Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Patah


__ADS_3

Sudah sebulan sejak terakhir Rosmawati bertemu Mehmet. Hingga detik ini, pria rupawan itu tak kunjung setor muka kepadanya. Mehmet tiba-tiba menghilang. Ia seperti seorang wanita yang bersembunyi di rumah tetangganya, dari penagih utang cicilan daster.


Rosmawati galau, rindu, pilu mendayu-dayu. Hal itu membuat kinerjanya di kantor menurun drastis. Tentu saja Ahmad sangat senang melihatnya, karena dia mempunyai bahan untuk membully gadis oleng itu.


"Astaga, Rose! Gajimu di sini termasuk tinggi, tapi kenapa tidak sebanding dengan pekerjaanmu? Ck ... ck ... ck ...." Ahmad berdecak heran. Pria yang kini tampil dengan janggut yang cukup tebal itu, mulai melancarkan serangan pertamanya terhadap Rosmawati.


Ahmad memang sangat berbeda. Disaat para kaum borjuis Timur Tengah lainnya berlomba-lomba memelihara harimau Siberia, singa, dinosaurus, dan lain sebagainya, maka ia lebih memilih memelihara janggut saja. Baginya, memelihara janggut terasa jauh lebih ekonomis. Ia tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk peliharaannya. Karena itu, Ahmad mengalokasikan dana lebih dari penghasilannya untuk menikah lagi, secara diam-diam tentunya.


Ia tidak akan berani melakukannya dengan terang-terangan. Istrinya sangat galak, dan Ahmad termasuk ke dalam golongan para suami takut istri. Karena itu, ia melampiaskan segala emosi terpendamnya yang tidak mampu untuk ia tuntaskan kepada Rosmawati.


Ahmad belum tahu siapa Rosmawati sebenarnya. Gadis itu pasti sudah menjadi salah satu petarung WWF Smackdown, seandainya tidak dicegah oleh mak Katemi.


Rosmawati diam tak menanggapi. Dia malah asyik mengetik laporan uji kelayakan mesin di laptopnya. Sore itu, kantor terlihat lengang. Banyak pegawai yang sudah beranjak pulang.


"Hei, Rose! Kau dengar tidak? Tadi siang kau sudah membuat kesalahan berkali-kali di laboratorium percobaan," hardik Ahmad. Ia merasa sudah menjadi bos saja di sana. Padahal ia juga mempunyai jabatan yang tidak jauh berbeda dengan Rosmawati. Kelebihan Ahmad hanya satu, yaitu tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi.


Gadis itu hanya memandang kosong ke layar laptop lalu mende•sah pelan. "Memet kemana sih, Mad?" tanyanya sambil menopang dagu.


"Oh, jadi Mr. Hayder tidak memberitahumu ya?" Ahmad tersenyum sinis kepada Rosmawati. Ia terus saja mengoceh meskipun sejak tadi Rosmawati tidak menggubrisnya sama sekali.


Rosmawati menoleh. Ditatapnya pria itu dengan lekat. "Jawab aja kenapa, sih! Gue timpuk laptop juga lu!" Rosmawati mengangkat laptopnya tinggi-tinggi, bersiap melemparnya kepada Ahmad.

__ADS_1


"Wait! Wait!"  seru Ahmad ketakutan sambil berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di balik kursi yang terletak di depan meja Rosmawati.


"Mr. Hayder sedang mempersiapkan pernikahannya! Oleh karena itu dia pulang ke Dubai. Paman angkatnya sudah berencana untuk menikahkan Mr. Hayder dengan putri kesayangannya," jawab Ahmad sambil tetap bersembunyi, meringkuk di balik kursi.


Sontak tenaga kuda Rosmawati menguap entah ke mana. Diletakkannya kembali laptop itu dengan hati-hati ke atas meja. Mendadak tatapannya kosong, bibirnya kelu dan air mata sudah siap meluncur jatuh ke pipi.


"Rose? Are you okay?" setengah khawatir, Ahmad mengamati perubahan sikap Rosmawati.


Namun gadis itu tetap bergeming, tak tertarik untuk menjawab. Dadanya kini terasa sakit. Kalau saja ada mikrofon yang bisa memperdengarkan suara hati, mungkin hatinya yang patah dan hancur ini akan berbunyi nyaring.


