Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Exotic Dinner


__ADS_3

Jamie Scott menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perlahan. Ia tidak mengerti semua yang diucapkan Maryam.


"Jamie ... nanti malam mampirlah ke rumah! Sudah lama kita tidak makan malam bersama," mrs. Harlekin menepuk pundak pria jangkung itu hingga Jamie menoleh kepadanya.


"Okay, Mom!" Sahut Jamie Scott setuju, "I have to go now. See you," setelah berpamitan sambil mencium pipi mrs. Harlekin, Jamie Scott pun bermaksud untuk keluar dari dapur. Akan tetapi, lagi-lagi ia harus menyeringai karena tiba-tiba Maryam pun ikut menyodorkan pipinya ke arah dirinya.


"Mary! Berhenti menggoda putraku dan lanjutkan pekerjaanmu!" Sergah mrs. Harlekin seraya melotot tajam ke arah gadis itu.


Maryam pun hanya senyum-senyum, termasuk ketika Jamie Scott berlalu begitu saja dari hadapannya. Pria itu bersikap sangat dingin, namun Maryam tidak peduli. Gadis itu justru menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sangat romantis dan eksotis.


"Hei, Mary!" Panggil mrs. Harlekin lagi seraya menepuk pundak Maryam dan membuat khayalan indah gadis itu seketika sirna.


"Sepulang dari sini bantu aku menyiapkan makan malam! Aku tidak mau tensiku naik lagi karena terlalu lelah," ujar mrs. Harlekin seraya berlalu tanpa menunggu jawaban dari Maryam yang saat itu kembali senyum-senyum membayangkan hal romantis bersama Jamie Scott.


"Dengan senang hati, Nyonya! Tanpa dibayar pun, saya rela menginap berhari-hari di rumah Anda!" seringai Maryam.


"Ya ampun," keluh Mrs. Harlekin seraya mengusap dahinya, seketika kepala Mrs. Harlekin terasa amat berat dan sedikit berputar.


Hari terus merayap menuju senja. Maryam pun tidak langsung pulang ke flatnya, ia terlebih dahulu mampir ke kediaman Imelda alias mrs. Harlekin untuk membantu calon ibu mertuanya di masa depan (meskipun masih abu-abu, tapi yang penting yakin).


Maryam membantu wanita itu dengan cekatan. Inilah saatnya ia unjuk gigi dan berharap agar Mrs. Harlekin dapat memberinya dukungan penuh.


Hampir dua jam menyiapkan menu makan malam, akhirnya semua hidangan pun tersaji di atas meja makan.


Sesaat kemudian, terdengar pelan suara pintu terbuka. "Honey, I'm home!" Terdengar suara seorang laki-laki yang baru datang dari rutinitas di hari Jum'at sorenya, yaitu memancing.


"Cuci tangan dan cuci kaki dulu, Sayang! Setelah itu kemarilah, makan malam sudah siap!" Seru Mrs. Harlekin seperti seorang ibu yang sedang memerintah anaknya.


"Ah ... jangan lupa letakan alat-alat pancingmu dengan rapi, Sayang!" Seru Mrs. Harlekin lagi dari ruang makan.


John Eder, suami mrs. Harlekin pun patuh. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, dia memasuki ruang makan dan duduk di salah satu kursi dengan penuh wibawa.

__ADS_1


John Eder sudah hampir menanyakan siapa gerangan gadis manis yang sedari tadi menempel erat di sekitar istrinya (dia khawatir kalau-kalau belahan jiwanya itu diikuti oleh makhluk tak kasat mata). Akan tetapi, hal itu segera ia urungkan ketika terdengar suara maskulin seorang laki-laki dari arah ruang tamu.


"Mum, i'm coming!" Seru suara merdu itu.


"Ya, ampun! Si aa cakep ...." gumam Maryam seraya merapikan rambut dan bajunya.


Tidak berselang lama, pria itu masuk dengan gagahnya lalu duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Maryam.


Maryam tak mampu berkata-kata, sambil melongo dia menatap lekat-lekat seorang pria tampan nan rupawan dengan aura keseksian yang di atas rata-rata di depan matanya. Pria berambut coklat dengan T Shirt panjang berwarna putih. Siapa lagi kalau bukan si ganteng kalem pujaan hati Maryam seorang, Jamie Scott.


Jamie Scott terkejut melihat Maryam ada di rumah kedua orang tuanya. Ia pun melirik Imelda alias Mrs. Harlekin dengan wajah penuh tanda tanya.


"Apa yang gadis ini lakukan di sini, Mum?" Tanya Jamie Scott. Ia tentu saja tidak merasa nyaman akan kehadiran Maryam di sana.


