
"Hayoo, ngaku nggak! Memet, kan? Ayo ngaku!" Rosmawati menggila. Dia mengancam pria Timur Tengah itu dengan ujung gagang pelnya. Sementara itu, Joyce makin panik. Sekuat tenaga dia memegangi tubuh ramping Rosmawati agar tidak bertindak terlalu jauh.
Pria Timur Tengah itu hanya memandang keheranan pada Rosmawati seraya mengerutkan dahi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Are you alright?" Tanya pria itu dengan penuh keheranan.
Suara pria itu seketika membuat Rosmawati tertegun dengan mata melotot sempurna.
"Waduh ... gawat!" Gumam Rosmawati sambil gemetaran. Pasalnya suara laki-laki itu jauh berbeda dengan suara Memet.
Rosmawati mundur perlahan hingga punggungnya menabrak dinding lift. "I- i'm sorry, Sir! I thought you were my friend," kilah gadis itu gagap.
Joyce yang berbadan besar namun bernyali kecil, beringsut ketakutan di pojokan. Dia sudah membayangkan akan segera dipecat oleh atasannya.
"Seandainya aku dipecat, maka aku akan segera membuat perhitungan denganmu!" Bisik Joyce dengan setengah mengancam, membuat Rosmawati semakin gusar.
Pria Arab itu kemudian berbalik dan mendekati Rosmawati yang kini sudah memejamkan matanya rapat-rapat. Dia sudah membayangkan akan ditampar oleh laki-laki itu.
"Rosmawati, right?" Tanya pria itu.
Gadis itu segera membuka matanya dan membelalak. "You know my name?" Tiba-tiba Rosnawati kembali antusias. Aura ke geerannya mulai menyeruak dari hidung Rosmawati yang sudah terlihat kembang kempis.
"Tertulis di name tag kamu," sahut pria itu seraya membuka kacamata dan maskernya. Mata sayu berhidung mancung dengan hamparan jenggot tipis, cukup membuai mata Rosmawati.
Akan tetapi, tak dapat dipungkiri bahwa dia sedikit kecewa. Rosmawati sudah membayangkan kehadiran Memet di depan matanya. Sudah berhari-hari Memet tak muncul, membuat Rosmawati sedikit merasa kehilangan karena tak ada lagi yang mengejar-ngejar dirinya.
"Apa wajahku mirip seseorang?" Tanya pria arab itu.
"Sedikit, Sir! Wajah anda mirip teman saya, tapi dia jauh lebih ganteng," jawab Rosmawati tanpa rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
Pria arab itu seketika melotot dan tampak kesal. Ia pun kembali membalikan badannya dan tidak mempedulikan lagi kedua gadis itu, apalagi saat itu pintu lift sudah terbuka.
Joyce dan Rosmawati bernapas lega. Mereka memegang dada masing-masing sambil menghembuskan napas panjang. Tak lama kemudian, Joyce menimpuk kepala Rosmawati menggunakan tongkat sapu berkali-kali. "Ini semua untuk ide gila dan tingkah anehmu!" Cercanya dengan jengkel.
"Aduh ... aduh! Sakit, Joyce!" Pekik Rosmawati kesakitan. Dia berlari menghindar dari pegulat tak profesional itu sembari mendorong troli. Sesampainya di depan pintu ruangan meeting, Rosmawati menghentikan laju trolinya.
Ruangan itu sudah berpenghuni. Siapa lagi kalau bukan pria yang Rosmawati sangka sebagai Memet. Pria itu sedang asyik bertelepon dengan seseorang. Dua kakinya ia selonjorkan di atas meja meeting.
Ragu-ragu Rosmawati memasuki ruang meeting seraya mengetuk pintunya pelan. Sementara Joyce kini sudah berdiri di belakangnya dengan terengah-engah.
"Excuse me, Sir! Bolehkah saya membersihkan ruangan ini terlebih dahulu sebelum digunakan?" Tanya Rosmawati was-was.
Pria itu menghentikan kegiatan meneleponnya dan mengalihkan pandangan pada Rosmawati dan Joyce. "Oh, baiklah! Lagipula pertemuannya masih lama. Silahkan!" Ujarnya. Ia lalu bangkit dan berjalan melewati dua gadis itu.
"Aku sengaja berangkat pagi dari hotel untuk menelepon pacarku," cerocos pria itu. "Kalau aku masih berada di hotel, aku tidak akan bisa menelponnya," sambungnya.
"Kenapa?" Joyce dan Rosmawati bertanya serempak.
