Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Poor Mary


__ADS_3

"Aaaaah ...." terdengar teriakan kencang yang menggema di lokasi syuting. Tampak Maryam bergelantungan kesana-kemari menggunakan tali pengaman. Rupanya dia sedang menjalani adegan terbang.


"Emaak ... neng takuutt! Neng nggak biasa jadi kuntilanaak!" Pekik Maryam dengan wajah ketakutan.


"Cuutt!" Seru sang sutradara yang duduk di kursi santainya, di bawah sana sambil memegang toa. "Welldone! Welldone! Bagus sekali! Akting ketakutannya benar-benar dapat!" Pujinya seraya bertepuk tangan.


Perlahan, tubuh Maryam yang gemetar diturunkan dari ketinggian beberapa meter. Gadis malang itu menggenggam talinya erat-erat dan meringkuk sambil bergelantung seperti anak monyet.


"Mary! Mary!" Sayup-sayup terdengar panggilan oleh seseorang dari kejauhan. Charlie Manfred tampak berlari kecil ke arah Maryam yang tengah ketakutan.


Seorang kru membantu Maryam melepas tali yang melilit tubuhnya saat Charlie Manfred tiba di hadapannya. "Here! Let me help!" Charlie mengusir kru itu secara halus dan melanjutkan membuka tali yang mengikat pinggang ramping Maryam.


"Darimana saja kamu? Aku mencarimu kemana-mana. Sudah kubilang diam di dalam caravan saja sampai aku kembali," omel Charlie dengan penuh kekesalan.


"Neng bosan di dalam caravan terus, A. Hiks ...." Maryam mulai terisak.


"Ya sudah. Ma'afkan aku karena sedikit emosi, ya! Ayo, tenangkan dirimu!" Charlie mengajak Maryam menepi dari lokasi syuting dan membawanya ke tempat katering, dimana sudah disediakan berbagai macam makanan dan minuman untuk para kru di atas beberapa meja luas berbentuk persegi.


"Have some drink," dengan penuh perhatian, Charlie menyodorkan segelas penuh air putih pada Maryam.


Maryam kemudian meneguknya sampai habis tanpa berhenti. Ia lalu menaruh kembali gelas kosong itu ke atas meja dengan tangan yang gemetar kencang.


"Cici! Where have you been?" Tiba-tiba berseru seorang wanita cantik bertubuh molek yang datang menghampiri mereka berdua.


(Cici! Darimana saja?)


"Cici? Kayak manggil bunglon piaraan," gumam Maryam. Dahinya berkerut melihat wanita malang yang kini sudah berdiri tepat di depannya dengan gaya menantang itu. Malang menurut Maryam, karena dia merasa wanita itu memakai baju yang serba kekurangan, kurang bahan maksudnya.


"Hey, Flo. Aku sedang menenangkan pacarku. Tunggulah sebentar!" Sahut Charlie dengan senyum menawan.


"Oh, jadi ini pacarmu?" Wanita bernama Flo itu memandang Maryam dengan sinis dari ujung kepala hingga kaki.


"Hai, apa kabar?" Sapa Maryam sopan seraya mengulurkan tangan, namun tak dibalas oleh Flo.

__ADS_1


"Hurry up! Sebentar lagi kita take!" Flo menarik tangan Charlie dengan terburu-buru dan menyeretnya menjauh dari Maryam.


"Wait here, Mary! Jangan kemana-mana. Makanlah apapun yang kau mau! Tunggulah aku! Setengah jam saja, okay!" Pesannya sambil terus berjalan menjauh.


Maryam mengangguk lesu. Kali ini ia akan menuruti perkataan Charlie untuk tidak kemana-mana.


Akan tetapi, setengah jam dari waktu yang dijanjikan sudah berlalu bahkan sudah hampir satu jam. "Aduh, si aa lama banget sih? Neng sudah capek!" Keluhnya. "Neng tunggu setengah jam lagi, deh ...." ujar Maryam kemudian.


Hingga dua jam terlewati. Suasana di sekitar Maryam sudah mulai gelap, karena musim panas sudah mulai berakhir dan akan segera memasuki musim gugur. Mungkin kalau di Indonesia sekarang sedang musim mangga.


Saat itulah Maryam sadar bahwa Charlie tidak akan menjemputnya, sehingga dia memutuskan untuk pulang sendirian.


Maryam berjalan menyusuri trotoar jalanan yang masih ramai, malam itu. Hatinya lagi-lagi dibuat kesal oleh sikap Charlie Manfred, yang kembali mengabaikannya.


Dengan wajah yang cemberut seperti kucing Persia Peaknose, ia sesekali mengayunkan langkahnya dengan lebih panjang ke depan. Marah bercampur kecewa, itulah yang ia rasakan kini.


Tanpa terasa, Maryam telah tiba di depan flat sewaannya. Di sana ia mendapati Mehmet tengah berdiri sambil bersandar pada dinding dekat pintu masuk bangunan itu. Di sebelah Mehmet, ada seorang pria tampan lainnya. Pria berambut coklat tembaga dengan tinggi sekitar tinggi enam kaki.


"Hai, Mary," sapa Mehmet dengan antusias. Sementara pria satu lagi yang tiada lain adalah Jamie Scott terlihat kikuk melihat kedatangan Maryam. Jamie Scott hanya terdiam dan menatap gadis dengan rambut bergelombang itu.


