Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Kearifan Lokal


__ADS_3

Malam itu, Rosmawati mengetik surat pengunduran dirinya dengan penuh keyakinan. Ia sudah memantapkan tekadnya untuk kembali resign dari tempatnya bekerja


saat ini. Ternyata ia tak sekuat Mehmet dalam menghadapi patah hati. Rosmawati begitu terluka.


Perasaannya tercabik-cabik. Darahnya seakan kering dan jantungnya berhenti berdetak (untungnya itu hanya seakan).


Rasa-rasanya Rosmawati tak sanggup lagi bekerja di kantor tanpa adanya Mehmet, terlebih setelah ia mengetahui kenyataan bahwa Mehmet tak lagi ada di dekatnya, karena pria itu akan segera menikah dengan gadis lain.


"Ngapain, Jem?" Maryam tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar Rosmawati dengan mulut penuh dengan roti  sobek (dalam artian yang sebenarnya).


Tidak ada jawaban dari Rosmawati. Gadis itu masih fokus pada layar laptop di hadapannya. Maryam kemudian mendekati  Rosmawati yang masih saja khusyuk di depan meja kerjanya.


Gadis yang sebentar lagi akan segera dilamar oleh si ganteng kalem tiada duanya, yaitu Jamie Scott lalu mengintip apa yang  sedang diketik oleh sahabat kembar siamnya itu.


"Lu ngundurin diri lagi?" tanya Maryam dengan suara nyaring, membuat Rosmawati seketika terganggu dan menoleh untuk sejenak. Wajah Rosmawati berlipat-lipat seperti perut mak-mak setelah melahirkan.


"Berisik ah, Mun!" Rosmawati bersikap tak acuh kepada sahabat kembar siamnya.


"Kenapa? Bukannya  lu sudah enak kerja di sana? Gaji lu juga kan tinggi," cerocos Maryam. Beberapa serpihan roti ikut menyembur dari mulutnya dan ada yang jatuh di pundak Rosmawati. Dengan segera Maryam mengusap-usap pundak sahabatnya.


Rosmawati seketika  menghentikan kegiatannya. "Gue nggak bisa, Mun! Setiap sudut kantor selalu mengingatkan diriku kepada dirinya," ucapnya dengan gaya bicara yang sok puitis.


Ia juga memicingkan kedua matanya, yang menandakan bahwa dirinya tengah dilanda perasaan galau yang tiada duanya.


"Hmm ... bagaimana ya, Jem? Menurut gue sih, jangan ngundurin diri. Sayang banget gaji lu. Kalau masalah patah hati, lama-lama pasti bakalan sembuh dengan sendirinya. Kecuali patah tulang lu, baru mesti dibawa ke bengkel tulang, apalagi kalo yang patah tulang leher. Sayang kan lu cakep-cakep sengklek,” Maryam terkekeh.


Ia bahkan tertawa terbahak-bahak dan seakan lupa jika dirinya masih mengunyah roti di dalam mulutnya. Ia pun tersedak dan


batuk-batuk untuk sesaat.


“Rasain, lu!” cibir Rosmawati puas.

__ADS_1


Maryam kemudian menenangkan dirinya dan mencoba bernapas dengan teratur. Sesaat kemudian, ia kembali bicara. “Siapa tahu ketemu jodoh baru. Si Ahmad mungkin," celetuk Maryam sok tahu.


"Ih, amit-amit! Ogah gue sama Buaya Arab. Bininya yang kelihatan saja sudah dua! Belum lagi yang nggak kelihatan," ringis Rosmawati sambil bergidik ngeri.


"Hah! Maksudnya dia juga nikahin makhluk halus?" tanya Maryam polos.“Wah ... kalo di


negara kita pasti sudah jadi jurangan demang itu si Ahmad ya, Jem?” lanjutnya sambil lanjut termenung. Entah apa yang tiba-tiba ia pikirkan.


"Udah, ah! Gue nggak mau ngomongin si Ahmad. Yang jelas gue alergi sama dia!" tandas Rosmawati. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan berganti pakaian.


"Eh, Jem. Gue jadi mikir nih, ya! Si Memet kan sama-sama orang Arab, sama kayak si Ahmad. Nah, kalau dia memang beneran nikah, itu kan baru sekali. Masih tersisa tiga slot lagi, Jem! Lu masih punya kesempatan jadi bini dia yang kedua!" cetus Maryam yang dibalas pelototan oleh Rosmawati.


"Amit-amit ya, Mun! Gue nggak mau jadi yang kedua! Gue maunya Memet seutuhnya jadi milik gue. Nggak boleh dibagi-bagi!” tegas Rosmawati lagi.


"Lu nya mau. Dianya nggak," celoteh Maryam tanpa perasaan sembari nyelonong keluar dari kamar Rosmawati. Sesaat kemudian, tampak kepala gadis asal Sunda itu kembali muncul dari balik pintu. “Untung ya gue kagak ada hasrat sama Onta Arab, gue lebih demen mata abu-abu. Buktinya bentaran lagi gue mau


dilamar,” ujar Maryam dengan puas. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ia


bersenandung riang, “Besoooook ... aku dilamar. Besoooook ... aku menikah!”


