
Rosmawati hari itu tampil sangat berbeda dari biasanya. Berbekal setelan kantor yang ia pinjam dari Chelsea, Rosmawati berhasil membuat Maryam sedikit terbelalak.
"Jem, lu sadar kan Jem?" Tanya Maryam keheranan. Dihampirinya Rosmawati yang sedang asyik mematut diri di depan cermin kamarnya.
Saat itu, ia memakai atasan blouse berwarna baby pink polos lengan tiga perempat, yang dipadukan dengan rok span super ketat berwarna biru langit. Tidak lupa ia juga menambahkan scraf hijau lumut bermotif polkadot, yang dibentuk simpul pita di lehernya. Rambut panjangnya ia sanggul tinggi, seperti nasi tumpeng dengan ujung berbentuk Roti Mo.
"Yang bener aja, Jem! Masa lu keluar rumah pake baju begitu?" Maryam terheran-heran. Bergaya bak inspektur, dia berjalan tegak mengelilingi tubuh Rosmawati.
"Eh ... kata Chelsea, warna ini lagi ngetrend sekarang," sahut Rosmawati. Dia berputar-putar dengan berbagai gaya, menghadap cermin. Sekarang dia berpose seperti orang yang hendak berteriak, sambil meletakkan telapak tangannya di samping mulut, dengan satu kaki terangkat.
"Sumpah lu aneh banget, Jem! Moga-moga aja yang wawancarain elu nggak lari ketakutan! Penampilan lu tuh ngingetin gue sama karnaval Agustusan di kampung gue! Ya ampun, badut aja masih jauh lebih terkonsep dari pada penampilan lu hari ini!" Komentar Maryam yang terdengar semakin horror. Ia terlihat mencemaskan penampilan rosmawati yang warna-warni mirip kue putri noong.
"Pokoknya kalo entar elu pulang sambil nangis-nangis karena kehilangan muka, jangan harap gue bersedia minjemin muka gue buat lu! Sana pinjem muka si Kiki! Elu tuh ngga nurut sama pakar busana berbakat kaya gue!" Maryam terlihat jengkel.
"Ih ... pokoknya ini oke banget! Bikin gue makin percaya diri," Rosmawati tak memedulikan celotehan Maryam dan memilih meraih high heels warna merahnya yang selama bertahun-tahun tersimpan rapi di rak sepatu.
Lagi-lagi Maryam melotot melihat pilihan Rosmawati. Berkali-kali gadis itu mengelus dada. Ia merana merasakan sahabatnya yang buta mode. "Gue ingetin sekali lagi ya, Jem! Kalau elu tetap nekat pake baju itu, elu bakal jadi bahan bully an!"
"Udah, jangan berisik! Gue duluan!" Rosmawati melambaikan tangannya dan bergegas pergi ke alamat yang tertera di kartu nama.
Ternyata memakai high heels adalah hal yang paling sulit yang pernah Rosmawati rasakan semenjak dia lahir dan dibesarkan oleh Mak Katemi. Bahkan tugas mencabuti bulu ayam, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan berjalan menggunakan sepatu yang bentuknya jinjit seperti diganjal oleh stik kayu.
"Gimana jalannya sih ini?" Rosmawati mulai berjalan oleng, dalam artian sebenarnya. Dia seakan berjalan di atas balok titian yang berada di atas jurang terjal. Namun, betapa pun berhati-hatinya Rosmawati, gadis antik itu akhirnya terjatuh juga.
"Bodo amat, ah!" Penuh emosi, Rosmawati melepas sepatunya dan berjalan tanpa alas. High heels merah menyala itu ia sampirkan di pundak, tak peduli pada pandangan aneh orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Perjalanan menuju Kingstreet Building di daerah pusat perkantoran London, penuh perjuangan dan keringat. Rosmawati mengusap dahinya yang sudah basah oleh peluh sembari bernapas lega. "Akhirnya ... sampai juga," gumamnya.
Dengan percaya diri, Rosmawati memasuki lobi gedung yang tampak begitu mewah. Berbagai ornamen khas Timur Tengah tampak menghiasi sudut-sudut ruangan. Di dinding belakang meja resepsionis terdapat hiasan permadani raksasa berwarna merah yang menarik perhatian Rosmawati. Mengingatkannya akan permadani bergambar Ka'bah yang tertempel di tembok ruang tamu di rumah orang tuanya.
"Itu bisa terbang nggak, ya?" Tanya Rosmawati pada salah seorang resepsionis cantik seraya mengarahkan telunjuknya ke permadani merah bermotif ukiran itu. "Jadi inget Aladin. Seru kali ya, ngajak jalan ceweknya naik karpet, nggak perlu isi bensin," celotehnya.
Resepsionis cantik itu tampak kebingungan, "I beg you pardon?"
"Oh, iya. I'm sorry. I'm Rosmawati Rozi. Tadi malam ada yang memberi saya kartu nama ini. Kata orang itu, pimpinannya mengundang saya untuk wawancara," tutur Rosmawati yang segera disambut ramah oleh resepsionis anggun itu.
"Nona, Rosmawati. Welcome. Anda bisa menunggu sampai pimpinan kami datang, di lantai 14 ruang Golden, ya," terangnya.
"Lantai 14, ruang Golden. Okay," ulang Rosmawati sambil mengacungkan kedua ibu jari.
