Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Orestes Beraksi


__ADS_3


Nona Halimah.


.


.


Ahmad dan gadis cantik jelita bernama Halimah itu kini duduk berhadapan dengan Mehmet dan Rosmawati yang masih terus cemberut. Mereka berempat duduk terdiam dengan pikiran masing-masing di meja makan berbentuk persegi itu. Ada sepiring ayam goreng dan beberapa masakan buatan Mehmet yang menganggur di tengah meja yang belum sempat disantap, karena Rosmawati terlebih dulu terbakar api cemburu.


"Jadi ini istrimu, Hayder?" tanya Halimah membuka percakapan. Suara gadis itu terdengar begitu lembut dan menunjukkan sebuah keanggunan dari dirinya.


"Iya. Kenalkan, namanya Rose," jawab Mehmet sambil menyunggingkan senyum yang bagi Rosmawati terlihat begitu menawan. Rasa cemburu dalam hati Rosmawati pun kian membesar bagaikan ban yang terus dipompa, dan mungkin tidak lama lagi akan meledak.


"Kalau jawab pertanyaan nggak usah sambil senyum-senyum begitu dong, Panda! Aku risih lihatnya," protes Rosmawati dengan bibirnya yang dibuat manyun.


"Dia cantik juga, ya," puji Halimah dengan sorot mata yang terlihat aneh. Entah pujiannya itu tulus atau cuma bualan belaka. Rosmawati tak peduli, karena dadanya kini sedang dilanda cenat-cenut.


"Oh, tentu saja tidak secantik nona Halimah. Jauuuuuuh sekali. Ibarat jarak dari bumi ke matahari," celetuk Ahmad seraya mencomot sepotong ayam goreng di atas piring dan langsung menyantapnya tanpa rasa malu.


Spontan Rosmawati merebut ayam goreng itu dari genggaman Ahmad dan mengembalikannya ke piring. Ia lalu menarik piring itu  hingga menempel di dadanya. "Ini ayam goreng spesial untuk aku! Panda yang goreng!" sentak Rosmawati sambil melotot tajam kepada pria yang gemar mengkoleksi istri tersebut.


Dengan lembut, Mehmet merengkuh pundak Rosmawati, kemudian memeluknya erat. "Sudahlah, Sayang. Jangan begitu. Nanti aku gorengkan lagi, ya," bagaikan pawang macan yang berusaha menjinakkan hewan tangkapannya, Mehmet membujuk dan mengecup kening Rosmawati.


Tentu saja, hal itu membuat perasaan tak nyaman dalam diri Ahmad dan terutama Halimah. "Kenapa sih kamu mengajak aku ke sini? Apa kamu mau membuatku malu lagi, Ahmad? Apa tidak cukup aku dipermalukan karena Hayder menolak perjodohannya denganku di depan seluruh keluarga besar?" protes Halimah. Wajahnya masih terlihat sangat cantik meskipun dalam keadaan kesal.


"Bu-bukan begitu, Nona!" serta merta Ahmad menggerak-gerakkan tangannya di depan dada sebagai tanda tidak setuju atas kalimat Halimah. "Saya cuma ingin menunjukkan seperti apa istri pilihan Mr. Hayder," dalihnya.


Mendengar hal itu, Rosmawati tak tinggal diam. Dia segera menjitak kepala Ahmad sekencang-kencangnya. "Memangnya kenapa dengan istri pilihan Mr. Hayder?" teriak Rosmawati kencang seraya berdiri dan bertolak pinggang di depan Ahmad. Matanya melotot, sehingga membuat Halimah yang kalem dan lembut menjadi ketakutan.


"Haya, tolong jinakkan istrimu. Aku takut," ucap Halimah lirih.

__ADS_1


Seketika tubuh Rosmawati menegang dan kaku. "Apa tadi dia bilang? Haya?" Rosmawati tidak percaya. Ia kembali terduduk dengan lesu.


"Iya, My Love. Keluarga ayah angkat memanggilku dengan sebutan Haya ketika aku kecil," jelas Mehmet sambil mengusap-usap pundak Rosmawati untuk menenangkannya. Gadis oleng itu tampak seperti banteng yang siap menyeruduk matador.


"Nggak boleh! Pokoknya siapapun nggak boleh manggil kamu mesra begitu! Cukup aku yang boleh mesra-mesrain kamu!" Rosmawati makin tak terkendali.


"Tuh, kan! Apa kubilang, Nona! Istri Mr. Hayder itu seperti peman jalanan yang biasanya suka nodong orang lewat. Dia jauh banget sama Nona Halimah yang anggun dan gemulai," ucap Ahmad yang memang berniat untuk memanas-manasi Rismawati.


Sementara Halimah hanya manggut-manggut sambil mengamati tingkah absurd Rosmawati yang sedang merajuk. "Kasihan sekali, Mehmet. Apa sih yang dia lihat dari gadis liar seperti dia?" ejeknya.


"Makanya, apa saya bilang! Anda jauh lebih segalanya dari nona Rosmawati," ujar Ahmad berapi-api. Ia benar-benar seperti burung gereja di pesawahan yang akan dipanen. Terbang ke sana-kemari mencari padi-padi yang sudah menguning.


"Jadi, apa yang harus kulakukan demi menyelamatkan Haya, Ahmad?" tanya Halimah lembut.


"Itu mudah. Anda cukup menyadarkan Mr. Hayder agar tidak salah jalan," jawab Ahmad antusias.


