Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Sweet Mehmet


__ADS_3

Taksi online yang ditumpangi oleh dua pasangan ajaib itu sudah tiba di sebuah desa yang cukup terpencil. Meskipun jalanan sudah terbuat dari aspal, tetapi suasana di sekeliling mereka terbilang cukup sepi.


"Jem, apa bener ini jalannya? Sepi amat? Feeling gue ga enak," Maryam melongok keluar jendela dan bergidik ngeri.


"Iya, Mun. Mak Katemi emang sengaja pindah rumah, nyari lokasi yang jauh dari keramaian. Katanya biar kalau lagi marah-marah, nggak ada yang denger dan terganggu. Karena pernah ada kejadian tetangga langsung kena serangan jantung saat mendengar suara Mak Katemi yang sedang marah-marah," sahut Rosmawati sambil memberikan aba-aba pada sang sopir. "Belok kiri lurus ya, Pak! Nanti berhenti di depan rumah cat putih."


"Cat putih?" ulang si sopir. "Cat putih yang mana mbak? Ini semua rumah-rumahnya pada dicat putih," si sopir mulai kebingungan.


"Oh, maksud saya masih lurus terus, pak. Teruuss aja! Sampe rumah yang paling jauh dan menyendiri," jelas Rosmawati.


"Jem, lu nggak sedang menjebak kita-kita, kan?" tanya Maryam setengah ketakutan.


"Menjebak gimana sih, Mun?" balas Rosmawati sewot.


"Ya, siapa tahu. Lu ngajak kita ke sini terus ditinggalin di tempat sepi, terus barang-barang berharga kita semua lu bawa lari," jawab Maryam dengan entengnya.


"Barang berharga apa'an? Orang barang lu nggak berfaedah semua. Nggak ada gunanya juga dicuri," semprot Rosmawati. Dia lalu mengarahkan pandangannya pada Mehmet dan mencolek-colek dagunya. "Kecuali ini, nih. Kalau nyulik dia, gue rela."


Sementara Mehmet tidak begitu menanggapi celotehan Rosmawati. Dia begitu serius memperhatikan jalanan di luar. "Is that your house, My Love?" tunjuknya pada sebuah rumah yang seakan terasing, jauh dari perumahan lainnya.


"Nah, iya! Itu rumahku, Met! Berhenti di depan ya, Pak!" seru Rosmawati.


Segera setelah mobil itu berhenti, Rosmawati meloncat keluar, lalu membuka pagar lebar-lebar sehingga taksi online itu bisa memasuki halaman rumah dengan leluasa.


"Mak! Aku mulih, Mak!" (Mak, aku pulang) Rosmawati berteriak dan segera menerobos pintu depan yang tak terkunci. Tak lupa dia mengajak masuk semua orang, termasuk sopir taksi online yang sedang menunggu ongkosnya dibayarkan.


Sementara Maryam masih menyempatkan diri untuk mengamati sekitar. Rumah Rosmawati cukup luas dan nyaman untuk ukuran rumah di pedesaan, meskipun terlihat sederhana. Halamannya juga cukup lebar, ditumbuhi dengan pohon pisang dan mangga yang sudah berusia puluhan tahun, namun masih berdiri kokoh di samping pagar. Hal itu membuat rumah sederhana itu terasa lebih asri. Namun, anehnya pagar itu hanya berada di depan. Sementara di bagian belakang dibiarkan begitu saja.


Maryam kemudian berjalan memutar menuju halaman belakang. Di belakang rumah Rosmawati, ternyata juga terdapat kebun singkong dan bambu.


"Si Melissa biasanya gelantungan di sana," ucap seseorang tiba-tiba.


Maryam berjingkat karena terkejut dan menoleh ke belakang. Seorang gadis remaja berparas manis dengan wajah yang sedikit mirip Rosmawati, menyeringai ke arahnya.


"Kamu siapa?" tanya Maryam.


"Nining, anak keempat dari tujuh bersaudara," gadis itu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Maryam pun menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya erat-erat. "Terus, Melissa itu siapa?" tanyanya sambil menggerak-gerakkan tangan Nining.


"Kuntilanak penunggu kebun," jawab Nining sembari tertawa cekikikan.


Sontak, bulu kuduk Maryam meremang. Dia memutuskan untuk berlari memasuki rumah dan meninggalkan Nining sendirian.


Di dalam ruang tamu, sudah ramai orang berkumpul. Tidak bisa disebut sebagai orang juga, sih. Sebab yang banyak berkerumun di sana adalah bocil-bocil berbaju oversize yang saling berebut untuk menggelantung di tangan Mehmet. Sementara di dekat meja ruang tamu, tampaklah seorang wanita paruh baya yang sumringah menyajikan minuman dan camilan.


"Kenalin, Mun. Ini emak aku, namanya mak Katemi," ujar Rosmawati sambil menepuk pundak Maryam.


"Oh, assalamualaikum, Mak," Maryam meraih tangan mak Katemi dan mencium punggung tangan itu khidmat. Sekilas dia menghirup aroma aneh dari ujung jari wanita itu. "Kayak bau terasi," batinnya.


"Wa alaikum salaam," balas mak Katemi dengan sangat ramah. Senyum cerah dan bahagia tak pudar dari wajahnya yang mulai mengalami proses penuaan, terutama di bagian dekat mata. Wanita itu kini berusia lima puluh tahun lebih, rentan mengalami tanda-tanda penuaan.


