
Pagi itu, Rosmawati baru saja bangun dari tidurnya. Rambutnya masih berantakan bak singa, sementara sudut bibirnya membentuk garis putih seperti taring. "Pandaa!" serunya seraya mengucek-ucek mata dan menggaruk rambut. "Panda! Where are you?" serunya lagi,
Tiba-tiba sekelebat bayangan Halimah muncul di kepalanya. "Aduh, jangan-jangan Panda diem-diem ketemuan sama dia," Rosmawati mulai resah. Dia berjalan mondar-mandir keliling ruangan. "Gue susul aja lah," putusnya seraya berkaca di cermin besar di ruang tamu. Rosmawati tertegun sejenak menatap pantulan dirinya, kemudian dengan segera ia mengurungkan niat.
Rosmawati menilai penampilannya saat itu mirip gondoruwo, sehingga dia lebih memilih untuk membersihkan diri dulu di kamar mandi. Setelah rapi dan berganti pakaian, segera ia meraih ransel dan sepatu ketsnya, bersiap untuk segera keluar. Akan tetapi, saat ia hendak membuka pintu, pintu itu lebih dulu terbuka.
Mehmet masuk dengan tubuh penuh keringat dan kaus spandex hitam ketat, menempel sempurna di tubuh atletisnya, membuat Rosmawati ngiler lagi. "Panda dari mana?" tanyanya dengan suara bergetar, seperti string gitar bang haji.
"Dari jogging, My Love. Aku tadi berencana mengajakmu, tapi kau tidur terlalu pulas. Aku jadi tidak tega membangunkan," jawab Mehmet. "Kamu sendiri sudah rapi dan cantik, memangnya mau ke mana?"
"Mau nyusulin kamu. Kirain kamu keluar jemput Halimah," sahut Rosmawati sambil cemberut.
"Astaghfirullaah! Dilarang berburuk sangka, Rose. Untuk apa aku menjemputnya?" sanggah Mehmet.
"Yaa, siapa tahu! Kamu tiba-tiba tergoda sama wajah cantiknya," sungut Rosmawati.
"Kalau tergoda, seharusnya dari dulu, Rose. Apalagi waktu di Dubai, kami sering bertemu. Tapi nyatanya tidak, kan? Aku malah lebih tergoda sama kamu," rayu Mehmet sambil mengerling nakal.
"Iya, ya. Ya, ampuun. Aku juga sudah lama sadar kalau aku ini mempesona," puji Rosmawati pada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian, ia memeluk tubuh Mehmet erat. "Jadi, apa rencana kita hari ini? Bikin anak lagi, yuk! Kayak tadi malam," pintanya tanpa malu.
"Aku harus kembali bekerja, My Love. Masa liburanku sudah habis. Belum lagi kita akan mempersiapkan acara resepsi," tutur Mehmet yang spontan membuat Rosmawati terbelalak.
"Kamu masih kerja? Kerja apa? Aku ikut, ya?" cecarnya.
"Boleh, tunggu, ya! Aku mandi dulu," Mehmet tersenyum manis seraya mengecup bibir Rosmawati.
"Aduuh, yaa Habibii," Rosmawati meleyot sejadi-jadinya di lantai ruang tamu dan tetap di situ sampai Mehmet selesai bersiap-siap. Gadis oleng itu meleyot sekali lagi ketika melihat Mehmet memakai kemeja biru langit sedikit ketat dipadu dengan celana bahan berwarna hitam. Setelah memelototi Mehmet, dia memelototi pakaiannya sendiri, lalu bergegas masuk kembali ke kamar.
"What are you doing, Rose?" Mehmet tampak keheranan.
"Ganti baju!" serunya. Rosmawati panik membuka lemari. Baju-bajunya jaman dulu ternyata sangat tidak sesuai dengan gaya busana Mehmet. Dia hampir menangis dan putus asa saat tidak menemukan baju yang cocok.
"Rose, jangan membuka lemari pakaian yang itu," Mehmet yang curiga, melongok ke dalam. "Harusnya kau membuka walk in closet. Ada banyak baju yang sudah kusiapkan untukmu," tuturnya.
"Yah, kok baru ngomong sekarang sih, panda?' gerutu Rosmawati.
"Ma'af, My Love. Aku lupa. Kemarin-kemarin kan kita terlalu sibuk ..." Mehmet menggigit bibir sambil mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Ih, kenapa?" Rosmawati merengut. "Pilihin baju dong, Panda," pintanya manja.
"Kau ingin maju model apa?' tawar Mehmet.
"Apa aja yang penting serasi," Rosmawati mulai bertingkah manja. Dia menggelayut di lengan Mehmet seperti kucing, sambil sesekali mencium ketek Mehmet. "Hmm, wangii.." pujinya. Diciuminya lagi ketek itu, sementara Mehmet sibuk memilihkan baju untuk istrinya.
"Hmm ..." seketika Rosmawati berhenti. "Kok sekarang bau keteknya beda sih, Panda?" Rosmawati yang penasaran, mengangkat lengan Mehmet setinggi-tingginya, lalu mulai mengendus lipatan ketiak suaminya itu.
"Ehhmm, baunya bukan berasal dari situ, My Love," Mehmet nyengir kuda, seperti sedang menahan sesuatu.
"Dari mana, dong?" tanya Rosmawati keheranan.
"Dari belakang. Sebentar ya, aku setor dulu," Mehmet yang telah selesai memilihkan baju, segera menyodorkannya pada Rosmawati yang masih terbengong-bengong. Zayn Malik kw 1 itu setengah berlari menuju kamar mandi dan membanting pintunya.
