
“Ya, sudah. Mak karo bapak setuju banget. Sebaiknya segerakan saja untuk menikah, ngga usah pakai acara tunangan dan ***** bengek yang lain. Buang-buang waktu dan biaya saja. Iya kan, pak?” Mak Katemi menoleh kepada Pak Rozi. Sedangkan Pak Rozi saat itu tidak menanggapi ucapan Mak Katemi, karena ia tengah sibuk mengatur barisan para tuyul alias ke-4 adik Rosmawati yang masing-masing rentan usianya hanya berjarak sekitar dua tahun saja dan dua di antaranya adalah anak kembar.
“Ayo berdiri yang rapi!” instruksi dari Pak Rozi yang mengatur ke-4 bocah itu hingga berderet ke belakang dengan sejajar seperti tentara Korea Utara. Setelah itu, ia memberi aba-aba kepada empat bocah tadi untuk maju.
“Ayo, nurut. Jangan nakal, ya. Jangan malu-maluin. Di rumah kita lagi banyak tamu. Kalo kalian masih nakal, nanti kalian dibawa ke Arab terus dijadikan gantungan kunci Sultan Arab loh,” Pak Rozi berkata lagi sambil memberi aba-aba, agar ke-4 bocah itu untuk segera berbaris maju menuju ke bagian belakang rumah itu. Sebelumnya, ia telah memanggil Nining terlebih dahulu.
“Ning, adik-adikmu jak en nang kali! Kosok ono sing nemen, yo! Bolot e wes ngethel (Adik-adikmu bawa ke sungai! Sikat yang bersih, ya! Dakinya udah tebel),” suruh Pak Rozi kepada gadis remaja yang baru datang tersebut.
Nining segera meletakan tangannya di dekat alis sebagai tanda hormat. “Siap, Komandan!” ucapnya tanpa banyak protes. Ia pun menggiring ke-4 adiknya seperti seorang penggembala bebek.
“Ayo semuanya nurut sama Mbak Nining. Kalo ngga nurut entar ngga jadi Bapak ajak ke pasar malam. Bapak denger di sana ada yang jualan rujak cingur, orangnya cantik,” ujar Pak Rozi pada ke-4 bocah yang berjenis kelamin laki-laki itu. Apa yang ia katakan, langsung membuat ke-4 bocah itu terlihat semangat.
Sementara Mak Katemi tampak sudah melotot tajam dan mengeluarkan centong kayu yang ia simpan di dalam saku dasternya. Ia mengarahkan centong itu kepada Pak Rozi.
Dengan segera, Pak Rozi tersenyum dan mendekat kepada Mak Katemi. “Sabar, Mak. Bapak Cuma becanda, biar mereka mau mandi,” kilah Pak Rozi seraya menyentuh dagu Mak Katemi dengan mesra. Setelah itu, ia lalu mengalihkan tatapannya kepada Mehmet yang saat itu hanya ternganga melihat adegan di depannya.
“Wah, anak-anak Bapak nurut banget ya. Keren!” seru Maryam sambil meletakan kedua telapak tangannya di pipi.
“Ya, beginilah kehidupan kami. Bapak sama Mak mendidik anak-anak dengan cara militer, karena kalo ngga kaya begitu ... mereka susah diberitahu,” sahut Pak Rozi. Ia kemudian memilih untuk ikut bergabung.
Pak Rozi duduk di dekat sang istri tercinta. “Jadi bagaimana tadi, sampai di mana?” tanyanya sambil duduk bersila.
Rosmawati yang saat itu duduk di sebelah Mehmet, tampak membisikkan sesuatu di telinga pria keturunan Timur Tengah itu. Mehmet pun langsung manggut-manggut. “Saya sengaja datang ke Indonesia, hanya dengan satu tujuan yaitu melamar Rose untuk menjadi istri saya,” ucap Mehmet dengan pandangan tertuju kepada Pak Rozi.
Pak Rozi melongo untuk sesaat, setelah akhirnya Rosmawati menerjemahkan ucapan Mehmet. “Wah, Bapak karo Mak setuju sekali. Lagian ya, Mak ... si Ros kan sudah cukup umur juga buat kawin. Kalo dilama-lama juga entar dia keburu tua. Bapak ogah punya anak gadis jadi perawan tua.Kaya si Cucum, ya Mak? Dia sibuk oper gigi mulu,” Pak Rozi melirik kepada Mak Katemi.
“Ish, Pak. Jangan samain anak kita sama si Cucum! Biar jelek-jelek juga si Ros itu waktu bikinnya penuh dengan perjuangan, sampe-sampe Emak harus mandi keringet,” sahut Mak Katemi seraya menepuk lengan Pak Rozi.
__ADS_1
“Gini ya, Le. Mak kepengen sampean langsung saja nikahin si Ros terus bawa lagi sana, ke Inggris. Lagian di sini juga dia cuma nyusahin, makannya banyak. Duh Gusti Pangeran, pengeluaran beras Mak banyak banget kalo dia ada di rumah,” keluh Mak Katemi seraya mengusap-usap hidungnya. Setelah itu ia baru sadar bahwa tangannya masih bau terasi.
