Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Pengangguran Cantik


__ADS_3

Maryam sudah bersiap mengenakan midi dress rufle lengan pendek dengan panjang selutut. Tidak lupa, ia memakai flat shoes kesayangannya. Kenapa menjadi kesayangan? Karena hanya sepatu itu yang Maryam punya saat ini.


Tas selempang kecil pun melingkar dengan cantik di dadanya. Itu juga merupakan tas kesayangannya, alasannya sama seperti yang sudah dijelaskan di atas ya.


Sambil bersiul-siul riang, Maryam kemudian menuju kamar Rosmawati. Sebagai sahabat yang baik, ia harus memastikan jika Rosmawati masih bernapas dengan baik hari itu. Karena kalau ada apa-apa dengannya, maka kepada siapa Maryam akan meminjam uang? Selain itu, ia juga harus menanggung biaya sewa flat itu sendirian. Secara ya, taraf hidup di kota London sangat tinggi.


Mengetuk pintu kamar Rosmawati, Maryam menghentikan siulan kecilnya. Ia lalu memutar handle pintu itu dan membuka pintu itu lebar-lebar. "Hello, Ijem my soulmate. How are you today? Gue harap semalam lo bisa tidur nyenyak," sapa Maryam seraya masuk. Ia mendapati Rosmawati sedang sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang sedang diketik gadis itu.


Maryam kemudian menghampiri Rosmawati dan duduk di sebelahnya. Ia lalu mengintip layar laptop yang ada di hadapan Rosmawati. Seketika Maryam terbelalak. "Serius lo, Jem? Elo beneran mau resign?"


Rosmawati tidak menjawab. Ia masih fokus dengan laptopnya.


"Ada masalah apa sih, Jem? Elu ga diapa-apain kan sama bos lo?" Tanya Maryam lagi.


Lagi-lagi, Rosmawati tidak menjawab.


"Ya amplop ... gue harap elu ga diapa-apain ya, Jem. Apa gue harus siap-siap jadi tante? Aduh ... gue belum siap, Jem aslinya!" Racau Maryam dengan wajah khawatir.


Rosmawati menghentikan aktivitasnya, ia kemudian melirik Maryam. "Elu ngomong apa sih, Mun? Berisik tau! Orang gue lagi konsentrasi. Tuh kan, gue jadi salah ketik!" Rosmawati mulai kesal.


"Eh ... bukan gitu, Jem. Sebagai sahabat yang baik, gue cuma care sama elu. Kan banyak tuh CEO yang menggunakan jabatannya untuk melakukan hal yang tidak bermoral sama office girl-nya. Kaya itu anu apa yang di serial Turki itu ... yang dibintangi sama Jang Maman," Omongan Maryam semakin ngelantur dan nyasar ke mana-mana. Mungkin sebentar lagi ia akan nyasar ke rumah hot duda.


"Ih ... apaan sih? Udah sana pergi lo! Meresahkan banget omongan lo! Unfaedah!" Usir Rosmawati dengan semakin kesal. "Enak aja, lu pikir gue cewek apakah mau aja digituin ... meski kadang ngarep dikit hehehe ... eh ... ngga ... amit-amit! Gue masih dan akan selalu ingat wasiat dari emak gue!" Tegas Rosmawati.


"Baguslah. Eh, tapi ya, Jem ... gue rada-rada heran gitu sama Jang Maman," ucap Maryam lagi dengan ekspresi yang tampak berpikir.


"Kenapa lagi? Lo heran karena dia belum kawin juga?" Sahut Rosmawati sambil terus mengetik di laptopnya.


"Bukan!" Bantah Maryam. "Gue heran, apa dia kagak geli ya punya jenggot setebal itu?"


"Ya udah tanyain sendiri sono! Elo kan pengikut setia dia," sahut Rosmawati tanpa menoleh.


"Ngga lagi. Gue udah diblokir," sahut Maryam dengan kesal. Ia lalu beranjak dari duduknya karena ada panggilan masuk untuknya dari Charlie Manfred.


"Hai, Honey. Aku ada di bawah," sapa Charlie Manfed dari ujung telepon.


"Kenapa aa ngga naik saja?" Tanya Maryam.


"No! Aku tidak mau. Aku takut dengan tetanggamu yang aneh itu," tolak Charlie Manfred dengan segera, membuat Maryam mengeluh pelan.


"Ya, sudah. Neng segera meluncur," Maryam mengakhiri obrolannya. Ia kembali memasukan ponselnya.


"Mau pergi lo?" Tanya Rosmawati seraya mengalihkan pandangannya kepada Maryam yang saat itu tengah merapikan dirinya di depan sebuah cerimin kecil.

__ADS_1


"Hooh. Aa Mfred ngajak gue keluar," jawab Maryam tanpa menoleh.


"Emang lo ngga kerja?"


Maryam menoleh. Tanpa menjawab gadis itu hanya menanggapi pertanyaan Rosmawati dengan nyengir saja.


