
Mehmet menarik tangan Rosmawati dan membantunya berdiri. "Kamu tidak apa-apa, Rose?" Tanyanya dengan nada datar dan dingin.
Rosmawati tak mampu menjawab, matanya berkaca-kaca. Bibirnya ia lipat ke dalam menahan tangis. Rasa sesal dan bersalah begitu memenuhi rongga dadanya.
Tiba-tiba ia teringat akan kata-kata seorang motivator ulung yang sering ia lihat di televisi, "Penyesalan selalu di belakang, kalau di depan itu namanya apa? Pasti kalian mau jawab pendaftaran, kan? Aih ... kuno banget!" Kata-kata motivator itu dirasa tak ada juntrungannya. Bukannya memotivasi, malah menambah depresi.
"Aku minta ma'af, Met," ucap Rosmawati lirih. Akan tetapi, Mehmet tak menjawab. Dia hanya mengarahkan Rosmawati menuju skuter matic yang diparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kuantar kamu pulang," ucap Mehmet singkat sembari menyalakan motornya. Tak lupa ia menyodorkan helm kepada Rosmawati. Dalam hati, ia berharap supaya gadis itu tidak memasang helm terlalu lama.
Ragu-ragu, Rosmawati menaiki motor Mehmet. Tangannya maju mundur, antara memegang pinggang Mehmet atau tidak. Bagi orang lain yang melihat, mungkin ia tampak seperti sedang berjoged gergaji. Akhirnya, Rosmawati memutuskan untuk meletakkan tangannya di besi pegangan yang terdapat di belakang joknya.
Dua anak manusia itu berkendara dalam diam. Mehmet yang biasanya lembut dan ceria, kini hanya diam seribu bahasa. Dia bertahan dengan sikap seperti itu sampai tiba di depan flat Rosmawati.
"Sudah sampai," ujar Mehmet, lagi-lagi dengan nada dingin.
"Met, ma'af," bisik Rosmawati lirih sesaat sebelum turun dari skuter matic kesayangan Mehmet itu.
"Turunlah!" Lagi-lagi jawaban dingin yang didapat oleh Rosmawati. Gadis itu pun mendesah pelan dan melompat turun dari motor.
"Met, jangan begitu lah, Met! Aku kan minta ma'af," rayunya sambil berdiri tepat di depan Mehmet yang masih terdiam di atas motornya. Akan tetapi, Mehmet masih enggan berbicara. Pria tampan berbulu mata lentik itu malah mengalihkan pandangannya pada gedung di seberang jalan.
"Say anything at all, please! Whatever it is, I will listen!" Pinta Rosmawati setengah putus asa.
(Ngomong dong, apa aja deh, please. Apapun itu, aku akan dengerin)
Mehmet sedikit luluh. Ia pun menoleh pada Rosmawati dan menatapnya intens, membuat dada Rosmawati berdebar kencang.
"Jaga dirimu baik-baik, Rose! Semoga kamu selalu berbahagia," kata-kata Mehmet seperti ucapan perpisahan untuknya. Rosmawati yang sedikit berharap, kini tak kuasa lagi membendung tangisnya. Dia merasa sedih sekaligus malu, sehingga ia memutuskan untuk melangkah cepat memasuki gedung flat.
Sesampainya di pintu lobby, Rosmawati mendengar Mehmet meneriakkan namanya. Harapannya kembali muncul. Dia membalikkan badan penuh semangat sambil tersenyum ceria. "Iyaa," jawabnya manja.
"Helmnya!" Seru Mehmet seraya menunjuk pada benda bulat yang nangkring di atas kepala Rosmawati. Bunga-bunga yang terlanjur bermekaran di hati gadis oleng itu kembali luruh, bagaikan hama tanaman yang disemprot pestisida.
Dengan lunglai, Rosmawati berjalan menghampiri Mehmet dan memberikan helm itu padanya. Tanpa kata, Mehmet menerima helmnya dan membalikkan motor, lalu melajukan skuter maticnya hingga hilang di kegelapan malam.
Kesedihan Rosmawati tak bisa ditahan lagi. Sepanjang jalan menuju flatnya, dia menangis kencang, sampai-sampai beberapa tetangganya membuka pintu dan melihat gadis itu sedang berjalan sambil mengucek-ucek matanya.
__ADS_1
"Kenapa lagi dia?" Bisik salah seorang tetangga. Seorang wanita paruh baya berbadan tambun, kepada suaminya.
"Mungkin kehabisan voucher makan. Kapan hari, dia juga menangis saat tidak kebagian jatah makan siang gratis yang diadakan oleh Pak Walikota," celetuk sang suami acuh.