"Ja-jadi, dia mau menikah?" gumam Rosmawati dengan terbata-bata. "A-aku pikir ...." Rosmawati menunduk. Ia tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


"I'm sorry, Rose. Kupikir kau sudah tahu," kilah Ahmad. Merasa bersalah, dia menawarkan sapu tangan untuk Rosmawati yang mulai mengeluarkan air mata. Akan tetapi, lagi-lagi Rismawati tidak menghiraukannya.


Sementara Ahmad masih terus mengamati Rosmawati hingga gadis itu menghilang di balik lift. Pria itu hanya melongo ketika melihat adegan yang cukup membuatnya bertanya-tanya. Ahmad masih merasa heran, bagaimana bisa seorang Hayder Ali Yaseer bin Mehmet Abdullah tertarik pada gadis seperti itu. Ia pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di dalam lift, Rosmawati berkali-kali mend•esah sambil memegang dada. Ia menengadah, menatap ke langit-langit lift sembari bergumam, "Ternyata begini ya, rasanya patah hati."


Penyesalan kembali hadir. Angan-angannya melayang pada saat Mehmet masih bersemangat mengejar dirinya. Tak hanya sekali Rosmawati sudah menolak Mehmet, bahkan dengan cara kasar sekalipun. Kini ia harus merasakan karmanya.


Lain halnya dengan Rosmawati, Maryam saat ini sedang berbahagia. Di petang yang temaram itu, Jamie Scott datang membawa kabar gembira.

__ADS_1


"Aku sudah berdiskusi dengan ibu dan ayahku. Mereka sudah setuju untuk meminta dan melamarmu secara langsung pada kedua orang tuamu," ujar Jamie Scott dengan antusias.


Maryam menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa sangat terharu mendengar hal itu.


"Aa yakin mau melamar Neng?" tanya Maryam dengan raut tidak percaya.


Jamie Scott segera meraih kedua tangan Maryam dan mengenggam erat jemari gadis itu. "Of course, Honey. Belum pernah aku merasa seyakin ini. Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi aku tidak mau menunggu lama lagi. Lagi pula, ayah dan ibuku juga sudah setuju, jadi apalagi masalahnya?" Jamie Scott terlihat sangat berapi-api.


"Kalau begitu, Neng harus bilang dulu sama emak biar emak ada persiapan," sahut Maryam dengan penuh haru. Akhirnya, satu dari sekian juta cita-citanya yang belum terwujud dapat terlaksana juga.


Seperti sebuah sinetron Ikatan Tali Rapia yang ceritanya tidak habis-habis, maka seperti itu pula rasa bahagia dan haru yang kini tengah Maryam rasakan. Gadis itu mengatupkan bibirnya yang mulai melengkung dan bergetar karena menahan tangis. Namun, dengan segera Jamie Scott mencegahnya.


"Jangan menangis, Mary! Ini adalah berita bahagia, jadi sudah seharusnya kau merasa bahagia," ujar pria berambut coklat tembaga itu.


"Neng bahagia, A tapi ... tapi ...." Maryam tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia malah terisak.


Melihat hal itu, Jamie Scott semakin resah. Dipeluknya Maryam dengan mesra. "Kenapa kau harus menangis?" bisiknya.


"Karena ... karena ... karena Neng ngga punya ongkos buat mudik ...." isak Maryam.


"Astaga! Jangan pikirkan itu. Karena aku yang mengajakmu bertemu dengan orang tuamu, maka aku yang akan menanggung semua biayanya," tutur Jamie Scott penuh keyakinan.

__ADS_1


Seketika mata bulat Maryam bersinar terang. Ia juga sudah bersiap memonyongkan bibirnya untuk menyosor sang kekasih tampan sebagai ucapan terima kasih. Namun, semua itu harus terhenti akibat dobrakan kencang di pintu flat.


Rosmawati berdiri terengah-engah di ambang pintu. Matanya memerah seperti banteng hendak menyeruduk. "Kalau begini caranya, gue mau berhenti kerja ajaa!" pekiknya.


__ADS_2