
"Duduklah, Rose!" Ucapan Mehmet masih terdengar lembut, namun tidak ada lagi kehangatan di dalamnya. Mehmet kini, berubah menjadi ... dingin.
"Oh ... no!" Teriak Rosmawati dalam hati. "Apakah dia kini adalah seorang CEO yang dingin dan kejam?" Batinnya lagi.
"M-makasih, Met," sahut Rosmawati gugup. Sebelum menuju kursi, dia sempatkan untuk memakai high heels merah menyalanya. Setelah dirasa sepatu itu terpasang sempurna, dia berjalan dengan gaya yang dibuat anggun. Namun sayang, kakinya keseleo ketika tangannya sudah berhasil menyentuh sandaran kursi.
Hampir saja dia terjatuh, tapi Rosmawati cekatan berpegangan pada tepian kursi. Dia lalu meringis pada Mehmet sambil berkata, "Sori, Met! Gak biasa pake sepatu tangga."
"Aku harap kita bisa profesional, Rose! Mulai detik ini, panggil aku Mr. Hayder. Aku yang akan mewawancaraimu dan memutuskan apakah kamu layak bergabung di perusahaanku atau tidak," ujar Mehmet. Nada bicaranya datar, lebih datar dari jalan tol yang kadangkala masih sedikit bergelombang.
"Ba-baiklah, Me ... maksudku, Mr. Hayder," jawab Rosmawati seraya menyeka keringat yang kembali muncul di dahinya.
"Panas sekali, ya? AC nya mati ya, Met? Eh ... Mr. Hayder?" Rosmawati mulai grogi. Dia mengibas-ngibaskan tangannya dengan cepat di depan dada.
"Mungkin sebaiknya kau lepas scraf-mu. Mataku agak sakit melihatnya. Terlalu mencolok," ledek Mehmet sambil menahan tawa.
"Oh, iya ya," Rosmawati langsung menuruti saran Mehmet dengan melepas scarf hijau lumut bermotif polkadotnya. Tak lupa, ia berusaha kembali merapikan rambutnya. Susah payah ia menarik rambutnya yang tegak menantang langit agar tidak kaku dan bisa dikendalikan.
"Aduh ... Mr. Hayder! Tunggu sebentar, ya! Saya mulai merasa tidak nyaman dengan rambut saya," Rosmawati meringis sambil mencari cara untuk menggaruk kulit kepalanya.
Tak kehilangan akal, Rosmawati menyapu pandangan ke sekeliling ruangan lalu mendapati vas bunga yang terletak di meja sofa di belakang tubuhnya. Gadis antik itu segera berdiri dan mengangkat bunga dari dalam vas lalu meletakkannya begitu saja di atas meja.
Setelah itu, ia menuangkan air di dalam vas ke rambutnya. "Haduh ... lega ...." ucapnya seraya memijit-mijit kulit kepala.
Rambutnya kini agak melunak dan mau ditata, tak lagi berdiri tegak seperti menara. Rosmawati lalu kembali ke kursinya dan tersenyum manis pada Mehmet. "Mari kita lanjutkan, Mr. Hayder!" Ujarnya dengan wajah tanpa dosa.
Mehmet hanya bisa melongo melihat tingkah Rosmawati. Hanya dia satu-satunya gadis yang sama sekali tidak pernah jaga image di hadapannya.
"Jadi, Mr. Hayder. Sebelum Anda bertanya, izinkan saya bertanya lebih dulu ... karena saya penasaran. Kalau penasaran, saya nanti tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Ya kan, ya kan, ya kan?" Rosmawati menaikturunkan alisnya dan menyeringai ke arah Mehmet.
Hal itu membuat Mehmet menundukkan kepala dan memijat pelipisnya. Sebenarnya, Mehmet berpose seperti itu hanya untuk menyembunyikan tawa.
