
Pagi-pagi sekali, Maryam sudah bangun. Itu merupakan sesuatu yang amat sangat jarang sekali terjadi sepanjang sejarah ia tinggal dengan Rosmawati.
Sebenarnya, ada jadwal setiap harinya untuk piket bergantian antara Maryam dan Rosmawati. Jadwal Rosmawati membersihkan flat adalah hari Senin, Rabu dan Jum'at. Sedangkan jadwal untuk Maryam adalah Selasa, Kamis dan Sabtu. Hari Minggu merupakan hari libur. Duo oleng bebas memberantakkan flat di hari itu.
Sayangnya, hari Senin adalah jadwal piket Rosmawati.
Sebenarnya, itu bukan sesuatu yang aneh atau menjadi beban bagi gadis asal Mojokerto itu. Alasannya karena dalam jadwal tertera waktu piket adalah pukul enam sampai pukul tujuh pagi, sementara Maryam termasuk ke dalam golongan manusia yang kebluk, alias susah sekali saat dibangunkan. Gadis asli sunda tanpa kelapa itu, biasa bangun pukul setengah delapan pagi. Jadi ... sudah dapat ditebak siapa yang biasa piket setiap harinya.
Sedangkan untuk hari ini ada sesuatu yang berbeda. Maryam bangun pagi, karena hari itu adalah hari di mana ia akan berpamitan kepada mrs. Harlekin. Selain itu, ia juga harus mendandani Rosmawati yang akan pergi ngantor terlebih dahulu.
Pagi itu, Maryam awali dengan mencuci muka dan menggosok gigi, Setelah itu, mengagumi diri sendiri dalam pantulan cermin, menjadi hal yang wajib dilakukan. Itu semua bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri, ala Maryam. Lalu, kapan mandinya?
Bagi duo antik yang selalu oleng, mandi menjadi suatu aktivitas yang dianggap horror. Mereka akan langsung tegang dengan nyali yang langsung menciut bahkan mengkerut, ketika kran sudah dinyalakan dan air mengucur dari dalam shower. Mungkin mereka lupa, jika mereka sedang berada di Inggris, di mana tidak akan tiba-tiba turun hujan meskipun mereka mandi.
Selang beberapa saat lamanya, akhirnya Maryam sudah tampil rapi dengan midi skirt floral-nya yang dipadukan dengan atasan lengan pendek berwarna baby pink. Dengan segera, ia mengetuk pintu kamar Rosmawati.
"Morning, Ijem! Mumun coming!" Seru Maryam.
Saat itu Rosmawati sudah bersiap dirias. Ia sudah memakai sheath dress hasil karya Maryam kemarin. "Waah ... gue pikir lu belum bangun!" Celoteh Maryam dengan santainya.
"Enak aja lu! Biasanya juga yang sering bangun kesiangan!" Balas Rosmawati. "Gue juga yang harus bersih-bersih tiap hari. Untung aja gue punya mental baja, kalo ngga ... udah ubanan sebelum waktunya gue tinggal sama lu!"
Mendengar sahabatnya menggerutu, Maryam bukannya marah atau tersinggung. Ia justru malah nyengir bagaikan kuda. "Udah ah! Gue juga lagi buru-buru, nih! Ayo kita mulai touch up!" Maryam mulai menyiapkan alat-alat make up seadanya yang mereka beli secara patungan, tapi lagi-lagi Maryam lah yang lebih sering memakainya karena Rosmawati tidak terlalu sering berdandan.
Rosmawati terakhir kali berdandan adalah ketika ia akan mengikuti wisuda. Namun, karena saat itu ia memakai make up yang mungkin tidak cocok dengan jenis kulitnya, maka tidak lama setelah itu kulit wajahnya berubah kehitaman seperti wajah si Darto yang selalu main layangan di tengah sawah.
"Hati-hati ya! Jangan sampe baju gue kotor kena make up! Entar reputasi gue bisa anjlok," pesan Rosamawati sebelum Maryam mulai mendandaninya.
