
Jamie Scott berdiri di depan pintu bernomor 104. Dengan sabar, ia yang saat itu ditemani Maryam menunggu pintu dibuka oleh si penghuninya. Beberapa saat kemudian, pintu berwarna kuning gading itupun terbuka. Dari balik pintu tersebut, muncul seorang pria paruh baya dengan kulit gelap dan rambut ikal. Matanya belo, dengan bulu mata yang sangat lentik bagaikan bibir emak-emak yang sedang asyik mengghibahkan tetangganya. Begitu juga dengan janggutnya yang cukup tebal, yang membuatnya terlihat seperti seekor singa yang kehabisan pisau cukur.
"Good morning, Mr. Khan," sapa Jamie Scott ramah. Semenjak dekat dengan Maryam, pria yang tadinya tidak memiliki stock kebahagiaan dalam hidupnya itu, kini berubah drastis menjadi jauh lebih bersahabat.
"Good morning, Jamie. Ada apa? Tumben sekali pagi-pagi kau sudah bertamu. Memangnya kau tidak ke kantor?" balas pria yang disapa dengan sebutan Mr. Khan tersebut.
"Aku baru kembali dari Indonesia, Mr. Khan," jawab Jamie Scott. "Perkenalkan ini istriku, Mary. Dia gadis asli Indonesia, tapi sudah lama tinggal di London," Jamie Scott melirik Maryam yang langsung memamerkan senyum manisnya kepada Mr. Khan, pria keturunan India asli.
"Oh, Mary. Selamat atas pernikahan kalian," ucap Mr. Khan dengam senyum lebar. Setelah itu, ia mendekat kepada Jamie Scott dan berbisik, "Aku senang akhirnya kau menikah juga. Itu artinya perkiraan istriku tentangmu salah," ucapnya sambil sesekali menengok ke belakang. Sepertinya ia takut sang istri akan muncul dan memergokinya.
Mendengar hal itu, Jamie Scott mengernyitkan keningnya. "Maksud Anda, Mr. Khan?" tanya pria bermata abu-abu tersebut.
"Istriku merasa was-was saat anak kami berteman akrab denganmu. Ia pikir kalian ...."
"Honey! Kenapa hanya bicara di depan pintu? Kenapa kau tidak memersilakan tamu kita untuk masuk?" seru sang istri dengan kaca mata bulat dan kain sari berwarna merah yang ia kenakan saat itu.
Mr. Khan menoleh. "Iya, Sayang. Jamie yang datang. Bukannya kau yang berpesan agar jangan biarkan Jamie berteman dengan anak kita?" seru Mr. Khan yang sesaat kemudian segera menutup mulutnya karena melihat sang istri melotot tajam sambil mengacungkan alat pembersih debu yang sedang dipegangnya. Sementara Maryam dan Jamie Scott hanya saling pandang. Mereka sama-sama mengernyitkan keningnya.
"Maaf kalau begitu, Mr. Khan. Aku hanya ingin mengambil Orestes. Aku menitipkannya pada Rahul selama aku berada di Indonesia," ucap Jamie Scott.
Mr. Khan kembali menoleh kepada sang istri yang sedang bersih-bersih saat itu. Ia kembali berseru dengan tidak terlalu nyaring, "Sayang. Apakah Rahul sudah bangun? Jamie ingin menjemput Orestes katanya."
"Dia sedang mandi. Kau tahu sendiri bukan, Rahul akan menghabiskan setengah botol sabun untuk sekali mandi," sahut sang istri. "Anakku terobsesi untuk memiliki kulit putih seperti kau Jamie," ucapnya lagi.
Mendengar suara Mrs. Khan dengan logat India-nya yang sangat kental, Maryam begitu penasaran. Ia memaksakan diri untuk melongo dari balik pintu. "Morning, Mrs. Khan. Anda rajin sekali bersih-bersih terus," sapa Maryam sok akrab. Seketika, wanita dengan sari merah itu menoleh. Ia membetulkan letak kaca matanya dengan raut wajah penuh telisik. "Hey, siapa gadis manis itu?" tanyanya.
Tanpa dipersilakan, Maryam menerobos masuk. Ia rela menabrak tubuh tambun Mr. Khan demi menemui wanita di dalam ruangan tersebut, yang telah menyebutnya gadis manis. "Hai, Mrs. Khan. My name is Maryam alias Mamar alias Mumun, tapi Anda bisa memanggil saya Mary," ujar Maryam dengan gaya bicara dan bahasa tubuh yang telah menjadi ciri khasnya.
__ADS_1
Mrs. Khan mengernyitkan keningnya. "Kau seperti seorang buronan. Namamu banyak sekali," celetuknya.
"Mary is my wife, Mrs. Khan," sela Jamie Scott. Ia melongo dari balik pintu. Hal itu membuat wanita dengan sari merah tersebut tampak sangat bahagia.
