
Rosmawati berangkat ke kantor dengan penuh percaya diri. Berbalut seath dress berwarna hitam lengan pendek dengan aksen ruffle di bagian bawahnya yang merupakan hasil permakan Maryam. Dengan make up sedikit tebal di bulu mata, Rosmawati berjalan melenggak-lenggok di tepi jalan. Ia kemudian memberhentikan taksi. Ya, dia belajar dari pengalaman hari kemarin. Jalan kaki membuat make up-nya luntur dan rambut berantakan.
Dengan anggun, dia membuka pintu taksi dan hendak duduk di kursi penumpang. Sayang, kepalanya tersangkut atap mobil sehingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras. Rosmawati mengaduh nyaring sambil mengusap-usap kepalanya.
"Are you okay, Miss?" Tanya si sopir taksi.
"Yes. I'm fine," jawab Rosmawati sambil meringis. "Tidak apa-apa! Tidak apa-apa! Harus tetap tenang! Demi Memet ... harus keliatan cantik dan anggun!" Rapalnya dalam hati. "Ke Kingstreet Building ya, Sir! Saya jadi pegawai sungguhan sekarang. Nih, liat baju saya. Keren, kan?" Celoteh Rosmawati.
Sang sopir hanya melirik dari kaca spion tengah dengan sorot terheran-heran. "Itu apa yang ada di kelopak mata anda, Miss? Seperti mau lepas?" Tanya pria berkumis tebal itu penasaran. Pria itu mengingatkan Rosmawati pada penyanyi dangdut kebanggaan nusantara, Cici Hindiki.
"Kata sahabat kembar siam saya, memang begini modelnya. Bulu mata anti kepalsuan versi terbaru," jelas Rosmawati bangga.
Pria berkumis itu hanya mengangguk-angguk saja. "Oh," katanya singkat.
Rosmawati pun tersenyum bangga. Dirinya merasa cantik dan beda dari biasanya, meskipun rasa tidak nyaman mulai menyerang kelopak matanya.
"Sudah sampai, Miss," ucap sopir taksi itu,
"Oke, terima kasih," setelah memberi ongkos, Rosmawati bergegas turun dari taksi. Dia tidak lagi memakai high heels, melainkan flat shoes yang ia beli dari uang pesangon.
Rosmawati sudah bertekad untuk merebut perhatian Mehmet kembali. Dia ingin mengembalikan Mehmet seperti pribadi Mehmet yang dulu. "Selamat pagi," sapa Rosmawati ramah pada resepsionis yang menyambutnya di meja informasi di lobi.
"Good morning," balas resepsionis cantik itu tak kalah ramah.
"Saya kemarin diterima kerja di sini. Mr. Hayder sendiri yang mewawancarai saya. Katanya, saya bisa bekerja mulai hari ini," terang Rosmawati.
"Anda Nona Rosmawati Rozi?" Resepsionis itu balik bertanya.
__ADS_1
Rosmawati mengangguk cepat hingga bulu matanya hampir melorot, segera ia memasangkannya kembali. Karena tak kunjung menempel, ia membasahi bulu mata itu dengan ludahnya, kemudian menekan-nekannya ke kelopak mata hingga melekat sempurna.
"Tuan Hayder Ali sudah berpesan pada kami, jika Anda datang," sahut resepsionis itu dengan terbengong-bengong.
"Iya, kenapa? Apa pesannya?" Rosmawati bergaya keren. Satu tangannya ia tumpukan pada tepian meja informasi yang terbuat dari keramik mewah, sementara tangan lainnya berkacak pinggang.
"Anda diminta langsung menuju lokasi pabrik tempat produksi kami," jawab sang resepsionis sambil menahan tawa, melihat bulu mata palsu itu hampir terlepas lagi.
"Dimana lokasi pabriknya?" Tanya Rosmawati lagi.
"Di Birmingham, Nona."
"What?" Rosmawati terbelalak, kali ini bulu matanya jatuh tepat di atas tangan resepsionis cantik itu. Spontan wanita itu menjerit, mengingat ludah Rosmawati sudah sampai di sana.
"Duh ... Memet gimana sih? Kok kemarin sore waktu chat nggak bilang kalau pabriknya ada di Birmingham? Dia sengaja ngerjain gue nih kayaknya," gerutu Rosmawati pelan.
"Ya, sudah kalau begitu. Saya akan segera meluncur ke Birmingham," ucap Rosmawati lagi dengan lemas.
Lagi-lagi, wanita di depan Rosmawati itu kembali dibuat terkejut oleh tingkahnya. "Li-lima poundsterling?" Ulangnya gugup.
"Iya, bulan depan aku bayar. Kalau sudah gajian," bujuk Rosmawati sambil menaikturunkan alisnya.
Setengah ketakutan, resepsionis itu merogoh sesuatu di saku blazernya, lalu menyerahkan sebuah dompet koin berwarna hitam pada Rosmawati. "I-ini.. Pergunakan dengan bijak, ya!" Pesan wanita itu sembari meringis.
