
Tatapan Mehmet tidak lepas dari Rosmawati. Gadis itu terlihat sangat berbeda. Make up sederhana, namun tidak berlebihan dan pakaian pengantin yang juga sangat sederhana, tapi pas untuk dikenakan dan dipandang.
Rambut Rosmawati juga sudah kembali normal. Panjang dan lurus seperti biasanya. Hanya sedikit dikepang di tepian, lalu disanggul kecil di belakang.
"You look different," puji Mehmet, yang membuat Rosmawati tersipu. Untuk beberapa saat, gadis oleng itu berubah menjadi sosok yang kalem dan anggun.
Namun, hal itu tak berlangsung lama. Ketika acara makan-makan dimulai, Rosmawati kembali pada perangai aslinya. Rosmawati dan Nining saling berlomba mengunyah paling cepat.
Sementara itu, Mehmet merasa gerah dan berkeringat, sehingga diam-diam dia memasuki sebuah kamar yang paling dekat dengan tempatnya berdiri dan melewatkan acara makan-makan.
Rosmawati yang hendak mengambil sepotong kue lapis, segera menghentikan aksinya ketika ekor matanya menangkap gerakan Mehmet yang menyelinap masuk ke kamar. "Kamu menang, Ning!" Rosmawati menepuk pundak adiknya, lalu berlari secepat kilat mengikuti Mehmet.
Di dalam kamar, Mehmet sudah tidak sabar untuk segera melepas kemeja ketat yang membuatnya terlihat seperti memakai kostum Superman. Tubuhnya terasa begitu pengap dan sulit sekali untuk bernapas. Mehmet pun bermaksud untuk melepas kancing kemejanya.
Akan tetapi, Mehmet segera menghentikan niatnya karena saat itu Rosmawati masuk ke kamar tersebut, masih dengan riasannya yang telah direnovasi oleh sahabat Nining dengan tambahan remah-remah kue di sudut bibirnya. Malu-malu, gadis itu mendekat ke arah Mehmet berdiri. Sementara Mehmet hanya terpaku karena ia merasa begitu pangling dengan penampilan Rosmawati saat itu.
“Nanti akan kubelikan seperangkat alat make up untuk kamu, Rose. Tapi jika kita sudah kembali ke Inggris, ya. Aku rasa kita tidak bisa terlalu lama di sini. Aku kasihan melihat Mr. Edder, dia tampaknya tidak nyaman dengan suasana bising di keluarga ini,” ujar Mehmet dengan senyum manisnya.
“Baik, Kanda. Adinda menurut saja,” jawab Rosmawati sambil tersipu malu. “Oh iya, Met. Sekarang kan kita sudah jadi suami-istri, jadi rasanya ngga sopan kalo aku panggil kamu dengan sebutan nama, takut kualat. Jadi, kira-kira kamu mau aku panggil dengan sebutan apa?” tanya Rosmawati sambil senyum-senyum malu. Sesekali ia menunduk dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Rosmawati kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya. Hal itu membuat Mehmet menatapnya dengan heran.
“Kamu tidak apa-apa, Rose?” tanya Mehmet seraya mengernyitkan keningnya.
“Nggak apa-apa ko, Zaujii. Panda lucu-ku,” sahut Rosmawati seraya mencolek dagu Mehmet, sehingga membuat pria itu sedikit risih.
“Rose, kenapa kamu jadi genit begini? Jangan bilang kalo Mary sudah cerita macam-macam padamu,” tukas Mehmet curiga. Namun, bukan jawaban yang Mehmet terima, melainkan sikap Rosmawati yang semakin agresif. Gadis itu menarik kemeja bagian depan yang dikenakan Mehmet hingga pria itu semakin mendekat.
Dengan sikapnya yang terlihat sangat sensual tapi aneh, Rosmawati melepas kancing kemeja Mehmet satu per satu. Begitu semua kancing terlepas, maka terbukalah bagian depan kemeja itu. Akan tetapi, Rosmawati kemudian tertegun.
Ternyata, Mehmet memakai T Shirt round neck di bagian dalam kemejanya.
__ADS_1
Rosmawati tersenyum dan segera melepas kemeja yang Mehmet kenakan. Tak lupa, ia membantu melepaskan T Shirt-nya juga. Namun, ketika T Shirt putih itu terlepas, Rosmawati kembali tertegun. Mehmet ternyata memakai kaos dalam model singlet dengan warna yang sama. “Waduh, Met! Jangan-jangan kamu kamu pakai be-ha lagi?” gumam Rosmawati tak percaya dengan penemuannya kali ini. Sementara Mehmet hanya tersenyum kecil.
“Tentu saja tidak, Rose,” balas Mehmet kalem. Ia juga hanya diam saja ketika Rosmawati mulai membuka pengait celana panjang yang dikenakannya. Gadis itu sudah senyum-senyum sendiri. Namun, ketika celana panjang itu berhasil diturunkan, ternyata Mehmet memakai boxer di dalamnya. Boxer berwarna kuning dengan gambar Spongebob.
Mehmet tersenyum geli saat melihat Rosmawati tercengang dengan apa yang dilihatnya.
“Ya, amplop ... Met! Kamu suka Spongebob ternyata? Sama kaya adik aku si Jono!” seru Rosmawati pelan. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya, Rose. Aku suka dengan karakter Spongebob, karena dia selalu ceria dan tulus. Selain itu warnanya juga kuning, mengingatkanku pada selimut pertama yang dihadiahkan ayah angkatku dulu. Sampai sekarang aku masih menyimpan selimut itu,” jelas Mehmet. Sementara Rosmawati hanya bengong mendengarnya. Ia semakin dapat melihat sisi lain dari Mehmet. Ternyata pria itu sangat manis dan merupakan penggemar Spongebob yang berwarna kuning.
