
Tangan Axel sedikit kesusahan melepaskan gaun yang dikenakan oleh Anya. Akhirnya, Anya menarik tangan Axel menuju ke kamar mereka dan berdiri di depan kaca rias sambil melanjutkan membuka gaunnya lagi.
Setelah gaunnya berhasil terbuka, Axel memandangi tubuh istrinya dari kaca cermin. Rambutnya yang masih digelung rapi, paras cantiknya yang selalu menyejukkan mata, dan leher jenjang Anya mampu menyihir pria manapun yang memandang ke arahnya.
Apalagi saat pandangan Axel mulai turun ke bawah dan melihat dua bongkahan sekal yang selalu menjadi favoritnya. Tentunya hal ini membuat Axel menelan ludahnya kasar. Meski setelah menikah dengan Anya, Axel selalu memainkannya sesuka hatinya dan bahkan lebih rakus dari seorang bayi, milik Anya tetap saja terlihat padat dan sekal.
Tapi, jangan salah. Kenakalan Axel yang tentunya sangat disukai oleh Anya membuat ukuran dadanya sedikit membesar dari sebelumnya dan lebih menantang. Anya yang hanya dipandangi tubuhnya oleh Axel dari kaca cermin tanpa di sentuh sedikit pun membuat ujung titik sensitifnya begitu tegang dan tampak mencuat.
Apalagi AC di dalam kamar mereka membuat Anya merasa dingin dan butuh kehangatan dari Axel secepatnya. Karena Axel masih terus memandangi tubuhnya dari kaca cermin, Anya pun berbalik dan langsung melingkarkan tangannya di leher Axel.
“Apa Abang masih mau menunda untuk buka puasa?” tanya Anya yang sengaja berbisik tepat di telinga Axel.
Tangan Anya mulai bergerak membuka jas yang dikenakan oleh suaminya dan kemudian menjatuhkannya begitu saja.
“Memangnya Istri Abang yang cantik ini udah nyiapin apa sih buat buka puasa Abang kali ini?” tanya Axel yang mulai melingkarkan tangannya di pinggang Anya.
“Minuman favorit Abang, dong!” balas Anya sambil membuka kancing kemeja yang digunakan oleh Axel.
Jawaban Anya kali ini membuat Axel tidak tahan lagi untuk menahan gejolak Hasrat yang ada di dalam dadanya. Ia pun dengan cepat membuka ikat pinggang sekaligus celananya dan langsung membawa Anya ke atas tempat tidur yang dihiasi oleh kelopak Bunga mawar merah yang dibentuk hati.
Merasa pancingannya sudah berhasil, Anya pun merebahkan tubuhnya miring ke kanan dan kemudian menyangga kepalanya dengan tangan dan membuat Anya tampak begitu 53k5i. Kemudian tangannya sengaja ia gerakkan ke salah satu gundukan miliknya dan memijatnya pelan.
“Abang gak haus?” tanya Anya.
Tanpa membuang buang waktu, Axel pun langsung menyusul naik ke atas tempat tidur dan melahap milik istrinya dengan sedikit rakus. Tidak hanya itu, tangan yang satunya lagi juga ikut memainkan ujung titik sensitive milik Anya. Pelan tetapi membuat Anya justru menginginkan Axel memainkannya dengan ritme yang kencang.
“Abaaang!” panggil Anya dengan suaranya yang m3nd354h.
“Iya, Cinta!” jabab Axel melepas mainannya sebentar sampai terdengar bunyi “plup” dan kemudian meneruskan permainannya lagi.
“Harder, Please! Engh, Abang!” pinta Anya membuat jemari Axel mulai memainkan ujung milik istrinya dengan menariknya sedikit kencang.
Anya pun semakin menikmati permainan Axel dan kini Axel melepaskan mulutnya ke ujung milik Anya. Kemudian ia menggantikannya dengan jemarinya. Kini, kedua tangan Axel bermain di dua titik sensitif Anya sambil mengarahkan senjatanya ke tempat favoritnya.
“Apa ini enak, Cinta?” tanya Axel di tengah suara merdu Anya yang sudah memenuhi ruangan.
“Enak, Abang! Tapi, Anya mau dibuat lebih enak ;agi!” pinta Anya dan akhirnya Axel langsung menyatukan miliknya dengan milik istrinya.
Buka puasa kali ini benar-benar membuat Axel seperti baru pertama kalinya melakukan dengan Anya. Miliknya sedikit kesusahan untuk masuk ke dalam dan setelah masuk sepenuhnya, milik Anya terasa begitu menjepit miliknya sampai Axel mengiringi suara Anya yang sudah memenuhi ruangan.
“Kau semakin nikmat, Cinta!” racau Axel sambil terus bergerak pelan menikmati penyatuan mereka.
__ADS_1
“Punya Abang juga semakin besar!” balas Anya membuat Axel mulai menambah ritme gerakannya.
“Apa kau menyukainya?” tanya Axel.
“Bukan hanya suka, tapi aku sudah merasa candu!” jawaban Anya kali ini membuat Axel semakin gencar untuk terus bergerak sampai mereka berdua sampai pada pelepasan pertama.
Cup! Kecupan mesra Axel mendarat tepat di kening Anya. “Aku semakin mencintaimu, istriku!” bisik Axel yang kemudian meraih tissue dan membersihkan sisa permainan mereka.
Tiba-tiba saja terdengar bunyi demo dari perut Anya yang sudah minta diisi. Axel pun terkekeh pelan dan mencium perut istrinya dengan mesra.