Kembali pada Maryam, dia takjub melihat keluarga Rosmawati yang ternyata adalah keluarga besar. Begitu pula Jamie Scott yang hanya sanggup ternganga melihat betapa berisiknya keluarga ini. Pantas saja mereka memilih rumah yang jauh dari tetangga.


Lain halnya dengan Mehmet, dia terlihat sangat menikmati saat anak-anak kecil itu berebutan untuk menempel padanya, walaupun sedikit risih karena salah satu anak mengelap ingus dengan meminjam telapak tangan Mehmet.


Mehmet teringat masa lalunya yang selalu kesepian dan tak memiliki teman maupun keluarga dekat. Hanya ayah angkatnya yang peduli padanya, itupun sangat jarang mereka bertemu, karena ayah angkatnya selalu sibuk dan sering bepergian.


"Ini adikku yang paling kecil, Met. Waktu kutinggal merantau, dia masih baru lahir," tutur Rosmawati.


"Awak e apik e, reek. Koyok awak e bapakmu mbiyen pas sik enom (Badannya bagus banget, kayak badan bapak kamu waktu masih muda dulu)," puji mak Katemi sambil meraba perut dan dada Mehmet.


Mehmet sedikit geli dan tidak nyaman atas perlakuan mak Katemi, tetapi ia tahan. Bagaimanapun wanita di depannya ini adalah calon mertuanya. "Hai, how are you? Assalamualaikum," sapa Mehmet sopan.


"Wa alaikum salaam. Lhoo, iso ngomong tibake! (Bisa ngomong ternyata)," balas mak Katemi. Jemarinya kini beralih pada kedua pipi Mehmet yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Ujung jari mak Katemi yang berada di dekat hidung Mehmet, membuat pria rupawan itu bersin.


"Hatsyi!"


Mak Katemi buru-buru menarik tangannya. Dia lalu mencium jari tangannya sendiri. "Lah, pantesan. Lupa belum cuci tangan," gumamnya.


"Gimana, mak? Ngganteng nggak calonku?" tanya Rosmawati dengan bangganya.


Belum sempat mak Katemi menjawab, terdengar suara seorang pria dari arah pintu masuk.


"Assalamualaikum! Onok opo iki rame-rame? Nining njebolno genteng maneh, ta? (Ada apa ini rame-rame? Apa Nining jebolin genteng lagi?)" tanya pria yang tidak lain adalah bapak Rozi, ayah Rosmawati.

__ADS_1


"Bapaak!" Rosmawati segera menghambur ke arah pria paruh baya itu. Memang dia jauh lebih dekat pada bapaknya dibandingkan dengan mak Katemi.


"Oalah, Ros ta iki?" bapak Rozi memeluk Rosmawati penuh haru. Diusap-usapnya puncak kepala putrinya itu berkali-kali.


"Terus, iki sopo?" setelah cukup lama berpelukan, bapak Rozi melepas pelukannya dan memperhatikan seorang pria yang memandang dirinya dengan tatapan memelas.


"Saya cuma nunggu ongkos di sini, Pak," ucap pria yang tidak lain adalah sopir taksi online.


"Astaga! Aku hampir saja lupa!" Mehmet menepuk dahinya dan buru-buru mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dia sodorkan uang itu pada si sopir taksi.


Semua mata terbelalak melihatnya. Tak terkecuali sopir taksi online itu. Segera dia memasukkan lembaran uang itu ke dalam kantongnya dan ngacir.


"Met, lu katanya bangkrut? Kok bisa punya duit sebanyak itu?" selidik Maryam.


Mehmet tak menjawab, dia hanya tersenyum simpul, lalu berjalan menghampiri bapak Rozi dan mencium punggung tangannya. Kali ini yang dia cium, adalah tangan yang harum, seperti bau sabun. Berbeda dengan telapak tangan mak Katemi.


"Lapo raine kok ngguya-ngguyu ngono? Mari setor yo? (kenapa kok senyum-senyum gitu? Abis setor/BAB ya?)" tebak mak Katemi.


"Tau aja ibu, nih," bapak Rozi tersipu malu sambil menggaruk keningnya. Terkuak sudah asal muasal bau harum di tangannya itu.


"Jadi, pasti ini yang namanya Maryam, ya? Ros sering cerita. Ini siapa?" tanya bapak Rozi mengalihkan pembicaraan. Tangannya menunjuk pada Jamie Scott dan Mehmet secara bergantian.


"Kalo ini, Jamie, suaminya Maryam, pak. Kalau ini ..." Rosmawati menarik lengan Mehmet dengan malu-malu.


"Hai, bapak. I'm Mehmet. Saya sudah sejak lama menaruh hati pada putri bapak. Sudah bertahun-tahun. Jadi, mumpung ada kesempatan, ijinkan saya untuk melamar Rosmawati," ucap Mehmet.


Bapak Rozi yang hanya paham dua bahasa, bahasa Jawa dan Indonesia, hanya termangu. Dia akhirnya manggut-manggut setelah Rosmawati menerjemahkan kalimat Mehmet.


Wajah mak Katemi langsung bersinar., begitu mendengar kalau Rosmawati akan segera dilamar. Berkuranglah satu tanggungannya. Begitu pikir mak Katemi.


.


.


.


Selamat pagii.. Datang lagi satu karya keren dari temen otor. Silakan mampir 😘

__ADS_1



__ADS_2