Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Make Over Day


__ADS_3

Maryam duduk termangu di dekat jendela. Ia memerhatikan orang yang lalu lalang di bawah, di depan bangunan flat-nya. Saat itu, Maryam tengah merenung dan mencari sinyal yang kuat agar otaknya tidak terlalu lemot.


Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibir merah mudanya. Saat itu, ia melihat seorang wanita tua yang berjalan sambil menuntun seekor anjing pudel kecil yang lucu dengan pakaiannya yang sangat cantik. Tiba-tiba, setitik cahaya terang masuk ke dalam kepala Maryam yang 90% hanya berisi keolengan tiada tara. Seketika kedua bola mata gadia itu berbinar indah.


"Ya ... aku tahu!" Serunya sambil mengangkat kepalanya. Ia tidak sadar jika saat itu ia tengah berada di antara jendela yang terbuka. Sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi kepadanya? Ya, tentu saja sebuah benturan keras. Semoga saja, semua wangsit yang sudah masuk ke dalam otaknya, tidak ambyar lagi karena benturan keras tadi.


Maryam meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit. Rasanya ternyata jauh lebih sakit jika dibandingkan dengan saat ia diputuskan oleh Charlie Manfred.


"Dasar, jendela ngga ada akhlak! Ngga tau sopan santun! Sudah tau ada kepala orang, masih saja ...." Maryam terdiam sambil terus mengusap-usap kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Tidak ada gunanya mengeluh. lagi pula, saat itu ia sudah menemukan sebuah ide yang jauh lebih cemerlang dari merk sabun cuci.


Maryam segera masuk ke kamar Rosmawati. Sebelum masuk, ia mengetuk pintu terlebih dahulu. "Assalamualaikum, Jem! Numpang masuk ya!" Ucap Maryam sambil mengendap-endap masuk ke kamar Rosmawati. Pandangan gadis itu langsung tertuju pada lemari pakaian milik sahabat kembar siamnya. Maryam kemudian menghampiri lemari itu dan mengetuknya tiga kali.


"Permisi, Jem! Gue numpang ngobrak-ngabrik lemari lu, ya ...." ucap gadis itu lagi sambil mengeluarkan semua pakaian Rosmawati satu persatu. Entah apa yang tengah Maryam cari saat itu.


Beberapa saat kemudian, gadis antik dan langka itu tersenyum sumringah saat ia menemukan baju lama Rosmawati yang ... tidak ada kata-kata yang bisa digunakan untuk menjabarkan baju itu. Maklum, itu adalah baju yang konon katanya peninggalan dari zaman leluhur Rosmawati.


Maryam segera mengambil baju itu. Pertanyaannya, kenapa ia justru mengobrak-abrik lemari milik Rosmawati, bukan lemarinya? Jawabannya tiada lain dan tiada bukan ialah ... karena jika ia mengobrak-abrik lemarinya sendiri, maka ia harus bekerja keras untuk membereskannya lagi. Sedangkan, jika ia mengobrak-abrik lemari Rosmawati ... maka biar yang punya lemari yang membereskannya, pikiran jenius Maryam mulai bekerja.


Sejenak ia tertegun melihat kamar Rosmawati yang berantakan. Ada setitik rasa bersalah dalam hatinya, tapi sesaat kemudian ia berlalu begitu saja  dari dalam kamar itu.


"Ah ... si Ijem kan udah biasa beres-beres," gumam Maryam. Seketika rasa bersalah yang hanya setitik itu, kini sirna sudah dari dalam pikirannya.


Maryam kemudian mengumpulkan peralatan kerja sederhananya yang sudah sangat lama tersimpan di dalam lemarinya. Gunting, benang, jarum dan juga peralatan jahit lainnya. Setelah itu, dengan konsentrasi tinggi, Maryam mulai menggunting beberapa bagian baju itu yang ia anggap perlu untuk dipermak. Selama seharian, ia mengerjakan hal itu. Ia sampai lupa makan dan lupa tidak ke kamar mandi. Bukan untuk mandi tentunya, karena hari ini kebetulan bukan jadwalnya.


Hingga menjelang petang ketika Rosmawati pulang, maka bersamaan dengan itu pekerjaan Maryam pun selesai. Baju gamis panjang yang sudah terlihat sangat kuno dan ngga banget itu, akhirmya kini berubah menjadi baju yang terlihat jauh lebih kekinian. Gamis panjang itu, telah berubah menjadi sebuah sheath dress cantik lengan pendek, dengan aksen ruflle di bagian bawahnya. Sekarang baju itu bahkan dapat dipakai Rosmawati untuk pergi bekerja dan mungkin akan dapat membuat Mehmet terpesona karenanya.


"Yuhuu, Mumuun! Ijem pulaang!" Terdengar teriakan nyaring dari arah pintu.


"Jeem! Sini masuk! Gue punya surprise nih buat lu!" Sahut Maryam dari arah ruang tamu merangkap ruang televisi itu.

__ADS_1


Rosmawati yang penasaran segera menghampiri Maryam yang sedang asyik melakukan sesuatu. "Apa'an tuh, Mun?" Tanyanya.


"Tadaa!" Maryam menunjukkan baju lama Rosmawati yang berhasil ia permak menjadi baju formal yang cantik.


