Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Akhirnya ....


__ADS_3

Mehmet sudah selesai membersihkan diri. Dia juga sudah memakai kemeja yang entah disiapkan oleh siapa di atas ranjang kamar yang ia tempati. Pria rupawan itu menoleh ke kiri dan kanan, mencari siapa gerangan yang meletakkan kemeja putih dan wangi itu.


"Deloken tah, Pak. Kok cik ngganteng e anake wong iki (Lihat, Pak. Ganteng banget anak orang ini)," mak Katemi yang baru saja selesai berkeliling mengumpulkan saksi dan membeli aneka macam suguhan, berdiri mematung dan terpana di depan kamar Mehmet.  


Bapak Rozi yang melangkah buru-buru, langsung mengerem mendadak dan memundurkan badannya. "Alhamdulilah, baju lamaku masih muat rupanya," ucap pak Rozi.


"Little bit smaller than my size. But it's alright, Sir. Thank you (Sedikit kekecilan tapi tidak apa-apa, Pak. Terima kasih)," ucap Mehmet tulus. Kemeja itu memang sedikit ketat dipakai oleh Mehmet, sehingga agak menonjolkan lekuk otot dada dan perutnya.


"Gampaang!" sahut mak Katemi seraya tersipu. Dia juga mencolek-colek dagu Mehmet.


"Sampeyan ngerti artine, tah?" pak Rozi masih melongo di samping istrinya.


"Nggak!" jawab mak Katemi singkat seraya berlalu.


Mehmet pun mengikuti laku mak Katemi dan ikut berjalan menuju ruang tamu. Zayn Malik kw 1 itu berjingkat terkejut ketika tiba-tiba mak Katemi berteriak nyaring. "Allahu akbaar! Tak pikir setaan!" serunya pada Rosmawati sambil memegangi dada. "Sumpah, Mak kayak lihat penampakan," gumam mak Katemi.


"Cantik-cantik begini kok dibilang setan sih, Mak?" protes gadis oleng itu.


Tak hanya mak Katemi, Mehmet pun juga keheranan melihat sosok calon istrinya itu. "Siapa yang mendandanimu, Rose?" tanyanya.


"Kenapa, Met? Aku cantik, ya?" Rosmawati mengedip-ngedipkan matanya, sehingga salah satu bulu mata anti kepalsuannya terlepas.


"Astaga!" Mehmet sekuat tenaga menahan tawa untuk menjaga perasaan Rosmawati. "Apa tidak ada make up artist di sekitar sini?" tanyanya.


Nining yang asyik mendekorasi meja dan kursi serta tembok ruang tamu, mendengar pertanyaan Mehmet dan segera berlari mendekat pada calon kakak iparnya itu. "Ada, Mas! Aku punya kenalan!" ujarnya penuh semangat. Dia tinggalkan pekerjaannya begitu saja dan berlari keluar. 


Sambil menunggu kehadiran Nining kembali, mak Katemi menyibukkan diri dengan menata kue-kue dan memerintahkan tuyul-tuyul kecil untuk menyapu lantai, sementara Mehmet berjalan mendekat dan mengamati wajah Rosmawati. Dilihatnya alis yang tebal sebelah dan eyeshadow berwarna keunguan, seperti orang yang habis dipukuli. Belum lagi warna lipstik yang merah menyala, seakan-akan Rosmawati baru saja meminum darah ayam untuk pesugihan.


"Sebenarnya, tanpa make up berlebihan pun, kau sudah terlihat cantik, Rose," puji Mehmet yang kebetulan sudah belajar bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Spontan, setiap orang yang berada di ruang tamu itu langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh pada Mehmet dengan sorot mata tidak setuju, terutama mak Katemi. "Jelas-jelas kena pelet itu anak," desisnya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Nining kembali sembari menyeret seorang teman perempuan yang usianya terlihat sebaya dengannya. Gadis itu juga terlihat membawa sekotak peralatan make up. Gadis itu kemudian duduk di samping Rosmawati. "Jadi yang mana yang mesti didandani?" tanyanya pada Nining.


Rosmawati tak mempedulikan sekeliling, karena wajahnya kini begitu dekat dengan Mehmet. Dia bisa memandang dan mengagumi dengan jelas wajah tampan nan rupawan itu.


Nining langsung menunjuk pada Rosmawati. Si gadis menoleh mengikuti arah telunjuk Nining dan terkejut setengah mati saat melihat sosok di sampingnya. "Astaghfirullah!" ucapnya.


