
Axel mengajak Anya untuk duduk dan menenangkan dirinya agar tidak mengambil keputusan dengan terburu-buru.
“Kita akan bicarakan hal ini dengan papa dan juga mama, Sayang! Tapi, berjanjilah untuk tetap bersamaku apapun yang terjadi nanti!” pinta Axel dan Anya langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap.
“Iya, Abang! Anya akan terus ada di samping Abang dan tidak akan pergi kemana pun! Bahkan, Anya juga siap untuk menandatangani surat perjanjian kalau abang gak percaya sama Anya!” balas Anya.
Axel menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
“Tidak perlu surat perjanjian, Sayang! Abang percaya seratus persen sama kamu!” balas Axel yang kemudian menghubungi kedua orang tuanya dan membicarakan tentang masalah Hellen yang ternyata masih ingin memiliki Anya sepenuhnya.
Panggilan pun tersambung dan Axel sengaja tidak mengubah modenya ke loudspeaker. Kebetulan, Anya juga tengah menenangkan dirinya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sedangkan Papa dan juga Mama Axel pun terhenyak mendengar cerita dari Axel tentang obsesi gila Hellencia. Kini mereka tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan masalah ini.
Jika mereka masih harus membicarakannya bertiga tanpa diketahui oleh Anya, tentu saja Axel tidak bisa karena Hellencia bisa menemui Anya kapanpun ia mau. Jalan keluar satu-satunya adalah memutuskan ikatan Axel dengan Hellencia secepatnya dan membiarkannya menguak semua rahasia yang selama ini disembunyikan di belakang Anya.
Urusan Anya kecewa dengan mereka bertiga dipikir nanti. Terlebih Papa Richie sudah siap jika Anya nantinya menjebloskannya ke dalam penjara. Kerelaan Papa Richie kali ini tidak lain hanyalah untuk keselamatan putri kandungnya sendiri.
Setelah mereka bertiga sepakat untuk menguak semua masalah yang selama ini mereka sembunyikan, Axel pun mematikan panggilannya. Kemudian ia melihat ke arah istri mudanya yang kini tengah tertidur pulas.
“Kesempatan baik, semoga saat papa dan juga mama sampai di sini, Anya belum terjaga!” gumam Axel yang melangkah mendekati Anya dan mengecup keningnya dengan lembut. Kemudian ia merapatkan selimut Anya dan beranjak untuk keluar dari kamar.
Namun, saat Axel membuka pintu kamar Anya, tak disangkanya Hellen sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Mau apa kamu di sini?” tanya Axel penuh waspada.
“Aku hanya ingin melihat keadaan ibu dari anakku, Mas! Aku ingin menemui maduku sendiri! Apa aku salah?” jawab Hellen yang kemudian memegang handle pintu kamar Anya namun tangannya langsung ditepis oleh Axel.
“Jauh-jauh dari istriku, Hellencia! Kau dilarang mendekatinya meski hanya satu langkah!” tegas Axel.
__ADS_1
“Wow, wow, wow!” Hellen bertepuk tangan melihat ketegasan Axel yang membela istri mudanya.
“Seberani itu ya kau menantangku! Ingat, Axel! Nyawa keluargamu, ada di tanganku! Jadi, jangan macam-macam untuk menghalangi aku mendapatkan Anya.”
“Dan kau tidak akan bisa mengenal Anya atau bersama dengannya tanpa diriku!” Hellen mendorong tubuh Axel untuk tidak menghalanginya yang ingin bertemu dengan Anya.
Tetapi Axel masih tetap menghalanginya dan melarangnya masuk ke dalam kamar Anya. Untung saja tak lama kemudian terdengar bel apartemen berbunyi membuat Hellencia menghentikan aksinya yang memaksa masuk ke dalam kamar.
“Siapa Tian?!” tanya Hellencia sambil berteriak.
Tian pun langsung memeriksa siapa yang datang ke apartemen.
“Tuan dan Nyonya Richie!” jawab Tian membuat Hellencia memandang tajam ke arah Axel.
