Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Mumun's First Kiss!


__ADS_3

Pesta berlangsung meriah. Sampai jam 9 malam, masih tak ada tanda-tanda keramaian menyenangkan itu akan berakhir.


Rosmawati sudah duduk kelelahan di sudut aula. Perutnya sedikit membuncit akibat terlalu banyak menelan makanan, cemilan, puding dan minuman bersoda. Sesekali gadis itu bersendawa dengan leluasa, seperti seekor naga dengan napas apinya.


Dari kejauhan, Rosmawati melihat Lidya Rodriguez. Si janda hebring itu masih betah bergelayut dengan manja di lengan kekar Justin Blake. Perempuan itu benar-benar menempel di bos tampannya, seperti monyet peliharaan Si Buta Dari Gua Kunti. Wanita itu seakan tak memberi kesempatan sama sekali pada siapapun untuk mendekati kekasih hatinya.


Rosmawati mendengus kesal memandang tingkah berlebihan Lidya yang menurutnya terlalu protektif.


"Yo!" Sapa Joyce yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Rosmawati. Rekan kerjanya itu memakai topi baseball dan memiringkannya bak seorang rapper. Joyce juga merenggangkan jemarinya sambil bergaya seperti sedang menyanyi rap.


Sepuluh cincin perak bertengger di sepuluh jarinya. Akan tetapi, Rosmawati terlalu malas untuk bertanya, darimana Joyce mendapatkan cincin-cincin itu.


"Kenapa sedih, kenapa ragu?" Nada bicara Joyce seperti sedang bernyanyi. Rosmawati menjawab hanya dengan mengangkat dagu, mengarahkannya pada Justin Blake yang sedang bercanda dan menggesek-gesekkan hidungnya pada Lidya. Rosmawati semakin kesal, hingga ia memutuskan untuk berdiri dan berniat pulang.


"Yo, where are you going?" Tanya Joyce yang masih bertahan dengan gaya rappernya.


"I'm going home!" Jawab Rosmawati seraya menghentakkan kakinya.


Joyce sedikit terhenyak melihat tingkah Rosmawati, namun pada akhirnya dia tersenyum dan mengerti.


Didekatinya gadis antik itu. Ditepuknya bahu Rosmawati sembari berkata, "Apapun yang Justin Blake lakukan padamu, jangan sampai tergoda! Bagaimanapun, dia sudah memiliki pasangan, meskipun pasangannya sedikit gila dan aku tidak suka! You're so much better than that, Ros! Jangan jadi perusak hubungan orang, okay." Petuah Joyce. Setelah itu, ia kembali kerasukan jiwa Eminem.


"Idih, siapa yang mau merusak! Lagipula Madame Jul bilang ...." Rosmawati tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu tampaknya mulai ragu.


"Who is Madame Jul?" Joyce dengan eye shadow biru toscanya mengernyit.


"Never mind!" Rosmawati mengibaskan tangannya. "Aku pulang dulu, ya!" Pamitnya pada Joyce. Ratu savana itu pun membalasnya dengan lambaian mesra. "Be careful! Watch your steps!" Pesan Joyce.


(Hati-hati! Perhatikan langkahmu!)


"Rose, wait!"


Teriakan seseorang membuat Rosmawati menghentikan langkahnya. Saat itu dia sudah sampai di pintu keluar aula. Rosmawati menoleh dan melihat Jamie Scott sedang berjalan ke arahnya.


"Kita pulang sama-sama!" Ujar Jamie Scott datar.


"Hah, pulang sama-sama? Bukannya rumah kita berbeda arah?" Tanya Rosmawati bingung.


"A-aku ingin jalan memutar! Aku bosan jalan lurus!" Sahut pria tampan itu sedikit gugup.

__ADS_1


"Whatever you say, Sir! Itu berarti aku boleh menumpang mobilmu, ya!" TanyaRosmawati sambil meringis. Rasa gondok dan sebal sudah menghilang seketika, seakan tak terjadi apa-apa.


"Alright!" Jawab Jamie Scott cepat.


Mereka pun keluar aula dan berjalan melintasi lobi. Di teras depan gedung, Jamie Scott meminta Rosmawati untuk menunggu. "Aku akan mengambil mobil di basement," ujarnya.


Rosmawati mengangguk pelan, kemudian menguap. Biasanya di jam ini, Rosmawati sudah bergelung dengan selimut dan boneka beruang coklatnya.


"Hey, Rose! Aku menunggumu pulang," sapa sebuah suara yang sudah sangat dikenal Rosmawati. Suara itu tiba-tiba menghilangkan kantuknya. Siapa lagi kalau bukan Mehmet. Zayn Malik kw 1 itu berdiri di ujung anak tangga yang menghubungkan teras gedung dengan trotoar jalan raya.


"Lho, kok di sini, Met? Sedang apa?" Rosmawati mendekati Mehmet yang berjarak lima anak tangga darinya dengan setengah berlari. Gadis itu sudah tidak lagi menunjukkan sikap judesnya pada Mehmet.


"Aku baru selesai berjualan dan sengaja menunggumu pulang," jawab Mehmet dengan senyum termanisnya.


"Ya, ampun! Kamu mau menyisakan hotdog buat aku, ya!" Tebak Rosmawati penuh percaya diri. Padahal belum ada setengah jam sejak gadis itu merasa kekenyangan.


"Ehm, I ...."


Tiin!


Suara klakson berbunyi nyaring, memotong kata-kata Mehmet. Jamie Scott lah pelakunya. Pria itu sudah duduk gagah di balik kemudi mobil Audi A4 miliknya. "Come on!" Teriaknya dari dalam kendaraan.


"Met, kamu bawa motor?" Tanya Rosmawati.