Tentu saja suara Ahmad yang nyaring, terdengar sampai ke telinga Rosmawati. Merasa tak terima, Rosmawati langsung berdiri dan mendekati Ahmad, lalu mencengkeram krah baju gamisnya. "Maksud kamu apa sih, Mat? Dari tadi menghina aku terus! Memangnya aku punya salah apa sama kamu? Kamu ngajak berantem, ya? Kamu pikir aku setan dari golongan manusia, apa? Yang bisa membuat Memet salah jalan? Jangan keterlaluan, deh! Belum pernah dicium sama Odading Mang Oleh, ya!" bentak Rosmawati seraya menunjukan tangan kanannya yang sudah terkepal sempurna.


"Nama apa itu?" Ahmad bergidik ngeri dengan ancaman Rosmawati. Dia beringsut mundur dan bersembunyi di balik badan Halimah.


"Sudah, hentikan, Nyonya Hayder!" tegas Halimah sambil pasang badan. Dadanya yang besar, ia busungkan sampai menyentuh dada Rosmawati. Gadis oleng itu tertegun sejenak, mengamati ukuran wanita cantik jelita itu, lalu membandingkan dengan miliknya. Hampir saja Rosmawati memegang bulatan indah itu, kalau tubuhnya tidak segera ditarik oleh Mehmet.


"Rose, sudahlah! Kumohon, tenangkan dirimu," pinta Mehmet seraya meraih wajah Rosmawati dan menangkupnya.


"Bentar, Panda. Aku penasaran sama anunya," bisik Rosmawati.


"Apanya?" balas Mehmet dengan berbisik pula.


"Anunya!" seru Rosmawati tertahan. Dia kemudian menghadapkan badannya kembali pada Halimah, lalu bersiap membandingkan dengan miliknya. Namun, sebelum keinginannya itu terlaksana, datanglah sepasang tamu lagi di apartemen Mehmet.


"Assalamualaikuum!" ucap suara cempreng dan nyaring dari arah pintu masuk yang terbuka. "Ijeem! Mumun kangeen!" Maryam yang datang bersama sang suami, segera menghambur ke arah Rosmawati.

__ADS_1


Segera Rosmawati membalas pelukan Maryam. Belum pernah ia sebahagia itu saat melihat sahabat kembar siamnya. "Lu kenapa, Jem?" tanya Maryam heram bercampur cemas. Ia lalu menatap Ahmad dan Halimah. Dua orang asing yang belum pernah ia temui.


"Wah, lagi arisan ya? Apa gue salah waktu datang  kemari?"


"Nggak, Mun. Gue lebih seneng liat muka lu daripada muka si Ahmad dan tuh cewek," jawab Rosmawati. Mereka bebas bicara dalam bahasa Indonesia.


"Eh, tuh cewek siapa? Ratu kecantikan dari negara mana?" Maryam bertanya tentang Halimah.


"Itu yang namanya Halimah, Mun. Dia cewek yang mau dijodohin sama Memet," jelas Rosmawati sedih.


Seketika Maryam terbelalak. Ia lalu mengarahkan pandangannya kepada Mehmet yang sedang bertegur sapa dengan Jamie Scott. "Eh, Met. Kamu yakin nolak yang beginian demi Ijem?" celetuk Maryam membuat Rosmawati semakin ingin menjerit. Maryam kemudian mendekat ke arah Halimah. Ia berdiri di depan gadis itu setelah sebelumnya meletakan kandang Orestes di atas meja.


Maryam mengamati wajah Halimah dari jarak yang begitu dekat. "Jem, ini mukanya asli nggak sih? Ko hidungnya gini banget ya?" seru Maryam sambil memegangi hidungnya yang tidak semancung hidung Halimah. Apa yang Maryam lakukan, tentu saja telah membuat Halimah menjadi risih. Gadis itu menjauhkan wajahnya.


"Ahmad, siapa lagi gadis aneh ini?" tanyanya kepada Ahmad seraya meringis ngeri.


"Saya rasa dia masih satu spesies dengan istri Mr. Hayder, Nona Halimah," jawab Ahmad dengan seenaknya. Akan tetapi, Maryam tidak memedulikan ocehan pria itu. Ia justru malah mengeluarkan Orestes yang lincah dari kandangnya.


"Kata Mak Odah, orang cantik itu hatinya baik dan penyayang. Kamu suka binatang ngga? Nih, kenalin anak asuhku dan Aa Jamie, namanya Orestes," Maryam menyodorkan hamster kecil yang lincah itu kepada Halimah.


Halimah mundur dan tampak ketakutan, terlebih saat itu tiba-tiba Orestes melompat ke dada yang membusung indah bagaikan buah pepaya mentah milik gadis cantik itu. Orestes menempel di sana dengan nyaman. "Aaaaaw ... singkirkan hewan pengerat ini dariku!" pekik Halimah. Ia begitu histeris dan membuat Mehmet serta Jamie Scott yang sedang asyik berbincang menjadi terkejut dan segera menoleh.


Melihat hal itu, Ahmad sigap dan berlagak sok menjadi pahlawan. Dengan segera ia mengambil Orestes dari dada Halimah dan membuat gadis itu semakin histeris. "Ahmaaaaaad!" sebuah tamparan keras mendarat di wajah pria tukang kawin itu.


"Rasain, lu!" umpat Rosmawati dengan puas.


.


.


.

__ADS_1


Di tengah panasnya suasana, mampir dulu yuk, di novel manis dan keren karya temen otor yang satu ini..



__ADS_2