Beberapa detik kemudian, Mehmet mengangkat wajahnya kembali dan bertanya pada Rose dengan wajah datar, "Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"
__ADS_1
"Jadi begini," Rosmawati memajukan badannya dan menatap lekat wajah Mehmet. Seketika perhatiannya teralihkan pada bulu mata lentik, bola mata hazel, alis yang tegas dan rapi. Lalu, tak lupa, bibir tipis kemerahan yang sudah pernah menyentuh bibirnya itu.
Rosmawati mendadak hilang ingatan. Pikirannya kembali kosong. Hampir saja dia meneteskan air liurnya dengan posisi mulut terbuka saat Mehmet memanggil namanya. "Rose, tolonglah! Jangan buang waktuku! Aku sangat sibuk!" Hardiknya.
"Ma'afkan saya. Eh ... saya mau nanya apa tadi ya?" Rosmawati tampak berpikir keras.
"Oh ... iya!" Rosmawati menjentikkan jarinya. "Sebenarnya kamu siapa, sih? Memet atau Mr. Hayder? Terus kamu itu penjual hotdog atau bukan? Kok waktu aku nyamperin gerobagmu, ada bapak-bapak yang bilang kalau gerobag hotdog itu punya dia dan kamu cuma menyewa? Aku bingung, Met! Eh, salah lagi. Mr. Hayder! I'm so confused!" Cecarnya.
Mehmet sedikit tertegun mendengar pertanyaan Rosmawati. Namun, ia merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menjelaskan dirinya pada gadis yang sempat membuatnya tergila-gila itu.
"Namaku, Hayder Ali Yasser. Mehmet Abdullah adalah nama ayahku. Saat berusia lima bulan, aku ditinggalkan di depan pintu panti asuhan. Aku ditaruh di dalam kotak kardus beserta catatan kecil yang bertuliskan: ini adalah putraku. Aku menitipkannya pada kalian."
"Di bawah catatan kecil itu, terdapat nama terang dan tanda tangan ayahku, Mehmet Abdullah", terang Mehmet.
"Oh ...." sorot mata Rosmawati pilu menatap Mehmet. Gaya berapi-apinya menguap, berganti menjadi gaya lemah lembut dan malu-malu. Malu-maluin maksudnya.
"Jadi, Met! Uhm ... Mr. Hayder! Kamu itu penjual hotdog atau ...."
"Aku pemilik perusahaan ini. East Arab Company," Potong Mehmet.
"Karena saat itu aku sedang bodoh dan tergila-gila pada seorang gadis yang sama sekali tidak menyadari kehadiranku. Akan tetapi, sekarang aku sudah sadar. Waktuku terbuang percuma untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Jadi, aku memutuskan untuk berhenti dan mulai move on," tutur Mehmet, masih dengan nadanya yang datar.
Mata Rosmawati mulai berkaca-kaca mendengar penjelasan Zayn Malik kw 1 itu. Sudah jelas, gadis yang dimaksud Mehmet itu adalah dia.
Entah kenapa, perasaan Rosmawati seperti teriris-iris. Sedih dan patah hati dalam waktu yang bersamaan. Bahkan jauh lebih sedih dibandingkan saat Justin Blake ketahuan telah mempermainkan dirinya.
Apakah ini artinya dia jatuh cinta pada Mehmet? Mata Rosmawati berpendar, kemudian meredup. Seandainya jatuh cinta pun percuma. Semua sudah terlambat, karena Mehmet sudah menutup pintu hatinya untuk Rosmawati.
Maka, dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh lagi. Sambil menggaruk kepalanya, Rosmawati tersenyum pada Mehmet, "Okay, Mr. Hayder. Saya siap diwawancara."
"Okay, first of all. Tell me about you."
(Pertama-tama, ceritakan tentang dirimu)
__ADS_1
"Terlalu banyak cerita dalam hidup saya, Sir. Anda mau cerita yang happy, sedih, atau di tengah-tengah?" Rosmawati balik bertanya.
