Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
All About Memet


__ADS_3

Mehmet berlalu meninggalkan gadis itu sendirian di ruang wawancara. Meskipun tak memandangnya, Mehmet bisa merasakan sorot mata Rosmawati terpatri pada dirinya.


Mehmet perlahan mengelus dada, menetralkan perasaan yang mulai bergejolak. "I'm sorry, Rose. This is for the best," gumamnya lirih. Tentu saja Rosmawati tak akan bisa mendengarnya.


Kadang kala Mehmet merasa heran kepada dirinya sendiri. Apa alasan sebenarnya, yang telah membuat dirinya jatuh cinta begitu dalam kepada sosok Rosmawati. Apakah karena pertemuan pertama dengan gadis itu yang meninggalkan kesan tersendiri padanya?


Mehmet teringat pada beberapa tahun lalu, ketika ....


"Sheikh?" Panggilan seseorang membuyarkan lamunannya tentang masa lalu.


"Hey, Ahmad!" Sapa Mehmet sambil tersenyum.


"Bukankah itu gadis aneh yang sempat saya temui di gedung Justin Blake? Si cleaning servis yang sempat mengancam saya pakai tongkat pel," bisik pria bernama Ahmad itu dengan sedikit ngeri.


"Kenapa dia mengancammu?" Tanya Mehmet penasaran.


"Dia mengira saya sebagai temannya. Padahal bukan," jawab Ahmad dengan muka memucat.


Mehmet terkekeh, lalu menepuk pundak Ahmad pelan. "Dia memang unik," ujarnya.


"Unik? Lebih tepatnya, crazy," gumam Ahmad dalam hati, sembari memutar jari telunjuknya di pelipis.


"Dia cerdas, Ahmad. Smart and beautiful," ujar Mehmet sambil berjalan memasuki lift VVIP.


Sementara Ahmad yang mengikuti di sampingnya, hampir saja tersedak ludahnya sendiri. "Cantik darimana, Sheikh? Astaga ... cinta memang buta, tapi tidak sebuta itu juga," gerutunya pelan.


"Ahmad. Bolehkah aku minta tolong?" Pinta Mehmet.


"Tentu saja, Sheikh. Apa itu?" Sambut Ahmad.

__ADS_1


"Please, don't call me Sheikh! I'm not Sheikh. Hanya karena banyak uang, tidak serta merta orang mendapatkan julukan itu," tegur Mehmet.


"Akan tetapi Anda memang putra dari Sheikh," protes Ahmad sambil menautkan alis.


"Hanya putra adopsi. Kau ingat, kan? Dulu kan kita selalu bersama semenjak bayi," ucap Mehmet bersamaan pintu terbuka di lantai dasar menuju basement.


Mehmet masih ingat cerita dari ibu panti asuhan bahwa dia dan Ahmad dibesarkan bersama-sama. Bahkan saat ditemukan di depan pintu panti pun juga bersamaan. Bedanya Mehmet ditaruh di dalam kotak kardus, sedangkan Ahmad ditaruh di dalam kantung plastik. Mungkin orang tua kandung Ahmad mengira kalau bayi itu adalah semacam es teh atau gorengan.


"Sama saja, Sheikh. Secara hukum, Anda sah dan diakui sebagai anak dari Sheikh Hamzah," balas Ahmad seraya membuka pintu mobil Rolls Royce Phantom, mobil mewah kesayangan Mehmet. Pria tampan dan menawan itu lebih nyaman mengendarai mobil elegan ini daripada mobil sport buatannya sendiri, LambeyJoni.


"Terserah kau sajalah, Mad," gumam Mehmet malas. Ia lalu duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Ahmad, teman sekaligus sekretaris pribadinya ini selalu pandai berdebat. Ahmad pintar berkata-kata, apalagi kata-kata indah dan puitis. Kepandaian Ahmad dalam hal berbicara juga berhasil menarik perhatian lawan jenis dan kolega-kolega bisnisnya. Mungkin karena itu, ia memiliki wanita lain selain istrinya.


"Kemana kita, Sheikh?" Ahmad mengarahkan matanya ke spion tengah, menatap Mehmet lewat pantulannya.


"Pulang ke Birmingham," jawab Mehmet singkat.


Masa lalunya cukup pilu. Terlahir tanpa tahu siapa orang tua kandungnya, hanya ditinggali catatan kecil bertuliskan nama sang ayah. Iya kalau itu memang tulisan asli dari ayah kandungnya. Kalau palsu? Atau ada orang yang iseng memberi catatan nama, bisa juga, kan?


Intinya, saat Mehmet kecil, dia selalu mempertanyakan nama yang tertera di catatan kecil yang ditinggalkan di kardus itu, yang menempel jadi satu dengan dirinya.


Ketika Mehmet berusia sepuluh tahun, dia nekad mencari ayah kandungnya dengan mengajak Ahmad ikut serta melarikan diri dari panti asuhan dan pergi ke Abu Dhabi. Ahmad menurut saja, karena sejak kecil dia dianugerahi jiwa yang labil, gampang terombang-ambing dan terbujuk oleh rayuan. Akan tetapi, setelah Ahmad dewasa, malah dia yang berbalik mengombang-ambingkan perasaan orang lain, terutama para wanita.