"Mary membantuku menyiapkan ini semua, Sayang," sahut Mrs. Harlekin seraya melirik Maryam yang saat itu sibuk memperhatikan Jamie Scott yang terlihat tidak suka dengan kehadirannya, sambil senyum-senyum.


"Mary, bagaimana jika kamu bergabung saja di sini dengan kami. Lagi pula, kamu juga pasti belum makan malam, kan?" Tawar Mrs. Harlekin yang bersambut sebuah lonjakan kebahagiaan dari Maryam.


"Hey! Why are you sitting here?" Protes keras dari Jamie Scott kepada Maryam. Sementara gadis itu masih tetap senyum-senyum sambil menatap pria di sebelahnya.


"Biarkan saja, Jamie!" Sergah Mrs. Harlekin membuat Jamie Scott mendengkus kesal.


"Honey, this is Mary. Dia adalah salah satu pegawai di toko," Mrs. Harlekin memperkenalkan Maryam kepada suaminya, John Eder. Seorang pria botak dengan jenggot yang tidak terlalu tebal dan mirip dengan Jason Statham. Pria itu pun tersenyum kepada Maryam.


"Hai, Mary. Nice to meet you," sapa John Eder dengan ramah, "inilah keluarga kecil kami," lanjutnya.


"Hai, Mr. Eder. Nice to meet you too," balas Maryam dengan senyum manisnya.


"Hey, Mary! Kamu memanggil suamiku dengan sebutan mr. Eder, sedangkan memanggilku dengan sebutan mrs. Harlekin ...." protes Mrs. Harlekin seraya melotot kepada gadis itu.


"Sudah kubilang jika gadis ini aneh, Mum. Seharusnya Anda sudah tahu hal itu," Jamie Scott menyela.

__ADS_1


"Menurutku dia gadis yang sangat lucu," John Eder menimpali. "Tell us about you, Mary!" Pintanya.


"About me? What do you want to know?" Tanya Maryam dengan antusias. Untuk sesaat ia melupakan Jamie Scott dan terfokus kepada John Eder.


"Apa saja, terserah kamu," sahut pria botak itu lagi.


Jamie Scott mengeluh pelan. Ia pun hanya memainkan jemarinya yang ia letakkan di atas meja makan. Ini akan menjadi makan malam yang buruk baginya dan lebih dari kehilangan lima puluh poundsterling dari dalam dompetnya.


"Ayah saya adalah pria yang sangat romantis, tapi sayangnya dia selalu lupa tanggal. Jangankan ingat tanggal lahir ibu saya, dengan tanggal lahirnya sendiri dia suka lupa," Maryam mengawali ceritanya dengan antusias.


"Ibu saya sering komplain karena ayah juga suka lupa dengan anniversary mereka. Ibu pasti harus selalu ingetin ayah dengan caranya tersendiri, karena itu mereka punya anak sampai tujuh, tapi ... sayangnya empat diantaranya meninggal dunia. Hampir semua anak ayah dan ibu saya adalah laki-laki."


"Ayah dan ibu saya sangat menginginkan anak perempuan, sampai-sampai mereka harus berkali-kali pergi ke dukun. Setelah penantian selama hampir lima tahun, barulah saya lahir. Karena itu kedua orang tua saya sebenarnya kurang setuju saya berada jauh dari mereka," tutur Maryam sendu. Tiba-tiba dia merindukan mak Odah dan pak Jaka.


"Oh, sayang ... kamu pasti sangat merindukan mereka, ya?" Tanya Mrs. Harlekin iba.


"Sangat! Akan tetapi, saya tidak bisa pulang. Selain karena saya belum berhasil meraih cita-cita, saya juga belum punya uang saku yang cukup," jelas Maryam.


"Memangnya apa cita-citamu?" Mr. Eder ganti bertanya.


"Menjadi desainer pakaian, Sir! Saya memiliki bakat mendesain dan menjahit baju sendiri, lho!" Jawab Maryam antusias.


"Wah, hebat sekali, ya!" Puji pasangan suami istri itu, membuat Jamie Scott sedikit tertarik.


"Terima kasih atas pujiannya. Saya dulu juga sering menjahitkan baju untuk orang tua saya. Waktu itu saya membuat busana couple, biar mereka terlihat serasi. Tapi ayah saya malah marah-marah," celoteh Maryam.


"Kenapa?" Tanya suami istri itu dengan bersamaan.


"Saya lupa memberi lubang di bajunya. Jadi, kepala ayah saya tidak bisa masuk," jawab Maryam lugu.


Seketika Jamie terbahak tanpa ia sadari. Hal itu membuat Mrs. Harlekin dan suaminya terpana. Mereka saling pandang penuh makna. Dalam hati, Mrs. Harlekin begitu terharu. Sejak kejadian memilukan itu, baru kali ini Jamie Scott bisa tertawa lepas seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2