Maryam tertegun. Ia terlihat berpikir sejenak sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Rosmawati. Namun, sesaat kemudian ia menggeleng. Sepertinya ia tidak menemukan apa yang ia butuhkan. Tanpa di duga, Maryam kemudian melepaskan rok yang dipakainya dan hanya menyisakan celana legging sebatas lutut. Ia lalu memasukan roknya melewati kepala Rosmawati hingga menutupi tubuh gadis itu.
"Apaan sih elu, Mun?" Protes Rosmawati.
"Diem lu! Dari pada baju lu kotor," sahut Maryam. Ia pun mulai mendandani Rosmawati.
Tidak butuh waktu lama, kegiatan rias-merias itu pun selesai. Maryam tinggal memasang bulu mata anti kepalsuan, agar Rosmawati terlihat lebih bombastis dari biasanya. Akan tetapi, karena waktu yang sudah mepet, maka Maryam memasangkan bulu mata itu dengan asal-asalan.
"Udah, Jem!" Maryam menyodorkan cermin kecil kepada Rosmawati. Rosmawati pun sangat menyukai penampilannya kali ini. "Thanks, Mun! Gue bangga punya temen kaya lu!" sanjung Rosmawati.
__ADS_1
"Biasa aja, kali! Gue juga emang bangga sama diri gue sendiri, Jem," sahut Maryam. "Udah ah, gue buru-buru nih," Maryam bermaksud untuk keluar dari kamar. Akan tetapi, dengan segera Rosmawati mencegahnya.
"Eh ... Mun, tunggu!" Maryam seketika menoleh.
"Nih rok lu gue balikin!" Rosmawati melemparkan rok milik Maryam. "Biar kita tinggal di luar negeri, tapi kita harus tetep jaga aurat ya! Itu kata emak gue," ujar Rosmawati. Maryam lagi-lagi hanya nyengir. Ia memang pelupa kelas berat.
Tidak butuh waktu lama bagi Maryam, untuk sampai ke toko yang sudah menjadi rumah kedua baginya selama kurang lebih dua tahun. Rasanya memang berat, tapi tekadnya untuk memulai sesuatu yang baru sudah benar-benar bulat.
"Good morning, Mrs. Harlekin," sapa Maryam sambil mesem-mesem kepada calon ibu mertua masa depannya yang saat itu baru saja membuka toko.
"Good morning, Mary. How are you? Aku pikir kamu akan langsung melarikan diri tanpa berpamitan lagi padaku," ucap mrs. Harlekin dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit aneh.
"Oh ... tentu saja tidak, Nyonya. Bagaimanapun juga saya sangat menyayangi toko ini ... dan Anda ... dan putra Anda tentunya ...." ucap Maryam sambil cekikikan.
"Hmm ... Jamie ada di dapur. Mungkin kamu ingin berpamitan padanya," sahut mrs. Harlekin.
"Iya kah? Kenapa putra Anda pagi-pagi sudah datang kemari? Memangnya dia tidak ke kantor?" Tanya Maryam dengan heran.
"Kau tanyakan saja sendiri!" Jawab mrs. Harlekin seraya memalingkan wajahnya. Ia kemudian berlalu ke meja kasir.
Ternyata benar. Di sana ia melihat Jamie Scott tengah sibuk dengan oven. Ia terlihat memasukan sesuatu ke dalamnya. Arsitek muda itu juga terlihat sangat menawan dan seksi dengan apron yang dipakainya.
"Morning, Aa," sapa Maryam dengan wajah ceria yang menjadi ciri khasnya.
Pria bermata abu-abu itu pun menoleh dan tersenyum. "Morning, Mary. Aku pikir kamu tidak akan datang sepagi ini. Cupcake yang kubuat belum matang, batu saja kumasukan ke dalam oven," ucap pria dengan postur tegap itu.
"Memangnya kenapa, A?" Tanya Maryam. Ia lalu menghampiri Jamie Scott yang masih menatapnya.
"Tidak apa-apa. Aku sengaja membuatnya untukmu. Nanti kita hias bersama-sama," ucap Jamie Scott lagi.
"Tentu saja. Itu pasti akan sangat menyenangkan," sahut Maryam dengan riang. Ia lalu membantu Jamie Scott merapikan meja.
"Bagaimana kabarmu, Mary? Lama kita tidak bertemu," Jamie Scott mulai berbasa-basi.
