
Hari ini Maryam bolos kerja lagi. Ia bahkan berpura-pura tidak mendengar ketika ponselnya berdering, terlebih nama mrs. Harlekin lah yang muncul di layar ponselnya.
Maryam lebih memilih untuk rebahan di atas kursi sambil menonton televisi dan mengganti-ganti saluran, karena tidak ada yang menarik sama sekali. Sementara itu, sudah lebih dari tiga kali ponsel miliknya berdering. Akhirnya, dengan terpaksa Maryam menjawabnya.
"Hello, good morning!" Sapa Maryam dengan malas tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi.
"Hey, Mary! Where are you? Kau lupa ya, hari ini kita ada pesanan banyak! Oh my God, Mary! Aku menunggumu sejak tadi, tapi kau tidak datang juga! Kau ini sungguh meresahkan!" Terdengar suara nyaring mrs. Harlekin di ujung telepon. Cara bicaranya seperti sebuah kereta api batu bara tanpa rem.
"Sorry. Who is this?" Tanya Maryam dengan santainya. Saat itu ia tengah fokus pada acara tv yang sedang ditontonnya.
"Hey ... Mary! Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan gajimu bulan ini!" Ancam mrs. Harlekin lagi.
"Oh ... ya? Ya, tentu saja ... patah hati itu menyedihkan," ujar Maryam. Jawaban yang tidak nyambung sama sekali.
"Mary? Are you okay? Aku tidak tahu kau dilahirkan saat ada fenomena apa, sehingga kau bisa seaneh dan sekacau itu!" Gerutu mrs. Harlekin lagi. Ia terdengar semakin emosi.
"Oh ... jadi ... makan coklat bar bisa meningkatkan mood, apa lagi setelah patah hati? Waah ... aku baru tahu itu!" Ujar Maryam lagi.
"Maryyyyyyy!"
"Ah ... ngga asik! Udahan ah ...." ujar Maryam lagi. "Aduh ... kebelet pipis, nih ...." Maryam kemudian meletakan ponselnya begitu saja di atas meja dan membiarkan mrs. Harlekin terus nyerocos bagaikan ayam betina yang akan bertelur.
Selang beberapa saat kemudian, Maryam kembali dari toilet. Ia duduk dan meraih remote tv. Tiba-tiba ia mengernyitkan keningnya. Ia ingat jika tadi ia menyimpan ponselnya di atas kursi, bukan di atas meja. Maryam kemudian meraih ponselnya dan menelitinya. Ia juga mengetuk-ngetuk setiap bagian dari ponselnya.
Entah bagaimana awalnya, karena kini Maryam berpikir bahwa ponselnya telah berubah menjadi sebuah robot pengintai, seperti dalam film Transformer. Ia membayangkan ponselnya mengeluarkan kaki seperti laba-laba dan berjalan dari kursi menuju ke atas meja.
Sepertinya, patah hati ini membuat level keolengannya lebih tinggi dari biasanya. Hari-hari normal, kadar keolengannya hanya berkisar 50%. Akan tetapi, di hari spesial "Hati yang Retak" ini, kadar halu dan olengnya mencapai 85%. Sedikit lagi dia akan mencapai garis finish dan mungkin akan berakhir di pusat rehabilitasi mental.
Maryam kemudian melihat ke sekeliling ruangan itu. Ia lalu menaikan kedua kakinya ke atas kursi dan melipat serta menempelkannya di dada. "Jangan ganggu! Jangan ganggu! Bismillahirrohmanirrohim ...." Maryam kemudian membaca ayat kursi sebanyak tiga kali. Maryam selalu ingat pesan mak Odah, agar selalu membaca ayat kursi setiap kali ia merasa takut.
__ADS_1
Pernah ada satu kejadian pada suatu malam di musim gugur beberapa waktu silam. Maryam yang saat itu masih bekerja sebagai asisten designer di sebuah butik yang sudah ternama di kota London, baru pulang lembur karena harus mempersiapkan segala sesuatu untuk acara fashion show koleksi sang designer yang bertajuk Maple in The Autumn.
Malam itu, Maryam merasa jika ada suara-suara aneh yang seakan memanggil-manggil dirinya. Ia juga merasa jika dirinya telah diikuti seseorang hingga ke depan bangunan flatnya.
Untuk sesaat, Maryam tertegun dan melihat ke sekelilingnya. Suasana sudah cukup sepi di sana. Maryam pun semakin merasa cemas, ketika ia mendengar suara itu kembali memanggilnya dan kini terdengar dengan semakin jelas. Maryam bahkan kini memejamkan matanya seraya terus melafalkan ayat kursi berulang-ulang, ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Seketika Maryam terpekik. Namun, dengan segera ia kembali merapal ayat kursi dengan jauh lebih nyaring.
"Hey, Nona! Nona!" Terdengar suara seorang pria memanggilnya. Namun, Maryam belum juga membuka matanya dan masih terus berkomat-kamit.
"Hey, Nona!" Panggil pria itu lagi. "Kenapa?" Tanyanya heran.
Maryam seketika terdiam. Perlahan ia membuka matanya. Di hadapannya telah berdiri seorang pria paruh baya yang terlihat sangat kelelahan.
"Siapa Anda? Hantu dari mana Anda? Tidak! Jangan ganggu! Jangan ganggu!" Maryam kembali merapalkan ayat kursi sambil memejamkan matanya.