"Mary, kenapa kamu pulang sendirian? Di mana Rose?" Tanya Mehmet. Rupanya sejak tadi ia tengah menantikan kedatangan Rosmawati.


"Ngga tahu, Met! Mungkin dia lagi kencan sama bosnya kali," jawab Maryam dengan seenaknya.


"Apa maksudnya, Mary? Kamu kan sahabatnya, masa kamu tidak tahu ke mana dia?" Mehmet terlihat khawatir saat itu. Sementara Maryam masih tampak santai kaya di pantai.


"Ya ampun, Met! Dengarnya, Pak Ustadz! Si Rose itu udah gede, jadi ngga harus aku temani terus! Lagi pula, kami punya urusan masing-masing. Berak aja sendiri-sendiri. Sudahlah, aku cape, Met!" Maryam bermaksud untuk melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk. Akan tetapi, lagi-lagi, Mehmet memanggilnya.


"Mary, ini sudah malam. Seharusnya Rose sudah pulang," ujar pria keturunan Timur Tengah itu lagi.


Maryam akhirnya kembali menoleh. "Yang bilang ini subuh siapa, Met? Lagian si Rose bawa HP, kamu hubungi saja dia! Kamu tenang saja, Met! Rose itu sudah dapat sabuk emas dari zaman SD, aku rasa ngga akan ada yang berani sama dia. Udah ya, aku masuk. Bye!" Maryam berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Jamie Scott yang sejak tadi ada di sana.


Melihat Maryam bersikap tak acuh kepadanya, Jamie Scott akhirnya bergerak. Ia segera mengikuti gadis berambut panjang itu untuk masuk.

__ADS_1


"Mary! Wait!" Seru Jamie Scott.


Maryam tertegun. "Seperti ada yang manggil ... ah ... sudahlah!" Tanpa menoleh, Maryam kembali melanjutkan langkahnya dan meniti deretan anak tangga satu persatu. Sedangkan Jamie Scott yang merasa diabaikan terus mengikutinya.


"Mary, please! Wait for me!" Seru Jamie Scott lagi. Ia terus mengekor Maryam yang tidak mempedulikannya sama sekali. Jamie Scott bahkan mengikuti Maryam hingga di depan pintu kamar gadis itu.


"Mary!" Jamie Scott meraih pundak Maryam dan membuatnya berbalik. Seketika Maryam terkejut.


"Aa? Sedang apa di sini?" Tanya Maryam dengan polosnya.


"Aku memanggilmu sejak tadi, tapi kamu ...." belum sempat Jamie Scott melanjutkan ucapannya, tiba-tiba pintu kamar Kiki terbuka. Seketika Maryam dan Jamie Scott menoleh dengan serempak.


Berdiri di pintu, Kiki tampil begitu menawan dengan jumpsuit bodycon loreng. Ia lalu mengibaskan rambut pendeknya seperti para gadis dalam iklan shampo.


Kiki menatap tajam kepada Maryam. Tidak berselang lama, ia mulai mengeluarkan jurus Macan Siberia-nya. Ia mencakar pintu kamar flatnya sambil menyeringai.


"Dilarang membawa pria ke dalam kamar!" Ujarnya dengan setengah mengaum. Setelah itu, Kiki melangkah dengan pakaiannya yang super ketat dan membuatnya terlihat seperti kesulitan bernapas. Ia menghampiri Maryam dan Jamie Scott. Auman dan seringai ala macam betina pun terus ia lakukan terhadap Maryam, hingga akhirnya ia beralih kepada Jamie Scott.


Seketika roh macam yang merasukinya hilang saat berhadapan langsung dengan Jamie Scott. Gadis asal Thailand itu menegakan tubuhnya dan menatap lekat Jamie Scott yang juga menatapnya dengan aneh.


"Who is she?" Bisik Jamie Scott kepada Maryam.


"This is Kiki. My lovely neighbour," jawab Maryam dengan senyum polosnya. Sementara, saat itu Kiki masih berdiri mematung tanpa berkedip sedikitpun. Ia begitu terpana melihat ketampanan seorang Jamie Scott. Matanya mulai berkaca-kaca. Kiki merasa terharu karena dapat melihat sosok malaikat secara nyata.


"Where are your wings, Handsome?" Tanya Kiki. Tiba-tiba ia dirasuki oleh roh Marylin Monroe. Kiki mulai menirukan gaya legendaris dari aktris cantik sensasional itu. Ia pun kembali mengaum dan seakan ingin segera menerkam Jamie Scott.


"Mary ... save me!" Bisik Jamie Scott. Ia mulai merasa ngeri melihat penampakan macan jadi-jadian di hadapannya. Ia pun beringsut ke belakang tubuh Maryam. "Apa dia sakit?" Tanya Jamie Scott lagi.


Maryam yang sedari tadi hanya memperhatikan kelakuan aneh Kiki, akhirnya bertindak. Ia maju dan berdiri tepat di hadapan gadis Thailand itu.


Disentuhnya kening Kiki dengan punggung tangannya. Maryam pun manggut-manggut.


"Anget A! Kayaknya dia kebanyakan makan ulat Hongkong," celetuk gadis itu dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2