"Congratulations. Aku senang akhirnya kau menikah juga Jamie. Sebentar, akan kupanggilkan Rahul agar ia mempercepat mandinya. Oh iya Mary, silakan duduk dan buat dirimu nyaman," Mrs. Khan kemudian berlalu ke ruangan lain. Ia bermaksud untuk memanggil putra semata wayangnya yang bernama Rahul. Sementara itu, Jamie Scott pun akhirnya diizinkan masuk oleh Mr. Khan. Ia menemani sepasang pengantin baru itu duduk di sofa.
"Jadi, kau dari Indonesia?" tanyanya kepada Maryam. Ia menggerakkan kepalanya setiap kali berbicara. Gerakan kepala itu begitu berirama, dan senada dengan gerakan tangannya.
"Iya, Mister," jawab Maryam dengan sikap ceriwisnya. "Anda pasti dari India, kan? Iya, kan?"
"Oh, jelas. Saya dan istri dari India. Kami sama-sama berasal dari New Delhi. Bertemu tanpa sengaja dan akhirnya jatuh cinta. Cinta itu memang misteri, ya?" decaknya sambil terus menggerakkan kepalanya.
"Iya, Mr. Khan Anda benar sekali. Aa Jamie juga dulu jijik banget sama saya, tapi sekarang dia bawaannya nempel terus, susah lepas kayak lem tikus," ujar Maryam. "Eh, kebetulan Mr. Khan, emak saya suka banget sama film Bollywood. Dia sampe hapal itu setiap dialog dari film kesayangan dia yang judulnya Kucek-Kucek Hoho dan He. Waktu saya masih SD, dia hampir tiap hari muter film itu, sampai-sampai abah saya protes," tutur Maryam.
"Protes kenapa?" tanya Jamie Scott dan Mr. Khan secara bersamaan.
"Orang tuamu pasti pasangan yang sangat romantis ya, Mary?" sela Mrs. Khan yang tiba-tiba datang dengan membawa minuman yang segera ia suguhkan di atas meja.
"Terima kasih, Mrs. Khan. Anda sangat baik. Anda mengingatkan saya sama Ijem yang selau baik. Dia selalu minjemin saya uang pas tanggal tua," ucap Maryam dengan wajah yang tiba-tiba sendu.
"Who is Ijem?" tanya Mrs. Khan seraya duduk di sebelah sang suami. Sofa kecil itu menjadi penuh sesak oleh tubuh tambun keduanya. Tampak Mr. Khan kesulitan untuk bergerak. Pria berjanggut tebal tersebut merekatkan ketiaknya dengan begitu lekat di badannya.
Belum sempat Maryam menjawab pertanyaan Mrs. Khan, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Mr. Khan segera berdiri meskipun dengan susah payah. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana berdiri seorang kurir dengan kotak berlapis kertas pembungkus. "Ada kiriman untuk Tuan Rahul Khan," ucapnya seraya menyodorkan kotak itu.
"Oh, iya anak saya," jawab Mr. Khan seraya menerima kotak itu.
"Baiklah. Boleh tahu dengan siapa?" kurir itu bermaksud untuk mencatat nama yang menerima kiriman tersebut.
__ADS_1
"My name is Sarjukh Khan," jawab pria berjanggut tebal tersebut.
"Hmm, namanya persis artis Bollywood. Ijem pasti suka, nih! Besok aku ajak main ke sini, ah," ujarnya dalam hati. Entah kenapa, tiba-tiba bayangan Rosmawati yang sedang menangis, berkelebat begitu saja di dalam kepalanya. Perasaan khawatir dan was-was langsung menyerbu Maryam.
Sambil meringis, dia memberi isyarat pada Jamie Scott agar segera berpamitan pulang. Akan tetapi, Jamie Scott salah menerjemahkan isyarat itu. "Kau penasaran pada Orestes, ya?" tanya Jamie Scott seraya mengangkat alisnya.
"Mrs. Khan, istri saya ingin melihat Orestes," ucap Jamie Scott seraya mengarahkan telunjuknya pada Maryam. Padahal Maryam sudah menggerakkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda bahwa dia menolak.
"Oh, baiklah. Segera saja ke kamarnya. Pasti kalian tidak sabar menunggu Rahul selesai mandi," Mrs. Khan berdiri dan mengantarkan pasangan suami istri itu menuju kamar Rahul sambil terus berceloteh tentang anaknya.
"Memang Rahul selalu berlama-lama mandi. Entah apa saja yang dia gosok," cerocosnya sampai tiba di depan pintu kamar yang tertutup. Tanpa permisi, Mrs. Khan langsung membuka pintu itu.
Tampaklah Rahul yang sedang mengelap bagian belakang tubuhnya. Pemuda itu kemudian refleks membalikkan badan, ketika mendengar pintu kamarnya terbuka.
Terbukalah penampakan horor yang membuat Mrs. Khan dan Maryam menjerit kencang. Sementara Jamie Scott hanya sanggup menepuk dahi. "A'aaa ----------??... katanya ngajak liat hamster. Malah yang keliatan ular Sanca," isaknya.
.
.
.
.
.
Kaget ga sih? Untuk mengobati kekagetan kalian, simak dan mampir yuk, di karya keren temen otor yang satu ini.
__ADS_1