Rosmawati menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya. "Ya ampun, Mun! Kapan sih elu mau berubah jadi lebih dewasa dan bertanggung jawab?"


"Kapan-kapan, Jem!" Seru Maryam seraya melambaikan tangannya dan berlalu dari dalam kamar Rosmawati.


Untuk sesaat, Rosmawati terdiam. Tidak berselang lama, ia lalu berseru, "Jangan lupa bayar hutang lu!"


Setelah Maryam berlalu, Rosmawati kembali berkutat dengan laptopnya. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin berhenti dari pekerjaannya dan mulai mencari pekerjaan baru. Rosmawati tahu itu sulit, tapi ia akan berusaha. Sudah tidak tidak mungkin lagi bekerja di tempat Mr. Blake. Selain karena telah sadar telah berbuat keliru, ia juga tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya.


Rosmawati melipat kertas yang baru saja ia print dengan hati-jati, lalu memasukkannya ke dalam amplop coklat. Lidahnya ia julurkan di ujung amplop, untuk menempelkan tutupnya. "Semoga bau jengkolnya nggak ngikut," gumam Rosmawati.


Dia mulai berganti baju yang sedikit rapi, mengikat rambutnya menjadi ekor kuda, lalu memakai sneakers kesayangannya. Ia lalu pergi ke kantor untuk terakhir kali.


Penuh semangat ia menuruni tangga dan keluar dari pintu lobby. Ada sedikit harapan dalam hatinya untuk melihat Mehmet menjemputnya seperti yang Zayn Malik kw 1 sering lakukan beberapa waktu terakhir ini.


Akan tetapi, harapan hanya sekedar harapan. Mehmet tak tampak di sana. "Nanti aja deh, mampir di gerobag hot dognya," begitu batin Rosmawati.


Dia kemudian berbelok ke arah perkantoran. Tanpa firasat buruk, Rosmawati memasuki lobby dengan santai. Rencananya, dia akan menemui Joyce dan rekan-rekan sesama cleaning service untuk mengucap salam perpisahan. Setelah itu, ia akan menuju ke ruangan Chelsea untuk berpelukan, kemudian  barulah ia akan menyerahkan surat pengunduran dirinya ke lantai HRD.


Lagi-lagi, rencana tinggal rencana. Saat ia akan memasuki ruang kebersihan, Lidya Rodriguez dengan rok macan-nya sudah berdiri menantang, menghalangi jalan Rosmawati. Dadanya terlihat segar dan montok, seperti mangga manalagi di masa keemasannya.


Gadis itu tak ingin menanggapi. Bagaimanapun dia berada di posisi salah. Sekarang ini, dia hanya ingin mengucap selamat tinggal pada rekan-rekannya, terutama Joyce. "I know. Sorry," timpal Rosmawati.


"Tidak semudah itu, Bulgoso!" Lidya menarik kerah kemeja Rosmawati sedemikian kasarnya.


"Kan saya sudah minta maaf! Lagipula saya hanya sekedar makan malam dengan Mr. Blake. Tidak lebih," Rosmawati membela diri.


"Masih berani menjawab kamu, ya! Dasar tidak tahu diri!" Emosi Lidya makin meledak-ledak. Tidak puas menarik krah Rosmawati, dia sekarang meraih kuncir kuda dan menjambaknya.


Rosmawati masih menahan diri. Tidak berusaha membalas sama sekali, meskipun dia kini meringis kesakitan.


Adegan aksi itu tentu saja menarik perhatian siapa saja yang lewat di sekitar lobby, tak terkecuali Justin Blake yang baru saja datang. "Ada apa ini?" Serunya saat melihat keramaian di lorong menuju ruang kebersihan. Setengah berlari, dia menghampiri kerumunan dan menyibaknya.


Justin Blake terkejut setengah mati, saat melihat kekasihnya menganiaya Rosmawati. "Darling! Ada apa ini? What are you doing?" Pria bermata biru itu maju dan melerai si janda hebring yang masih heboh menunjuk-nunjuk muka Rosmawati. Sementara gadis antik itu hanya bergeming sambil mengusap-usap kulit kepalanya yang terasa perih.


"Apa kau hendak mengkhianatiku lagi, Darling?" Pekik Lidya pada Justin. matanya melotot seakan mau lepas.


"What! Tentu saja tidak! Tidak mungkin aku melakukan itu padamu. I love you," tiga kalimat sakti yang diucapkan Justin selalu mampu meluruhkan amarah Lidya.

__ADS_1


Dengan lembut, pria cassanova itu merangkul erat bahu Lidya dan memeluknya. "Sudahlah! Jangan mempermalukan dirimu dengan meladeni dia! Kau tahu, kan? Gadis cleaning srevice itu sama sekali bukan levelmu," bujuk Justin, yang didengar dengan sangat jelas oleh Rosmawati.