Rambutnya kini sudah acak-acakan. Nasi Tumpeng dengan ujung Roti Mo itu sudah tak berbentuk. Sanggulnya kempes seperti bakpao yang sudah digigit tepiannya. Anak-anak rambutnya mulai memberontak keluar dari jalur hairspray. Tak menemukan sapu tangan, Rosmawati menarik scarf hijau lumutnya untuk mengusap keringat di kening dan ujung hidung. "Perfect!" Pujinya pada diri sendiri.
Saking kerasnya tabrakan itu, sanggulnya sampai menggelinding, terjatuh dari menara tumpeng. "Waduh!" Rosmawati sudah hampir mengumpat dan meluapkan amarah pada seseorang yang ia tabrak itu.
Akan tetapi, amarahnya menghilang kala ia melihat siapa sosok yang berdiri di depannya sambil meringis kesakitan. Matanya membelalak, napasnya tersengal, jarinya gemetar menunjuk sosok tampan dan menawan di depannya. "Me-Memet?" Rosmawati mendadak gagap.
"Rose?" Sosok yang tak lain adalah Mehmet, juga terlihat sama terkejutnya dengan Rosmawati.
"Astagaa! Ternyata kamu kerja kantoran sekarang ya, Met? Makanya waktu aku cari di gerobag hotdogmu, kamu udah nggak ada di sana. Ish ... ish ... ish," Rosmawati menggelengkan kepala dan berbicara layaknya tokoh balita kembar yang ngetop di layar televisi Indonesia.
"Ganteng juga kamu, Met pakai jas begini. Udah mirip banget sama aktor Bollywood," Rosmawati melanjutkan celotehannya tanpa menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya, memandang dia dengan raut penuh kecemasan dan ketakutan.
__ADS_1
Wajah Mehmet yang awalnya tertegun, kini berangsur normal. Dia memasang senyum tipis yang sedikit dingin pada Rosmawati. "Good luck," ujarnya singkat sembari berlalu dari hadapan Rosmawati.
Gadis antik itu terus mengamati langkah Mehmet yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik lift yang bertuliskan VVIP di bagian atas pintu. "Hah, kok dia masuk ke situ? Jangan-jangan salah arah," gumam Rosmawati sambil memasuki lift yang menjadi tujuannya sejak awal.
Rosmawati sempat berdesak-desakan di lift karyawan selama beberapa menit, sampai angka 14 di atas pintu menyala. Dia buru-buru keluar dan merapikan rambutnya meskipun sia-sia. Tadi pagi, Rosmawati terlanjur menyemprot hairspray terlalu banyak, sehingga rambutnya terasa sangat kaku. Disisir pun percuma, karena sisir itu menyangkut di pangkal rambut.
"Waduh, kok jadi mirip Mak Katemi yang lagi nyari kutu, ya?" Gerutunya saat melewati sebuah cermin estetik yang menghiasi dinding lorong yang sedang ia lewati sekarang. Susah payah, Rosmawati menarik sisir yang tertancap erat di rambutnya. "Mak, toloong!" Pekiknya putus asa.
"Here, let me help you!" Tiba-tiba suara halus dan lembut khas Mehmet muncul entah dari mana. Rosmawati menoleh dan mendapati pria tampan itu sudah berdiri tegap di belakangnya.
Tanpa diminta, Mehmet menarik sisir itu dari kepala Rosmawati, lalu memberikannya pada gadis oleng yang kini terbengong-bengong menatapnya.
"Ruang kamu sebelah mana?" Tanya Rosmawati, namun tak ditanggapi oleh Mehmet. Pria jangkung itu hanya diam sambil berjalan meninggalkannya seorang diri.
"Eh ... Met, tunggu!" Rosmawati bergegas mengekori Mehmet menuju ruang Golden.
"Lho, Met! Kamu mau wawancara juga, ya? Kebetulan aku juga mau wawancara di ruang yang sama," cerocos Rosmawati yang lagi-lagi tak ditanggapi oleh Mehmet.
"Kira-kira kalau wawancara itu pertanyaannya seputar apa sih, Met? Zodiak kah? Makanan favorit? Hobi?" Cecarnya. Rosmawati kemudian tertegun. "Semoga ngga ada pertanyaan masalah jodoh. Habisnya calon jodoh gue masih belum kliatan hilalnya," gumam Rosmawati lagi.
Rosmawati sudah hendak bertanya lagi ketika sadar, ia dan Mehmet telah memasuki ruang Golden. Bedanya, Mehmet langsung mengitari sebuah meja kerja mewah dan duduk dengan penuh wibawa di kursinya, sambil menatap Rosmawati tajam.
"Loh, Met, kok duduk di situ?" Tanya Rosmawati pelan. Benaknya mulai diliputi ketakutan dan keraguan. Sementara Mehmet masih terlihat kalem sambil meletakan jemari di dekat bibirnya dan memamerkan deretan cincin mahal yang menghiasinya.
Hi, reader setia Gadis Oleng Mencari Cinta. Maaf ya, mau numpang promo. Barangkali ada yang mau mampir. Tapi, jangan berharap menemukan keolengan Maryam di sana ya. Karena di novel ini, othornya PMS terus, jadi bawaannya pake hati ajaaaaah. Oke, terima kasih. Jangan lupa mampir ya, pasti suka dan terkesan.
__ADS_1
Salam sayang dari Crazy Girls.