Keesokan harinya.


Dengan langkah cepat, akhirnya sampailah Rosmawati di kantor. Dia langsung menuju ruang HRD untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Mr. Frost, kepala HRD lah yang menerima secara langsung surat itu.


"Aku akan memproses secepatnya suratmu, Rose. Akan tetapi, sebelum surat pemberhentian secara resmi keluar, kau masih harus tetap bekerja di sini," terang pria berkepala botak dengan perutnya


yang agak buncit itu. Rosmawati pun mengeluh pelan.


Melihat raut keberatan yang terpancar dari wajah gadis oleng itu, Mr. Frost melanjutkan penjelasannya, "Tenang saja, Rose! Kami masih akan menghitung gajimu setiap harinya."


"Bukan karena itu, Sir. Saya ingin cepat-cepat pergi dari sini. Berapa lama kira-kira surat pemberhentian itu keluar?" tanya Rosmawati.

__ADS_1


"Sekitar dua atau tiga hari lagi, bersabarlah. Apakah ada yang mengganggumu sehingga kau merasa tidak nyaman di sini, Rose?" Mr. Frost balik bertanya dengan hati-hati.


Rosmawati mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada, Sir," jawabnya lirih. Dia terpaksa berbohong daripada pria itu mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan lain.


“Baiklah, bertahanlah selama tiga hari ke depannya, Rose,” bujuk Mr. Frost.


Rosmawati hanya mengangguk pelan. Ia


tidak harus memberitahukan segalanya kepada pria itu. Dengan langkah lunglai, Rosmawati keluar dari ruangan HRD dan langsung menuju meja kerjanya. Di sana, Ahmad sudah menunggunya dengan senyuman menyeringai yang terlihat jauh lebih horror jika dibandingkan dengan seringai serigala jadi-jadian.


“Ayo, bekerja, Rose! Jangan sampai kamu di sini makan gaji buta!” Ahmad memulai serangannya. Pria itu ternyata jauh lebih mengganggu dan menyebalkan jika dibandingkan dengan si Kiki. Akan tetapi, Rosmawati hanya terdiam dan tak menanggapinya sama sekali. Gadis itu malah duduk dengan anggun dan seakan menganggap Ahmad hanya sebagai makhluk tak kasat mata.


“Hei, Rose! Kaudengar tidak aku tadi bilang apa?” ulang Ahmad.


“Terserah kamu deh, Mat! Aku tidak peduli. Lagian, tiga hari lagi aku sudah tidak ada di sini,” sahut Rosmawati tak acuh.


Ahmad langsung terbelalak. “Memangnya kau mau kemana? Mau menyusul Mr. Hayder?” tanyanya penasaran tapi dengan nada setengah meledek.


“Ih, sori ya! Rosmawati bukan pelakor! Selamat berbahagia saja deh buat  bosmu. Aku mau cari jodoh sendiri. Kearifan lokal saja,” jawabnya murung.


Ahmad tak langsung menjawab. Dia hanya mengamati raut wajah Rosmawati yang mendadak murung. “Kau tidak bercanda kan, Rose? Kau benar-benar akan mengundurkan diri?”


“Iya, Mat.  Aku mau pulang kampung saja. Sudah bertahun-tahun aku tidak pulang. Aku kangen mak Katemi,” Rosmawati menunduk dan terisak. Entah itu tangis kerinduan untuk emaknya, atau kah tangisan patah hati untuk Mehmet.


“Saranku, sih, pamitlah pada Mr. Hayder. Bagaimana pun juga kalian dulu pernah dekat,” tutur Ahmad.


“I’m sorry, Mat. I can’t,” sahut Rosmawati lirih. Dia tak sekuat Mehmet yang berapa kali pun ditolak, Mehmet masih saja berjuang mendekati Rosmawati.


“Padahal dua minggu lagi, Mr. Hayder berencana kembali ke sini setelah segala urusannya di Dubai selesai,” ujar Ahmad seraya melirik Rosmawati. Dia ingin melihat reaksi gadis oleng itu atas informasi yang baru saja dia berikan.


“Okelah, Mat. Sampaikan salamku padanya, ya! Kasih  tahu ke Memet kalau aku patah hati dan berniat mencari penggantinya,” ucap Rosmawati. Ia begitu percaya diri jika Mehmet akan menanggapi perasaannya.

__ADS_1


Indra pendengaran Ahmad menajam. “Memangnya kau sudah punya penggantinya?”selidiknya.


“Masih dalam rencana mencari, sih. Aku nyoba cari di gugul tapi ngga nemu-nemu yang cocok,” Rosmawati mengangkat bahunya. Hari ini sudah dua kali dia mengangkat bahunya. Sepertinya hal itu akan menjadi kegemaran barunya setelah patah hati.


__ADS_2