Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Mary The Rising Star


__ADS_3

"Hentikan, Mrs. Harlekin!" Cegah Maryam. Ia menghalangi Charlie Manfred dari amukan wanita keturunan Jerman itu.


"Mary, minggir!" Sentak mrs. Harlekin dengan tegas.


"No! Saya tidak akan membiarkan Anda berbuat kasar kepada pacar saya," ujar Maryam dengan tegas. Belum pernah gadis itu bicara dengan nada seperti itu kepada mrs. Harlekin yang selalu ia sebut sebagai calon ibu mertuanya di masa depan.


"Jaga bicaramu, Mary!" Sergah Jamie Scott. "Kamu sudah bersikap tidak sopan kepada ibuku," lanjutnya. "Jika kamu adalah istriku, maka aku pasti sudah memukul pan•tatmu dengan keras!" Ujar Jamie Scott lagi dengan tegas, membuat Maryam dan mrs. Harlekin seketika menatap ke arahnya.


"Are you sure, Honey? Like this?" Mrs. Harlekin kemudian memukul pan•tat Maryam dengan gemasnya, membuat gadis itu menjerit pelan.


"Awww! You hurt me, Mrs. Harlekin!" Ringis Maryam. Ia lalu memasang wajah manjanya di depan wanita itu.


"Oh ... Mary, i'm so sorry. But i don't like this guy! Sebaiknya kamu jauh-jauh darinya!" Ujar mrs. Harlekin dengan tegas.


"Why? What's wrong with me? Apa salah saya kepada Anda, Nyonya?" Tanya Charlie Manfred. Ia sungguh tidak mengerti karena mendapat serangan yang membabi buta dari dari wanita berambut pirang itu.


"Ya, Mrs. Harlekin? Apa salah aa Charlie sampai Anda memperlakukannya dengan begitu brutal?" Timpal Maryam.


Mrs. Harlekin menoleh kepada Maryam. "Look Mary!" Wanita paruh baya itu mengendus-endus Charlie Manfred dan membuat Charlie Manfred menjadi risih. Ia lalu memundurkan tubuhnya.


"Baunya seperti Oliver Scheneider," ujar mrs. Harlekin seraya menyeringai ke arah Maryam dan Charlie Manfred.


"Who is he?" Tanya Jamie Scott, Maryam, dan Charlie Manfred secara bersamaan.


Seketika wajah seram mrs. Harlekin berubah total. Ia menjadi tersipu malu. "He is my eks," jawabnya sambil cekikikan. "But he is a bad boy!" Mrs. Harlekin kembali menyeringai pada ketiga muda-mudi itu.


"Pria itu sudah sangat melukai perasaanku! Kau tahu Mary? Aku dulu sangat lugu sepertimu, dan aku harus dipertemukan dengan seorang playboy seperti Oliver," tutur mrs. Harlekin. Kekecewaan tampak jelas di matanya yang berwarna hijau.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kau bernasib sepertiku, Mary. Aku menyayangimu seperti putriku sendiri. Aku pikir kau akan terus menjadi penggemar setia putraku," mrs. Harlekin mengakhiri kata-katanya dengan nada penuh sesal.


Maryam melirik Jamie Scott yang saat itu tengah menatap ke arahnya. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Tatapan itu bahkan telah membuat Maryam menjadi dagdigdugder. Akan tetapi dengan segera ia menepiskan rasa itu dari dalam hatinya.


"Dengar, Nyonya! Putra Anda yang menyuruh saya untuk menjauhinya. Dia tidak ingin dekat-dekat dengan saya. Lalu kenapa setelah saya menjauh, putra Anda bersikap seperti itu kepada saya?"


Seketika mrs. Harlekin menatap putra kesayangannya. "Honey?"


Jamie Scott tidak menjawab. Namun pada akhirnya, ia kemudian mengangguk pelan. "Yes, Mom," aku Jamie Scott dengan suara beratnya.


"Oh my God! Kau membuatku malu, Jamie!" Gerutu mrs. Harlekin. Ia kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke tokonya sambil terus menggerutu.


Jamie Scott berdiri mematung dan menatap kepergian Maryam bersama Charlie Manfred. Berkali-kali menghela napas panjang, hatinya tiba-tiba merasa semakin hampa. Apakah ia patah hati untuk yang kedua kalinya? Jika iya, sungguh menyedihkan. Wajah tampannya sungguh tidak menjual.


Apa yang kurang dari seorang Jamie Scott? Dia tampan, mandiri, mapan secara finansial. Akan tetapi, semua wanita selalu menjauh dari dirinya. Sepertinya, Jamie Scott harus meminta untuk kembali diterawang oleh Madame Jul. Siapa tahu Madame Jul bisa memberinya sedikit pencerahan.