"Hey, Nona! Siapa yang hantu? Kau lupa ya? Saya sopir taksi yang tadi kau tumpangi. Kau minta turun dua blok dari sini dengan alasan akan membeli makanan dulu dan menyuruh saya untuk menunggu, tapi kenapa kau malah pergi tanpa membayar?" Terang pria tua itu dengan jengkel.
Maryam menepuk keningnya keras-keras. Kenapa dia begitu pelupa? Padahal umurnya masih kepala dua. Dia tidak bisa membayangkan jika sudah kepala lima.
"Hhh.." de•sah Maryam yang sedang asyik mengingat masa lalunya. Ternyata masa lalu pahit semakin menyiksa kala diingat. "Gue butuh asupan semangat, nih," gumamnya pada diri sendiri.
Berguling-guling di sofa dengan berbagai macam gaya, tak juga membuat mood-nya membaik. Maryam juga sempat nungging dengan posisi kepala di bawah, namun kemudian dia teringat bahwa posisi yang demikian bisa membuat manusia melihat makhluk astral. Ketakutan, segera saja Maryam mengubah posisinya menjadi normal, yaitu bersila.
Saat duduk bersila itulah, pan•tatnya tak sengaja menyenggol remote hingga televisinya menyala otomatis.
"Welcome!" Seru seorang pembawa acara televisi, membuat Maryam berjingkat saking terkejutnya.
"Selamat datang di program spesial hari ini."
Maryam mulai tertarik dengan pembukaan pembawa acara itu.
__ADS_1
"Ini adalah siaran khusus untuk memotivasi jiwa-jiwa yang tersesat seperti anda! Ya, siapa pun yang menonton acara ini, dipastikan akan semakin tersesat sama seperti saya!" Pembawa acara itu terus bicara sambil memainkan jari telunjuknya serta mendekatkan wajahnya ke arah kamera, sehingga mukanya yang lebar terlihat semakin jelas.
Maryam mulai mengernyitkan dahi. Baru kali ini dia melihat tayangan absurd dengan pengisi acara yang aneh seperti ini. "Ko bisa ya orang kaya gitu hidup di dunia ini?" Gumam Maryam. Ia memang tidak pernah introspeksi diri.
"Untuk mempersingkat waktu, baiknya kita panggilkan motivator handal kita, seorang pria sukses dunia akhirat ... kalau jadi ... ya!"
"Inilah dia! Tuan Mariooo Angkuuh!"
Pembawa acara itu bertepuk tangan sendiri dengan meriahnya. Wajahnya terlihat bahagia dan sumringah menyambut kedatangan seorang pria paruh baya bertubuh agak gemuk.
Pria yang diperkenalkan sebagai Mario Angkuh itu melambai-lambaikan tangannya bak calon presiden yang hendak berkampanye. Kepalanya botak, hanya tampak lima lembar saja rambut yang mengalir, eh, menyusuri kulit kepalanya, membuat botak pria itu terlihat seperti gambar lima garis lurus sejajar.
"Manusia yang aneh," gumam Maryam lagi sambil menggaruk pipinya.
"Selamat datang, Saudaraku! Anda pasti bertanya-tanya, di mana saya? Kenapa saya ada di sini? Maka, izinkan saya menjawabnya. Saya sendiri juga tidak tahu," tuturnya dengan gaya berkelas, tapi tanpa melepas senyumnya sama sekali. Ia bahkan tersenyum lebar ketika kamera men-zoom wajahnya yang aestetik.
"Namun, satu hal yang saya tekankan! Tidak ada kebetulan di muka bumi ini, saudaraku! Kita semua dilahirkan dengan satu alasan. Alasan apakah itu? Anda bantu jawab, ya. Saya juga bingung soalnya. Ayo, mari tolong dibantu, ya!"
Maryam makin pening mendengarkan pidato pria itu.
"Saudaraku. Seberapapun terpuruk anda, jangan menyerah! Sebelum anda menemukan alasan untuk apa anda hidup? Sekali lagi jangan menyerah! Baru kalau tidak ketemu juga, menyerah lah! Saya kembalikan pada pribadi masing-masing. Karena bagaimanapun, ada kekuatan super di dalam diri kita."
"Haduuh, acara apaan sih ini," Maryam sudah hampir mengganti channelnya saat Mario Angkuh berteriak kencang.
"Jangan diganti channelnya! Dengarkan saya berbicara, wahai manusia lucknut!"
"Kalau anda sedih, susah, murung, bermuram durja dan tidak tahu harus berbuat apa. Ingatlah, ada yang lebih menyedihkan daripada anda, yaitu saya. Jadi, buat apa susah? Bergembiralah! Sambut hari esok dengan penuh semangat! Temukan passion anda! Temukan hal-hal yang anda sukai dan mampu membuat anda tersenyum saat mengerjakannya, meskipun itu merugikan orang lain! Setelah anda menemukannya, saya yakin, hidup anda akan jauh lebih bermakna. Begitulah sahabat-sahabatku, silakan resapi apa yang telah saya sampaikan tadi!"
"Oke, Pak Marioo, terima kasih atas segala motivasinya untuk para pemirsa semua, meskipun saya yakin jika yang menonton acara ini pasti sekarang sedang berpikir keras. Namun, itu sesuai dengan judul acara kita. Sampai bertemu lagi dalam pertemuan berikutnya di "Marioo Angkuh : Mengatasi Masalah tanpa Solusi". Happy nice day!"
__ADS_1
Maryam tertegun mendengarnya. "Passion?" Gumamnya lirih. "Menemukan passion?" Ulangnya.
Seketika lampu bohlam di kepala Maryam menyala terang. "Aha!" Serunya nyaring dengan jari telunjuk lurus ke atas.