Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Before Party


__ADS_3

Rosmawati dan Maryam membuka pintu kamarnya masing-masing secara bersamaan. Muka bantal mereka terlihat kelelahan setelah semalaman berjuang menangkap rakun imut yang menurut Rosmawati, mirip dengan Mehmet. Rakun itu akhirnya bisa ditangkap setelah kekenyangan akibat menghabiskan seluruh makanan yang terdapat di atas meja makan.


Kiki mampu bertindak sebagai pawang. Kelihaiannya dalam hal berbicara dengan binatang, tak dapat diragukan lagi. Rakun itu berhasil mendekat ke arahnya saat Kiki mencicit dan berdecit sambil meliuk-liukkan tangan. Entah apa maksud dari semua itu, yang jelas Rosmawati dan Maryam hanya bisa terheran-heran.


"Ngga sia-sia juga hidup si Kiki," bisik Maryam kepada Rosmawati saat menyaksikan keajaiban gadis itu.


Si rakun imut pun berhasil jatuh dalam pelukan Kiki. Mungkin saja hewan itu teringat akan saudaranya atau mungkin ibunya. "Apa boleh anak ini kubawa pulang ke flatku sebelum kalian menelpon dinas penangkaran hewan liar?" Tanya Kiki dengan raut memelas malam tadi. Nah, kan... Bahkan Kiki sudah menganggap rakun itu sebagai anaknya.


"Bawa aja, Ki! Bawa sana!" Jawab Rosmawati malas sambil menarik sebuah apel dari tangan mungil si rakun. Untuk beberapa saat, Rosmawati dan hewan itu saling berebut dan berakhir dengan kemenangan gadis antik itu.


Rosmawati memajukan wajahnya tepat di muka rakun itu sembari menyeringai dan mengeluarkan desisan, membuat rakun itu terkejut dan ketakutan. Tepat saat hewan itu lengah, Rosmawati maju dan menggigit apelnya hingga tersisa separuh. Rakun itu terlihat shock, lalu melemparkan sisa apelnya pada Rosmawati.


Kembali pada aktivitas pagi. Maryam tengah menggosok giginya sambil terkantuk-kantuk saat Rosmawati menyiapkan air untuk mandi sambil terkantuk-kantuk pula. Mereka membereskan kekacauan di dapur akibat ulah si rakun sampai tengah malam dan hal itu telah mengganggu jadwal tidur mereka.


"Jem!" Panggil Maryam, mulutnya penuh dengan busa pasta gigi.


"Hmm ...." sahut Rosmawati sambil mengucek-ucek matanya.


"Nangki oye aa ngked au agak alang-alang ue sekungang kega," ucap Maryam tak jelas dengan sikat gigi yang masih nangkring di gerahamnya.


"Hah, apaan?" Rosmawati membelalakkan matanya, mencoba menerka arti bahasa kumur-kumur yang baru saja disampaikan oleh Maryam.


"Aa ngked au ngusul ue sekungang kega, ue au diagaking alang-alang," celoteh Maryam lagi.


"Au ah, Mun! Terserah lo deh!" Rosmawati kemudian terkesiap setelah mengucapkan kalimatnya. Tiba-tiba dia terbayang sayur nangka muda kesukaannya yang selalu dibuatkan secara khusus oleh mak Katemi.

__ADS_1


Rosmawati buru- buru menyelesaikan ritual mandinya dan bergantian tempat dengan Maryam yang sudah selesai menyikat gigi. "Mun, kebiasaan, deh! Kalau mencet odol selalu dari tengah!" Omel Rosmawati.


Sementara Maryam tak menghiraukannya karena sudah asyik dengan guyuran shower dan shower puff yang baru saja dibelinya. Maryam kini sedikit berubah. Entah bisikan gaib dari mana yang bisa menyebabkan gadis itu jadi rajin mandi.


Maryam masih bernyanyi riang di bawah shower saat Rosmawati sudah rapi dengan seragam kerjanya. "Muun! Belum selesai juga mandinya? Ya, ampuun! Udah setengah jam loh ini. Nggak keriput itu kulit?" Seru Rosmawati. Dia tak habis pikir dengan kelakuan Maryam. Apa mungkin gadis itu sedang bertobat dan menebus kesalahannya di masa lalu yang sering melewatkan acara mandi, sehingga Maryam merapel semua jadwal mandinya yang terlewat pada pagi ini?


"Bodo ah, Mun! Gue berangkat duluan, yak!" Seru Rosmawati lagi yang dibalas dengan acungan jempol penuh busa sabun oleh Maryam.


Seperti biasa, Rosmawati melangkahkan kakinya dengan enerjik dan ceria menuju kantor, meskipun pada akhirnya Joyce selalu menyodorkan troli penuh peralatan kebersihan padanya, padahal baru saja ia menjejakkan kaki di lobby.


