
Lebih dari satu jam, Charlie Manfred berdiri di depan pintu flat Maryam. Dengan sabar, ia menantikan gadis manis itu membukakan pintu untuk dirinya, meskipun tangannya sudah terasa cukup pegal karena harus terus memegangi bucket bunga yang besar itu. Akan tetapi, bukan pintu flat Maryam yang terbuka, melainkan pintu flat milik Kiki.
Gadis asal Thailand itu muncul dengan rambut acak-acakan seperti rambut singa. Ia juga berkali-kali menguap lebar sambil mengucek-kucek matanya. Sepertinya ia baru saja bangun, karena ia sesekali memejamkan matanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Selain menggaruk kepalanya, ia juga terlihat menggaruk-garuk pan•tatnya sambil meringis kecil. Entah apakah Kiki tengah ngelindur atau apa, tetapi ia kemudian tersenyum kepada Charlie Manfred dan memonyongkan bibirnya. Gadis itu memberi ciuman dari kejauhan kepada aktor tampan itu dengan sangat sensual.
Charlie Manfred mengernyitkan keningnya. Perlahan ia menaikan bucket bunga yang dipegangnya hingga menutupi wajah tampannya. Ia pun melangkah mundur hingga merapat ke pintu flat Maryam. Charlie Manfred kemudian menurunkan tangan kanannya dan kembali mengetuk pintu, berharap agar Maryam segera membukakan pintu untuk dirinya.
Sementara itu, Kiki tampak menengadahkan telapak tangan dan mendekatkan talapak tangan itu pada dagunya. Ia kembali memonyongkan bibirnya dan melayangkan ciuman jarak jauhnya lagi untuk Charlie Manfed.
"Oh my God! Makhluk apa itu?" Gumam Charlie Manfred dengan jantung yang berdegub kencang. Ia takut jika Kiki menghampirinya. Pria itu kembali mengetuk pintu flat Maryam.
Beberapa saat kemudian, Kiki tertawa mengikik membuat bulu kuduk Charlie Manfred kian meremang. Entah kenapa lagi gadis itu?
"Come on, Mary! Please open the door!" Resah Charlie Manfred. Ia terus mengetuk pintu flat Maryam dengan sembunyi-sembunyi. Ia tidak ingin membuat gadis yang kini tengah nemplok pada pintu flatnya yang terbuka sambil tertidur itu menjadi terbangun.
Charlie Manfred berkali-lali menelan ludahnya sendiri. Itu adalah pengalaman terhoror yang ia alami seumur hidupnya, selain saat ia harus dikejar-kejar seorang waria yang merupakan fans fanatiknya.
Untunglah, tidak berselang lama, Maryam akhirnya membuka pintu flatnya. Charlie Manfred pun tampak begitu lega.
"Eh ... Aa. Neng pikir tukang sedot wc," celoteh Maryam tanpa rasa bersalah, karena telah membuat Charlie Manfred menunggu selama lebih dari satu jam. Selain itu, Charlie Manfred juga harus berjuang melawan rasa ngerinya melihat kelakuan aneh Kiki.
Maryam kemudian melongo dari balik tubuh tegap Charlie Manfred. Ia melihat pintu kamar Kiki terbuka. Gadis itu tertidur sambil berdiri. Ia menempelkan pipinya pada daun pintu yang terbuka lebar. Maryam hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hal itu.
"Ya, ampun si Kiki kambuh lagi," gumam Maryam.
"Dia sangat aneh," timpal Charlie Manfred seraya meringis ngeri.
Maryam melirik aktor tampan itu. Ia lalu mengela napas panjang. "Itu masih mending, A," ucap Maryam pelan. "Dulu, dia pernah ngelindur dan tidur di depan mini market seberang jalan itu," tutur Maryam. "Sudah ah, biarin aja, A! Kalo dibangunin juga etr dia malah ngamuk," lanjut gadis itu dengan gaya khasnya.
__ADS_1
Charlie Manfred mengangguk setuju. "Apa kamu tidak akan mengajakku masuk, Mary?" Tanyanya.
Maryam terdiam. Ia lalu melirik pria itu. Dengan perasaan tidak enak, akhirnya lia terpaksa mengizinkan Charlie Manfred untuk masuk ke dalam flatnya.
"Mary, ini aku bawakan bunga untukmu. Aku harap kamu menyukainya," ucap Charlie Manfred seraya menyodorkan bucket bunga mawar yang besar itu kepada Maryam.
Maryam menerima bunga itu dengan kening berkerut. "Untuk apa Aa repot-repot bawain Neng bunga? Padahal Neng lebih suka keripik kentang atau popcorn. Lumayan buat nemenin Neng nonton drama Turki. Masa Neng harus nonton sambil makan bunga, kaya ratu film horror aja ah!" Gumam Maryam dengan nada sedikit menyesal.
Charlie Manfred tersenyum manis. Ia lagi-lagi memperlihatkan pesonanya kepada Maryam. "Bunga ini sebagai tanda permintaan maafku kepadamu, Mary," ujar aktor tampan itu dengan nada bicaranya yang sangat lembut.
"Kenapa Aa harus minta maaf?" Tanya Maryam. Ia seakan sudah melupakan rasa kesalnya semalam, kepada aktor asal Amerika itu.