"Ooh, kebelet ya, sayangku?" seru Rosmawati tanpa dosa. Dia kemudian melepas pakaiannya dan mengenakan dress biru bermotif bunga, pilihan Mehmet.
Sembari menunggu Mehmet membuang barang tidak berharganya, Rosmawati mencoba bereksperimen dengan satu set peralatan make up yang baru saja dibeli oleh Mehmet. Dia mencoba menggerai rambutnya dan memakai lipstik berwarna merah marun. Tak lupa, ia juga membubuhkan blush on berwarna merah muda di pipinya. Rasa panas dalam hatinya saat melihat kecantikan Halimah, membuat Rosmawati seharian menonton video tutorial memakai make up di utub.
Rosmawati selesai berdandan bersamaan dengan Mehmet yang selesai bersemedi, membuang aroma negatif. Mehmet yang saat itu menatap wajah istrinya, terkejut setengah mati. "Astaga, Rose? Apa yang kau lakukan?"
"Tapi wajahmu jadi kelihatan seperti habis dipukuli, My Love," ucap Mehmet, terdengar begitu polos dan jujur.
Rosmawati yang awalnya ceria dan percaya diri, langsung lemas tak bertenaga. "Kok gitu sih, Panda?" gerutunya dengan mata berkaca-kaca.
"Ow, I'm sorry, My Love. Maafkan aku yang terlalu jujur. Tapi itu semua demi kebaikanmu," Mehmet berusaha menenangkan istrinya. Akan tetapi, Rosmawati sudah terlanjur galau dan sedih, membuat Mehmet merasa bersalah.
"Bagaimana kalau aku mengajakmu ke salon? Di sana kita akan memperbaiki riasanmu," tawar Mehmet.
Rosmawati tampak berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk dagunya. "Ehm, ada camilan nggak di sana?" tanyanya kemudian.
"Astaghfirullah, itu salon, Rose. Bukan mini market," sahut Mehmet kesal.
"Ya udah, deh. Demi Panda, aku mau!" serunya penuh semangat.
Akhirnya, rencana awal yang mau berangkat bekerja, menjadi berbelok ke salon. Mehmet terlihat begitu sabar menunggui istrinya selesai dipermak. Jadwal yang seharusnya jam delapan harus sudah tiba di tempat kerja, kini terpaksa molor satu jam lebih lambat. "Tidak apa-apa, demi Rose. Asalkan dia bahagia," hiburnya pada diri sendiri.
Beberapa saat kemudian, Rosmawati yang telah dipermak, memamerkan wajah barunya pada Mehmet. "Kalau begini, gimana Panda?" tanyanya sambil mengedip-ngedipkan mata. Kali ini bulu mata palsunya tidak copot, melekat sempurna di kelopaknya. Berkali-kali Rosmawati mencoba meringis, melotot, memicingkan mata, namun bulu mata palsu anti kepedihan itu tetap tegak di tempatnya.
__ADS_1
Tak disangka, Mehmet begitu terpana melihat wajah Rosmawati, sampai-sampai ia tak sadar jika pipinya memerah dan mulutnya menganga. Saking terpesonanya, Mehmet sampai tak bisa berkata-kata.
"Aku cantik nggak, Panda?" Rosmawati was-was menunggu jawaban suaminya.
"You are so beautiful, My Love, seperti bidadari. Istriku paling cantik," puji Mehmet.
"Ah, sayangku," Rosmawati tersipu malu sambil melingkarkan tangannya di lengan Mehmet. "Sudah, yuk. Kita ngantor. Jangan kelamaan di sini, nanti bisa-bisa aku tambah cantik," ujarnya penuh percaya diri.
Pengantin baru itu kemudian berjalan menyusuri trotoar di area Covent Garden, hingga langkah mereka berhenti di depan sebuah cafe. Rosmawati ingat, cafe itu adalah tempat pertama kali ia dan Maryam bertemu dengan aktor idola mereka yaitu Charlie Manfred dan mengajak aktor tampan itu ngopi-ngopi di sana.
Rosmawati masih terkenang pada saat itu, ketika ia dan Maryam mengamen dan mencari uang tambahan. Tiba-tiba semua kenangan masa lalunya dengan sahabat kembar siamnya hadir begitu saja. Betapa itu merupakan sebuah ikatan persahabatan yang sangat indah. Waktu yang panjang dan kebersamaan yang intens telah ia lewati bersama Maryam. Namun, kini telah banyak hal yang berubah.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan begitu cepat. Siapa sangka jika mereka berdua kini telah sama-sama menemukan cinta. Akan tetapi, meskipun ada banyak hal yang telah berubah, namun persahabatannya dan Maryam tidak akan pernah berubah. Sampai kapan pun ikatan itu akan selalu terjalin meski mereka kini tidak tinggal dalam satu flat lagi.
"My Love, kok bengong? Ayo, masuk," ajak Mehmet, membuyarkan lamunan Rosmawati.
"Panda tau aja, kalau istrinya lapar," lagi-lagi Rosmawati terharu akan sikap Mehmet.
"Eh, bukan. Ini tempat kerjaku, Rose," sanggah Mehmet.
"Yang bener, Panda? Kamu kerja apa di sini? Jadi pelayan? Aduh, kasihan sekali suamiku. Demi diriku, engkau ..."
"Bukan, Rose!" potong Mehmet. "Cafe ini milikku!" tegasnya.
Rosmawati kembali terperanjat. Untung saja bulu matanya kali ini bukan bulu mata kaleng-kaleng.
.
.
.
Ayok, lemesin yookk.. Mampir dulu di karya keren milik temen otor yang satu ini:
__ADS_1