
Mama Icha yang sedari tadi melihat Anya fokus pada ponselnya bergerak mendekati Anya, “Sibuk apa sih, Sayang? Sampe nasi grengnya dingin tuh!”
Anya pun langsung memperlihatkan ponselnya yang saat ini tengah mencari informasi tentang Diorama Resto. “Lagi cari ini, nih, Ma! Tapi informasi yang Anya cari gak ada sama sekali!” Anya meletakkan ponselnya dengan lemas dan mulai menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
“Daripada pusing, mendingan kita spa aja yuk habis ini!” ajak Mama Icha, “Mama udah panggil terapis spa loh ke rumah!” lanjutnya lagi membuat Anya langsung mengangguk setuju.
“Siap, Ma! Sambil facial juga boleh kan?” timpal Anya yang tampak begitu bersemangat.
“Of course, Cinta! Ya udah, dihabisin dulu sarapannya!” titah Mama Icha dan Anya pun langsung makan dengan lahapnya.
***
Sore harinya, sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Axel gaun untuk dikenakan Anya pun tiba beserta dengan MUAnya. Tanpa mengulur waktu, Anya pun langsung menuju ke kamar untuk memersiapkan dirinya berkencan dengan Axel. Anya pikir, Axel hanya mengajaknya saja. Ternyata dugaannya salah besar karena Mama Icha juga bersiap untuk menuju ke Diorama Resto.
Waktu pun berlalu dan kini Anya sudah terlihat sangat cantik berbalutkan gaun berwarna navy dengan panjang dress di bawah lutut dan lengan yang sedikit melebihi bahu karena Axel tentunya tidak suka memperlihatkan kecantikan Anya di depan umum.
“Waah, menantu mama sangat cantik sekali!” puji Mama Icha yang sudah mengunggu Anya di ruang tamu.
“Mama juga sangat cantik!” balas Anya sambil menuruni anak tangga.
“Kau ini sangat pintar memuji Mama! Kita langsung ke Restoran aja ya! Mama yakin, Axel sudah tidak sabar untuk melihat kecantikanmu, Sayang!”
Anya mengangguk setuju dan mereka berdua langsung melangkah menuju ke mobil yang sudah siap mengantarkan mereka pergi. Sepanjang perjalanan, Anya tampak resah dan gugup. Dia mencoba mengurangi rasa gugupnya dengan menggenggam tangan Mama Icha erat-erat.
“Are you okay, Sayang?” tanya Mama Icha.
“Anya sedikit gugup, Ma!”
“Coba tarik nafas!” Mama Icha memandu Anya untuk rileks dan Anya mengikuti panduan mamanya dengan baik. “Tahan sebentar, dan hembuskan!” lanjutnya lagi dan terus begitu berulang kali sampai Anya mulai merasa tenang.
Sesampainya di depan Restoran, Anya cukup tercengang dengan kemegahan Diorama Resto yang di desain ala tongkrongan anak muda kelas tinggi. Bukan hanya anak muda saja, berbagai kalangan usia sangat cocok menjadikannya sebagai destinasi tempat kencan, meeting, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
__ADS_1
Intel Ika membukakan pintu untuk Anya dan mempersilakannya untuk keluar dari mobil. Kemudian Anya pun berjalan masuk ke dalam restoran di dampingin oleh mamanya dan juga Intel Ika. Hal ini membuat dada Anya berdebar tidak menentu.
Terlebih saat langkahnya sampai di depan pintu masuk, tampak ada karpet merah yang terbentang panjang menyambutnya bak seorang putri kerajaan. Tidak hanya itu, Anya juga melihat sosok Axel yang berdiri di ujung karpet merah menantikan kedatangannya dengan membawa satu bouquet bunga yang sangat cantik.
Terdengar alunan music yang sangat indah mengiringi langkah Anya memasuki Diorama Resto. Banyak orang yang sudah berkumpul di dalam dan kini pandangan mereka tertuju ke araah Anya yang sedang berjalan melewati karpet merah.
Hal ini membuat Anya malu karena menjadi pusat perhatian. Ia pun menghentikan langkahnya sejenak dan menarik lengan mamanya pelan.
“Sebenarnya ada acara apa sih, Ma?” tanya Anya yang melihat suasana ini tidak seperti kencan biasa pada umumnya.
“Kita lihat saja, nanti!” balas Mama Icha sambil mengajak Anya untuk melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di depan Axel, tampak suaminya langsung menekuk lututnya sambil menyerahkan bouquet bunga yang ia pegang dari tadi.
“Ini ada acara apa sih, Bang sebenarnya?” tanya Anya sambil meneriman bunga dari Axel.
Axel pun berdiri dan memperkenalkan Anya ke depan banyak orang yang hadir pada malam hari ini. Papa Richie dan juga Mama Icha pun langsung mendampingi keduanya di sebelah kanan dan kiri.