“Ih, Mak ko bilang begitu. Entar Ros ganti pakai Euro deh kalo Ros sudah sukses,” ucap Rosmawati sedih.
“Sudah Ros, ngga usah didengerin ocehan mak kamu itu. Lagian dagangan Bapak di pasar juga sekarang sudah mulai rame, ngga kaya dulu lagi. Mana yang belanja kebanyakan ibu-ibu, duh Bapak jadi ....” Pak Rozi tidak melanjutkan kata-katanya karena dengan segera Mak Katemi mencubit pinggangnya.
“Ih ... mak sama bapaknya Ijem romantis banget,” seru Maryam lagi seraya kembali gelendotan di lengan Jamie Scott yang saat itu merasa seperti sedang berada di alam lain. Ia ingin segera kembali ke Inggris dan menjalani kenormalan lagi.
“Jadi bagaimana, Pak? Bapak setuju kan kalo Ros langsung kawin saja sama Memet? Ros sudah ngga tahan ingin berkeluarga,” rengek Rosmawati. Ia lebih memilih untuk bicara dengan Pak Rozi ketimbang dengan Mak Katemi.
“Ya, kalau kalian sudah cocok, Bapak ya setuju-setuju saja. Sing penting kamu sudah yakin sama pilihan kamu, Nduk,” jawab Pak Rozi membuat Rosmawati seketika melonjak kegirangan.
“Tuh, Met. Orang tua aku sudah setuju. Kita langsung kawin saja besok, ya!” bujuk Rosmawati. “Aku ngga apa cuma dikasih maskawin sandal jepit juga, asal kamu yang ngasih pasti aku terima dengan ikhlas. Aku hanya mengharapkan ridho ilahi, Met!” rayu gadis itu lagi.
“Idiih, Jem! Sejak kapan lu pindah haluan ke aktor lokal?” sela Maryam karena mendengar Rosmawati menyebutkan nama salah satu aktor di sinetron yang jam tayangnya non stop. Akan tetapi, Rosmawati hanya menanggapi ucapan Maryam dengan sebuah cibiran.
“Iya, Met! Makin cepat akan semakin baik,” sela Maryam lagi. Ia terus saja ikut campur dan tidak ingin ketinggalan.
“Dengan begitu kita akan semakin cepat kembali ke Inggris,” timpal Jamie Scott yang sudah tidak nyaman dengan suasana di sana. Ia rindu apartemennya, kamar tidurnya, closet duduknya, dan tentu saja ia sangat merindukan Orestes, hamster kecil peliharaannya yang ia titipkan pada seorang teman selama ia berada di Indonesia.
Mehmet tampak berpikir sejenak. “Apa tidak terlalu terburu-buru, Rose?” tanyanya ragu.
“Ya ampun, Met! Nikah itu ibadah, sunah Rasul. Harus disegerakan,” Rosmawati terlihat begitu ngebet ingin segera menikah.
“Tapi, pastinya kan kita harus mengurus segala halnya dulu, Ros. Ngga bisa langsung menikah begitu saja. Coba kamu tanyakan sama orang tua kamu, seperti apa step by stepnya,” ujar Mehmet. Ia terlihat ragu. Bukannya tidak ingin segera menikahi Rosmawati, tetapi Mehmet hanya ingin mengikuti aturan yang berlaku di sana.
Sementara itu, Pak Rozi dan Mak Katemi hanya melongo dengan pandangan berpindah-pindah saat menyaksikan obrolan Mehmet dan Rosmawati yang menggunakan Bahasa Inggris. “Mereka ngomongin apa sih, Mak?” bisik Pak Rozi.
__ADS_1
"Nggak ngerti, Pak. Tapi ketoke anake awak dewe sing ngethek njaluk rabi (nggak ngerti, Pak! Tapi kayaknya anak kita yang ngotot minta kawin)," balas mak Katemi.
"Sudah kuduga, Mak! Aku yo curiga kalau anak lakinya itu dipelet sama si Ros," terka pak Rozi.
"Ngene ae, Pak. Daripada kita nanggung dosanya si Ros, mending langsung kita kawinin saja, gimana? Kalau perlu sekarang juga!" ujar mak Katemi berapi-api.
"Wah, Mak. Yo mana bisa kalau sekarang? Bikin surat pengantar ke RT sama ke kelurahan e piye?" sergah pak Rozi.
"Ck, gampang ituu! Selama ada fulus, semua urusan dijamin lancaar!" seringai mak Katemi sambil menaikturunkan alis dan menggesek-gesekkan ujung jari telunjuk dan tengah dengan jari jempolnya.
.
.
.
.
.
Hai, teman-teman kesayangan... Ada satu lagi karya temen otor yang keren. Mampir, yaa ❤️❤️❤️
__ADS_1