"Ih, nggak banget, Mun! Nanti yang ada gue malah nggak bisa jalan," tolaknya.


"Yee! Nurut dikit kenapa sih, Jem?" Tegur Maryam. "Dibikin cantik kok nggak mau. Bayangin ntar kalau pas ketemu Memet lagi, dia pasti seneng liat elu berubah modis kayak gini," celotehnya.


Seketika Rosmawati terbelalak. Dia hampir lupa kalau dia hendak menceritakan kejadian heboh saat wawancara tadi pagi. "Astaga, lu ngomongin Memet, gue jadi inget, Mun!" Rosmawati mencengkeram lengan Maryam erat-erat.


"Iya, iya. Cerita aja, Jem! Tapi nggak sambil nyakitin lengan gue juga kali," Maryam meringis kesakitan.


"Oh, iyaa! Sori! Gue mau cerita! Ternyata yang wawancarain gue tadi si Memet! Kaget kan, lu!" Tutur Rosmawati penuh semangat.


"Emang dia nggak jualan?" Tanya Maryam polos, sambil memiringkan kepalanya.


"Nah, itu yang masih yang jadi misteri. Tadi dia ngakunya yang punya perusahaan itu, Mun. Jualan hotdog itu gara-gara dulu tergila-gila sama gue, tapi sekarang udah nggak lagi. Gimana tuh, Mun? Gue bingung," ujar Rosmawati sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Oke," Rosmawati menurut dan hendak memasuki kamarnya.


Secepat kilat Maryam mencegahnya, "Eit! Jangan ganti baju di situ!"


"Kenapa emang?" Tanya Rosmawati curiga.


"Nggak apa-apa. Di kamar mandi aja dulu! Buruan! Abis ini gue fotoin lu, trus fotonya ntar gue kirim ke Memet," desak Maryam penuh paksaan.


Demi mendengar bahwa Maryam akan memotretnya dan mengirimkan fotonya untuk Mehmet, dengan segera Rosmawati menuruti perintah sahabatnya itu. "Ntar dandanin muka gue sekalian, ya!" pintanya.


"Beres!" Sahut Maryam sambil mengamati sahabat kembar siamnya itu menghilang di balik pintu kamar mandi,

__ADS_1


Setelahnya, Maryam buru-buru berlari ke kamar Rosmawati dan memasukkan baju-baju sahabatnya yang berserakan ke dalam lemari.


Susah payah Maryam menutup pintunya, karena dia menumpuk baju-baju itu dengan asal.


"Mun? Udah!"


Panggilan Rosmawati bagaikan alarm untuk Maryam. Segera ia menutup pintu kamar itu dengan keras lalu bergegas mendatangi Rosmawati.


Maryam pun memoles wajah Rosmawati dengan make up sederhana, lalu menggerai rambut panjang lurusnya, kemudian menyisirinya menggunakan tangan.


"Dah, siap! Sekarang senyum yang cantik!" Aba-aba Maryam, yang disambut dengan gaya centil Rosmawati.


Beberapa potret Rosmawati berhasil diambil oleh Maryam Dia tampak begitu bangga dengan hasil karyanya.


"Yakin ngga lu kalo hasilnya bagus?" Tanya Rosmawati dengan ragu.


Seketika Maryam mendelik. Harga dirinya sebagai ratu selfie sewaktu ABG seketika terusik. "Eh ... Jem! Gue tuh profesional. Foto selfie aja gue pasti hasilnya bagus, apa lagi fotoin orang. Sudah-sudah! Coba sekarang pasang muka seksi kaya Gigi Hadid, yang waktu iklan lipstick itu!" Perintah Maryam.


"Yang kaya gimana, Mun?" Tanya Rosmawati kurang paham.


"Lah ... elu mah ngga gaul. Ini nih, yang kaya gini ...." Maryam kemudian melakukan gaya cicak nemplok di dinding, dengan wajah menghadap ke samping. Setelah itu, ia memundukan kepalanya dan sedikit mendongak. Maryam juga mengangkat dagunya sedikit dan merekahkan bibirnya hingga sedikit terbuka. Tidak lupa, ia mengangkat kaki kaki kanannya ke belakang.


Rosmawati tertegun melihat gaya itu. "Haruskah Mun gue bergaya kaya gitu?" Tanyanya ragu.


"Eh ... banyak protes lu sama fotographer, ga bakalan dibayar lu kalo jadi model," ucap Maryam meyakinkan sahabatnya.


Pada akhirnya, Rosmawati pun menurut. Namun, ya namanya juga Rosmawati. Ia melakukan gaya tersebut dengan penuh perhitungan. Ia begitu kaku bagaikan rambut yang ketumpahan putih telur.


"Yaelah, Jem! Elu emang bakatnya ngitung rumus aja! Ngga ada bagus-bagusnya lu jadi model. Coba nih liat hasilnya. Lu kaya tertekan dan penuh dengan beban bathin," celoteh Maryam dengan seenaknya. "Eh ... tapi ngga apa-apa! Kalo lu pasang wajah memelas, siapa tau si Memet bakal terenyuh hatinya dan ngasih lu gaji gede! Dengan begitu gue bisa ...."

__ADS_1


"Kagak! Lunasi dulu hutang lu yang dulu!" Sergah Rosmawati dengan jengkel.


__ADS_2