Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Morning Glory


__ADS_3

Rosmawati baru saja melepas masker kecantikannya ketika Maryam melintasi kamarnya yang terbuka.


Kamar Rosmawati berbatasan langsung dengan ruang tamu. Posisi yang strategis untuk mengetahui siapa yang keluar atau masuk ke flatnya.


Beberapa hari yang lalu, Rosmawati memergoki Kiki menyelinap sambil mengendap menuju dapur.


Rosmawati saat itu sudah bersiap dengan raket nyamuk miliknya. Dia juga memencet tombol nyala, agar sewaktu-waktu bisa menyetrum wajah menyebalkan Kiki. Akan tetapi, nuraninya lebih mendominasi kepalanya kala Rosmawati tahu bahwa Kiki ternyata diam-diam mengambil foto Charlie Manfred yang tertempel di pintu kulkas.


"Oh, ngefans juga sama si Charlie rupanya?" Tanya Rosmawati dengan tiba-tiba sambil berdiri tepat di belakang tubuh Kiki. Gadis eksotik dari Thailand itu pun terlonjak kaget dan buru-buru melarikan diri tanpa menyahut.


Kembali pada Maryam yang terlihat cantik dan segar, yang telah membuat Rosmawati bertanya-tanya akan fenomena alam yang sedang terjadi di depan matanya saat ini.


"Tumben, pagi-pagi dah wangi?" Tanya Rosmawati seraya mengelilingi tubuh Maryam yang sedang asyik memasang sepatunya.


"Iya. Mau bicara dari hati ke hati sama calon mertua," jawab Maryam enteng. Dia pun melambaikan tangannya kepada Rosmawati setelah sebelumnya memberikan ciuman jarak jauh alias kiss far. Maryam kemudian berjalan keluar dari flat dan menuju tempat kerjanya.


Sepanjang jalan, Maryam melangkah ringan sambil bersiul. Sesekali, ia memutar tubuhnya, lalu kembali berjalan. Hal itu terus menerus ia lakukan hingga tanpa sadar, ia sudah berdiri di depan toko kue tempatnya bekerja.


Plang kecil di pintu masih tertulis 'Closed', namun bau harum roti tawar yang sepertinya baru saja dikeluarkan dari oven sudah menusuk hidung imut Maryam.


"Good morning, calon ibu mertua!" Sapanya dalam bahasa campuran, Inggris dan Indonesia, setelah ia membuka pintu toko lebar-lebar.


Mrs. Harlekin yang sibuk di ruang bagian dalam toko, tempat oven dan peralatan membuat kue dan roti, tak mendengarkan sapaan Maryam. Gadis itu tak peduli, dia meraih apron dan mulai mengambil peralatan kebersihan di gudang. Setelah selesai merapikan beranda, etalase dan lantai toko, Maryam bergegas menghampiri wanita paruh baya yang masih sibuk memanggang kue itu.


"Good morniing!" Seru Maryam dengan sedikit kencang, khawatir kalau-kalau wanita itu tak mendengarnya lagi.


Mrs. Harlekin terlonjak kaget sembari memutar badannya. "Mary!" Pekiknya dengan jengkel seraya memukulkan loyang pada lengan Maryam.


"Aduhh ... panas!" Maryam meringis saat loyang itu menyentuh kulit lengannya.


"Tumben datang sepagi ini? Ada apa? Mau kasbon lagi, ya?" Mrs. Harlekin memberondong Maryam dengan pertanyaan yang dipenuhi rasa curiga.


"Aduuh, nyonya! Saya bukan mau kasbon. Saya murni tulus ikhlas berangkat pagi untuk membantu anda ...." kalimat Maryam terasa menggantung, "juga untuk mendengarkan kisah kelanjutan aa Jamie," sambungnya sambil senyum-senyum.


"Itu namanya tidak murni tulus ikhlas!" Protes Mrs. Harlekin.


"Ya sudah, terserah nyonya. Jadi bagaimana?" Maryam menumpukan dagunya pada kedua tangan di atas meja dapur. Setengah membungkuk dia menghadap Mrs. Harlekin yang sedang membuat adonan kue.

__ADS_1


"Apanya? Bicara yang jelas! Aku sibuk!" Sungut Mrs. Harlekin.


Maryam mendengkus, lalu memutari meja mensejajari wanita itu. Dengan cekatan dia membantu melapisi loyang-loyang dengan kertas roti. "Jamie Scott, nyonya ... aku ingin tahu tentang dia," ucap Maryam setengah berbisik.


"Ya ampuun, Mary! Jangan bilang kau jatuh cinta kepadanya?" Perhatian Mrs. Harlekin kini beralih pada mata bulat Maryam.


"Memangnya kenapa? Apa nyonya nanti tidak mau merestui?" Maryam memasang raut sedih dan menghiba.


"Bukan begitu! Aku cuma mengingatkan saja. Kalau jatuh cinta kepada Jamie ... maka bersiaplah dengan resikonya," tutur Mrs. Harlekin serius.


"Memang ada resikonya? Semacam efek samping, begitukah?" Tanya Maryam antusias.


"Resikonya adalah ... kamu akan patah hati!" Sahut mrs. Harlekin.


"Jamie itu trauma dengan wanita. Dia pasti akan menolak dan risih kalau ada wanita yang mengejar-ngejar dirinya," jelas Mrs. Harlekin lagi.


