
Maryam masih menatap lekat ke arah Jamie Scott. Sesekali gadis itu mengernyitkan keningnya, memainkan kedua alisnya hingga naik turun seperti harga daging ayam di pasaran.
"What do you mean, Aa? Neng sama sekali ngga ngerti," Maryam bertanya seraya menggerakan kedua bola matanya ke kiri dan ke kanan.
Jamie Scott masih terlihat tenang. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dan merentangkan tangan kirinya lurus di atas sandaran bangku itu, tepat di belakang punggung Maryam.
"Ya, Mary. As you've heard. Aku bukankah anak kandung dari ayah dan ibuku," jelas pria bermata abu-abu itu.
"Lalu?" Maryam tidak melepaskan pandangannya dari pria tampan dengan kadar lebih dari 70% itu.
"Mr and mrs. Eder, mereka telah lama menikah. Akan tetapi, mereka tidak seberuntung pasangan yang lain. Ibuku mengatakan jika saat itu usiaku sekitar empat tahun, ketika mereka menemukanku di stasiun sendirian," tutur pria berambut coklat tembaga itu.
"Emangnya Aa lagi apa di stasiun?" Tanya Maryam lagi dengan semakin heran.
Jamie Scott menggumam pelan seraya tersenyum simpul. "Menurut ibuku ... sepertinya aku sengaja ditinggalkan di sana, Mary. Jika dugaan ibuku memang benar, maka ... entahlah aku tidak tahu apa yang menjadi alasan orang tuaku melakukan hal itu. Aku tidak ingin berasumsi yang macam-macam," ucap pria dua puluh tujuh tahun itu dengan bijak.
"Oh ... Aa ... Neng sangat terharu. Sini Neng peluk!" Maryam menawarkan sebuah pelukan kepada Jamie Scott, tapi justru dia yang lebih dulu memeluk pria itu. Jamie Scott tersenyum lebar. Perlahan dielusnya rambut panjang Maryam dengan penuh perasaan.
"Aa beruntung karena ditemukan oleh tuan dan nyonya Eder. Buktinya mereka mengurus Aa dengan baik hingga Aa bisa tumbuh tinggi dan tampan, meskipun Neng yakin kalo Aa emang udah tampan dari sejak berbentuk embrio," celoteh Maryam membuat Jamie Scott tertawa pelan.
"A ... boleh tanya sesuatu ngga?" Maryam masih bergelayut manja di lengan Jamie Scott.
"Apa?"
"Aa ko bisa wangi banget? Emangnya Aa mandi sehari berapa kali, sih?" Pertanyaan yang sangat unfaedah dari Maryam.
Jamie Scott terdiam untuk sejenak. "Apa kamu tidak punya pertanyaan yang lebih penting, Mary?"
"Contohnya?"
"Maybe like ... will you be my girlfriend?"
Seketika Maryam menegakkan posisi duduknya. Ia tidak percaya ketika mendengar Jamie Scott mengajukan pertanyaan seperti itu kepada dirinya.
__ADS_1
"Sungguh?"
Jamie Scott mengangguk pelan seraya tersenyum dengan kalemnya.
Maryam membalikan badannya ke arah depan. Ia merapatkan kaki dan juga kedua lengannya, sampai-sampai angin pun berbalik arah karena tidak bisa menembus ketiaknya. Senyum manis dan perlahan menjadi lebar terkembang di wajahnya, kedua bola matanya yang besar menari-nari karena saking bahagianya.
Perasaan itu sungguh luar biasa. Ini bahkan lebih indah, jika dibandingkan dengan ketika Charlie Manfred yang menyatakan cinta padanya. Bisa jadi ... karena Maryam memang sudah sangat terobsesi pada Jamie Dornan KW Super itu.
"Bagaimana, Mary? Apa jawabanmu?" Tanya Jamie Scott lagi.
Maryam kembali membalikan badannya dan menghadap kepada si tampan dengan TShirt panjang abu-abu itu. Maryam terlihat sangat bahagia. Gadis itu kemudian berdiri di hadapan Jamie Scott.
"Neng mauuuuuu!" Seru Maryam dengan sangat lantang sambil melonjak kegirangan, sehingga mengundang perhatian semua pengunjung yang kebetulan sedang menikmati sore mereka di penghujung musim panas ini.
Ya, musim panas tahun ini akan menjadi musim panas dengan sejuta cerita yang luar biasa bagi dua sahabat kental Maryam dan Rosmawati.
Ada banyak cerita yang sangat berkesan dan tidak mungkin terlupakan. Sebuah cerita yang entah akan berakhir seperti apa.
Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Karena ... semuanya terjadi ketika Jamie Scott mengantarkan Maryam pulang ke flatnya.