Rosmawati membuka dompet dan menghitung uang yang kebanyakan receh itu. "Wah ... ada sepuluh poundsterling!" Serunya tertahan.
"Iya, Nona. Pakai saja dulu," resepsionis cantik itu mengangkat kedua tangannya seakan sedang dirampok.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih, ya. Aku terharu ... hiks ... kamu baik sekali, ya," Rosmawati merengkuh wanita di depannya tiu dan memeluknya hangat, seperti teman yang sudah ia kenal berpuluh tahun lamanya.
Wanita itu mengela napas panjang. Sebenarnya dia tidak berniat meminjamkan uang pada rosmawati, tapi karena melihat tampang galak dan mirip centeng itu, si wanita mengalah dengan memberikan uang-uang recehnya.
Rosmawati memasukkannya ke kantong. Ia lalu berpamitan dan pergi. Dia berdoa semoga di hari pertamanya masuk kerja, dia tidak terlambat dan dapat melaksanakan segala sesuatunya dengan baik.
Tiga jam harus ia lalui menuju Birmingham, karena jalanan yang mendadak macet. "Gimana kalau tiap hari harus pulang pergi sejauh ini, ya?" Gumamnya gelisah. "Nanti deh nanya Mumun," lanjutnya kemudian.
Rosmawati termenung di dalam taksi itu. Keresahan sudah menyelimuti wajahnya. Berkali-kali, ia melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya. “Aduh ... Sir! Bisa cari jalan tikus saja ngga, sih?” Rosmawati terlihat semakin cemas.q
“Maaf, Miss. Saya sopir baru, jadi saya hanya tahu jalan utama saja. Dari pada nanti Anda saya bawa muter-muter, dikiranya saya penculik lagi,” terang sopir taksi dengan jambul mirip burung kakatua di bagian depan rambutnya. Rosmawati kembali mengeluh pelan.
“Aduh ... tapi kalo gini ceritanya, bisa-bisa make up gue luntur lagi. Percuma gue bela-belain dandan dari pagi,” batin Rosmawati sambil mengelus lembut wajahnya dan kembali membetulkan bulu mata anti kepalsuan itu dengan cara menekan-nekannya perlahan. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain pasrah dan berserah diri.
Akhirnya, setelah beberapa saat berlalu, mobil taksi itu pun dapat kembali melaju. Usut punya usut, yang menyebabkan kemacetan adalah karena ada sebuah truk pengangkut ayam yang mengalami kecelakaan. Semua ayam yang diangkutnya lepas dan berlarian di jalan raya.
Selang beberapa saat, Rosmawati akhirnya tiba di tempat produksi perusahaan mobil LambeyJono milik Mehmet. Dengan terburu-buru, Rosmawati keluar dari dalam taksi. Ia bahkan hampir saja lupa membayar ongkos taksinya.
Satu hal yang membuat Rosmawati semakin tidak karuan ialah ketika ia melihat Mehmet baru saja keluar dari dalam pabrik itu. Ia sedang berjalan menuju area parkir.
"Miss Rozi? Kamu baru datang jam segini?" Tegur Mehmet dengan wajah dan nada bicara yang cukup tegas, membuat nyali Rosmawati seketika menciut.
"Maaf, Met ... eh ... Mr. Hayder ... di jalan tadi macet parah jadi aku ...." Rosmawati bicara dengan sangat gugup. Ia merasa jika tatapan Mehmet seakan telah mengintimidasinya.
"Saya tidak mau tahu apa yang menjadi alasanmu. Saya hanya ingin agar kamu bisa menunjukkan profesionalitasmu sebagai salah satu bagian dari perusahaan ini. Ingat, Miss Rozi! Di luar sana masih banyak yang menginginkan jabatan dan pekerjaan yang saya berikan untukmu! Jadi tolong perlihatkan dedikasimu, jangan bersikap seenaknya! Saya tidak menyukai seseorang yang tidak profesional!" Ucapan Mehmet terdengar begitu menakutkan bagi Rosmawati.
"Baik, Sir! Saya mengerti," sahut Rosmawati gusar. Niatnya untuk terlihat cantik di hadapan Mehmet lagi-lagi gagal. Terlebih saat itu tiba-tiba bulu matanya kembali terlepas dan menghalangi pandangannya.
__ADS_1
"Aduh ... maaf, Sir. Mary tadi masangin ini buru-buru, jadinya malah begini. Niatnya mau keliatan cantik malah ...." Rosmawati tidak melanjutkan kata-katanya karena saat itu ia melihat Mehmet berlalu dari hadapannya. Rosmawati pun merasa kecewa. Akan tetapi, ia tidak tahu jika Mehmet pergi dengan terburu-buru karena pria itu sudah tidak tahan ingin tertawa lepas.