Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Oleh-oleh Dari Liverpool


__ADS_3

"Bagaimana kalau proses menghamilinya menunggu kita selesai resepsi saja?" tawar Mehmet. "Lagipula, kalau kau hamil duluan sebelum acara pesta, nanti perutmu akan kelihatan buncit, Sayangku," bujuk pria tampan itu lagi.


Rosmawati pun terdiam. Dia tampak berpikir dan menimbang-nimbang. "Iya juga, ya. Nanti kalau aku kelihatan jelek, pasti diketawain si Halimah," gadis oleng itu mulai manggut-manggut. "Ya, udah deh, Panda. Kita bikin anak aja dulu. Jadiinnya nanti," Rosmawati segera menarik lengan Mehmet dan menariknya masuk ke dalam kamar. Semalam suntuk dia membuat suaminya kerja keras bagaikan kuda, hingga tak terasa pagi pun tiba.


Bunyi gedoran kencang di pintu membuat Rosmawati yang tengah tertidur pulas dengan bahu Mehmet sebagai bantalnya, terpaksa harus bangun. Dengan malas-malasan, dia mengenakan pakaian kemudian menyeret paksa kakinya. Sambil mengucek-ucek mata, istri dari Mehmet itu membuka pintu kamar lebar-lebar. Di luar tampaklah Maryam dengan senyumannya yang lebar.


"Molor aja, lu! Laki lu ga kerja apa?" sugutnya sembari melongo dari balik pintu, mengintip ke dalam kamar.


"Eit! Mau ngapain?" tubuh Rosmawati ikut bergerak mengikuti gerak kepala Maryam.


"Aiih, abis ngapain kalian berdua? Kok si Memet ga pake baju," cibir Maryam sambil sesekali mengusap-usap perut buncitnya.


"Mau tau aja sih, lu? Udah sana! Pagi-pagi jangan bikin tekanan darah gue naik," usir Rosmawati sambil terus menghalangi arah pandang sahabat kembar siamnya itu.


"Iya, iya. Lagian gue harus beres-beres. Mau pulang! Sebentar lagi aa Jamie balik dari Liverpool. Dia bakal jemput gue ke sini. Berhubung gue kan lagi hamil nih, jadi lo sebagai sahabat terbaik harus bantuin. Entar gue doain lu cepet hamil juga. Ayo buruan," seperti biasanya, Maryam selalu berkata dan bersikap tanpa beban sama sekali.


"Idih, elu yang mau balik gue yang ribet. Males, ah! Bodo amat! Beres-beres aja sendiri. Lu hamil bukan gara-gara gue, kenapa jadi alasan melulu buat gue agar bantuin lu!" tolak Rosmawati. Dia lalu memandang ke arah sofa, tempat Maryam ketiduran tadi malam. Dilihatnya sofa tersebut sudah bersih dan kembali rapi.


"Ih, elu ngga boleh gitu sama ibu hamil. Elu harus tahu kalo ibu hamil itu perasaannya lebih sensitif dari ibu yang tidak hamil. Lagian itu sofa udah gue bersihin semua! Ayo, bilang apa?" ucap Maryam sambil memainkan telunjuk di depan Rosmawati. Sikapnya bagaikan guru TK yang menuntun muridnya.


"Dih, masa bodo lu mau sensi mau ngga! Emang udah seharusnya begitu! Situ yang ngotorin, situ juga yang harus bersihin," Rosmawati menjulurkan lidah, lalu melewati Maryam. Tujuannya adalah dapur. Setelah olahraga menyenangkan semalam suntuk, dirinya kini merasa sangat lapar. Sementara Maryam terus mengikutinya dari belakang.


"Makan aja, Jem. Udah gue masakin juga," Maryam kembali menyeringai lebar, membuat Rosmawati melotot tak percaya.


"Ah, yang bener?" Rosmawati terdengar menyangsikan ucapan sahabatnya.

__ADS_1


"Liat aja sendiri. Gue tuh sahabat yang baik. Elu bangun siang, gua siapin makanan buat lu sama si Memet. Seharusnya elu bangga sama gue, orang gue aja bangga sama diri gue sendiri," celoteh Maryam yang tidak terlalu ditanggapi oleh Rosmawati. Dia lebih memilih untuk melanjutkan langkah menuju dapur.


Seketika, Rosmawati pun terkejut. Benar saja, di meja makan sudah penuh dengan berbagai macam hidangan yang menggugah selera. Rosmawati sampai harus melihat masakan-masakan itu dari jarak dekat untuk memastikan bahwa Maryam tidak berbohong. "Mimpi apa lu, Mun?" gumamnya sambil berdecak kagum.


"Nggak mimpi apa-apa. Lagian gampang kok masaknya," jawab Maryam bangga.


"Wah," mata Rosmawati membulat. "Hal seperti ini patut diabadikan. Jarang-jarang Mumun kesurupan parah sampai kayak gini," celetuknya seraya meraih ponsel dan mulai mengambil gambar hidangan-hidangan enak itu dari berbagai sisi. Akan tetapi, kegiatannya harus terhenti ketika melihat kotak-kotak makan berstempel restoran terkenal. "Apaan, tuh?" Rosmawati segera mendekat dan mengamati berbungkus-bungkus kotak makan tersebut.