"Aku sudah membuatmu menunggu kemarin. Aku lupa jika aku telah mengajakmu ke lokasi syuting. Karena itu, setelah selesai aku malah asyik berbincang dengan para pemain yang lain," terang Charlie Manfred. Ia berharap agar Maryam bersedia untuk memaafkannya.
Maryam memasang wajah manjanya di depan Charlie Manfred. Hal itu justru telah membuat aktor tampan dua puluh delapan tahun itu, menjadi semakin gemas terhadapnya. Ia kemudian semakin mendekat kepada Maryam.
"Mary, i'm sorry because i have made u wait yesterday. Aku harap kamu tidak marah kepadaku," ucapnya seraya menatap lekat Maryam.
Charlie Manfred tertawa pelan. "Aku janji tidak akan berbuat seperti itu lagi. Untuk sekarang ... can you give me a little kiss?" Rayu Charlie Manfred seraya menyentuh wajah Maryam dengan lembut.
Akan tetapi, semakin Charlie maju mendekati Maryam, gadis itu semakin memundurkan tubuhnya. "Anu, A ... Neng lagi sariawan. Besok aja, ya!" Tolak Maryam dengan halus. Ia tidak mau membuat Charlie Manfred kecewa.
"Oh, come on, Mary! It's just a kiss," protes Charlie Manfred sambil cemberut dan memasang wajah yang sangat berharap.
"Iya, A, tapi bibir Neng sariawan. Nanti Aa bisa ketularan, loh," kilah Maryam. "Kalau Aa sariawan, nanti susah ngomong. Kalau susah ngomong, nanti Aa nggak bisa syuting," lanjutnya.
Charlie Manfred terlihat memikirkan kata-kata Maryam yang terkesan agak janggal. "Memang sariawan bisa menular?" Tanya pria itu seraya mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Bisa, A," jawab Maryam penuh keyakinan.
"Aku rasa tidak masalah tertular, asalkan aku boleh ...." Charlie makin mendekatkan dirinya pada Maryam dan membuat gadis itu menjadi panik.
Tok! Tok! Tok!
Pintu flatnya diketuk oleh seseorang dari luar. Maryam bernapas lega. Rasanya seperti selamat dari mulut buaya.
Bergegas dia berlari ke ruang depan dan membuka pintunya. Jamie Scott sudah berdiri dengan sikap kalemnya di balik pintu.
"Eeh ... Aa Jamie! Tumben, pagi-pagi sudah mampir kemari," seru Maryam dengan antusias.
Mendengar nama Jamie disebut, Charlie Manfred segera berdiri dan menghampirinya. "Ya, ampun! Kamu lagi?" Sungutnya dengan kesal.
""Yup, it's me again. Kau boleh pergi jika tidak suka dengan kedatanganku" sahut Jamie datar. Setelah itu, ia melirik Maryam dan tersenyum kalem.
"Eit, sudah, sudah! Dilarang bertengkar, sekarang masih pagi! Nanti saja agak siangan, ya!" Seru Maryam berusaha melerai keduanya yang tampak akan kembali bersitegang.
"Tenang saja, Mary! Hari ini suasana hatiku sedang baik, jadi ... aku tidak akan merusaknya dengan sebuah pertengkaran konyol bersama pemain opera sabun ini!" Tunjuk Jamie Scott kepada Charlie Manfred.
"Hey, Bung! Aku adalah aktor Hollywood dengan puluhan judul film. Jangan asal bicara kau ya!" Protes Charlie Manfred dengan keras seraya menunjuk kepada Jamie Scott.
"Ya ... dan aku adalah arsitek dengan puluhan gedung bertingkat hasil rancanganku yang sudah berdiri kokoh di kota London ini!" Balas Jamie Scott. "Mary, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke Old Trafford, untuk menonton pertandingan Manchester United secara live," ujar Jamie Scott membuat Charlie Manfred semakin merasa panas.
"Dasar ngaco!" Cibir Charlie Manfred dengan senyum sinisnya.
"Setelah itu, Aa ajak Neng nonton pertandingan yang lain ya!" Pinta Maryam dengan manjanya kepada Jamie Scott, membuat pria dua puluh tujuh tahun berambut coklat tembaga itu tersenyum hangat seraya mengangguk. "Apa sih yang tidak untukmu, Mary," ujarnya seraya menatap Maryam dengan tatapan mesra. Sedangkan Maryam, ia membalas tatapan Jamie Scott dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Melihat adegan itu, Charlie Manfred kembali dilanda rasa kesal yang luar biasa. "Hey, Bung! Lagi pula, untuk apa pagi-pagi kau sudah datang kemari. Bertamu tidak memakai etika!" Umpat pemain film Zombies Diaries itu. Ia lupa, jika dirinya juga sudah melakukan hal yang sama.
Jamie Scott mengabaikan pertanyaan Charlie Manfred. Ia lebih memilih untuk berbicara kepada Maryam. "Mary, ayo kuantar ke toko! Kebetulan hari ini aku sedang ambil cuti, jadi aku punya banyak waktu luang," ucap si ganteng kalem itu membuat Maryam tampak sangat antusias.