"Sopo sing ndandani iki? Kok ajur koyok ngene! (Siapa yang dandanin? Kok ancur gini)" umpatnya. "Ning! Bantu aku merenovasi, ya! Tapi, jangan di sini! Di kamar saja. Aku suka grogi kalau diliatin orang banyak," pintanya kemudian.


"Di sini saja!" mak Katemi mengarahkan tiga orang itu ke kamar tidurnya. Dengan cekatan, gadis itu membawa kotak peralatan make upnya ke dalam kamar dan mulai membersihkan wajah Rosmawati. Dibantu oleh Nining tentunya.


Dia menggambar ulang wajah gadis oleng itu. Beberapa kuas, palet dan berbagai macam alat rias lainnya ia tata sejajar di meja samping tempat tidur, sedangkan Rosmawati ia dudukkan di tepian ranjang.


Bagaikan seorang atlit wushu, dia bergerak bagai kilat, mendandani Rosmawati. Setelah menyelesaikan bagian wajah, dia beralih pada busana yang dikenakan Rosmawati.


"Idih! Nggak banget! Kayak artis tahun 80 an yang duet main film bareng bang haji!" omelnya.


Dia pun menyobek kedua bagian lengan baju Rosmawati dan menjahitnya ulang. Busa yang menumpuk di pundak, juga ia lepas. Kemudian dia beralih pada rambut Rosmawati yang disasak tinggi dan miring bagaikan menara Pisa.


Sementara itu, seorang penghulu dan beberapa saksi serta pegawai kelurahan itu sudah hadir. Bapak Rozi menyambut mereka dengan hangat dan ramah. "Boleh tunggu sebentar, bapak-bapak? Anak saya masih dirias," ujarnya.


"Oh, tidak apa-apa, Pak. Yang ijab qabul kan cuma pengantin laki-laki. Nanti kalau sudah selesai akad, baru pengantin wanitanya keluar. Bagaimana?" saran pegawai kelurahan.


"Setuju! Lagipula, setengah jam lagi, saya harus ke kampung sebelah untuk menikahkan janda dengan duda," sahut pak penghulu.


Setelah menimbang-nimbang sejenak, barulah pak Rozi setuju. Apalagi mak Katemi. Dia seakan tak sabar untuk melepaskan anak keduanya itu pada Mehmet.


"Ayo, mrene arek ngganteng!" Mak Katemi melambaikan tangan pada Mehmet dan menyuruhnya duduk di hadapan penghulu dan pak Rozi.


"Sampeyan mau menyerahkan mas kawin apa?" tanya penghulu itu, membuat Mehmet mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"I don't understand," jawab Mehmet seraya menggeleng.


"Kamu mau ngasih mas kawin apa, Met?" sahut Maryam yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar dengan rambut berantakan. Dia juga sempat merapikan baju dan roknya yang tampak kusut.


"Oh," barulah Mehmet manggut-manggut. Dia lalu merogoh sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak beludru, perlahan ia taruh di atas meja kemudian ia buka. Tampaklah sebuah cincin berlian nan berkilau, menyilaukan pandangan pak penghulu dan pak Rozi.


"Owalah, Le!" mak Katemi begitu terharu. "Semoga peletnya awet dan tahan lama ya, Nak," doanya.


"Ya, sudah kalau begitu! Kita mulai acaranya," pak penghulu pun bersiap menikahkan Mehmet.


Beberapa saat kemudian terdengar teriakan 'sah!' yang menggema di seantero rumah. Rosmawati yang selesai dipermak, merasa sangat terkejut campur bahagia. Demikian pula, Jamie Scott yang tak sengaja tertidur setelah pertempuran sengit dengan Maryam.


"Ning! Manten perempuannya bawa keluar!" sayup-sayup terdengar suara pak Rozi memanggil.


"Ayo!" dengan penuh semangat, Nining dan temannya menggandeng sang kakak keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu.


"Ijeem?" seru Maryam yang dengan muka bantalnya melotot terpana pada sang sahabat kembar siam.


Begitu juga semua orang yang ada di ruang tamu, tak terkecuali Mehmet. Dia sangat terpesona melihat penampilan Rosmawati saat itu.


.


.


.


.


Kayak apa yaa penampilan Ijem? Untuk mengobati penasaran, intip dulu dong karya keren dari temen otor yang satu ini..

__ADS_1



__ADS_2