Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Fitting Gaun Pengantin


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, mereka bertiga pun langsung menuju ke butik langganan Mama Icha. Kali ini Axel duduk di samping Tian yang mengemudikan mobil. Sedangkan Anya duduk di seat belakang bersama Mama Icha.


“Ada yang ingin mama tanyakan sama kamu, Anya. Apa kau tidak pernah berhubungan dengan saudara dari pihak Papa atau Mamamu?” tanya Mama Icha membuka percakapan.


Anya pun menggelengkan kepalanya, “Mereka sempat datang saat pemakaman Mama Divya. Tapi saat mengetahui Papa dirawat di ruang ICU dalam keadaan koma, mereka langsung memutuskan komunikasi dengan Anya!” Anya menghela nafasnya panjang.


Ingatannya kembali saat dimana ia menghubungi keluarganya satu per satu untuk dimintai bantuan menjaga papanya di rumah sakit. Satu pun tidak ada yang bisa. Apalagi saat Anya meminta mereka untuk membantu biaya rumah sakit. Nomor ponsel Anya langsung diblokir oleh mereka tanpa terkecuali.


Sampai akhirnya Anya memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya untuk menghapus rasa sakit hatinya kepada semua sanak saudaranya. Saat Papa dan juga Mamanya tengah Berjaya, mereka sering berkunjung ke rumahnya, tetapi, saat keluarganya mulai terjatuh, tidak ada satupun dari mereka yang menampakkan diri.


“Maaf, sayang! Mama tidak bermaksud untuk …”


“Tidak masalah, Mama! Ini memang sangat wajar mama tanyakan pada Anya.” Anya membalas ucapan mama Icha dengan tersenyum dan kemudian menceritakan tentang watak keluarganya yang tampak begitu gila harta. Entah dari saudara papanya ataupun mamanya. Mereka hampir semuanya sama.


“Kalau memang seperti itu, untuk apa memberitahukan kepada saudara Anya tentang pernikahan ini? Jadi, tidak perlu ada keluarga dari mempelai wanita juga tidak masalah, bukan?” timpal Axel yang turut geram setelah mendengar cerita dari Anya.


“Lagi pula, Anya kan anak kandung Papa! Cukup dari keluarga Papa saja yang akan menjadi sanak saudara dari mempelai wanita.”


Saran dari Axel kali ini disetujui oleh Mama Icha. “Baiklah, kalau begitu!” Mama Icha menggenggam tangan Anya dengan erat. “Maaf, ya, Sayang! Mama sudahh membuatmu merasa sedih karena pertanyaan mama tadi.”


“Gak papa, Ma! Toh semuanya juga sudah berlalu!” balas Anya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di butik milik teman Mama Icha. Kedatangan mereka pun langsung disambut oleh pemilik butik. Namun, pemilik butik sangat terkejut saat melihat Anya.


“Hai, kamu cantik sekali!” puji pemilik butik. “Ini yang kamu sebut sebagai menantumu, Jeng Icha?”


“Iya, Jeng Netta! Memang sangat cantik!” balas Mama Icha dengan bangganya memperkenalkan Anya dengan teman dekatnya.


“Tante juga cantik loh!” balas Anya balik memuji.


“Bisa aja, kamu! Eh, yuk masuk dan pilih gaun mana yang kamu suka. By the way, siapa namanya?” tanya Netta.


“Anya, tante!”


“Wah, namanya sangat cantik. Nah, ini gaun keluaran terbaru bulan ini dan limited edition, loh. Cuma ada 7 pilihan. Anya sama Axel pilih dulu ditemani sama karyawan tante gak papa kan? Tante mau ngobrol sebentar sama Mama kalian!”


“Oke, Tan! Selamat ghibah, ya!” balas Axel yang langsung mengambil alih menggandeng tangan Anya.


Sedangkan Mama Icha yang tadinya ingin fokus memilihkan gaun untuk Anya pun mau tidak mau mengikuti langkah Netta yang mengajaknya masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


“Jeng Icha! Itu tadi beneran menantu kamu?” tanya Netta yang tampak begitu terkejut.


“Iya, emangnya kenapa?” tanya Mama Icha.


Netta menelan ludahnya kasar. Kemudian ia pun mengambil sesuatu di dalam laci dan memperlihatkan kepada Mama Icha.


“Wajah Anya, benar-benar sangat mirip dengan teman sekolahku. Namanya Divya!” Netta kemudian memperlihatkan foto yang ia simpan di dalam laci.


“Hah, jadi, kamu temannya Divya?” tanya Mama Icha yang sangat terkejut dan Netta pun langsung menganggukkan kepalanya.


“Trus, kamu sudah tahu kalau Divya sudah meninggal?” tanya Mama Icha lagi dan Netta pun kembali menganggukkan kepalanya.


“Tapi, aku tidak melayat ke rumahnya!” balas Netta.


Mama Icha pun akhirnya menceritakan tentang kehidupan Anya selepas kedua orang tuanya meninggal kepada Netta. Bahkan sebab meninggalnya Divya juga diceritakan kepada Netta dimana itu semua adalah rencana pembunuhan yang dibuat oleh perempuan bernama Jacqueline.