“Mereka berdua masih menganggap Anya sebagai Chef Pribadi kita, bukan?” tanya Hellencia dan Axel memilih untuk diam tidak membalas.
Axel hanya membuang nafasnya dengan kasar dan mencoba mengikuti permainan Hellencia. Mereka berdua pun berjalan ke ruang tengah untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Sedangkan Tian pun membukakan pintu dan mempersilakan kedua orang tua Axel untuk masuk ke dalam.
“Papa, Mama!” sapa Hellencia dengan lembut dan langsung menyalami kedua mertuanya itu.
“Hai, Hellencia!” sapa Mama Icha. “Bagaimana kabarmu?”
Pertanyaan Mama Icha kali ini membuat Hellencia tersenyum lebar, “Baik, Ma! Hellen punya berita gembira untuk papa dan mama!” balas Hellen membuat kedua orang tua Axel mulai mengerutkan dahi mereka.
“Berita gembira apa, Hellencia?” tanya Papa Richie kemudian.
Hellencia pun menarik tangan Axel dan dipaksanya untuk mengusap perutnya, “Program kehamilannya berhasil, papa! Hellen sekarang sudah positif hamil di usia 4 minggu!” jawab Hellen membuat semua terhenyak mendengarnya.
Sedangkan Axel pun cepat-cepat menarik tangannya dan mengambil tissue basah untuk membersihkan tangannya yang barusan menyentuh perut Hellencia yang datar.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Anya keluar dari kamarnya dan langsung menimpali ucapan dari Hellencia.
“Dia bohong, papa! Miss Hellen baru saja keluar dari Rumah Sakit karena mengidap Kanker Serviks dan baru saja menjalani operasi!” ucap Anya dengan tegas.
Kali ini Anya tidak mau mengulur waktu untuk bertahan di bawah kuasa perjanjian kontrak dengan Hellencia. Lagi pula, Papa dan Mama Axel juga sudah begitu menyayanginya. Ia sangat yakin, jika Axel, Papa Richie, dan juga Mama Icha kini pasti akan berada di pihaknya.
Sedangkan Hellencia sangat terkejut dengan ucapan Anya barusan yang tiba-tiba datang dan membeberkan penyakitnya di depan mertuanya.
“Miss Hellen ini awalnya menderita penyakit klamidia karena kebiasaan buruknya yang menjalin hubungan tidak sehat dengan sesama jenis! Satu bulan ia mendekam di Rumah Sakit ternyata tidak membuatnya sadar dan bertobat, justru membuatnya semakin gila!” lanjut Anya lagi membuat Hellen menatap nanar ke arahnya.
Kini Hellencia sangat tidak menduga jika Anya seberani ini membuka kartunya di depan kedua mertuanya. Sakit? Tentu saja Hellen merasa sakit dan kecewa mendapati wanita yang ia cintai dan sangat ingin ia miliki justru menyerangnya, bahkan seperti tengah menusukkan pisau ke arahnya secara terang-terangan.
Sedangkan Tian sangat kagum melihat keberanian Anya melawan Hellencia kali ini. Tidak hanya Tian, Axel dan juga kedua orang tuanya pun semakin mantap untuk memutuskan hubungan dengan Hellencia secepatnya karena memang itu yang terbaik.
“Anya Sayang …” Dengan lembut Hellencia memanggil Anya dan kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Anya.
Dengan sigap, Papa Richie, Mama Icha, dan juga Axel langsung menghalangi Hellencia yang ingin mendekati Anya.
“Hei, ada apa ini? Aku hanya ingin memberitahu Anya secara baik-baik untuk tidak membuat cerita palsu! Dia pasti sedang mengarang sebuah cerita untuk berusaha merebut harta kekayaan Papa!”
“Papa tahu kan bagaimana cara perempuan rendahan yang sangat miskin berusaha menjadi kaya dalam waktu singkat?” balas Hellencia.
Kini pertarungan mereka terlihat sangat jelas, satu berbandingkan empat lawan. Namun, hal ini tidak membuat Hellencia merasa gentar sedikit pun. Ia masih tetap bersikap setenang mungkin menghadapinya.
__ADS_1