Sakit hati, itulah yang Rosmawati rasakan saat ini. Sudah harga dirinya diinjak-injak, Justin Blake juga tak segan melontarkan kalimat pedas yang melukai perasaannya. Air matanya menetes pelan. Ternyata, Mehmet benar tentang semuanya. Sayang, waktu itu Rosmawati tak percaya. Penyesalannya kini semakin bertumpuk.


"Rose, are you okay?" Tiba-tiba Joyce sudah di belakangnya dan menepuk lembut punggung Rosmawati.


"Tidak apa-apa, Jo!" Rosmawati memaksakan senyum sambil mengusap air matanya. "Aku mau mengundurkan diri. Baik-baik di sini, ya!" Lanjutnya.


"But, why Ros?" Joyce tak sanggup menyembunyikan raut sedihnya.


Rosmawati mengangkat kedua bahunya. "Di sini terlalu menyakitkan," ucapnya pelan.


"Kalau kamu resign, siapa yang akan membantuku bergelantungan membersihkan kaca gedung?" isak Joyce.


"Sudah saatnya kamu mandiri, Joyce. Ingat, Kamu itu sekuat singa afrika dan selincah cheetah!" Rosmawati meletakkan kedua tangannya di bahu Joyce. "Tiap kali kamu membutuhkan bantuan, kamu cukup berteriak: Auuoooo," Pekik Rosmawati sambil menirukan gaya Tarzan.


"Baiklah, Joyce! See you when i see you," Rosmawati melambaikan tangannya dan bergegas pergi.


Tujuannya kini adalah Chelsea, untuk kemudian lantai HRD. Akan tetapi, sesampainya di lantai kantor Chelsea yang berhadapan dengan ruangan Justin Blake, Rosmawati mendengar samar suara Justin merayu kekasihnya.


"Percayalah padaku, Honey! Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis buluk itu. Sebenarnya, dia yang mengejar-ngejar aku. Hanya saja, kadang aku tidak tega melihat wajahnya yang memelas dan matanya yang membulat seperti anjing pudel."


Seketika, roh Nyai Pantura kembali merasuki Rosmawati. Api amarah mulai menjalar kemana-mana. Dengan tangan mengepal, dia menghentakkan kakinya memasuki ruangan Justin Blake.


"Hei, dasar! Sok kecakepan Anda ya! Bisa-bisanya anda bilang kalau saya yang mengejar-ngejar! Padahal kan baru niat! Ah, sudahlah! Nyesel gue ngidolain elu dulu! Mending Memet lah kemana-mana, jauuh! Tapi sekarang Memet marah sama aku. Dia tidak mau mema'afkan aku. Lalu, aku harus bagaimana? Apa aku harus mengeluarkan ilmu peletku supaya Memet bisa balik lagi? Ayo, coba! Jangan diem-diem bae! Kasih saran dong!" Cerocos Rosmawati. Dia mengomel dalam bahasa Inggris dan Indonesia sekaligus.


Si janda hebring dan Justin Blake hanya terdiam keheranan. Mereka bengong sambil memperhatikan tingkah oleng Rosmawati. Mereka baru sadar, ketika Rosmawati melemparkan surat pengunduran dirinya tepat di dada Justin.


"Nih! Berikan pada HRD! Saya berhenti! Cuih!" Rosmawati membalikkan badannya, keluar dari ruangan Justin sambil menutup pintunya keras.


Air matanya kembali menetes. Setengah berlari, dia memasuki lift menuju lantai dasar. Tujuannya adalah gerobag hotdog Mehmet.


Akan tetapi, Rosmawati kecewa lagi dan lagi. Ada gerobag hotdog di sana, tapi bukan Mehmet penjualnya, melainkan seorang pria tambun berambut pirang. Penuh penasaran, Rosmawati mendatangi pria itu. "Excuse me! Anda baru berjualan di sini?" Tanyanya.


"Tidak, kenapa? Saya sudah berdiri di sini sejak 1998," Jawabnya.


"Wah, kuat juga ya anda. Seperti Nyonya Menur. Malah Nyonya Menur jauh lebih lama lagi. Dia berdiri sejak tahun 1908," celoteh Rosmawati.


"Nyonya who?" Pria itu menggaruk-garuk kepalanya. Sepagi ini sudah bertemu gadis aneh macam Rosmawati.


"Maksud saya, biasanya yang berjualan di sini adalah seorang cowok ganteng. Dia mirip Zayn Malik, menawan dan lembut. Calon mantu idaman lah pokoknya," ujar Rosmawati.


"Ooh!" Pria itu seakan mengerti sesuatu. "Mr. Hayder? Si pangeran Arab itu, kan?"

__ADS_1


"Bukan! Dia memang dari Arab, tapi bukan pangeran," sahut Rosmawati.


"Selama dua tahun terakhir ini, Mr. Hayder selalu menyewa gerobakku. Dia bahkan membantu menjual hotdogku. Belum lagi seluruh hasil penjualan dia berikan sepenuhnya untukku. Dia tidak mengambil keuntungan sama sekali," ungkap pria itu, membuat kepala Rosmawati makin pening.


__ADS_2