Akan tetapi, semua itu tidaklah penting. Rosmawati sudah tidak tahan untuk membuktikan kebenaran dari cerita yang pernah Maryam ungkapkan kepada dirinya. Akhirnya Rosmawati memberi kode rahasia kepada pria yang kini telah menjadi suaminya. Perlahan, Rosmawati menurunkan celana panjang yang Mehmet kenakan, baru ia menurunkan boxer bergambar spongebob tadi.
Hati Rosmawati sudah dagdigdug tak karuan. Ia ingat betul dengan apa yang Maryam ceritakan tentang pisang tanduk. Sejenak, Rosmawati terdiam. "Bismillahirrohmanirrohim ...." ucap Rosmawati dalam hatinya. Gadis itu menurunkan boxer yang Mehmet kenakan dengan perlahan. Ia juga memejamkan matanya karena merasa tak sanggup untuk melihat penampakan pisang Arab.
Perlahan Rosmawati membuka matanya. Lagi-lagi, ia harus kecewa, karena ternyata di dalam boxer itu Mehmet memakai celana pendek seperti yang sering dikenakan para pesepeda. "Aduh, Met! Sistem keamanan kamu benar-benar berlapis," keluh Rosmawati yang mulai jenuh. Akhirnya gadis itu berdiri dengan memasang wajah cemberut. Ia bermaksud untuk berlalu dari hadapan Mehmet.
Namun, belum sempat Rosmawati berlalu, tangan Mehmet sudah terlebih dulu meraih pinggang gadis itu dan menariknya. Mehmet tersenyum manis. Tanpa diduga, pria itu mendaratkan ciuman mesra di bibir Rosmawati. Setelah itu, ia membopong tubuh Rosmawati ke atas dipan kayu berlapis selembar kasur busa tipis.
Mehmet mengangguk pelan. "Kamu sudah siap, Rose?" Mehmet bertanya balik.
"Aku siap, Met. Dari sebelum kita nikah juga aku udah siap," celetuk Rosmawati, membuat Mehmet tersenyum simpul. Perlahan pria itu menggerakkan tubuhnya. Namun, tiap kali Mehmet menggerakkan tubuhnya, maka dipan itu seketika mengeluarkan bunyi berdecit.
"Aduh, kenapa tempat tidurnya bunyi, Rose?" Mehmet mengernyitkan keningnya.
"Pelan-pelan aja, Met biar ngga bunyi," balas Rosmawati.
"Oke, tapi ...." Mehmet tidak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali menggerakkan tubuhnya, dan suara itu kembali terdengar.
"Pelan-pelan aja, Met! Sudah lapuk sih, kalo terlalu kencang nanti patah," ucap Rosmawati dengan agak nyaring, sehingga terdengar ke kamar sebelah yang kebetulan ditempati Maryam.
__ADS_1
Dengan segera, Maryam turun dari tempat tidurnya dan menempelkan telinganya ke dinding.
"Aku rasa masih kuat, Rose," terdengar suara Mehmet.
"Jarang dipake sih, makanya lapuk. Kalo kena hentakan kencang pasti patah," terdengar suara Rosmawati menanggapi. "Tuh, kan kalo digerakin terlalu kuat jadi ada suaranya," lagi suara Rosmawati terdengar cemas.
"Tenang saja, Rose. Aku pasti hati-hati agar tidak sampai patah," sahut Mehmet.
"Iyalah, Met. Kalo sampe patah, nanti aku dimarahin sama Mak Katemi. Diganti pake bambu bisa kali ya? Bambu di belakang rumah gede-gede dan panjang-panjang lagi," ujar Rosmawati membuat Maryam tercengang.
"Jangan, Rose! Lebih baik pake besi saja sekalian, agar jauh lebih keras dan kuat," sanggah Memet.
Maryam yang sejak tadi menguping pembicaraan pada momen malam pertama Rosmawati dan Mehmet, hanya dapat meringis ngeri. Tiba-tiba gadis itu terisak sambil naik ke tempat tidur. Sikapnya membuat Jamie Scott yang saat itu sedang sibuk mencari sinyal sambil menepuki nyamuk, menjadi heran. "Ada apa, Honey?" tanyanya cemas.
Dengan segera, Maryam menghambur ke dalam pelukan Jamie Scott. "Neng beruntung punya suami kaya Aa. Neng kasian sama si Ijem," isaknya.
"Kasian kenapa, Honey? Dia kan sudah menikah sekarang," sahut Jamie Scott sambil menepuk pipinya yang dihinggapi nyamuk.
"Justru karena itu, A. Neng barusan denger, katanya punya si Memet udah lapuk, makanya mau diganti sama bambu dan besi," isak Maryam lagi membuat Jamie Scott seketika tercengang. "Neng mikir, apa si Ijem bakalan sanggup?" Maryam menangis sesenggukan karena terlalu mengkhawatirkan sahabat kembar siamnya.
"What?" seru Jamie pelan dengan mata terbelalak, saat mendengar penjelasan dari sang istri.
.
.
.
.
__ADS_1
Siang Pertama telah terlewati, saatnya kita mampir ke karya menawan yang satu ini. Sebuah kisah romansa manis yang mengaduk-aduk perasaan Mumun dan Ijem. Cekidot, manteman...