
Setelah drama melelahkan, Mehmet akhirnya berbaik hati memberikan kunci flat pada Rosmawati. Setelah satu jam lamanya menunggu, Ahmad datang dengan tergesa-gesa dan menyerahkan barang pusaka itu pada Rosmawati.
Yang paling merana di sini adalah Jamie. Susah payah dia menyetir jauh-jauh dari London, dia pun masih harus menunggu di depan trotoar.
"Ma'af ya, A'," sesal Maryam. "Padahal si Memet ngambeknya sama Maryam, tapi yang kena kita semua," Maryam mendengus kesal.
Mendengar kalimat Maryam, kesedihan Rosmawati makin memuncak. Kini dia mengerti rasanya dipermainkan, rasanya menunggu berjam-jam menunggu seseorang yang benar-benar dia harapkan, rasanya dihempaskan di saat angannya melambung tinggi. Parahnya, orang-orang di sekitarnya juga turut terkena imbasnya.
"Aa' nginep di sini aja, ya, please," bujuk Maryam. Dia tak tega melihat kekasihnya yang kelelahan karena telah membantu Rosmawati secara maksimal.
Bahkan mereka bertiga sudah bisa bersantai di sofa ruang tamu sekarang.
Jamie Scott yang memang sudah terlalu lelah, tanpa sadar ketiduran di atas sofa panjang berwarna putih yang super empuk. Berbeda dengan sofa di flat mereka yang lama, yang pir nya sudah mencuat di sana-sini, membentuk sebuah jebakan agar mereka senantiasa berhati-hati jika akan duduk, atau pan*tat bahenol mereka akan tertusuk.
Di flat baru ini, semua perabot dan furnitur sudah lengkap. Bahkan tersedia microwave dan kulkas yang baunya masih baru. Meskipun, sewa flat dibebankan pada Rosmawati, namun gadis itu cukup bersyukur.
"Hooaahhm," Rosmawati menguap lebar. "Gue tidur dulu ya, Mun! Besok harus berangkat pagi-pagi. Nggak boleh telat," pamitnya.
"Ya udah, deh, Jem. Duluan aja. Gue mau nungguin Aa' Jamie sampai bangun," ucapnya. Cukup mengharukan, karena selama ini Maryam adalah gadis yang cuek, tidak terlalu peduli pada lingkungan serta kurang perhatian. Namun tampaknya, semua sifat buruk itu mulai berubah sejak dia dekat dengan Jamie Scott.
Dengan sabar, Maryam duduk terkantuk-kantuk di sebelah sofa panjang, tempat Jamie Scott berbaring. Dia berharap laki-laki itu akan tertidur sampai pagi, jadi dia tidak perlu susah payah kembali ke London malam ini juga.
Sempat terlelap sekejap, Maryam terbangun saat Rosmawati berjalan menuju dapur, membuka pintu kulkas, kemudian menutupnya lagi. "Ngelindur ya, Jem?" tanya Maryam curiga.
"Nyari makanan. Taunya isi kulkasnya cuman air mineral botolan," keluh Rosmawati yang akhirnya memilih tidur kembali.
Setelah melihat Rosmawati rebah di ranjangnya, perhatian Maryam kembali pada Jamie Scott yang nyenyak tertidur. Dipandanginya raut yang damai dan mempesona itu lekat-lekat. Tiba-tiba sebuah pikiran nakal melintas di otak ajaibnya. Diam-diam, dalam senyap, Maryam bergerak mendekatkan wajahnya pada wajah Jamie Scott, langsung mengecup kening pria tampan itu.
__ADS_1
Cup!
Kecupan singkat namun sanggup membakar kalorinya. Tubuh Maryam seketika terasa panas, sehingga ia memutuskan mengambil air minum di dispenser yang lagi-lagi sudah siap sedia di samping kulkas.
Maryam pun meneguk air dengan penuh semangat. Bunyi air yang masuk ke dalam tenggorokan, nyaring terdengar, membuat Jamie Scott terbangun. "Astaga, sudah jam berapa ini?" tanyanya cemas sembari melirik jam tangan.
Maryam yang tengah asyik menghabiskan hampir separuh galon air, terkejut dengan suara Jamie Scott. "Kok udah bangun aja sih, A'?" resahnya. Dia sungguh tak ingin Jamie Scott pulang malam ini.
"I'm sorry, Mary. But, I have to go home. Besok aku harus bekerja," ujar Jamie Scott.