"Oh ... dasar! Buaya buntung rupanya. Dasar onta arab!" Umpat Rosmawati dalam bahasa Indonesia.
"Come on, Rose! Sudah pukul 06.15," Joyce mengingatkan Rosmawati yang masih bengong. Mereka berdua pun memulai pekerjaan dengan cekatan, hingga tak terasa jarum jam dinding menunjukkan waktu 06.45. Itu artinya 15 menit lagi sebelum acara penting itu dimulai.
"Sudah, Rose?" Tanya Joyce yang melihat Rosmawati masih sibuk mengelap dinding kaca.
"Sedikit lagi," sahut Rosmawati.
"Cepat sedikit, Rose!" Suruh Joyce yang mulai gelisah. Bersamaan dengan itu, Justin Blake dan pacarnya si janda hebring peternak kuda poni, Lidya Rodriguez memasuki ruangan bersama rombongannya.
Rosmawati pun buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan memasukkan perlengkapan kebersihannya ke dalam troli.
__ADS_1
"Apa saja yang kalian lakukan? Kenapa baru sekarang selesai membersihkan ruangan?" Hardik Lidya yang memiliki ukuran dada fantastis. Ditambah baju ketat yang makin menonjolkan buah keramatnya. Ia juga berkali-kali mengibaskan rambut panjangnya.
"We were sorry, Ma'am ... Sir! Ada sedikit kesalahan teknis," sahut Rosmawati dengan alasan sekenanya. Ia kemudian berjalan menunduk melewati orang-orang penting itu sambil mendorong troli.
Joyce pun demikian. Wanita keturunan Afrika itu terus mengekor di belakang Rosmawati dengan kecepatan penuh bagaikan seekor badak yang sedang beradu cula, hingga akhirnya ia pun menabrak tubuh Rosmawati yang tiba-tiba saja berhenti di lorong menuju lift.
"Aduh, bilang-bilang dong, kalau mau berhenti!" Protes Joyce sembari mengusap hidungnya yang membentur belakang kepala Rosmawati.
"Masih ada pria itu di depan pintu lift. Kita tidak bisa lewat!" Rosmawati menunjuk pria berbaju gamis yang sedang berbicara pada rombongan pria Arab bersetelan rapi.
Rosmawati berfikir jika rombongan pria berjas itu adalah anak buah pria bergamis tadi, karena dengan melihat gestur dan gerak tubuh mereka yang tampak patuh dan hormat pada pria bersorban di hadapan mereka itu.
"Apa menurutmu kita harus lewat lift VIP lagi?" Tanya Rosmawati meminta persetujuan Joyce.
"Tidak!" Tolak Joyce tegas. Dia masih trauma dengan kejadian tadi pagi. "Kita tunggu saja di sini!" Saran Joyce seraya merapikan rambut keriting cepaknya.
Rosmawati pun menurut. Dia menunggu para pria Arab itu selesai berbicara. Sayup-sayup terdengar mereka membicarakan sesuatu atau seseorang yang berhubungan dengan meeting kali ini.
"Betul, Sheikh tidak bisa hadir. Kondisinya masih belum fit. Saya yang bertugas menggantikan."
"Oh, sudah! Saya sudah memegang surat kuasa dari beliau."
"Dia seperti kakek-kakek yang kesehatannya mulai menurun."
Kemudian rombongan itu tertawa menimpali obrolan pria bersurban.
"Cowok-cowok demen ghibah juga rupanya," gumam Rosmawati meskipun ia tidak tahu dan tidak mengerti dengan pembahasan mereka.
Selang beberapa saat, tampak Lidya keluar lagi dari ruang meeting dengan terburu-buru. Ia bahkan berjalan dengan setengah berlari sambil memegangi bo°kongnya. Tepat di hadapan Rosmawati dan Joyce, Lidya pun tertegun dan melotot ke arah dua gadis itu ketika terdengar suara nyaring yang luar biasa.
__ADS_1
Seketika Rosmawati dan Joyce mengulum bibir mereka demi menahan tawa.
"Apa lihat-lihat?" Bentak Lidya dengan kesal bercampur malu. Ia pun kemudian mendekat ke arah mereka berdua. "Ingat jangan sampai hal ini menyebar! Kalau sampai ada yang tahu, maka kalian akan menerima akibatnya dariku!" Ancam Lidya dengan jari telunjuk lurus tertuju kepada Rosmawati dan Joyce. Setelah itu, ia kembali melanjutkan lari marathonnya menuju toilet.