Kembali pada Mehmet. Tanpa uang sepeser pun, dia merantau ke Abu Dhabi bersama Ahmad. Demi sesuap nasi, dia rela mengemis dan berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Hingga pada suatu hari, Mehmet bertemu dengan salah seorang bangsawan pemilik tanah di salah satu distrik di Abu Dhabi, yang biasa dipanggil dengan nama Sheikh Hamzah, saat dia berakting sendu sambil meminta-minta.


Sang bangsawan yang tertarik dengan wajah tampan nan rupawan Zayn malik kw 1 itu akhirnya mengadopsinya. Dia diadopsi secara resmi dan sah serta memiliki kekuatan hukum. Sayangnya, Sheikh Hamzah hanya mengadopsi Mehmet. Entah apa yang ada di benak miliarder yang kekayaannya tak habis sekian turunan itu.


Mungkin menurutnya, tampang Ahmad kurang menjual. Akan tetapi, Mehmet tetap mengajak sahabat sejak bayinya itu turut serta. Untungnya sang Sheikh menyetujuinya. Siapa tahu tenaganya bisa dimanfaatkan untuk satu dan lain hal, pikir pria itu.

__ADS_1


Mehmet pun akhirnya dibawa ke istana sang Sheikh. Ia pun hidup berbahagia. Ternyata, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Sang Sheikh meninggal dunia. Dia tidak punya sanak saudara, kerabat atau bahkan istri. Bisa dipastikan, Sheikh Hamzah adalah seorang sugar daddy, meskipun tidak hot, karena cuaca di sekitar Abu Dhabi sudah cukup hot. Untunglah Mehmet tidak mengikuti jejaknya. Justru Ahmad lah yang tidak dianggap oleh Sheikh, yang mewarisi aura ala James Bond-nya.


Mehmet kembali hidup sebatang kara. Bedanya, dia menjadi kaya raya dan lebih tepat diberi nama sebagai anak sultan, karena seluruh kekayaan sang Sheikh diwariskan kepadanya. Dengan kekayaan sebanyak itu, Mehmet bertekad mencari keberadaan ayah kandungnya.


Setelah bertahun-tahun mencari, dia mendapatkan informasi terpercaya bahwa ayah kandungnya berada di Inggris.


Tanpa berpikir panjang, Mehmet pun menyiapkan kepindahannya ke Inggris dalam jangka waktu lama. Mehmet pindah ke Inggris saat ia berusia 17 tahun. Di sana, dia tak pernah lelah mencari keberadaan sang ayah, namun lagi-lagi gagal.


Dalam keputusasaan, Mehmet memutuskan untuk berhenti mencari., meskipun hidupnya saat itu terasa kosong.


Dalam kekosongan hidup dan hatinya itu lah, Mehmet memilih untuk mendermakan sebagian kekayaannya untuk orang-orang tak mampu. Dia juga mendirikan bantuan bagi siswa-siswi yang kurang beruntung untuk dapat mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi.


Mehmet mendirikan banyak lembaga amal dan yayasan kemanusiaan. Dia juga sering berkeliling dari kampus ke kampus untuk menjadi pembicara dan menyumbangkan uangnya ke berbagai fasilitas pendidikan.


Uang yang disumbangkan, ternyata tak membuat kekayaannya berkurang, malah semakin bertambah. Mehmet akhirnya, merambah dunia usaha, mendirikan perusahaan sekaligus menjadi investor bagi perusahaan lain. Salah satunya adalah perusahaan milik Justin Blake.


Lalu, bagaimana awal pertemuannya dengan Rosmawati? Jadi begini kisahnya ....


Suatu ketika, Mehmet diundang menjadi pembicara di sebuah kuliah umum di Universitas London. Kuliah umum itu bertemakan, Cara Sukses di Dunia Kerja dan Dunia Usaha Untuk Mahasiswa.


Rosmawati tentu saja sangat tertarik dengan temanya. Saat itu dia berambisi untuk sukses dan kaya tanpa ngepet. Dia pun mengikuti kuliah umum itu dengan penuh semangat. Dia bahkan mengajukan pertanyaan berkali-kali, sampai-sampai moderator bosan dan pura-pura tidak melihat saat dia mengacungkan jarinya lagi dan lagi.


Lain halnya dengan Mehmet. Dia begitu tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Rosmawati, walaupun kadang pertanyaan itu terdengar aneh, seperti apakah berdiri di tengah jalan bisa membuat rejeki seret?


Mehmet begitu kagum, sehingga dia memutuskan menyelidiki segala sesuatu tentang Rosmawati. Perasaan kagum itu lambat laun tumbuh menjadi cinta.


Mehmet rela mengikuti gadis itu dan menyamar menjadi siapa saja, agar dapat mengenal lebih dekat dengannya. Penjual hotdog, pelayan cafe dan pegawai event organizer sudah dilakoninya. Semua demi Rosmawati.


Akan tetapi, sepertinya usaha Mehmet kembali gagal. Dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Uhh, sad boy ... hiks ....

__ADS_1


Namun, Mehmet adalah pekerja keras, pejuang sejati dan tangguh seperti Marcopollo. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Dalam hidupnya hanya ada satu motto yang selalu ia pegang, yaitu Yang Penting Yakin!


__ADS_2