sama Aa Jamie. Pacaran lama itu nggak penting banget. Yang penting itu, sah dan buku nikah!" cibir Maryam dengan bangganya.


Seketika angan Rosmawati kembali pada ucapan Mehmet yang ingin melamarnya secara langsung pada mak Katemi dan bapak Rozi. Rosmawati kemudian senyum-senyum sendiri. Ia sudah membayangkan pesta pernikahan yang meriah antara dirinya dan juga Mehmet.


Hi ... hi ... hi ... reader setia Gadis Oleng. Nih, othor kasih rekomendasi novel seru dan bagus, karya salah satu temen othor. Jangan lupa mampir ke sana ya dan ramaikan 😉.


Salam sayang,


♡ Crazy_Girls ♡

__ADS_1



__ADS_2