"Mun, coba jelasin itu apa?" telunjuk Rosmawati lurus mengarah pada tumpukan di tempat sampah.


"Waduh, terbang dari mana ya itu kotak kardus?" kilah Maryam seraya berlagak kebingungan.


"Hmm," Rosmawati mengangkat satu alisnya dan menatap Maryam tajam. "Duit siapa yang lu pake?" selidiknya bernada curiga.


"Duit gue, lah!" sahut Maryam dengan nada tinggi.


Namun, belum sempat Maryam menjawab, terdengar bel pintu berbunyi nyaring. "Eh, ada tamu siapa, tuh? Gue bukain dulu, ya!" gadis oleng itu berkelit dan bergerak selicin belut membuka pintu depan. Tampak Jamie Scott sudah gagah berdiri merentangkan tangan untuk istri tercinta.


"Darling, apa kabarmu? I miss you," ucapnya seraya memeluk Maryam erat.


"Idih, Aa. Kok cuma Neng yang disapa? Lupa ya, kalau kita punya kedelai kecil yang lagi tumbuh di sini," Maryam mengusap-usap perutnya manja.


"Oh, astaga. Mana mungkin aku lupa. Inilah yang membuatku ingin cepat-cepat pulang," ujar Jamie Scott. Dia menurunkan tubuhnya kemudian mengusap-usap lalu mencium perut Maryam. "Oh, iya. Bagaimana kabar anak kita yang satu lagi?" tanyanya sambil kembali berdiri tegak.


"Orestes baik-baik saja, Aa. Dia makin lincah. Cuma sayangnya masih tetep belum bisa bilang mama, padahal Neng ajarin terus-terusan," sesal Maryam yang segera memasang wajah merajuk.

__ADS_1


"Sudah. Tidak apa-apa, Darling. Nanti juga dia pasti bisa," sahut Jamie Scott seraya memeluk Maryam. Pria tampan bermata abu-abu itu menaikkan alisnya karena merasa tak paham dengan pemikiran sang istri. Akan tetapi, karena Maryam sedang hamil, maka semua yang dikatakannya dia turuti saja.


"Oh, iya. Aa bawa oleh-oleh yang Neng minta kan?" tanya Maryam dengan sikapnya yang terlihat manja.


"Tentu saja, Darling. Aku sengaja memundurkan jadwal pulang dari Liverpool karena demi mendapatkan oleh-oleh ini," jawab Jamie Scott. Dia lalu mengajak Maryam untuk duduk. Mereka berdua seperti sedang berada di rumah sendiri, dan tak memedulikan Rosmawati yang berdiri tak jauh dari sofa.


Jamie Scott kemudian membuka ranselnya. Dari sana dia mengeluarkan sebuah bungkusan hitam. Tak berselang lama, pria bermata abu-abu itu memperlihatkan sesuatu kepada sang istri. "Kejutan!" ujarnya dengan senyum lebar. "Sesuai permintaanmu, Darling. Jersey asli milik Jordan Henderson. Fresh, masih bau keringat dia, cium saja," Jamie Scott menyodorkan jersey tim sepak bola Liberpool milik sang kapten kesebelasan.


Dengan segera, Maryam meraih jersey tersebut kemudian mengendusnya. "Aduh, beneran ini bau keringatnya dia A?" tanyanya.


"Iyalah. Kenapa memangnya?"


"Aduh, aromanya beda. Seger banget, ngga kaya keringat onta," celetuk Maryam sambil terus mengendus-endus jersey tersebut.


Sementara Rosmawati hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dari jauh. Dia tak habis pikir dengan tingkah dari sahabat kembar siamnya tersebut. Ternyata memang benar jika ulah ibu hamil itu selalu aneh-aneh. Dia pun mulai membayangkan andai nanti dirinya hamil.


"Bagaimana jika nanti anak kita perempuan, terus anaknya Mary juga perempuan, lalu mereka bersahabat seperti kalian?" bisik Mehmet yang tiba-tiba ada di belakang Rosmawati. Zayn Malik kw 1 telah berhasil membuat Rosmawati berjingkat saking terkejutnya.


"Ih, Panda. Ngagetin aja," ujarnya genit seraya memeluk Mehmet.


"Ayo," sahut Mehmet singkat. Rosmawati segera mendongak dengan mata berbinar.


"Ya, ampun, Panda. Mau lagi? Nggak malu apa? Masih ada Mumun. Ada mr. Edder juga," Rosmawati tersipu sembari memukul-mukul pelan dada bidang Mehmet.


"Maksudku, ayo kita siapkan resepsi pernikahan kita secepat mungkin sebelum kau hamil, Rose," ralat Mehmet sambil tertawa geli.

__ADS_1


"Resepsi?" ujar Maryam dan Jamie Scott secara bersamaan seraya menoleh ke arah pasangan pengantin baru itu.


"Iya. Kami berniat untuk mengadakan pesta pernikahan yang belum sempat terlaksana," ujar Mehmet seraya berjalan menghampiri Jamie Scott. "Apa kabar, Mr. Edder?" sapanya yang masih mengenakan boxer kuning bergambar spongebob.


__ADS_2