Kira-kira, di mana ya Madame Jul saat ini?


Maryam begitu terpukau melihat suasana di tempat itu. Rupanya Charlie Manfred mengajaknya ke lokasi syuting. Hari ini, ia akan melakoni aktingnya, dalam film terbarunya yang berjudul "Sweat in The Night". Menurut kabar burung (entah burung siapa yang menyebarkan kabar tersebut), Charlie Manfred akan beradu akting dengan seorang aktris sensasional yang bernama Flower Swift.


Flower Swift adalah aktris multitalenta. Selain pandai berakting, ia juga merupakan seorang MC, penyanyi, penari balet, penyiar radio, dan terkadang menjadi pembaca puisi. Ia sudah meraih banyak penghargaan atas prestasinya. Selain itu, Flower Swift atau yang lebih akrab disapa Flo, sangat terkenal karena sensasi yang sering dibuatnya. Kabar terbaru menyebutkan, jika aktris seksi yang selalu memakai pakaian kurang bahan yang terkadang lebih mirip dengan saringan nasi itu, telah menjalani operasi bibir yang melibatkan seorang dokter bedah kecantikan yang sangat terkenal.


Charlie Manfred setia menggandeng tangan Maryam menuju truk caravannya, tempat ia beristirahat dan bersantai selama di lokasi syuting. Bukan apa-apa, gadis itu sering sekali lepas dan berlarian kesana kemari yang pastinya akan membuat Charlie kewalahan. Sehingga untuk mengantisipasinya, Charlie harus mengawal Maryam.


Sesampainya di bus, Charlie membuka pintu caravan dan mengajak Maryam masuk. "Kau tunggu sebentar di sini ya, Mary! Jangan kemana-mana, aku hendak dimake up sebentar," pesan Charlie dengan sedikit was-was.


"Beres, A!" Maryam mengangguk mantap sambil mengacungkan kedua jempolnya sampai Charlie menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Menit-menit pertama, Maryam masih betah berdiam diri di dalam caravan, meskipun sudah sepuluh kali dia membuka dan menutup pintu kulkas. Ia hanya mencoba mencari tahu, kenapa lampu kulkas selalu padam saat pintunya ditutup. Menit berikutnya, Maryam mulai bosan, sehingga dia memilih keluar dari truk caravan itu.


Sambil bersiul, Maryam berjalan menghampiri kerumunan orang-orang yang berdiri di depan sebuah tenda raksasa. "Ada apaan, tuh? Bagi-bagi sembako apa, ya?" Gumamnya.


Semakin Maryam mendekat, semakin riuh terdengar celotehan kerumunan orang-orang itu.


"Dimana pemeran penggantinya?"


"Ini sudah masuk waktunya take!"


"Aduh, gawat! Bagaimana ini?" Seru seseorang yang kemudian menoleh ke arah Maryam.


Posisi Maryam yang waktu itu berada di belakang kerumunan, hanya sanggup tertegun dan menelan ludah saat puluhan orang menatap tajam ke arahnya. Beberapa saat kemudian, Maryam tersadar bahwa mereka adalah kru film. "Anu, permisi. Saya mau mencari toilet," ujarnya asal.


"Nah, ini dia sudah datang!"


"Dia pemeran pengganti gadis penjual kaus kaki itu, kan?"


Celoteh para kru itu bersahut-sahutan.


"Okay, nona manis. Lain kali jangan terlambat, ya! Ayo kita dandani," ucap seseorang yang dengan penuh semangat menyeret masuk Maryam ke dalam tenda.


"Eh ... eh! Saya mau diapain ini? Lepaskan! Jangan mendandani saya! Percuma! Saya belum mandi dua hari. Nanti make upnya bakal luntur lagi," tolaknya. Berkali-kali dia memberontak dan berusaha lepas dari pegangan para kru. Akan tetapi, mereka mencengkeram lengan Maryam dengan sedemikian kencang.


"Sit down, Miss! Jangan terlalu banyak bergerak," perintah seseorang yang memiliki badan besar dan berotot. Pria itu terlihat begitu macho.


Nyali Maryam langsung menciut melihatnya. Dengan terpaksa, dia mengangguk dan menuruti perintah pria menakutkan itu.

__ADS_1


"Okay, sekarang rapatkan bibir. Aku akan mulai memberikan pelembab," ujar pria itu dengan gaya melambai.


"Ya, Allah ... inikah yang dinamakan makhluk amfibi?" Gumam Maryam dalam hatinya.


__ADS_2