Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Provokator di Meja Makan


__ADS_3

"Wah, jadi lu mau ngadain resepsi, Jem? Gue bisa bantuin! Kan gue ada bakat juga jadi Wedding Organizer," Maryam menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. Namun, Rosmawati pura-pura tak melihat. Dia berlagak sibuk mengangkat dan memindahkan bantal-bantal sofa sambil bersiul.


"Oh, tidak usah repot-repot, Mary. Aku berencana untuk menyewa Wedding Organizer. Kalian cukup duduk manis dan bersantai," tolak Mehmet secara halus.


"Ya, sudah kalau begitu, Met. Aku jadi make up artist saja," seru Maryam penuh semangat.


"Aku juga akan menyewa make up artis ternama. Kau cukup duduk tenang, Mary. Lagipula, kau 'kan sedang hamil, tidak boleh terlalu lelah," bujuk Mehmet. Bisa gawat jika sahabat kembar siam istrinya itu jika dibiarkan mendandani wajah Rosmawati.


"Mr. Hayder benar, Darling. Kau tidak boleh banyak bergerak. Ingatlah dengan kedelai kecil kita yang berada di dalam sana," Jamie Scott mengusap lembut perut Maryam.


"Aduh, Aa'. Hampir aja Neng lupa kalau ada junior di sini," ucap Maryam manja seraya ikut mengelus perutnya sendiri. "Kamu baik-baik di dalam sana ya, Sayang. Nggak usah buru-buru keluar, ntar aja kalau udah menjelang Tahun Baru Imlek. Anak pintar!" celoteh Maryam riang, membuat Rosmawati mendengus kesal.


"Katanya mau pulang. Kok nggak pulang-pulang?" celetuk Rosmawati.


"Eh, A'! Neng sudah masakin buat semuanya loh. Sudah siap di dapur. Yuk, kita sarapan. Ayo, Met!" Maryam mengajak semua orang dan menuntun suaminya menuju ruang makan.


"Masak apanya, orang ..." kalimat Rosmawati terhenti karena Maryam buru-buru berpindah ke sampingnya dan membungkam mulutnya.


"Yuk, nanti keburu dingin," ajaknya dengan tangan yang terus menutupi mulut Rosmawati. "Ntar gue ganti duit lu, Jem! Tenang aja! Kan sekarang gue lumayan kaya," bisik Maryam tepat di telinga Rosmawati.


"Beneran ganti, ya! Dua kali lipat pokoknya!" Rosmawati balas berbisik.


"Beres!" Maryam mendudukkan Rosmawati di samping Mehmet, lalu dia sendiri duduk di sebelah Jamie Scott.


"Kebetulan, anda ada di sini, Tuan Edder. Aku membutuhkan seseorang untuk bertukar pikiran," ungkap Mehmet.


"Bertukar pikiran tentang apa?" Jamie Scott langsung menoleh pada Mehmet dengan penuh antusias.


"Aku ingin anda memberi saran tentang dekorasi pesta pernikahan," jawab Mehmet sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Oh, itu gampang, Met. Bikin pesta kebun aja. Atau pesta di tepi sungai. Nanti sekalian kita bawa buah-buahan," celetuk Maryam dengan entengnya.


"Buah-buahan buat apaan?" Rosmawati mengernyitkan dahi.


"Ngerujak lah, Jem," sahut Maryam sambil mengunyah. "Kan seru, tuh. Kita rame-rame makan rujak."


"Udahlah. Diem aja deh, Mun. Daripada tekanan darah gue naik," keluh Rosmawati seraya menyandarkan punggungnya di kursi.


"Nanti kita akan mengundang semua orang, Rose. Keluarga besarmu dan keluarga besar Mary. Aku akan membelikan tiket pesawat pulang pergi untuk mereka," ujar Mehmet dengan mata berbinar.


"Iyalah, pergi pulang. Masa perginya aja. Ntar pulangnya naik apa? Kapal tongkang?" celetuk Maryam lagi.


"Bisa nggak sih, elu nggak nyahut? Nyamber aja kayak api," protes Rosmawati kesal.


"Berarti anda harus mengadakan pesta di ruangan yang luas atau tempat terbuka, Mr. Hayder. Kalau anda mau, aku mempunyai kenalan Wedding Organizer yang terkenal di London," tawar Jamie Scott.


"Wah, berarti mulai sekarang, lu harus perawatan, Jem. Jangan sampai kalah sama saingan lu," ujar Maryam dengan entengnya sembari mengunyah makanan.


"Enak aja! Dia bukan saingan gue lagi, karena sekarang cowok keren ini udah jadi milik gue sepenuhnya,” ujar Rosmawati dengan bangga.