"Ooh," sahut wanita itu sembari menutup pintu, meninggalkan Rosmawati yang tengah menaiki tangga dengan lunglai.
Penuh perjuangan yang Rosmawati hadapi agar ia sampai di depan flatnya. Akan tetapi, setibanya di sana, Rosmawati tidak segera membuka pintu, melainkan kembali menangis tersedu, sambil menyandarkan punggung dan kepalanya di pintu.
Kiki, si manusia ajaib, tentu saja tak akan melewatkan kejadian bersejarah itu. Dia siap dengan kamera ponselnya, merekam Rosmawati yang makin merosot hingga akhirnya meringkuk.
"Ow ... kasihan, ternyata kenyataan tak seindah khayalan. Inilah contoh gadis muda yang terlalu banyak berhalusinasi ya, gaes!" Lagak Kiki bagaikan youtuber handal. Berkali-kali ia zoom wajahnya, sebelum merekam Rosmawati.
"Hai, para warga Kiki's World yang berbahagia. Lihatlah penampakan yang menyedihkan ini!" Kata-kata Kiki yang pedas, tiba-tiba memberikan ide pada Rosmawati.
Segera saja gadis antik itu berdiri dan merebut hp Kiki. Dia tepatkan wajahnya pada layar ponsel berlogo manggis berlubang itu.
"Memeet! Aku minta ma'af! I know I'm stupid! Aku selalu meremehkanmu dan tidak pernah menanggapi kebaikanmu. Aku terlalu sibuk mengejar sesuatu yang tak pasti dan terlihat indah. Padahal, padahal, yang indah itu belum tentu yang terbaik," Rosmawati menjeda kalimatnya karena sibuk mengelap ingus.
"Selama ini aku hanya mengejar harapan semu. Karena ternyata yang kucari sebenarnya sudah ada di depan mataku. But, I was too dumb to understand. And now, it's too late," lanjutnya pilu.
Rosmawati mengakhiri siarannya, lalu memberikan ponsel itu kembali pada Kiki. "Tolong sampaikan rekamanku pada Memet," pinta Rosmawati.
Kiki menerima ponselnya dengan terbengong-bengong. "Bagaimana caranya menyampaikan pesanmu pada Memet? Akun sosial media sosial dia saja aku tidak punya!" Gumam Kiki bingung.
Akan tetapi, Rosmawati sudah tidak mau mendengarnya. Dia sudah masuk ke dalam flat, meninggalkan Kiki yang kebingungan. "Kalau begitu, aku tag ke akunmu saja!" Gumam Kiki. "Gagal deh, pamer kawat gigi baru!" Gerutunya lagi.
Saat Kiki hendak berbalik ke flat miliknya, dia berpapasan dengan Maryam yang baru saja pulang entah dari mana. Berbeda jauh dengan kondisi Rosmawati, Maryam tampak begitu ceria dan bahagia.
Maryam terdengar bersiul-siul kecil. Sesekali, ia tertegun dan cengengesan sendiri. Sementara Kiki mendelik tajam ke arahnya.
"Hai, Medusa," Sapa Maryam seraya melambaikan tangannya kepada Kiki bak seorang kontestan Miss Universe. Ia tidak peduli dengan seringai menakutkan dari gadis Thailand itu. Maryam seakan sudah terbiasa melihat sikap aneh gadis itu.
Akan tetapi, pada akhirnya Maryam tertegun untuk sejenak dan menatap Kiki. Gadis itu masih menyeringai seraya menunjukan kawat giginya yang berwarna biru langit. Kiki mengira jika Maryam akan terkesan dengan seringai mautnya, tapi ia salah. Maryam membalas seringai maut Kiki dengan juluran lidah ajaib.
Kenapa disebut ajaib? Karena selain menjulurkan lidahnya, Maryam juga mengerak-gerakan lidahnya ke kiri dan ke kanan. Setelah itu, ia melipat lidahnya hingga melengkung sambil menjulingkan matanya. Maryam tahu jika Kiki tidak bisa melakukan hal seperti itu.
"Dasar! Gadis aneh!" Kiki meringis sambil bergidik ngeri. Ia pun segera masuk. Ia tidak berhasil membuat Maryam terkesan dan iri dengan kawat gigi yang baru ia pasang. Sementara Maryam hanya tertawa cekikikan. Ia lalu membuka pintu flatnya.
__ADS_1
Sesampainya di dalam, Maryam merasa heran karena suasana masih gelap. Tidak ada satupun lampu yang dinyalakan. Maryam pun melangkah dengan perlahan.
