
Mbak Madison
.
.
.
Maryam tersentak mendengar jawaban gadis cantik itu. Diamatinya gadis dengan senyuman indah tersebut, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Untuk sesaat, Maryam begitu terpana dengan tampilan fisik gadis itu.
Madison Blaire. Ia adalah super model yang tentu saja berwajah cantik dengan bentuk tubuh aduhai. Rambutnya panjang berwarna pirang dengan pinggang ramping dan sepasang kaki yang jenjang. Madison saat itu memakai pakaian yang sangat minim. Ujung rok yang dikenakannya mungkin hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari pusat tata surya, sesuatu yang membuat Maryam berdecak tidak percaya.
Seketika, Maryam menutupi mata Orestes yang sedang berada di telapak tangannya. "Jangan lihat itu, Orestes. Dosa!" ucap Maryam pelan tapi masih dapat terdengar oleh Jamie Scott. Entah mengapa, Jamie Scott merasa jika kata-kata itu Maryam tujukan untuk dirinya. Dengan segera, pria tampan berambut coklat tembaga itu merengkuh pundak Maryam. Hal tersebut membuat Madison mengernyitkan keningnya.
"Who is she, Scotty?" tanya Madison dengan sikapnya yang agak mencibir kepada Maryam.
"She's my wife," jawab Jamie Scott dengan bangga. Sementara Maryam sesekali melirik sang suami dan mantan tunangan suaminya secara bergantian. Ia masih bingung harus berkata apa.
Madison terkejut setengah mati. Rautnya terlihat tidak percaya. Seorang Jamie Scott yang kaku dan dingin, serta anti wanita, tiba-tiba menikah? Gadis cantik jelita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Your wife?" ulang Madison. "It's impossible!"
"Hey, Madi! Mau apa lagi kau datang kemari? Kau sudah cukup membuat putraku menderita!" ujar Mrs. Harlekin. Ia menunjukan sikap tidak sukanya terhadap Madison. Jika saja tidak dicegah oleh Jamie Scott, mungkin cangkir berisi teh hitam itu sudah melayang ke arah Madison. "Jangan halangi aku, Jamie!" protes Mrs. Harlekin.
Sementara Jamie Scott masih terus menghalangi agar sang ibu tidak bertindak konyol. Sedangkan, Maryam malah menyemangati Mrs. Harlekin. "Ayo, Mommy! Fokus! Lempar pas ke mukanya!" serunya penuh semangat.
"Honey!" protes Jamie Scott. "Jangan begitu. That's not nice," hardiknya.
__ADS_1
"Ih, kok Aa malah belain dia?" protes Maryam seraya menghentakkan kaki. Emosinya sudah di ubun-ubun. Daripada dia melampiaskannya dengan mencekik Orestes, mending Maryam meletakkan Orestes di kandangnya, lalu bergegas pergi dari toko mertuanya itu.
"Hey, Mary! Mau kemana? Jangan lupakan suamimu!" teriak Mrs. Harlekin was-was.
"Honey!" Jamie Scott yang merasa bersalah, segera mengejar istrinya yang sudah berlarian di trotoar, seperti adegan di film India.
"Scotty! Wait for me!" Madison pun ikut-ikutan keluar dari toko kue dan mengikuti Jamie Scott.
Merasa rumah tangga anaknya mungkin saja berada dalam bahaya, Mrs. Harlekin tak tinggal diam. Diangkatnya rok span yang ia pakai hingga ke atas lutut, lalu berlari secepat kilat menyusul Madison.
Setelah Madison berhasil dijangkau olehnya, Mrs. Harlekin segera menarik lengan gadis itu dan menjambak rambutnya. "Gara-gara kamu ya, Madison! Jamie sempat tidak menyapaku berbulan-bulan. Gara-gara kamu juga, hubunganku dengan anak kesayanganku jadi renggang! Sekarang Jamie sudah bahagia dengan istrinya! Jangan ganggu anakku lagi!" omel wanita paruh baya itu dengan nyaring.
Madison yang sebagian rambutnya berada di dalam genggaman tangan Mrs. Harlekin, langsung berteriak kesakitan. "Sakit! Aw, stop! Saya baru saja selesai creambath, Mommy! Let go of your hand!" gadis itu panik. Dicubitnya punggung tangan Mrs. Harlekin berkali-kali, namun wanita itu masih tetap menjambak rambutnya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan "Mommy", karena aku bukan calon mertuamu lagi!" Mrs. Harlekin terus menarik rambut Madison dengan tanpa ampun, sehingga membuat super model itu menjerit kesakitan. Mrs. Harlekin tak peduli meskipun saat itu ia menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu-lalang di depan tokonya.