“Anak daddy laper, ya habis diajak mommy olahraga?” tanya Axel sambil mengusap perut Anya.
“Tunggu, ya, sayang! Sebentar lagi Mommy mau makan yang banyak!” lanjut Axel lagi.
“habis mommy kasih makan dedek bayi, nanti papa akan cek ke dalem, udah beneran dimakan apa belum!”
Ceracauan Axel barusan membuat Anya terkekeh geli. “Daddynya nakal banget sih!” tutur Anya sambil mencubit pipi Axel.
“Gak papa, dong! Nakalnya kan sama istri sendiri!” Axel bangun dari tempat tidur dan kemudian mengambilkan lin93ri3 untuk digunakan istrinya.
“Pakai ini aja, ya, Cinta!” ucap Axel sambil menyodorkan l!n93ri3 berwarna pink.
“Kalu ada yang berani ngeliat istri Abang dengan pakaian seperti ini, bakal Abang colok matanya!” balas Axel sambil mengenakan boxernya.
Anya hanya terkekeh pelan sambil mengenakan l!ng3r!3 yang diambilkan Axel. Baru memakainya saja, milik Axel sudah kembali ON dan tampak jelas dari balik boxer yang ia kenakan.
“Makan dulu, yaa! Nanti kita lanjutkan lagi mainnya!” tutur Anya sambil mengusap lembut senjata Axel yang sudah kembali ON.
“Awh! Abang tunggu ya, Cinta!” balas Axel.
Keduanya kini sudah duduk dan siap untuk menikmati makanan yang disajikan untuk mereka. Anya mulai menyendokkan makanan dari piringnya dan menyuapi Axel. Setelah itu, Axel pun gantiaan menyuapi Anya sampai makanan mereka benar-benar habis tak bersisa.
Kini senja sudah menyingsing dan langit juga sudah berubah warna menjadi gelap. Selepas makan, keduanya kembali duduk di kursi panjang sambil saling berdekatan. Anya menyandarkan kepalanya di dada bidang Axel dengan manja sambil sama-sama bermain ponsel untuk menjawab ucapan selamat dari teman-teman mereka.
Kali ini Anya membuka pesan dari Tante Netta yang tadi memang tidak terlihat dalam acara pesta pernikahan mereka. Isi pesan dari Tante Netta kali ini tidak lain adalah permintaan maafnya kepada Anya dan juga Axel karena tidak bisa menghadiri pesta karena ada suatu kendala saat dalam perjalanan menuju ke Restoran.
Tante Netta pun menceritakan kendala apa yang terjadi sampai mereka tidak bisa hadir memenuhi undangan. Awalnya Anya sangat shock saat mendengar Jacqueline berhasil bebas dari kantor polisi. Tapi, kemudian ia bisa bernafas lega karena tidak perlu menunggu waktu yang lama, Jacqueline langsung tertangkap.
Bahkan kali ini, kondisi Jacqueline semakin mengenaskan karena kembali tertangkap karena tertabrak oleh mobil milik keluarga Tante Netta.
“Bagus, deh, kalo Jacqy itu tidak langsung mati di tempat!” gumam Anya sambil meletakkan ponselnya dan mengusap dada suaminya dengan mesra.
__ADS_1
“Jadi, dia bisa merasakan penderitaan di dunia sebelum ajal datang menjemputnya!” lanjut Anya lagi.
“Abang juga berdoa, biar dia merasakan karma atas kejahatan yang ia lakukan selama ini!” balas Axel.
🐾🐾🐾
Di Klinik Kantor Polisi,
Luka yang ada di tubuh Jacqueline sudah diobati dengan obat seadanya yang tersedia di Klinik. Sedangkan kaki kiri Jacqueline mengalami patah tulang tepat di tulang betisnya. Namun, dari pihak klinik hanya memberikan pertolongan pertama tanpa merujuknya menuju ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, terlihat tanda-tanda Jacqueline hampir tersadar dari pingsannya. Ia mengerjapkan matanya perlahan dan mulai terbuka.
‘Ternyata aku masih hidup!’ gumam Jacquelin dalam hati.
'Aku tadi melihat Netta keluar dari mobil yang menabrakku. Mungkin, ia yang membawaku ke rumah sakit!' batin Jacqueline sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Namun, kemudian Jacqueline melihat ada beberapa teman narapidana ya berdiri di dekat pintu dan menunjuk ke arahnya.
"Lihat, babu kita sudah sadar. Ternyata tidak secepatnya dia mati begitu saja!" tutur napi yang paling kurus.
'Duh, kok ada cecunguk itu lagi sih! Mana mungkin mereka mau menyusul ke rumah sakit. Atau jangan jangan aku memang bukan di Rumah Sakit?' batin Jacqueline.
Kepalanya kembali berputar mengitari ruangan dan berhenti tepat di papan yang bertuliskan "Klinik POLSEK".
'Astaga, ternyata aku bukan di rumah sakit. Tapi di Klinik yang ada di penjara!' batin Jacqueline.
'Tapi, kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?'
Jacqueline melihat ke bawah dan berapa terkejutnya saat melihat ada gips yang menyatu dengan kakinya.
'Hah, Patah?'
Seketika air mata Jacqueline jatuh membasahi pipinya.
🐾🐾🐾
Nanti kelanjutan ceritanya hari ini yaa. Yuk, dukung Karya Author dengan like, comment, vote, dan juga rate bintang 5. Terima kasih
__ADS_1