Cerita Mama Icha kali ini membuat wajah Netta pias seketika. Terlebih saat Mama Icha bercerita jika Jacqueline diam-diam menyusup ke dalam Mansion Utama dan menyamar sebagai pembantu dengan nama Mbok Tumpi.


“Jadi, Jacqueline sekarang berada di Mansion Utama?” tanya Netta dengan wajah yang mulai was was.


“Sekarang sudah tidak karena keluarga kami meminta bantuan Tim Intel untuk menyergapnya dan membawanya ke Kantor polisi!” jelas Mama Icha.


“Bagaimana kau bisa tahu, Jeng Netta?” tanya Mama Icha penasaran.


“Karena aku adalah saudara kembar Jacqueline. Tapi, kami bukan kembar identik. Selepas SMA, aku memutuskan untuk kuliah desain di Paris dan pura-pura tidak mengetahui sepak terjangnya.”


“Dia benar-benar gila dan mengerikan! Siapapun yang menentangnya, bisa dipastikan akan meninggal dunia dengan tragis!” jelas Netta.


“Bahkan kegilaannya berhasil membuat nyawa papa dan juga mama melayang. Sayangnya, aku tidak bisa mengumpulkan bukti dari kegilaan Jacqueline.”


Penjelasan Netta barusan membuat Mama Icha sangat terkejut. Ia sedikit was-was mendengar pengakuan Netta yang ternyata saudara kembar Jacqueline. Kekhawatiran Mama Icha kali ini pun langsung terbaca oleh Netta.


“Jangan khawatir, Jeng! Aku tidak sama dengan Jacqueline. Meski lahir di waktu yang hampir bersamaan dan dalam Rahim yang sama, aku dan dia sangat jauh berbeda.”


“Dan satu lagi, aku bukan seorang l35bi4n!” tegas Netta.


“Kau lihat sendiri buktinya, aku memiliki anak dan juga suami!”


Kini Mama Icha mulai bernafas dengan lega. “Lalu, siapa nama Jeng yang sebenarnya?” tanya Mama Icha.

__ADS_1


“Aku Jacquenetta!”


“Aku percaya, Jeng Netta orang yang baik. Jacqueline sekarang sedang menderita di kantor polisi. Wajahnya masih melepuh akibat ledakan dari bomnya sendiri.” Mama Icha kembali menceritakan keadaan Jacqueline.


“Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya. Biarkan saja dia menderita untuk membayar semua sikap buruknya selama ini! Aku juga tidak mau menampakkan diri di depannya lagi. Bahkan sudah 25 tahun berlalu aku tidak pernah menemuinya.”


“Tepatnya sejak papa dan juga mama meninggal dunia. Dia juga tidak pernah tahu siapa suamiku dan berapa anakku saat ini!” jelas Netta.


Mama Icha semakin tenang mendengarnya. Meski ada ikatan darah dengan Jacqueline, Netta benar-benar sangat jauh berbeda.


“Dunia ini ternyata sangat sempit, ya!” balas Mama Icha.


“Mungkin jika Jeng Icha tidak membawa Divya kecil, aku juga tidak akan bercerita tentang hal ini. Oh iya, kita balik nemuin anak-anak fitting baju pengantin, yuk!” ajak Netta.


“Tadi aku juga udah minta karyawan untuk nyiapin minum dan kudapan di dekat ruang ganti!”


“Wah, jadi merepotkan Jeng Netta ini!” balas Mama Icha sambil melangkah keluar dari ruang kerja Jacquenetta.


Sesampainya di ruang fitting, tampak Anya tengah mencoba gaun pengantinnya yang berwarna putih. Terlihat sangat cantik dan begitu elegan.



“Gaun itu tampak sangat cocok denganmu, Anya!” ungkap Netta memberikan penilaian.


“Benar kata Jeng Netta! Terlihat sangat menawan bak princess!” timpal Mama Icha.


Axel yang memandangi istri mudanya pun tak bisa berkedip saking cantiknya. Namun, tiba-tiba Axel justru memberikan penilaian yang berbeda.


“Ck! Tapi aku tidak suka jika kecantikan tubuh istriku diumbar di depan tamu seperti itu!” tukas Axel kemudian.


“Tapi, nak! Namanya gaun pengantin kebanyakan seperti itu!” timpal Mama Icha.


Axel pun tidak memungkiri ucapan mamanya barusan. Sedari tadi, hampir semua gaun modelnya pasti terbuka.


“Tante Netta, apa tidak ada lagi gaun yang depannya tertutup? Tanya Axel kemudian.


“Emmh, ada sih. Tapi masih butuh finishing dan belum sempurna. Tunggu di sini, ya! Biar tante ambilkan dulu.”


Netta pun langsung keluar dari ruang fitting dan menaiki anak tangga untuk menuju ke ruang produksi. Tak lama kemudian, ia langsung turun sambil membawakan gaun yang masih dalam proses finishing. 

__ADS_1


__ADS_2