Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Mellow Day


__ADS_3

Petang itu, Maryam tengah sibuk di dapur. Entah apa yang membuatnya bersedia menyibukkan dirinya. Namun, yang pasti di atas meja makan itu telah tersedia aneka menu makanan yang menggugah selera.


Kebetulan hari ini Rosmawati pulang lebih awal.


Seperti biasa, gadis itu terlihat lelah dan kurang bersemangat. Pekerjaan barunya di perusahaan milik Memet, telah sangat menguras emosinya.


Apalagi sejak kejadian dia mencium pipi Mehmet waktu itu, si Zayn Malik KW 1 tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di pabrik. Untuk menelepon pria ganteng itu, Rosmawati tak memiliki keberanian.


Alhasil, tak ada penyemangat untuknya di kantor. Ditambah Ahmad seperti memiliki dendam pribadi pada Rosmawati, membuat tingkat stressnya semakin tinggi.


Rosmawati duduk di atas sofa seraya melepas sepatunya. Sesaat kemudian, ia mulai mengendus sesuatu yang tidak biasa. Bau yang terakhir kali ia cium setahun yang lalu. Rosmawati pun beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur. Ia mendapati Maryam baru saja melepas apron yang dipakainya.


“Eh, sudah pulang Jem?” sapa Maryam.


“Iyalah. Kalo belum pulang, mana mungkin gue ada di sini,” jawab Rosmawati dengan entengnya.


Maryam tertawa pelan. “Ya sudah sana ganti baju dulu gih! Habis itu kita dinner. Sudah lama kan kita ngga makan malam spesial berdua,” ujar Maryam membuat Rosmawati mengernyitkan keningnya karena keheranan.


“Ya udah deh, gue ke kamar dulu ya,” balas Rosmawati seraya beranjak ke kamarnya.


Selang beberapa saat kemudian, Rosmawati telah berganti pakaian. Ia segera kembali ke meja makan. Di sana Maryam terlihat sedang menyalakan sebuah lilin.


“Eh, pake lilin segala kaya lagi romantic dinner. Ada angin apa ini, Mun? Elu jadi dilamar Mr. Edder?” Rosmawati merasa semakin keheranan. Sementara Maryam tidak menjawab. Ia lalu membawa lilin itu ke arah sahabat kembar siamnya.


“Happy birthday, Jem! Ayo buruan tiup lilinnya!” Maryam menyodorkan lilin itu kepada Rosmawati yang saat itu terkejut setengah mati.

__ADS_1


“Emangnya sekarang tanggal berapa, Mun? Ya ampun gue terlalu sibuk sampe-sampe lupa. Makasih, ya Mun. Elu memang sahabat terbaik buat gue!” Rosmawati memeluk Maryam dengan penuh haru.


“Eh ... eh ... jangan maen peluk-peluk dulu, karena gue ngga nyiapin apa-apa buat elu,” tolak Maryam.


“Peluk dikit ngga apa-apa lah, Mun,” rengek Rosmawati yang terlanjur bahagia dan haru atas kejutan dari Maryam.


“Ya sudah deh,” balas Maryam. Ia lalu meletakan lilin yang dipegangnya di atas meja. Maryam pun membalas pelukan hangat Rosmawati.


“Maafin gue ya, Jem. Tahun ini gue nggak sempet bikinin elu kue, gue cuma sempet masak segini, karena gue harus nyelesain jahitan baju,” sesal Maryam.


“Apaan sih, lu! Gini saja gue sudah seneng banget. Elu itu teman yang paling care sama gue,” ucap Rosmawati dengan penuh haru.


Ingatan Rosmwati pun melayang pada beberapa tahun ke belakang, saat pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di kota London. Hanya berbekal uang pas-pasan, Rosmawati kesulitan mencari penginapan yang sesuai dengan kantongnya.


Pertemuannya dengan Maryam ketika di dalam London Bus, telah sangat membantunya. Maryam yang notabene-nya memang anak juragan padi di kampungnya memiliki kehidupan yang lebih dari cukup di London. Selain itu, ia juga sudah ikut bekerja di butik dan memiliki gaji yang lumayan untuk biaya makan sehari-hari.


Suka duka mereka lewati berdua. Mungkin sudah merupakan takdir dari Tuhan sehingga ia dipertemukan dengan Maryam yang awalnya hanya orang asing baginya, tapi kini sudah seperti saudara kandung.


“Artinya sekarang usia lu sudah dua puluh empat ya, Jem? Bentar lagi gue menyusul,” ucap Maryam seraya menyodorkan piring untuk Rosmawati.