"Ijem ... aku pulang!" Seru Maryam. Ia berdiri sejenak dan melihat ke sekeliling meskipun suasana dalam keadaan temaram.
Sepi, tidak ada jawaban sama sekali. "Jem ... where are you? Yuhuuuu ...." sekali lagi Maryam berseru dengan nyaring. Akan tetapi masih belum ada jawaban dari sahabat kembar siamnya.
"Apa si Ijem belum pulang kali ya?" Gumam Maryam seraya meraih saklar dan menyalakan lampu. Akan tetapi, seketika gadis dengan rambut bergelombamg itu menjerit histeris. Ia begitu terkejut karena tiba-tiba Rosmawati sudah berada di hadapannya sambil berjongkok. Gadis itu menengadahkan wajahnya kepada Maryam dengan ekspresi yang sangat memelas. Rosmawati terlihat seperti seseorang yang belum makan selama satu tahun.
Seketika, Maryam terisak. Rasa haru mulai menyapa relung hatinya. Alasannya bukan karena ia merasa iba melihat Rosmawati yang tampak sangat kacau dengan rambutnya yang acak-acakan, tetapi karena ia ingat dengan teman lamanya sewaktu di kampung yaitu si Darto.
Darto, sering berjongkok dengan ekspresi seperti itu sambil menghadap pohon pisang di belakang rumahnya. Hal itu biasa ia lakukan, ketika ia sedang kebelet buang air besar atau bahkan kababayan alias dolcan (modol dina calana) alias kelepasan. Ia tidak akan bergerak hingga emaknya datang menjemputnya sambil membawa sapu lidi dan menyuruhnya untuk cebok. Barulah Darto akan beranjak dari pertapaannya sambil berjalan seperti seekor bebek.
(Oke, lupakan urusan Darto, karena sekarang Darto sudah dewasa dan tidak mungkin melakukan hal seperti itu lagi. Kita kembali ke lap ... top!)
"Kenapa lo, Jem?" Tanya Maryam dengan heran bercampur penasaran yang sangat besar.
"Gue sedih, Mun. Gue merana. Hati gue tercabik-cabik, Gue rasanya pengen ...."
"Tidak, Jem! Jangan bunuh diri dulu! Sayang serial Finding Nono tinggal dua episode lagi," ujar Maryam.
"Gue sedih, Mun. Kalo gue nonton serial itu, yang ada hati gue makin terombang-ambing tidak karuan. Inilah cinta ... deritanya tiada akhir. Ya Tuhan .... kapan hamba akan menemukan kebahagiaan yang hakiki? Kapan hamba akan bisa terlepas dari beban perasaan yang sangat membebani diri hamba? Kapan? Kapan, Tuhan?" Rosmawati berdiri sambil merentangkan tangannya ke atas seperti seseorang yang sedang membacakan puisi.
Melihat keanehan pada diri sahabat kembar siamnya, Maryam kemudian maju dan mendekatinya. "Rose? Elu ga dikasih obat perangsang kan sama mr. Blake?" Celetuk Maryam.
Mendengar nama itu, seketika hati Rosmawati kian menjadi terluka. "Jangan sebut namanya lagi di hadapanku, wahai gadis muda berambut panjang!" Rosmawati meluruskan telunjuknya kepada Maryam.
Maryam mengernyitkan keningnya. Ia merasa khawatir jika Rosmawati akan berakhir seperti Kiki. "Jem, sadar Jem! Nyebut!"
"Mun ... gue sedih ...." Rosmawati merangkul Maryam dan terisak di bahu sahabat kembar siamnya. "Gue makin sedih setelah gue inget elu belum bayar hutang lu tiga bulan yang lalu, padahal lu dah janji mau bayar awal bulan ini," isak Rosmawati lagi.
Maryam seketika tertegun. Ia baru ingat jika ia memang memiliki hutang kepada Rosmawati. "Waduh, mati gue!" Gumam Maryam di dalam hatinya.
Perlahan ia mengendorkan pelukannya. "Maaf, Jem. Gue kebelet nih, gue ke belakang dulu ya," ujar Maryam seraya buru-buru meninggalkan Rosmawati dan masuk ke dalam toilet.
"Kebiasaan lu, Mun! Tiap kali gue nagih hutang pasti lu pura-pura kebelet" Seru Rosmawati kesal.
Sambil duduk di atas closet, Maryam termenung. Gajinya bulan ini sudah berkurang. "Waduh, gue lupa punya hutang sama si Ijem. Padahal gajian bulan ini udah kepake buat beli skincare. Ya ampun ... pengen cakep mahal amat!" Ratap Maryam dengan pilu.
__ADS_1