“Eh, jangan kepedean dulu. Elu harus inget si Memet itu dari mana. Tanya sama dia apa arti poligami,” celoteh Maryam lagi, membuat selera makan Rosmawati seketika sirna. Dengan tatapan sendu, putri dari pak Rozi itu menoleh kepada sang suami. “Apakah kau berniat untuk memiliki istri selain diriku, Panda?” tanyanya lirih.


Mehmet yang tengah mengunyah makanannya seketika mengaduh pelan. Pria itu lalu mengusap-usap bibirnya yang tanpa sengaja tergigit. Jangankan untuk menanggapi pertanyaan istrinya, Mehmet malah sibuk mengipas-ngipaskan tangan di dekat bibir. “Aduh, sakitnya,” keluh pria itu sambil meringis pelan.


“Tuh, kan gue bilang apa? Si Memet kaget saat elu nanya gitu. Ah, gue udah nebak. Siap-siap lu bikin jadwal, berbagi jatah sama ... .”


“Tutup mulut lu atau gue siram pake air kobokan!” sergah Rosmawati emosi.


“Mana air kobokannya? Weee ...”Maryam menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


“Elu tuh ya, lagi hamil aja masih nyebelin. Sana pulang lu, bikin otak gue kalang-kabut aja!” sungut Rosmawati.


Sementara Jamie Scott hanya tertawa senang. “Lihatlah, Mr. Hayder. Istri-istri kita memang benar-benar sahabat sejati. Mereka sangat akrab dan selalu bersenda gurau di manapun,” ujarnya yang memang tidak mengerti bahasa Indonesia.


“Ya ampun, Aa. Neng memang tidak salah pilih suami. Selain tampan dan menawan, Aa juga ternyata sangat pengertian. Ya, sudah kita pulang, yuk. Neng kangen nih,” tanpa permisi, Maryam mengambil sendok yang tengah dipegang oleh Jamie Scott, lalu meletakkannya di atas piring. Dia juga menggeser piring yang masih berisi makanan. Tak lupa, Maryam mengambil sisa ayam yang ada di sana kemudian memakannya.


Sementara Jamie Scott hanya melongo atas sikap konyol sang istri. Dia memperhatikan Maryam yang saat itu sudah beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi. “Apa kita akan pulang sekarang, Darling?” tanyanya.


“Iya, kita pulang. Si Rose katanya mau lanjutin maen di sofa. Udah ah, yuk. Lagi pula, Orestes udah ngga betah di sini. Kasihan dia denger si Rose ngomel-ngomel terus, ngga baik untuk perkembangan mentalnya,” sambil terus menggerogoti sisa ayam dari piring Jamie Scott, Maryam menarik sang suami agar segera mengikutinya.


Dengan santainya dia menyuruh sang suami untuk membawakan barang-barang yang sudah Maryam siapkan sebelumnya. "Pulang dulu ya, Met. Siap-siap diterkam, ya. Bye," Maryam melambaikan tangannya penuh semangat, lalu menutup pintu apartemen Mehmet begitu saja.


Sementara Mehmet masih sibuk dengan bibirnya yang terasa sakit dan nyut-nyutan, Rosmawati pun mendengus kesal. Sesaat kemudian, dia segera mengalihkan perhatian kepada suaminya. "Jadi, kamu emang niat mau menduakan aku, Met?" matanya berkaca-kaca.


"Aduh, My Love. Tolong jangan menambah bebanku. Bibirku sakit sekali. Kalau sariawan, bagaimana?" Mehmet mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Ah, tinggal jawab aja, sih! Kamu mau menduakan aku atau tidak, Panda? Kalau jawabannya muter-muter, berarti ..." Rosmawati tak bisa menahan kesedihannya. Dia mulai menangis meraung-raung dengan suara kencang.


"Hei, Sayang! Sudah, sudah! Nanti tidak enak didengarkan tetangga. Mereka akan mengira kalau kau sedang kuaniaya," bujuk Mehmet segera. Dia juga mengelus-elus puncak kepala Rosmawati, lalu memeluk tubuhnya erat-erat.


"Panda, jahat," isaknya pelan. Wajahnya menempel di dada bidang Mehmet. Sesekali dia memakai kaus suaminya untuk mengelap ingus.


"Listen to me, Rose. Aku tidak pernah ada niatan untuk menduakan kamu. Sekali lagi, tidak pernah! Hanya ada Rose seorang," ujar Mehmet dengan tegas.


"Benarkah, Panda?" Rosmawati segera mendongak dan menatap wajah suaminya dengan mata membulat dan berbinar.


"Iya, Rose. Aku bukan Ahmad yang seenaknya berbagi cinta. Aku hanya mau bersama Rose, sampai kita tua," Mehmet tersenyum lebar sambil memeluk istrinya kembali.


Dalam hati, dia tak sanggup membayangkan istri lebih dari satu. Memiliki satu orang seperti Rosmawati saja sudah membuatnya lelah jiwa raga. Apalagi dua.

__ADS_1


__ADS_2