"Saatnya berolahraga, Rose!" Sambut Joyce dengan penuh semangat.


Rosmawati menyambut uluran gagang pel itu seraya mendengus. "Lantai mana jadwal kita hari ini?" Tanyanya.


"Aula! Mr. Blake akan mengadakan pesta nanti sore, selepas jam kerja," sahut Joyce sambil menyeringai lebar. Hari ini dia memakai eyeshadow berwarna biru tosca.


"Rose! Jangan lupa nanti sore, ya! Aku mengundang seluruh pegawai di gedung ini untuk merayakan keberhasilanku mendapatkan investor terbaik sepanjang masa," belum sempat Joyce menjawab, sebuah suara berat yang terdengar begitu maskulin dan seksi sudah terlebih dulu menyahut.


"Mas Jus ... eh ... Mr. Blake?" Rosmawati menoleh dan tertegun. Justin Blake sudah berdiri di belakangnya, ditemani oleh wanita bahenol. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Lidya Rodriguez sang kekasih hati. Wanita itu menatap sinis kepada Rosmawati sambil mengibaskan rambutnya. Sekilas tampak ketiaknya yang terlihat putih tanpa bulu.


"Honey, tidak seharusnya kita membawa serta petugas kebersihan pada acara kita," bisik Lidya dengan manjanya. Bibirnya yang penuh terlihat manyun-manyun. Dua sejoli itu kembali berjalan menuju lift VIP setelah sempat berhenti di depan Rosmawati dan Joyce


"Aku mau berterima kasih secara khusus kepadanya," samar terdengar jawaban dari Justin Blake yang tertangkap oleh telinga Rosmawati yang tiba-tiba saja sudah beralih fungsi menjadi antena. Joyce dan Rosmawati pun saling pandang, kemudian meringis bersama-sama.


"Kita akan diundang makan-makan," bisik Joyce.

__ADS_1


"Semoga ada menu kepiting. Aku sedang ingin makan kepiting," timpal Rosmawati.


"Mari kita bersemangat kerja, Rose! Kita habiskan energi kita, supaya nanti sore perut kita bisa menampung berbagai macam hidangan." bisik Joyce lagi dengan penuh semangat.


"What a great idea, Joyce!" Seru Rosmawati sambil mengepalkan tangannya.


Dua rekan kerja yang sama-sama hobi makan itu saling berceloteh sembari menarik troli ke aula di lantai lima. Sesekali mereka melakukan aksi saling dorong sambil tertawa.


Seperti yang Joyce inginkan, mereka berdua begitu bersemangat bekerja hingga kalori dalam tubuh mereka benar-benar habis. Akan tetapi, nahas, waktu masih menunjukkan pukul tiga sore, sedangkan undangan pesta masih dua jam lagi.


"Joyce ... i'm tired and i'm so hungry" keluh Rosmawati lemah. Tubuhnya ia sandarkan pada troli. Sementara tangannya ia usapkan pada perutnya yang rata.


"Me too, Rose! I think I'm going to pass out," sahut Joyce pelan.


(Sepertinya aku akan pingsan).


Rosmawati menggeleng-gelengkan kepalanya kencang. "Waduh, jangan sampai, ya! Siapa yang akan mengangkat badanmu nanti? Aku tidak sanggup. Aku tidak ...." Rosmawati tidak sempat melanjutkan kata-katanya.


"What are you doing, people?" Suara seorang laki-laki memotong kalimat Rosmawati.


Rosmawati mengangkat sedikit badannya, hingga kepalanya menyembul dari balik troli, mengintip si pemilik suara. "Oh, gebetan si Mumun ternyata. Hai, Mr. Jamie Scott," Rosmawati melambaikan tangannya pelan.


Jamie Scott mengernyitkan keningnya melihat tingkah kedua gadis itu. "Kenapa kalian? Seperti gelandangan saja!" Ucap Jamie Scott dengan seenaknya membuat Rosmawati dan Joyce saling pandang. Setelah itu, Jamie Scott pun berlalu begitu saja.


"Heran gue ... ko bisa ya si Mumun ngebet banget sama tuh cowok?" Gumam Rosmawati dengan tidak mengerti.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan mr. Eder," ucap Joyce, "dia tampan tapi ...." Joyce tidak melanjutkan kata-katanya.


"Iya, Joyce! Ngga tau tuh cewek kaya gimana yang bisa naklukin cowok dingin kaya gitu?" Timpal Rosmawati. Tiba-tiba ia terbayang pada wajah manis sahabat kembar siamnya. "Masa sih si Mumun?" Gumam Rosmawati dengan tidak yakin.


__ADS_2