"Hah, kenapa?" Maryam tampak kecewa.


"Aku tidak bisa bercerita banyak, Mary. Biarlah nanti kalau waktunya tiba, dia akan bercerita sendiri padamu. Itu juga jika dia bersedia," pungkas Mrs. Harlekin.


"Hei, hei! Jangan jilati loyangku! Aduh, bisa terkontaminasi virus dan bakteri nanti!" Cegah Mrs. Harlekin seraya merebut paksa loyang malang itu dari dekapan Maryam.


"Dih ... nyonya! Sebentar lagi kan loyangnya dipanggang. Bisa membunuh semua virus dan bakteri yang menempel," sahut Maryam lemah.


Mrs. Harlekin menoleh ke arahnya sekilas lalu menghela napas panjang. Dia menjadi tak tega melihat Maryam yang berubah 180 derajat menjadi letih, lesu dan tak bertenaga. Rasa sayangnya kepada gadis manis itu memang sangat besar.


Imelda alias Mrs. Halrekin, sangat ingin memiliki anak perempuan. Akan tetapi, sayangnya ia tidak jua memilikinya. Karena itu, ia menganggap Mary sebagai anak perempuan yang tidak pernah ia lahirkan.


"Dengar, Mary," Mrs. Harlekin kembali berbicara, "yang jelas ... Jamie pernah patah hati dengan seorang wanita yang hampir menjadi istrinya. Saking patah hatinya, sampai-sampai dia menjauhi aku dan tidak mau menjengukku. Alasannya ... karena akulah yang dulu mengenalkannya kepada gadis itu," ujar Mrs. Harlekin.


"Baru-baru ini saja dia bersedia kembali dekat denganku dan sering menjengukku," lanjutnya.


"Ooh ...." hanya itu yang Maryam ucapkan. Pikirannya mulai melanglang buana.


"Jangan membayangkan kalau kamu sanggup mengobati luka hatinya. Itu tidak mungkin!" Sergah mrs. Harlekin ragu.


Seperti cenayang, Mrs. Harlekin seakan bisa membaca angan-angan Maryam.

__ADS_1


"Kok nyonya tahu, sih?" Maryam bergidik ngeri.


"Sudah, ayo cepat bantu aku! Sebentar lagi toko akan buka!" Suruh mrs. Harlekin lagi.


"Siaap!" Seru Maryam yang kembali bersemangat.


Gadis itu mungkin memiliki sindrom bipolar yang berubah-ubah mood dan perasaannya hanya dalam waktu sepersekian detik. Atau mungkin dia hanya terlalu labil. Entahhlah, yang jelas harapannya kini membumbung tinggi. Sesuai motto hidupnya; 'yang penting yakin'!


"Mum!"


Tiba-tiba suara bariton seorang laki-laki menggema dari arah pintu dapur, membuat kedua wanita berbeda generasi itu menoleh.


"Aa Jamie," seru Maryam girang sambil loncat-loncat.


"Wah, tumben juga sepagi ini kau datang, Jamie! Apa kalian berdua janjian?" Tanya Mrs. Harlekin kepada Jamie Scott yang kini berada di dalam dapur.


"Iya!" Sahut Maryam cepat, penuh kehaluan.


"Of course ... not!" Jawab Jamie bersamaan dengan Maryam.


"Cie, cie, kita ngomong aja barengan," goda Maryam sambil melirik ke arah Jamie Scott dan mengedipkan matanya berkali-kali.


"Apakah ini yang dinamakan sehati?" Goda Maryam lagi sambil terus menatap pria tampan berambut coklat itu.


Akan tetapi Jamie yang sudah berpakaian formal dan rapi itu hanya memutar bola matanya. Ia tidak peduli dengan tingkat kepercayaan diri Maryam yang selangit.


"Mum, aku khawatir padamu. Tadi malam di telepon, Anda mengatakan kalau sedang tidak enak badan. Karena itu, sepagi ini aku sempatkan untuk menjengukmu sebelum aku berangkat ke kantor," ucap Jamie. Ia benar-benar tidak mempedulikan Maryam sama sekali.


"Aduh ... sudah ganteng, sholeh pula. Cakeeep! Mak Odah pasti bahagia dunia akhirat kalau punya mantu kaya gini," gumam Maryam dalam bahasa Indonesia. Sementara Jamie malah mendelik tajam kepadanya.


"Gara-gara kamu yang tidak masuk kerja tanpa ijin, ibuku jadi kewalahan melayani pelanggan dan pesanan! Akhirnya dia kelelahan," Tuding Jamie pada Maryam dengan tegas dan agak ketus.


Dalam pandangan manusia normal, sosok Jamie terlihat marah dan penuh emosi. Akan tetapi dalam pandangan Maryam yang abu-abu, yang tidak memiliki batasan jelas antara normal dan tidak normal, Jamie yang bersungut-sungut di depannya itu tampak begitu seksi, menawan dan menggoda tentunya.


"Terusin ngomelnya, Aa! Neng sukaa! Aa tipe calon suami yang tegas dan berwibawa." bisiknya.


"Pak Jaka pasti bangga nih punya mantu kaya Aa ...." lanjut Maryam semakin ngaco saja.

__ADS_1


__ADS_2