"Ehm, no! Aku rencananya ingin mengantarmu pulang dengan jalan kaki," jawab Mehmet lembut.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita naik mobil mewah. Lumayan sekali-kali. Daripada jalan kaki," tanpa permisi Rosmawati menyeret Mehmet.


"Sir! Aku mengajak serta temanku, ya!" Rosmawati membuka pintu mobil Jamie Scott lalu mendorong Mehmet agar duduk di kursi samping pengemudi. Sementara Rosmawati memposisikan dirinya di kursi belakang dan mulai mengagumi interior mobil itu. Gadis itu mengusap langit-langit mobil, kemudian berpindah pada kulit jok yang terasa begitu lembut di tangannya.


Tanpa Rosmawati sadari, Jamie Scott terpaku pada pria berwajah Timur Tengah di sampingnya itu. Jamie Scott sudah hendak membuka mulutnya, namun Mehmet segera menempelkan telunjuk di bibir, sebagai isyarat agar Jamie Scott tak berbicara apapun.


......................


Charlie Manfred keluar dari dalam mobilnya dengan membawa senyuman yang tidak dapat ia sembunyikan. Ia lalu membukakan pintu untuk Maryam yang tak kalah ceria dari aktor tampan itu.


"Bagaimana? I hope you enjoy today," ucap Charlie Manfred tanpa melepaskan tatapannya yang menggoda dari Maryam.


Oh ... tatapan pria dua puluh delapan tahun itu, memang jauh lebih menggoda jika dibandingkan dengan iklan sirup saat siang bolong yang menyengat di bulan puasa.

__ADS_1


"Boleh aku katakan sesuatu, Aa?" Tanya Maryam dengan wajah lugunya.


"Tentu saja. Apa itu?" Charlie Manfred tampak antusias.


Maryam tersenyum manis dan malu-malu. Sambil sesekali menunduk, ia pun menjawab, "Aa itu ibarat Sirup Tarjan yang sangat menyegarkan, rasa strawberry atau melon, kemudian dicampur kelapa muda dan ditambah es serut di atasnya," celoteh Maryam membuat Charlie Manfred mengernyitkan keningnya.


"What do you mean? I'm sorry Mary, but i don't understand," ujar pria bermata abu-abu itu. Ia tampak berpikir keras untuk mencerna kata-kata Maryam barusan.


Bukannya menjelaskan, Maryam malah tertawa cekikikan. "Sudahlah! Aa tidak perlu understand! Yang penting ... aku suka dengan acara kita hari ini," ucap Maryam lagi dengan malu-malu.


"Is this a date?" Ada sedikit harapan dalam pertanyaan yang diajukan Charlie Manfred kepada gadis itu.


"I don't know, but ... i like it. Aa sangat perhatian dan romantis. Aa juga bersikap begitu manis ... sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan ...." Maryam tidak melanjutkan kata-katanya. Pikirannya kini tertuju kepada Jamie Scott yang selalu bersikap dingin dan bahkan cenderung agak kasar, ketus, tega, dan seperti itulah ... menyakitkan. Membuat patah hati.


Pria jangkung berambut coklat itu memang terkesan tidak pernah menghargai keberadaan Maryam. Entah ada masalah apa dengan pria itu sebenarnya? Mungkin ia terlalu banyak memiliki cicilan, sehingga hidupnya begitu terbebani dan tidak bahagia.


"Dengan siapa?" Selidik Charlie Manfred.


Maryam tertunduk dan menggeleng pelan. "Bukan siapa-siapa," jawab gadis itu. Ia merasa jika Charlie Manfred tidak harus mengetahui urusan pribadinya


Perlahan aktor dengan puluhan judul film yang selalu meraih Box Office itu, mendekati Maryam yang masih berdiri mematung sambil tertunduk. Ia menatap gadis yang tidak pernah ada dalam daftar pencariannya, sebagai wanita idaman yang dapat masuk ke dalam kehidupannya. Tentu saja, siapa Maryam? Maryam seperti mendapatkan jackpot kali ini.


"I like you, Mary," Pernyataan yang terang-terangan dari Charlie Manfred dan tanpa basa-basi sama sekali.


Seketika Maryam mengangkat wajahnya. Gadis itu tampak sangat terkejut dengan ucapan Charlie Manfred. Ia hanya terpaku dengan ekspresi wajah tidak percaya.


Maryam bahkan merasa semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi selanjutnya. Lagi-lagi gadis itu harus terpaku seperti sebuah patung batu di hadapan Charlie Manfred, ketika pria itu kembali menyentuh bibir Maryam dengan lembut dan tentu saja ... tanpa permisi.


Ah ... kali ini Charlie Manfred melakukannya dengan lebih lama. It's not a momentary kiss. Itu bukan hanya sebuah ciuman numpang lewat yang berlalu begitu saja.


"Jadi ... seperti inikah rasanya?" Pikir Maryam. Ia bukannya menikmati ciuman hangat yang diberikan aktor sekelas Charlie Manfred untuknya, tapi malah sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan saat berciuman.


"Ini tidak seperti yang terjadi di film-film," pikir Maryam lagi. Ia berpikir dan terus berpikir hingga beberapa saat berlalu, terdengar suara seseorang yang sudah sangat familiar di telinganya.


"Aih ... Mumun!"


Seketika Maryam tersentak. Ia segera menjauhkan dirinya dari Charlie Manfred yang tampak tenang-tenang saja.


Maryam terlihat sangat malu. Tidak jauh darinya, telah berdiri Rosmawati bersama Mehmet, dan ... Jamie Scott muncul dengan tiba-tiba dari belakang pria keturunan Timur Tengah itu.

__ADS_1


__ADS_2