"Bisa ceritakan dengan lebih spesifik?" Mehmet sedikit memiringkan kepala, sambil menyandarkan dagu pada tangan kanannya.
"Lah, anda nanya juga tidak spesifik," gerutu Rosmawati, namun dengan bibir yang tersungging, alias meringis.
"Latar belakang pendidikan?" Mehmet mencondongkan badannya ke depan, meraih bolpoin mahal yang tersedia di atas meja kerja. Dia juga meraih kertas kosong yang tertumpuk rapi di sebelah layar monitor komputer berlogo manggis berlubang.
"Saya sarjana S1 lulusan Fakultas Sains Jurusan Ilmu Fisika London University. Saya bisa kuliah jauh dari negara saya dengan bantuan beasiswa," tutur Rosmawati.
"I know," sahut Mehmet.
"Saya lulus dengan IPK memuaskan," lanjut Rosmawati. Dia kemudian mengeluarkan sebuah map dari dalam ransel yang sempat tidak terdeteksi akibat hebohnya penampilan menara tumpeng beserta roti Mo. Map yang berisi lampiran fotokopi ijazah dan berbagai macam sertifikat itu kemudian ia serahkan pada Mehmet.
"I know," ujar Mehmet lagi seraya menerima map kuning terang, lalu membuka lembar demi lembar file sambil tersenyum. Ada foto Rosmawati di sana. Gadis yang terlihat sederhana dengan senyum sederhana, namun ternyata memiliki keolengan tiada tara.
"Saya juga pernah memiliki pengalaman bekerja di sebuah laboratorium fisika milik dosen saya. Akan tetapi, saya dipecat karena sebuah kesalahan yang dilimpahkan pada saya. Padahal, sebenarnya saya tidak bersalah," papar Rosmawati.
"I know," begitu tanggapan Mehmet.
"Memet, ih! I know I know terus dari tadi. Kalau udah know semua, ngapain nanya?" Sungutnya. Rosmawati lalu terbelalak. Dia menutup mulutnya saat menyadari sesuatu. "I'm sorry, Sir. Saya tidak sopan. Lupa kalau anda bukan lagi Mehmet yang saya kenal," gumamnya pelan dengan nada sendu.
Sejenak, Mehmet terpaku sebelum akhirnya melemparkan senyuman sinis untuk menanggapi celotehan Rosmawati. "Kau tahu ini perusahaan apa?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Of course! Saya sempat mencari di mbah Gumel tentang East Arab Company. Sebuah perusahaan otomotif yang memproduksi mobil mewah paling prestisius, LambeyJono. bahkan hingga spare part terkecil dari LambeyJono hanya diproduksi tunggal oleh East Arab," jelas Rosmawati secara mendetail.
Tersirat raut bangga dari wajah Mehmet sebelum mengajukan pertanyaan lain. "Apakah kau tahu akan ditempatkan di mana?"
"Di mana saja boleh, Sir. Asal jangan di emperan toko. Nanti dikira saya gelandangan," timpal Rosmawati cepat.
"Aku akan menempatkanmu di divisi produksi. Kamu yang bertanggung jawab mengecek dan menguji kualitas bahan yang diproduksi sesuai standar yang ditetapkan oleh perusahaan. Aku memberimu waktu tiga bulan untuk magang. Jika performamu bagus, kau akan kuangkat sebagai pegawai tetap dengan gaji memuaskan tentunya. Jika tidak ... maka aku terpaksa akan memberhentikanmu," ujar Mehmet. "Apakah dimengerti, Rose?"
"Yes, Sir!" Rosmawati mengangguk cepat.
__ADS_1
"Good," ucap Mehmet singkat. Dia kemudian bangkit dari duduknya sambil membawa map Rosmawati, lalu berlalu meninggalkan gadis itu sendirian di ruang Golden.
Sementara Rosmawati hanya diam mengamati punggung tegap itu berjalan menjauh hingga menghilang dari padangannya.