
Jamie Scott menatap tajam ke arah Maryam, membuat gadis itu merasa aneh dengan sikap yang ditunjukannya. Sesaat kemudian, Jamie Scott lalu mengalihkan tatapannya kepada Charlie Manfred. Ia merasa pernah melihat pria itu sebelumnya.
"Rose, boleh numpang ke toilet?" Bisik Mehmet. Tanpa menunggu jawaban dari Rosmawati, Zayn Malik KW 1 itu segera menariknya untuk masuk.
"Eh ... Met! Apaan sih kamu? Aku mau lihat adegan seru, kamu malah ngajak aku masuk," protes Rosmawati seraya mengikuti Mehmet meniti satu persatu anak tangga menuju lantai dua.
"Jangan, Rose. Itu urusan pribadi mereka," ujar Mehmet dengan gaya bicaranya yang terdengar sangat bijaksana. Sesaat kemudian pria itu lalu tertegun. "Bagaimana jika kita ngintip saja dari jendela?" Cetus Mehmet dengan tiba-tiba. "Dengan begitu ... kita tidak akan ketahuan, Rose," lanjutnya.
"Ah ... good idea, Met!" Sahut Rosmawati seraya menepak lengan Mehmet dengan seenaknya. Akan tetapi, sebelum mereka masuk ke flat yang disewa Rosmawati, Kiki si Pertapa Abadi seperti biasa sudah bersiap di pintu masuk flatnya.
"Eh ... sejak kapan pria boleh masuk kemari?" Sergah Kiki dengan nada bicaranya yang judes bin ketus.
Seketika, Rosmawati yang tengah membuka kunci segera menoleh. Begitu pula dengan Mehmet.
Entah apa yang terjadi pada mata Kiki. Ia melihat Mehmet dengan penuh cahaya terang yang disertai burung merpati putih yang beterbangan di atasnya. Mehmet tampak seperti malaikat yang sangat tampan dengan senyumnya yang menawan, bahkan Kiki melihat Mehmet mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Kiki terperangah dengan mulut yang terbuka lebar. Sepasang matanya dipenuhi dengan binar-binar indah yang penuh bintang-bintang yang berkerlap-kerlip. Ia pun mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan sikap yang sangat sensual.
Rosmawati melirik Mehmet yang saat itu tengah menoleh kepadanya sambil mengernyitkan keningnya. Ia memberi isyarat kepada Rosmawati dan bertanya tentang Kiki. Rosmawati kemudian mengalihkan tatapannya kepada Kiki yang sudah melenggak-lenggok dan berdiri dengan sikap menantang di lawang pintu flatnya. Kiki merentangkan tangan kanannya ke atas, sementara tangan kiri ia letakan di pinggang. Sesekali Kiki menjulurkan lidahnya dan mendesis seperti ular.
"Kamu kenapa, Ki? Kerasukan siluman ular dari mana?" Tanya Rosmawati dengan heran. Ia menautkan kedua alisnya.
Kiki tidak menjawab. Ia masih saja bersikap seperti seekor ular yang tengah berganti kulit, menggeliat kesana kemari. Mehmet setengah bergidik ngeri melihatnya. "Apa tetanggamu baik-baik saja, Rose? Sepertinya dia sedang sakit," bisik Mehmet.
"It's okay, Met. Sudah biasa dia bersikap begitu. Mungkin dia tadi tidak sengaja menelan kadal saat memberi makan rakunnya," sahut Rosmawati dengan seenaknya. Ia melanjutkan acara buka kunci yang tadi sempat tertunda akibat 'tarian ular' Kiki.
Tepat pada saat pintu flat Rosmawati terbuka, Kiki menyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang sangat nyaring, sampai-sampai Mehmet harus meringis karena merasakan nyeri di telinganya.
Baby, you light up my world like nobody else
__ADS_1
(Sayang, tidak ada orang lain yang menerangi hidupku seperti kamu)
The way that you flip your hair gets me overwhelmed
(Caramu membalik rambut membuatku kewalahan)
But when you smile at the ground, it ain't hard to tell
(Namun ketika kau tersenyum seraya menunduk, tidak sulit untuk mengatakannya)
You don't know, oh-oh
(Kau tidak tahu)
You don't know you're beautiful
(Kau tidak tahu kalau kamu indah)
"Kasihan ya, tetanggamu. Padahal masih muda," ujar Mehmet seraya duduk di sofa sederhana di ruang tamu. Ia merasa iba melihat keadaan Kiki yang memurutnya sangat mengkhawatirkan.
"Loh, kok duduk? Katanya mau ke toilet?" Rosmawati memandang heran kepada Mehmet.