"Telepon saja kalau berani!" balas Mrs. Harlekin tanpa rasa gentar.
"Aku telepon, ya!" Madison bergaya hendak memencet nomor di layar telepon, tapi tidak segera ia lakukan. Gadis itu masih mengamati reaksi mantan calon mertuanya. Telunjuknya ia gerakkan pelan-pelan menuju layar ponsel.
"Go on! Telepon saja kalau berani!" Mrs. Harlekin malah mendorong tangan Madison sehingga, tanpa sengaja ia memencet layanan darurat.
"Oh, no!" Madison panik. Awalnya dia hanya sekedar menakut-nakuti Mrs. Harlekin. Kenyataanya malah, ia benar-benar tersambung dengan layanan darurat.
"Anda telah menelepon layanan darurat. Apakah keadaan darurat Anda?" tanya operator dari seberang sana.
"Ah, itu ... aku ...." Madison tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Mrs. Harlekin kembali menjambak rambutnya dengan keras. "Mommy! Anda mungkin lupa mematikan kompor!" seru Madison dengan panik. Sementara itu, ia masih berada dalam panggilan yang terhubung dengan layanan darurat. Gadis itu kembali memekik kesakitan, tetapi Mrs. Harlekin tak melepaskannya sama sekali. Ia ingin menuntaskan dendamnya terhadap gadis yang telah membuat hidup Jamie Scott jadi menderita.
__ADS_1
Mrs. Harlekin baru berhenti menyerang Madison ketika ia mendengar suara sirine mulai mendekat. Kedua wanita itu tertegun, saat sebuah mobil pemadam kebakaran berhenti di depan mereka. "Di mana kebakarannya? Kami sudah datang dan siap membantu!" ujar salah seorang petugas yang baru turun dari mobil berwarna merah tersebut. Sementara Madison dan Mrs. Harlekin hanya saling pandang.
................
Sementara itu, nun jauh di sana Maryam tampak putus asa. Dia seperti anak-anak abege alay yang patah hati. Hampir saja Maryam melompati pagar sungai Thames, jika Jamie Scott tidak menghalanginya.
"Baby, tolonglah jangan seperti ini! Aku tidak ada maksud membela wanita itu," bujuk Jamie Scott lembut. Akan tetapi, Maryam yang terlanjur panas hatinya, malah menutup telinga. Dia bernyanyi-nyanyi tak jelas agar tidak bisa mendengarkan suara suaminya.
"Apuse kokondao ...." serunya sembari memejamkan mata.
"Honey, please!" mohon Jamie Scott. Direngkuhnya bahu Maryam, tapi gadis itu menolak. Dia bergerak menjauh dari pria rupawan yang keblinger itu, karena menikahi makhluk oleng seperti Maryam.
"Aa kalau mau nostalgia, nostalgia aja sana! Jangan pedulikan Neng!" rajuk Maryam. Sementara kedua tangannya masih tetap menutupi telinga.
"Aku tidak ingin nostalgia dengannya, Honey! Aku sama sekali tidak menyukainya! Aku membenci gadis itu!" sanggah Jamie Scott. Ia terus mencoba meyakinkan Maryam.
Maryam langsung menoleh dan melotot pada suaminya. "Ish, ish, ish," dia menggerak-gerakkan telunjuknya di depan muka. "Benci kau bilang? Asal kau tahu, ya! Benci adalah awal dari cinta," ucapnya dengan nada seperti membaca puisi. Maryam juga mendongakkan kepala sembari membelalakkan mata, persis seperti gerakan ahli hipnotis yang pernah tersohor di negara asalnya.
"Apa maksudmu, Honey?" Jamie Scott meraih tangan sang istri dan memaksanya untuk diam. "Jangan lakukan apapun dan dengarkan aku!" titahnya. "Jika kau membantah, maka aku akan ... aku akan ...." Jamie Scott bingung untuk melanjutkan kata-katanya.
"Akan apa?" tantang Maryam dengan tegas.
Jamie Scott terdiam sejenak. Ia menatap lekat sang istri. Mata abu-abunya tampak sendu saat itu. "Dengarkan aku, Honey! Kau mungkin tidak secantik dan seseksi Madison, tapi bagiku kau jauh segalanya jika dibandingkan dengan gadis itu. Kau adalah lebah kecilku yang lucu. Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi Orestes, bahkan lebih. Karena aku lebih suka menciummu daripada mencium Orestes," tutur Jamie Scott dengan sungguh-sungguh.
Melelehlah hati Maryam.
Se meleleh kalian yang bersedia membaca karya keren yang satu ini.
__ADS_1