Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Sepucuk Maaf Untuk Rose


__ADS_3

"Rose, ambilkan ini!"


"Rose, ambilkan itu!"


"Mana kopinya, Rose?"


"Nyalakan saklarnya!"


Rosmawati terengah-engah menghadapi banyaknya permintaan dari rekan-rekan kerjanya. Bahkan, ketika jam makan siang usai, dia belum sempat makan siang.


Apalagi ditambah dengan permintaan Mehmet yang aneh-aneh, seperti minta dipesankan es teh yang jumlah es batunya ganjil.


Mehmet pun marah-marah saat pesanannya datang, salah satu es nya mencair, sehingga jumlahnya menjadi genap.


"Tobat, Gustii!" keluh Rosmawati. Beruntung, sekarang sudah hampir selesai jam kerjanya. Kasur empuknya sudah terbayang di pelupuk mata.


"Not so fast, Dear! Pegawai baru biasanya harus lembur di hari pertama!" tegur Ahmad, ketika Rosmawati hendak menuju lokernya.


"Apalagii? Ya, Tuhan," raung Rosmawati.


"Membuat laporan hasil uji prototip desain mobil terbaru dan kumpulkan besok pagi di meja Mr. Hayder!" tegas Ahmad.


"Ya udah, saya kerjakan di rumah saja, Sir! Jadi pe er!" tawar Rosmawati.


"Eit, tidak bisa! Memangnya anak sekolah, bikin pe er? Kerjakan di sini!" Ahmad mengarahkan Rosmawati ke gedung kantor yang terletak di seberang gedung pabrik, lalu menunjukkan meja kerja gadis malang itu yang sudah lengkap dengan laptop dan peralatan kantor lainnya.


Rosmawati mendengus kesal. Niat rebahan menguap sudah. Entah berapa lama lagi dia harus menunggui area pabrik ini.


"Semakin cepat kau kerjakan, semakin cepat pulang," ujar Ahmad pongah.


"Gue timpuk pake tongkat pel lagi, tau rasa lu!" ancam Rosmawati sambil meraih setumpuk map tebal dan hendak ia lemparkan ke arah Ahmad.


Sontak, Ahmad lari terbirit-birit, menjauh dari gadis oleng itu


Rosmawati pun akhirnya tak punya pilihan lain selain mengerjakan tugasnya. Dengan teliti, dia membuka map-map hasil laporan percobaan siang tadi dan mengetiknya.


Tak terasa, 3 jam sudah berlalu. Berkali-kali ia menguap sambil menatap layar laptop, hingga ia akhirnya berseru, "Yes, bereess!"


Baru disadarinya ketika tak ada siapapun di ruangan ini selain dirinya. Bulu kuduknya meremang. Imajinasinya mulai liar, membayangkan sosok tak kasat mata khas Indonesia sampai hantu-hantu Eropa.


Saat membereskan mejanya, ekor mata Rosmawati menangkap adanya sekelebatan hitam mondar-mandir di depan pintu ruangan kantor. Debar jantung Rosmawati menjadi tak karuan karenanya.


"Eh, siapa, tuh? Hantu, bukan?" serunya.

__ADS_1


Hening, tak ada jawaban.


"Halo? Hantu, ya? Kuntilanak apa noni-noni Belanda? Asli mana? Kenalan, dong!? Biar nanti enak saya ngomongnya, pake bahasa apa! Kalau bisa jangan dari India, ya! Saya nggak bisa bahasa India," cerocosnya.


KLONTANG!


Tiba-tiba, wadah pensil dan pulpen yang sedari tadi bertengger manis di atas meja, sudah jatuh begitu saja ke lantai.


"Maakk!" pekik Rosmawati ketakutan. Segera saja ia berlari keluar ruangan tanpa menoleh sambil memejamkan mata, hingga tubuhnya menabrak dada bidang yang berjalan berlawanan arah.


Dada bidang itu keras seperti batu, membuat Rosmawati terpental dan terjatuh.


"Rose, are you okay?"


Suara lembut itu begitu menenangkan hati Rosmawati yang dilanda kepanikan. Pelan-pelan, ia memberanikan diri membuka matanya. "Me ... eh, Mr. Hayder?" mata Rosmawati mulai berkaca-kaca. Dia merasa sudah tidak sanggup lagi. "Sa-saya minta ijin mau pulang. La-laporannya sudah selesai, hiks," isaknya.


"Why are you crying?" Mehmet mendekat dan membantu Rosmawati berdiri. Nada bicaranya terdengar begitu khawatir.


"Saya lelah, ingin pulang. Ingin istirahat," pinta Rosmawati memelas.


Mehmet terdiam sejenak, memandang Rosmawati dengan sorot yang sulit diartikan. "Kuantar," sahutnya singkat.


"Tidak usah, Sir. Saya bisa pulang sendiri. Jalan kaki," timpal Rosmawati.


"Kalau tidak mau kuantar, kamu tidak boleh pulang!" ancam Mehmet ketus.


Mehmet mengembangkan senyumnya mendengar jawaban dari Rosmawati. "Baiklah, ayo ikut!"


