
Mehmet menyeret paksa Ahmad masuk ke dalam lobi gedung milik Justin Blake. "Kita tidak membuat janji sebelumnya, Sir? Bagaimana kalau Justin sedang tidak berada di tempat? Kita pulang saja, ya," bujuk Ahmad.
Akan tetapi, Mehmet tak peduli. Dia tetap menyeret paksa Ahmad hingga memasuki lift VIP dan mengantarnya langsung menuju ruangan Justin.
"Seharusnya anda menanyakan langsung perihal alamat Nona Rosmawati di kedutaan, Sir," saran Ahmad.
"Aku sudah dari sana dan ditolak!" ketus Mehmet.
"Harusnya anda mengaku sebagai majikannya. Bilang saja TKW yang anda sewa tengah melarikan teko ajaib," cetus Ahmad.
Seketika bola mata indah milik Mehmet melotot ke arahnya. Mehmet sudah akan menceramahi sahabat sejak bayinya itu, ketika pintu lift berdenting dan terbuka.
"Sudah sampai!" pekik Ahmad seraya berkelit, melarikan diri dari Mehmet.
Dengan langkah tegap dan percaya diri, Mehmet berjalan gagah di belakang Ahmad. Menunggu Ahmad mengetuk pintu hingga sekretaris Justin membukanya.
"Who are you? Where is Chelsea?" telunjuk Ahmad mengarah pada gadis berambut pirang bergelombang di depannya.
"Ingat istrimu, Mad. Dia sedang hamil," bisik Mehmet.
"Bukan, maksud saya, kenapa sekretarisnya ganti lagi?" tanya Ahmad, suatu pertanyaan yang tidak begitu penting sebenarnya.
"Nona Chelsea mengundurkan diri karena ketidakprofesionalannya dalam bekerja," sahut Justin Blake yang sudah berdiri di belakang sekretaris barunya. "Halo, apa kabar, Mr. Hayder?"
Pria bermata biru itu menyalami Mehmet yang tersenyum kecut. "Ada perlu apa Tuan datang kemari?" tanya Justin setelah mempersilakan investor pentingnya itu duduk.
"Aku tidak akan berbasa-basi, aku kemari hanya ingin menanyakan alamat nona Rosmawati," jawab Mehmet dingin.
"Alamatnya? Bukankah dia tinggal di flat sederhana di London?" Justin balik bertanya.
"Hhh," Mehmet menghembuskan napasnya dengan kesal. "Aku tidak menanyakan alamatnya di London. Aku menanyakan alamat dia di Indonesia!" tegas Mehmet.
"Oh, itu? Jadi dia berasal dari Indonesia? Saya pikir dia berasal dari dunia lain," kelakar Justin. Akan tetapi, Mehmet terlihat tidak suka. Wajah rupawannya merengut menatap Justin Blake.
Mehmet kembali berpikir. Siapakah kira-kira yang mungkin mengetahui alamat Rosmawati di Indonesia? Baik Maryam, Jamie Scott maupun Rosmawati hingga detik ini sama sekali tak dapat dihubungi.
__ADS_1
Apakah dia harus bertanya pada Kiki? Tetangga flat yang aneh yang selalu membuat bulu kuduknya meremang? Namun, jika itu satu-satunya jalan, maka Mehmet siap menghadapinya.
"Baiklah kalau begitu, Justin. Aku akan mencari informasi di tempat lain," Mehmet berdiri dan menyalami Justin.
"Ehm, maaf sebelumnya, Mr. Hayder. Kalau boleh tahu, kenapa anda mencari alamat Rosmawati di Indonesia? Apakah dia mencuri sesuatu dari anda dan anda berniat mengejarnya?" tanya Justin penasaran.
"Ya, Rose telah mencuri sesuatu dariku," jawab Mehmet pelan.
Justin Blake dan Ahmad terlihat antusias menunggu kalimat Mehmet berikutnya.
"Rose telah mencuri hatiku," lanjut Mehmet sambil tersipu.
Seketika dua pria dewasa itu kecewa mendengarnya. Tak disangka, Mehmet yang selalu bersikap cool, memiliki jawaban selebay itu.
Setelah berpamitan sekali lagi, Mehmet kini mengajak Ahmad menuju flat Kiki di East London.
Meskipun awalnya menolak, tapi Mehmet berhasil membujuk Ahmad dengan iming-iming kenaikan gaji.
Gemetar tangan Ahmad saat mengetuk pintu flat Kiki. Dalam hati, dia berdoa agar Kiki sedang tidak berada di rumah.
"Selamat siang, anda pasti nona Kiki," ucap Mehmet sopan. Setengah mati dia memaksakan senyum. Rasanya tidak ikhlas jika dia harus membagi senyum manis pada makhluk kasat mata di depannya ini. Akan tetapi, dia terpaksa melakukannya, ini adalah jalan satu-satunya.