"Kemarin-kemarin sih Neng ngga fine, Aa. Sekarang sudah jauh lebih baik," jawab Maryam seraya memasang wajah lugunya. Wajah yang membuat Jamie Scott merasa gemas dan ingin segera menerkamnya. Pria itu kemudian mengernyitkan keningnya.
"Are you sick, Sweetie?" Jamie Scott tiba-tiba menyentuh kening Maryam, membuat gadis itu seketika meleleh dengan dramatis bagaikan ingus yang keluar dari dalam hidung si Darto, terlebih ketika Jamie Scott memanggilnya dengan sebutan Sweetie.
__ADS_1
Ah, Darto lagi.. Hmm.. Mudah-mudahan lidahnya tidak tergigit akibat terlalu sering dijadikan bahan ghibah.
"No! Neng baik-baik saja, A'. Hati Neng yang kurang baik," sahut Maryam dengan wajah yang tiba-tiba sendu. Gadis itu pun tertunduk lesu.
"Ada apa, Mary?" Tanya Jamie Scott dengan cemas.
"Neng patah hati. Aa Charlie kemarin mutusin hubungan secara sepihak," Maryam tiba-tiba terisak.
"Hey, don't be sad, Mary!" Ucap Jamie Scott. Ia kemudian merangkul Maryam dengan lembut. Senyum lebar melengkung indah di wajah tampannya. "Good news," batinnya.
"Sudah ya, Mary! Dia mungkin bukan pria yang tepat untukmu," ujar Jamie Scott lagi tanpa melepaskan pelukannya. Sementara Maryam masih terlihat nyaman di dalam dekapan hangat pria itu. Pantas saja pagi ini ia mendapat bisikan agar mandi. Ternyata ia akan mendapat rezeki tidak terduga.
"Ya, ampun Aa' Jamie seger banget, serasa lagi ngadem di ATM," batin Maryam. Ia begitu menyukai aroma parfum yang dipakai Jamie Scott. Aroma citrus yang bercampur rempah dan kayu manis yang membuat Maryam serasa melayang dan terus melayang.
Jamie Scott pun terus memeluk Maryam. Ia juga mengelus lembut rambut gadis itu. Sesaat kemudian, pria itu mulai mengendorkan pelukannya. Tanpa Maryam duga, Jamie Scott mengangkat tubuh rampingnya dan mendudukkannya di atas meja. Setelah itu, Jamie Scott menatapnya dengan lekat.
"Why?" Tanya Maryam masih dengan senyum manisnya.
"I don't know. But I've been thinking about you a lot lately," jawab pria berambut coklat tembaga itu. Rambut yang kini terlihat sedikit acak-acakan.
"About me?" Maryam seakan tidak percaya dengan ucapan Jamie Scott.
"Ya, Mary. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Itu sesuatu yang aneh bagiku. But now I know something," ucap pria itu lagi.
"Apa itu?" Tanya Maryam.
"Aku baru menyadari jika aku ... telah jatuh cinta padamu," bisik Jamie Scott yang seketika membuat Maryam terkejut.
Jamie Scott tersenyum kalem. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Setelah mengutarakan perasaannya, ia pun mengakhiri aksi penembakannya dengan sebuah ledakan yang luar biasa.
Untuk pertama kalinya ia dapat menyentuh bibir Maryam dengan lembut. Membuat gadis itu menjadi normal beberapa saat dalam buaiannya. Maryam yang telah memiliki sedikit pengalaman, untuk kali ini dapat bersikap dengan lebih luwes dan tentu saja membalas apa yang dilakukan Jamie Scott kepadanya.
Sememtara itu, mrs. Harlekin yang tadinya akan masuk ke dapur, segera mengurungkan niatnya. Ia kembali ke bagian depan toko dengan sebuah senyuman. Ia merasa bahagia karena akhirnya putra kesayangannya telah kembali dari patah hati berkepanjangan yang ia alami.
Note. Hai ... reader jangan lupa mampir juga ke Novel "Kabut di Hati Arumi" dan nikmati cerita dengan aroma rempah-rempah yang pasti seru untuk diikuti.
Maryam alias Mary alias Mumun ucapkan terima kasih bagi yang sudah bersedia untuk mampir.
__ADS_1