“Selamat malam semua rekan bisnis semuanya! Perkenankan saya untuk memperkenalkan istri tercinta saya, Divanya Elea Razil!”
Hellencia memang kerap menemani Axel meeting dan menemui acara pertemuan besar antar kolega bisnis. Tapi, mereka hanya memandang Hellencia sebelah mata karena beberapa alasan. Hellencia terkenal sangat ketus dengan pria manapun dan sangat ramah dengan para istri kolega bisnis.
Hal ini membuat banyak pebisnis lebih suka bekerja sama dengan Papa Richie dibandingkan dengan Axel dan juga Hellencia. Tapi melihat Anya saat ini, pesonanya mampu mempengaruhi para kolega bisnis untuk bekerja sama dengan Restoran yang dipimpin olehAxel.
Axel mendekap istrinya dengan penuh bangga, “Dia ini adalah pemilik Diorama Restoran yang dihibahkan khusus untuk Anya.”
Ucapan Axel barusan membuat Anya sangat tercengang dan langsung menatap Axel dengan penuh pertanyaan. “Apa maksudnya ini?” tanya Anya yang masih belum paham dengan ucapan Axel barusan.
Pertanyaan Anya pun langsung dijawab secara gamblang oleh Papa Richie yang memang sudah merencanakan hal ini jauh-jauh.
“Ini adalah janji Papa! Salah satu restoran yang papa miliki, sekarang menjadi milikmu, Anya Sayang! Dan namanya sengaja papa ganti Diorama Restoran agar pemilik aslinya tetap terkenang sepanjang waktu!”
__ADS_1
Mata Anya pun langsung berkaca-kaca mendengarkan ucapan Papa Richie. Ia sama sekali tidak menyangkan jika Papa Richie memberikan salah satu restoran besar miliknya untuk dikelola. Anya pun langsung meghambur memeluk papanya dengan sangat erat di depan para tamu undangan.
Situasi seperti ini pun langsung dialihkan oleh bagian IT ke layar besar yang menggambarkan kegiatan Anya setiap harinya saat kedua orang tuanya masih hidup sampai meninggal dunia karena kecelakaan. Sedangkan Anya justru terharu sambil memeluk papanya erat.
“Terima kasih banyak kejutannya, Papa! Anya merasakan papa dan juga mama Anya hidup kembali di sini!” ucap Anya.
Bagaimana pun juga, Pak Razil dan juga Mama Divya adalah orang tua Anya. Karena mereka berdua lah yang berjuag membesarkan Anya dengan penuh kasih sayang. Meskipun begitu, Papa Richie juga tidak mengedepankan egonya untuk meminta Anya mengubur kenangan masa lalunya.
“Papa melakukan ini untuk menebus segala kesalahan papa yang tidak bisa menemanimu dua puluh satu tahun yang lalu, Anya Sayang!” timpal Papa Richie.
Suasana haru ini justru membuat Axel menarik Anya pelan dari pelukan papanya karena ia sendiri juga tidak sabar untuk mendapat pelukan dari istri cantiknya.
“Paa, gantian dong! Masa papa terus yang dipeluk?” protes Axel. “Suaminya kan aku!” lanjutnya lagi.
Papa Richie pun melepaskan pelukan Anya, “Tuh, menantu menyebalkan papa sedang cemburu!” ucap Papa Richie pelan membuat Anya terkekeh.
Anya justru mencubit pinggang Axel dengan gemas. Hal ini membuat beberapa tamu undangan yang melihatnya langsung memberi penilaian betapa harmonisnya keluarga mereka sejak kehadiran Anya.
Setelah slide kehidupan Anya diputar di layar besar, kini waktunya Anya mengutarakan sepatah kata kepada semua tamu undangan yang datang.
“Anya sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa selain kata terima kasih!” ucap Anya sambil memandangi Papa Richie.
“Terima kasih banyak untuk Papa dan juga Mama yang sudah menyayangi Anya dengan begitu luar biasa! Anya sangat mencintai kalian berdua!”
“Terima kasih juga khusus Anya haturkan untuk suami tercinta, Abang Axello Richandra!”
Ucapan terakhir Anya pun langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah.
Setelah serentetan acara launching Diorama Resto dan pengesahan pemilik baru secara simbolik, para tamu undangan pun langsung memberikan selamat kepada Anya dan kemudian menikmati menu makanan yang tersedia.
Sedangkan Axel sengaja menarik tangan Anya dan membawanya ke roof top dan menikmati kencan di atas sana.
__ADS_1
"Kau sangat cantik, Sayang!" bisik Axel saat mereka berdua berada di dalam lift sambil menggenggam tangan Anya.