"Hey, Gentlemen," sapa Kiki dengan suara yang dibuat seksi. "Adah perluh apah kalian kemarih?" desahnya. Satu tangannya berpegang pada daun pintu, sementara tangan lainnya berkacak pinggang.
Ahmad bergidik ngeri dan bersembunyi di balik tubuh atletis Mehmet.
"Maaf mengganggu waktu istirahat siang anda. Saya hanya ingin bertanya tentang satu hal," ujar Mehmet.
"Oh, maaf. Saya tidak bisa. Saya sudah punya pacar. Namanya Syahid. Dia memang tidak setampan kalian, tapi dia sangat baik. Aku tidak bisa mengkhianatinya," cerocos Kiki.
Mehmet mengernyitkan dahi. Mendadak pandangannya berkunang-kunang, kepalanya terasa pening. Bersyukur dia tinggal jauh dari makhluk aneh ini.
"Saya hanya ingin bertanya tentang Nona Rosmawati," sanggah Mehmet, berusaha meluruskan kesalahpahaman Kiki.
"Si Ros?!" wajah Kiki seketika berbinar. "Dimana dia? Apa dia datang kemari? Aku kangen sama dia. Sudah lama kami tidak bertemu," celotehnya.
__ADS_1
"Justru itu. Saya juga ingin bertemu dengan Rose. Bolehkah saya meminta alamat dia di Indonesia?" tanya Mehmet penuh harap.
"Indonesia? Bukankah dia bekerja di Birmingham?" telisik Kiki sembari mengusap dagunya, seperti sedang berpikir. Padahal pikirannya cuma kosong saja.
"Sudah, jawab saja, please!" pekik Ahmad yang mulai kehilangan kesabaran.
"Serius, saya tanya! Kenapa kalian hendak mencari Ros di Indonesia? Dia kan kerja di Birmingham?" desak Kiki.
"Dia berhenti kerja dan pulang ke negaranya, Monyong!" desis Ahmad. "Seandainya Rose tetap berada di Birmingham, buat apa kami susah-susah bertanya padamu?" gerutunya.
"Oh, jadi dia di Indonesia?" raut Kiki berubah murung. "Aku juga tidak tahu alamat dia dimana," sesalnya.
Sontak Mehmet dan Ahmad menepuk dahinya bersamaan. "Saya bilang juga apa, Sir. Bertanya pada makhluk jadi-jadian itu adalah hal yang buruk," bisiknya.
"Jadi, aku harus mencari tahu kemana?" Mehmet mulai putus asa. Kepalanya serasa penuh. Dia sama sekali tak dapat berpikir.
"Kita tanyakan ke almamater dia saja, Sir. Kita ke kampus tempat dia dulu berkuliah," cetus Ahmad.
"Nanti kalau ditolak lagi, bagaimana?" timpal Mehmet.
"Tenang, Sir! Saya punya ide cemerlang!" Ahmad mengangkat satu telunjuknya tinggi-tinggi ke udara.
Ternyata yang dimaksud dengan ide cemerlang oleh Ahmad itu adalah, dia memaksa Mehmet untuk berpura-pura menjadi suami Rosmawati. Zayn Malik kw 1 itu harus berakting sedih. Dia harus memasang tampang memelas. Ahmad juga menambahi polesan blush on berwarna ungu, agar Mehmet tampak seperti korban kekerasan dalam rumah tangga.
Dengan langkah yang dibuat selemas mungkin, Mehmet berjalan menuju kantor pusat informasi di kampus almamater Rosmawati.
Setelah bertanya pada seorang petugas keamanan, dua pria Arab itu segera menuju ruangan yang telah disebutkan.
Masih dengan wajah memelas, Mehmet bertanya pada seorang pegawai. " Saya ingin mencari istri saya yang melarikan diri. Dulu dia berkuliah di sini dan sudah lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Kabarnya dia minggat ke negara asalnya, Indonesia," tutur Mehmet. Bibirnya ia buat melengkung. Matanya juga terlihat basah, karena sebelumnya Ahmad telah menetesi bola mata Mehmet dengan obat tetes mata.
"Siapa nama lengkapnya?" tanya pegawai wanita bertubuh tambun itu dengan sorot kasihan. Tampaknya dia telah terjebak dalam drama Ahmad dan Mehmet.
"Rosmawati Rozi!" jawab dua pria itu bersamaan.
"Baiklah, tunggu sebentar," wanita itu segera beralih pada komputernya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menunggu dengan hati berdebar. Akhirnya, berita baik mereka dapatkan. Wanita itu memberikan informasi yang begitu didambakan oleh Mehmet, yaitu alamat kampung halaman Rosmawati.