Tanpa permisi, Mehmet menggandeng tangan Rosmawati, berjalan menuju lift, turun ke lantai dasar dan keluar dari gedung kantor. Di teras lobi, Mehmet meminta Rosmawati menunggu. Selang beberapa detik. Mehmet muncul dari arah tempat parkir sembari menuntun skuter matic nya.


"Ayo, naik," Mehmet mengulurkan helm untuk Rosmawati. Gadis itu pun menerimanya dengan degup jantung yang tidak karuan.


"Kamu sudah makan?" tanya Mehmet pada Rosmawati yang masih sibuk menalikan helmnya.


"Belum, Sir! Dari pagi malah. Siang tadi juga nggak sempat makan," ujarnya panjang lebar.


Mehmet terbelalak, seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun ia tahan. "Kalau begitu, kutraktir kamu makan," ajaknya setelah berhasil menormalkan ekspresi.


Rosmawati yang kini bergantian terbelalak. Tak percaya, Mehmet sudah mau bersikap baik padanya. "Wah, makasih banyak ya, Met. Eh, Mr. Hayder. Mudah-mudahan makin banyak rejekinya," ucapnya tulus.


Tanpa menunggu waktu lama, Rosmawati segera naik di boncengan Mehmet dan skuter matic itu melaju pelan menembus gelapnya jalanan di kota Birmingham.


"Met," panggil Rosmawati. Akan tetapi, Mehmet diam tak menyahut.

__ADS_1


"Met, aku minta maaf. Kamu boleh mengerjai aku. Kamu boleh membully aku sepuasmu. Asalkan ... asalkan kamu bersedia memaafkan aku," ujar Rosmawati terbata dengan dada berdebar. Dia tak berharap Mehmet mau menanggapinya. Dia hanya ingin Mehmet cukup mendengar isi hatinya, itu saja. Sebutir air mata menetes di pipi Rosmawati. Semakin ia eratkan lingkaran tangannya di pinggang Mehmet.


Yang tak diketahui oleh Rosmawati adalah, pria itu juga sama berdebarnya. Bahkan lebih kencang, terlebih saat Rosmawati mengeratkan pelukannya di pinggang Mehmet. Hampir saja, Mehmet melepas setir motornya saking girangnya.


"Ka-kamu masih suka hotdog?" tanya Mehmet gugup.


"Udah nggak, soalnya bukan kamu yang jualan," jawab Rosmawati, setengah menggombal, karena pada dasarnya dia tidak pernah menolak makanan apapun, kecuali racun.


"Ayam kremes?" Mehmet menyebutkan sebuah nama restoran fast food terkenal.


"Sebenarnya sih aku lebih suka ayam geprek, tapi berhubung kamu yang ngajak dan bayarin, aku sih mau-mau saja," kilah Rosmawati.


"Baiklah, kita mampir di kedai ayam kremes," Mehmet membelokkan motornya ke sebuah restoran fast food 24 jam.


Di sana, Mehmet mengijinkan Rosmawati memesan makanan apapun yang dia mau, sampai-sampai meja mereka penuh oleh tumpukan piring berisi ayam berbagai bumbu.


Nafsu makan gadis itu masih luar biasa. Mehmet yang sebenarnya juga lapar, langsung merasa kenyang melihat cara makan Rosmawati yang seperti orang kerasukan. "Hei, Rose," panggilnya.


Rosmawati dengan mulut penuh mengangkat wajahnya dan menatap Mehmet. Sepucuk sayap ayam muncul dari dalam mulutnya. "Hmm?" balas Rosmawati.


Mehmet tertawa geli melihatnya.


"Kau tadi seperti ketakutan. Ada apa?" tanya Mehmet.


"Oh, itu!" Rosmawati menelan ayam kremesnya dengan susah payah demi bisa menjawab pertanyaan Mehmet secepat mungkin. "Ada yang ngajak kenalan, Sir!" timpalnya antusias.


"Siapa?" Mehmet memandangnya curiga.


"Kayaknya hantu Eropa. Soalnya kalau hantu Indonesia itu lebih ramah dan murah senyum," jawab Rosmawati.


Mehmet menggaruk-garuk dahi karena tak mengerti maksud kalimat Rosmawati.


Beberapa saat kemudian, setelah menunggu Rosmawati menghabiskan makanannya, Mehmet mengantarkan Rosmawati pulang ke flatnya.


Perlahan, sikap Mehmet kembali menghangat. Dia bahkan membantu Rosmawati melepas helm dan menunggu hingga gadis itu masuk ke dalam gedung flat.


Sebelum membuka pintu masuk, Rosmawati menoleh pada Mehmet yang masih setia memandanginya. "Makasih ya, Met! Thank you and I'm sorry," ulangnya lagi.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Masuklah, sudah malam. I'm sorry, too," balas Mehmet tulus.


Segera saja Rosmawati menghambur kembali ke arah Mehmet yang tetap duduk di atas skuter matic nya.


CUP!

__ADS_1


Satu kecupan di pipi kanan Zayn Malik kw 1 itu, cukup membuat wajah Mehmet merona bagaikan kepiting rebus.


"Good night, Met! See you tomorrow," ucap Rosmawati sembari membalikkan badan dan setengah berlari memasuki flatnya.


__ADS_2