"Iya, Aa tenang aja! Si Kiki emang kaya gitu A. Maklum seumur hidup hanya dia habiskan buat mandangin tembok kamarnya sambil ngobrol sama si Jackson. Jadi, kalo sekalinya liat cowok cakep ya pasti kaya emak-emak liat tulisan SALE," terang Maryam dengan entengnya.
Detik-detik melewati tangga pun tiba. Jamie Scott tampak berhati-hati. Dia berjalan setengah berjingkat agar sepatunya tak menimbulkan suara gesekan di lantai. Setelah tiba di anak tangga terakhir, barulah Jamie Scott bernapas dengan lega karena tak terlihat penampakan manusia aneh di sana.
"Aman, A! Mampir dulu, yuk!" Ajak Maryam setengah berbisik.
Meski dengan agak ragu-ragu, Jamie Scott mengendap-endap mendekati Maryam. Bertepatan saat tubuh jangkungnya tiba di depan pintu flat kekasihnya itu, pintu flat Kiki pun terbuka.
Tanpa pikir panjang, Jamie Scott segera membuka pintu flat Maryam dan bergegas masuk. Ditutupnya pintu itu sedemikian keras. Ia lalu bersandar di pintu seraya mengelus dadanya dengan perasaan lega. Saat itu, barulah ia teringat jika Maryam masih berada di luar.
Jamie Scott kembali membuka pintu itu lagi dan segera menarik Maryam agar segera masuk. Saat itu, Maryam masih berada dalam pose terbengong-bengong.
Jamie Scott dengan segera mengunci pintu flat itu. "Apapun yang terjadi, tolong jangan buka pintunya, okay!" Pesan arsitek tampan itu.
__ADS_1
"Okay ...." sebelum Maryam sempat melanjutkan kata-katanya, sebuah suara yang tak asing sudah lebih dulu menyahut. Serempak, dua sejoli yang baru jadian itu menoleh.
"Jem! Lu mau kemana?" Mata Maryam terbelalak melihat Rosmawati sedang berjibaku dengan koper-koper besar. Gadis oleng itu terlihat asyik memasukkan baju ke dalam koper dan barang-barang pecah belah miliknya ke dalam kardus.
"Gue mau pindah, Mun!" jawab Rosmawati sambil memasukkan celengan babi miliknya.
"Pindah kemana?" Tanya Jamie Scott dan Maryam secara bersamaan.
Rosmawati akhirnya mendongak dan menatap mereka bergantian. Dengan wajah pilu, dia mulai bercerita tentang pekerjaan barunya.
"Tau nggak, Mun? Kayaknya si Memet udah benci banget sama gue. Hari ini dia ngerjain gue, Mun," tutur Rosmawati dalam bahasa Indonesia.
"Ngerjain gimana maksudnya?" Tanya Maryam tak mengerti. Sementara Jamie Scott hanya melongo karena tidak mengerti dengan obrolan kedua gadis itu.
"Iya! Masa dia nggak bilang kalau gue ditempatkan di Birmingham. Begitu gue nyampai kantor dia, gue disuruh naik taksi ke Birmingham. Mana gue belum gajian, terpaksa deh minjem duit ke temen," tutur Rosmawati dengan panjang lebar.
Jamie Scott tampak terharu, bukan karena mendengarkan cerita Rosmawati, melainkan karena dia sama sekali tidak mengerti dengan semua yang duo gadis oleng itu bicarakan.
"Jadi lu mau pindah ke Birmingham, Ros? Ke tempat siapa?" Tanya Maryam resah.
"Nggak tahu deh, Mun. Mau cari sewa flat murah aja kali, ya?" jawab Rosmawati pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Wait! Lu udah packing tapi nggak ngerti mau pindah kemana?" Telunjuk Maryam bergerak-gerak membentuk lingkaran. Dia terlalu pening memikirkan tingkah sohib ajaibnya itu.
Rosmawati mengangguk dengan cepat sembari meringis.
"I don't understand. Ada apa ini? Berbicaralah dalam bahasa yang kumengerti, please! Aku juga ingin tahu," protes Jamie Scott.
"Begini, Mr. Eder. Saya diterima kerja di perusahaan Memet, tapi saya ditempatkan di Birmingham. Jadi, saya terpaksa harus pindah kesana," urai Rosmawati dengan mata sendu.
"Oh, so?" Jamie Scott mulai merasakan firasat tidak enak, apalagi ketika melihat wajah Maryam yang hampir menangis.
"Terus, gue gimana dong, Mun? Gue kan ga punya duit. Lu inget kan kalau status gue sekarang pengangguran sukses? Emang lu tega ninggalin gue sendirian?" Rengek Maryam.
__ADS_1
"Yah, terus gimana dong?" Rosmawati pun terlihat bingung.
"Ya terpaksa! I have to go anywhere with you!" Ucap Maryam segera. Kini giliran Jamie Scott lah yang mendadak jadi murung.