"Ya, udah deh, A'. Neng anterin turun," berbekal beberapa botol air mineral, Maryam menemani Jamie Scott kembali ke mobilnya.
Jamie Scott hendak membuka pintu mobil, kemudian ia urungkan. Dia lebih memilih duduk terlebih dahulu di tepian trotoar, berniat ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama Maryam, yang untuk beberapa waktu ke depan akan jarang ia temui.
Melihat hal itu, Maryam ikut duduk di samping Jamie Scott, menyerahkan sebotol air mineral sebagai teman perjalanannya nanti. Akan tetapi, Jamie Scott malah membukanya dan menghabiskan separuh isinya.
"Laper ya, A'? Neng pengen traktir, tapi dompet Neng meronta-ronta nggak ada isinya," dalih Maryam.
"Ya, udah. Neng temenin," timpal Maryam malu-malu. "Mau ngobrolin apa nih kita? Cuaca? Harga minyak goreng yang naik? Atau ..."
Celotehan Maryam harus terhenti ketika Jamie Scott membungkamnya dengan sebuah ciuman hangat di tengah malam.
Dari jendela lantai sebelas, Rosmawati mengamati pasangan yang dimabuk asmara itu dengan sorot pilu. "Memet. Aku kangen Memet yang dulu," gumamnya lirih, kemudian bangkit dan beranjak menuju ranjang. Sebelum tidur, Rosmawati berdo'a semoga sikap Mehmet akan berubah menjadi sebaik dulu.
Berkali-kali membolak-balikkan badan penuh kegelisahan, Rosmawati pun tertidur nyenyak. Saking nyenyaknya, hampir saja ia terlambat bangun pagi. Setelah membangunkan Maryam, entah untuk apa, Rosmawati buru-buru mencuci muka dan berganti pakaian. Kali ini tanpa make up dan bulu mata anti kepalsuan, Rosmawati bergegas berangkat menuju tempat kerjanya.
Sempat tersesat memasuki halaman rumah orang, akhirnya Rosmawati sampai dengan selamat dan tepat waktu, tiba di depan pabrik milik Zayn Malik KW 1 itu.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak Satpam," sapanya sok akrab pada seorang petugas keamanan pabrik yang sigap membukakan gerbang.
Dari kejauhan, seorang pria paruh baya yang ia kenal sebagai kepala divisinya, melambaikan tangan ke arahnya. "Selamat pagi, Nona Rosmawati," sapa pria itu.
"Selamat pagi, Pak Ferguson," balas Rosmawati penuh semangat.
"Hari ini kita akan melakukan uji coba prototip mobil tipe terbaru. Mari ikut saya ke gedung F," ajak pria itu.
Sebagai pegawai baru, Rosmawati menurut dan mengikuti langkah pria bertumbuh tambun itu.
Sesampainya di gedung yang dimaksud, dada Rosmawati berdebar kencang melihat Mehmet berdiri di sana, memakai jas lab warna putih dan menenteng ipad. "Mr. Hayder juga ada di sini?" bisiknya pada Mr. Ferguson.
"Iya, dia yang memimpin uji coba hari ini," jawab Mr. Ferguson sambil berbisik pula.
Ragu-ragu, Rosmawati menghampiri Mehmet dan menyapanya. "Good morning, Sir. Saya tidak terlambat masuk kerja, kan?" sapanya, mencoba untuk akrab.
"Selamat pagi, Rose," balas Mehmet ramah. "Menurut waktuku, sebenarnya kamu terlambat dua menit. Biasanya ada hukuman khusus untuk pegawai yang terlambat," Mehmet menyeringai, membuat perasaan Rosmawati menjadi tidak enak. Rasa-rasanya, ada sesuatu yang licik yang telah Mehmet rencanakan.
"A-apa hukumannya, Sir?" Rosmawati tampak kesulitan menelan ludah.
"Mentraktir makan siang untuk teman-teman satu divisi," jawab Mehmet tegas. Terlihat senyuman puas tersungging dari bibirnya.
Rosmawati menepuk jidatnya kencang. "Gimana saya mau nraktir, Mr. Hayder. Gajian saja belum," sanggahnya.
"Kalau begitu, ada hukuman lain yang bisa kamu lakukan," Mehmet nyengir kuda.
"Apa itu?" muka Rosmawati memelas.
__ADS_1
"Menjadi pelayan untuk setiap orang yang ada di sini selama satu hari kerja!" tegas Mehmet.
Tubuh Rosmawati lemas seketika.