“Gue sering lupa ulang tahun elu, Mun tapi elu ngga pernah lupa ulang tahun gue,” sesal Rosmawati.


“Ngga apa-apa, Jem! Lagian gue ngga suka ulang tahun, gue lebih suka hadiahnya saja,” celetuk Maryam. “Tahun ini gue ngga punya duit, Jem. Jadi gue ngga bisa beliin elu apa-apa. Sorry ya. Gue rapel deh sama tahun depan. Mudah-mudahan target gue bisa tercapai,” ujar Maryam seraya menyantap masakan yang ia buat dari sore tadi. Sesaat kemudian ia terdiam.


Rosmawati pun terlihat heran. “Kenapa lu? Sumpah Mun, gue ngga ada masalah elu ngga ngasih kado buat gue. Gue ngga ngarepin itu sama sekali. Kebersamaan kita selama ini sudah menjadi kado terindah buat gue. Selain niat dan cita-cita yang besar, elu adalah alasan gue tetap bertahan di sini meskipun terkadang gue ingin balik ke kampung.”

__ADS_1


Maryam menatap nanar kepada Rosmawati. Sepasang matanya yang bulat terlihat menyimpan keresahan. Tidak biasanya gadis itu bersikap demikian. Semua keceriaannya seakan hilang.


“Jangan bilang kalo elu diputusin sama Mr. Edder! Kalo iya, biar gue yang bikin perhitungan sama dia!” ucap Rosmawati seraya menunjukkan kepalan tangannya.


Maryam menggeleng pelan. “Ngga, Jem bukan itu. Aa Jamie justru ngelamar gue. Dia pengen ketemu sama keluarga gue di kampung. Itu artinya gue harus balik dulu, Jem,” ungkap Maryam.


Lain halnya dengan Maryam, Rosmawati terlihat bahagia. “Itu berita bagus, Mun! Artinya mr. Edder serius sama lu. Lagian memang cita-cita lu kan punya suami yang mirip sama Jamie Dornan. Jadi ini kesempatan yang ngga boleh elu sia-siakan, Mun!”


“Ya, Jem. Masalahnya ... kalo gue sudah nikah, gue bakal ikut Aa Jamie pindah ke London. Terus elu sama siapa di sini? Biar hidup gue banyak nyusahin elu, tapi gue sayang sama elu, Jem. Kita sudah melewati banyak musim sama-sama,” resah Maryam.


Rosmawati terdiam sejenak. "Yah, sebenernya nggak masalah sih, Mun. Kalau dipikir-pikir, seandainya lu pindah ke London, cemilan gue bakalan awet. Nggak ada yang bakal nyuri-nyuri keripik kentang gue."


Tepat saat Rosmawati berkata demikian, Maryam yang sedang minum, langsung menyemburkan air dari dalam mulutnya, membasahi piring makannya sendiri. Dia tak menyangka bahwa Rosmawati akan memergoki aksi ninjanya tiap malam.


"Nggak ada yang tiba-tiba make underwear baru gue, nggak ada yang minjem duit ..." sambung Rosmawati. Sorot matanya kini mendadak berubah sendu. Air mata sudah bersiap terjun bebas ke pipinya.


"Nggak ada yang gangguin gue lagi. Flat juga bakalan damai, aman, tentram, sentosa ... . Tapi gue bakal kesepian," Rosmawati mulai terisak.


Maryam segera bangkit berdiri dan memeluk sahabat kembar siamnya itu. "Udah, Jem. Udah! Jangan nangis. London Birmingham kan deket. Sama kayak Jakarta Bandung," hiburnya.


"Nanti gue bakal sering-sering dateng kalau pas elu lagi kangen dipinjemin duit sama gue," celoteh Maryam kemudian.


Sontak, Rosmawati melotot. Hilang sudah aura mellow di dalam ruangan ini. Seraya mendengus kesal, dia meraih segelas air yang ada di hadapannya.


"Aha!" seru Maryam, membuat Rosmawati terkejut, sampai-sampai hampir menjatuhkan gelasnya. Sepertinya sobat unik dan ambyarnya itu punya satu ide ajaib lagi di kepala.

__ADS_1


"Gimana kalau elu minta si Memet supaya buru-buru nikahin elu. Biar kita bisa kawin barengan. Kayak kawinan massal yang pernah diadain di kampung gue dulu," celetuk Maryam.


Giliran Rosmawati yang sedang meneguk air, menyemburkannya tepat ke wajah polos Maryam.


__ADS_2