Mehmet malah tertawa pelan. Ia kemudian berdiri menghampiri Rosmawati. "Ma'af ya, Rose. Ini hanya alasanku saja supaya bisa masuk ke flatmu," Mehmet mengerling nakal pada Rosmawati, ia lalu melangkah menuju jendela yang terletak di dekat ruang dapur.
Mehmet membuka daun jendela dengan cara mendorongnya ke atas, lalu melongokkan kepalanya ke luar sambil merunduk melihat pemandangan di bawah flat. Baru kali ini, sejak Rosmawati mengenalnya, Mehmet bersikap seperti tadi.
"Rose, come here!" Mehmet mengayunkan tangannya ke arah Rosmawati, meminta gadis itu untuk mendekat kepadanya.
Rosmawati yang masih dalam mode auto pilot, hanya mengangguk dan berjalan ke arah Mehmet seperti robot.
__ADS_1
"Lihat itu!" Mehmet mengarahkan telunjuknya pada tiga sosok manusia yang sepertinya sedang bersitegang di bawah sana. "Mr. Eder sepertinya sedang cemburu," ucapnya.
"Oh, kamu tahu nama belakangnya, ya?" Rosmawati menoleh pada Mehmet dengan keheranan.
"Yeah, kami sempat mengobrol banyak waktu kita double date di pasar malam waktu itu," sahut Mehmet dengan senyumnya yang menawan. Sorot matanya lembut menatap Rosmawati. Kebetulan, gadis antik itu juga memandang ke arah Mehmet.
Tatapan mereka saling bertemu. Lagi-lagi Mehmet menyunggingkan senyumnya yang memesona yang dengan seketika membuat Rosmawati begitu terpana. Padahal pria itu hanya memakai T-shirt polos sederhana yang dipadu dengan celana jeans. Akan tetapi, auranya terasa begitu luar biasa.
Ribuan merpati dan cahaya terang seakan keluar dan memancar dari sosok Mehmet.
"Mungkin inilah yang dirasakan si Kiki tadi," batin Rosmawati. Ingin rasanya dia menari ular seperti yang dilakukan Kiki, tapi Rosmawati masih cukup waras untuk dapat mengendalikan dirinya. Jangan sampai Mehmet berpikir jika tempat itu lebih pantas disebut sebagai rumah sakit jiwa.
"Rose," Mehmet mendekatkan wajahnya pada Rosmawati. Gadis itu pun semakin jelas melihat bulu mata Mehmet yang lentik, alisnya yang hitam dan sedikit tebal, namun tetap terlihat rapi.
Sepasang bola mata Mehmet yang berwarna hazel, tampak begitu terang dan tajam menatap Rosmawati dalam-dalam, bagaikan kunang-kunang yang bersinar dalam gelapnya malam.
Mehmet semakin mendekatkan wajahnya, membuat aliran darah Rosmawati berdesir tak karuan. Berkali-kali ia menarik napas panjang sambil memejamkan mata, sekaligus melakukan persiapan. Siapa tahu dia akan melakukan hal yang sama seperti Maryam tadi, yaitu ciuman pertama.
"Aha! Aku tahu sekarang!" Seru Mehmet, membuat Rosmawati berjingkat. Dilihatnya Mehmet sedang antusias melihat ke arah bawah flat.
"Hah!" Dengus Rosmawati. Padahal dia sudah membayangkan adegan yang tidak-tidak bersama Mehmet. Kacaunya, jantungnya masih belum bisa berdetak secara normal. Sedangkan Mehmet malah asyik menonton drama antara Maryam dengan dua laki-laki di bawah sana.
"Mr. Eder ternyata mulai jatuh cinta dengan Mary!" Ucap Mehmet gembira. Wajahnya terlihat sangat antusias.
"Tahu begitu, harusnya kita beli popcorn dulu tadi," gerutu Rosmawati malas.
Sementara di bawah flat, suasana juga tak kalah tegangnya. Jamie Scott memandang ke arah Maryam dengan sinis. "Kamu sangat menikmati hari ini rupanya," sindirnya dengan gaya bicara khas dari seorang Jamie Scott yang selalu datar dan datar. Ia memang pria yang datar-datar saja.
"Iya, dong! Sangat-sangat menikmat sekali, A. Makan-makan enak dan gratis pula," sahut Maryam ceria. Ia benar-benar lugu dan tidak mengerti dengan bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Jamie Scott.
__ADS_1
"Dia gadis yang sangat lucu dan menyenangkan," timpal Charlie Manfred sembari merangkul bahu mungil Maryam dan menariknya sehingga menjadi lebih dekat kepadanya.
Maryam membelalakan matanya. Sementara Jamie Scott makin ngebul saja melihat adegan itu. Ingin rasanya ia mengeluarkan pistol dan berubah menjadi Lucky Luke dengan topi cowboynya.