Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Menjenguk Hellencia


__ADS_3

“Anyaa!”


“Anyaa!”


“Mana Anya, Dokter!”


Hellencia terus saja memanggil nama Anya sejak ia tersadar dari koma jam 4 pagi tadi. Sedangkan perawat yang sedari tadi ditugaskan untuk memantau Hellencia sudah tidak lagi menjawab pertanyaan pasien karena dijawab berkali-kali pun percuma.


Sedangkan Papa Richie dan juga Axel yang sudah tiba di rumah sakit pun tidak bisa langsung masuk menemui Hellencia. Keduanya ditahan di luar ruang ICU dengan alasan yang dibutuhkan pasien adalah kedatangan Anya.


“Anya tidak akan kami biarkan datang ke rumah sakit, Dokter!” tegas Papa Richie yang benar-benar tidak mau Anya kenapa-napa.


“Tapi kehadiran Anya tentunya sangat membantu dokter dalam melakukan tindakan pada pasien, Tuan Richie!” jelas Dokter Aimar.


“Betul, kondisi pasien kemungkinan akan segera membaik jika orang yang ia cari mau datang setidaknya menemaninya meski hanya satu atau dua jam!” timpal Dokter Kinar.


“Dan anda tidak perlu risau, Tuan Richie! Kami pasti akan menjaga Anya dengan sebaik-baiknya!” lanjut Dokter Firman.


Kini Papa Richie membuang nafasnya dengan kasar. Ia pun memandang ke arah Axel dan menanyakan bagaimana baiknya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Papa Richie dan juga Axel pun setuju jika Anya datang ke rumah sakit.


Asisten Pribadi Papa Richie langsung menjemput Anya di Mansion Utama. Dan sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Anya akan dikawal ketat oleh tim intel dan juga bodyguard wanita. Kali ini Mama Icha pun ikut serta mendampingi Anya.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, Anya dan juga Mama Icha kini sudah tida di rumah sakit. Kedatangan mereka yang dikawal ketat dan tidak biasa kali ini tentunya membuat pengunjung rumah sakit bertanya-tanya siapakah mereka.


Informasi tentang kedatangan Anya ke rumah sakit dengan pengawalan ketat pun diketahui oleh Jacqueline yang tentunya dari salah satu anggota komunitasnya yang tersebar sebagai mata-mata.


Sesampainya di depan Ruang ICU, Anya langsung diminta untuk mengenakan pakaian khusus dan masuk ke dalam dengan didampingi oleh 3 orang dokter yang memang menangani kasus yang diderita oleh Hellencia. Sedangkan Papa Richie dan yang lainnya tetap di minta untuk menunggu di luar ruang ICU.


Hellencia yang tadi sudah dijanjikan oleh perawat yang menjaganya jika Anya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sempat membuka mulutnya dan mulai mengkonsumsi jus buah yang disiapkan untuknya. Dan kini, ia kembali memejamkan matanya karena efek obat yang ia konsumsi tadi.


“Apa yang harus saya lakukan, Dokter?” tanya Anya yang merasa sedikit gemetar berhadapan dengan Hellencia.


“Duduklah di samping Hellencia, Anya. Aku akan mendampingimu!” jawab Dokter Firman.


Anya pun melangkahkan kakinya dan duduk di kursi yang ada di samping bed Hellencia. Baru saja Anya mendudukkan tubuhnya, mata Hellencia langsung terbuka dan menatap ke arah Anya. Kemudian senyumnya seketika merekah dengan sempurna.

__ADS_1


“Hai, bagaimana keadaanmu saat ini?” tanya Anya.


“Aku merindukanmu!” balas Hellencia membuat Anya langsung merinding saat mendengarnya.


“Kau tahu, Anya! Aroma parfummu sangat aku kenal dan membuat semangat hidupku kembali lagi!” tutur Hellencia lirih. Tangannya perlahan bergerak dan Anya langsung memegang tangan Hellencia.


“Aku tahu, sebenarnya kau adalah orang yang sangat baik, Hellencia! Hanya saja keadaan yang membuatmu seperti ini!” ucap Anya membuat buliran air mata Hellencia jatuh membasahi pipinya.


Entah apa yang dipikirkan Hellencia saat ini, Anya sama sekali tidak tahu. Tapi genggaman tangan Hellencia terasa semakin erat.


“Maafkan aku, Anya! Aku sudah membunuh Mamamu dengan tanganku sendiri!” ungkap Hellencia.


“Aku hanya menjalankan perintah dari Jacqueline gila itu. Dan sekarang, dia berusaha melenyapkan aku!”


Mendengar ucapan dari Hellencia, membuat Anya perlahan melepaskan genggaman tangan Hellencia. Namun, Hellencia terus berusaha menggenggam tangan Anya dan tampak begitu enggan untuk melepaskannya.


“Aku mohon maafkan aku, Anya! Aku bersalah!”


Sedangkan Anya mulai memalingkan wajahnya dan menahan dirinya untuk tidak menangis. Kali ini, Dokter Firman turun tangan untuk membantu Anya melepaskan tangannya dari genggaman Hellencia. Ia paham betul dengan apa yang dirasakan oleh Anya saat ini.


“Kali ini aku tidak akan melepaskan kekasih hatiku, Dokter!” tegas Hellencia membuat semua yang ada di dalam ruang ICU tercengang mendengarnya.


Sedangkan Anya mulai dipenuhi dengan keringat dingin karena ia harus bisa melepaskan diri dari Hellencia. Jangan ditanya lagi bagaimana gusarnya Papa Richie, Axel, dan juga Mama Icha melihat Anya yang sudah mulai pucat karena Hellencia tidak kunjung melepaskan genggamannya.


Tim Intel pun juga sudah mulai meminta izin kepada kepala Ruang ICU untuk membawa Anya keluar. Namun, Anya dari dalam memberi kode kepada semuanya bahwa ia baik-baik saja.


“Aku juga tidak ingin lepas darimu, kekasih hatiku!” balas Anya membuat mata Hellencia berkaca-kaca.


“Aku akan mengurus operasi keduamu dan teruslah semangat untuk sembuh. Setelah itu, kita bisa menghabiskan waktu untuk bersama!” balas Anya dan seketika genggamannya langsung terlepas.


Hal ini tidak disia-siakan oleh Dokter Firman yang langsung membawa Anya menjauh dari Hellencia. Sedangkan dua dokter yang lainnya pun langsung mengecek keadaan Hellencia secara detail.


“Sembuhkan, aku, Dokter! Kekasih hatiku menantikan kesembuhan ku!” pinta Hellencia yang tampak begitu semangat.


Sedangkan Anya langsung berlari keluar dari ruang ICU dan melepaskan pakaian khusus yang ia kenakan. Setelah itu Anya langsung mendekati Mama Icha dan menangis sesenggukan dipelukannya.

__ADS_1


“Anya jijik, Mama!” keluh Anya membuat Papa Richie dan juga Axel mengepalkan tangannya dengan geram.


“Aku tidak sudi membiayai operasi Hellencia. Lebih baik dia mati daripada terus menyusahkan begini!” ungkap Axel yang sudah mulai geram.


Namun, Prima langsung mengingatkan Axel jika ia sudah menandatangani surat operasi untuk Hellencia dan tidak bisa dicabut lagi karena hal ini berkaitan dengan pencabutan berkas Hellencia dari Kantor Polisi.


“Lebih baik kita bicarakan masalah ini di rumah!” timpal Mama Icha menengahi. “Anya butuh istirahat dan kondisi yang tenang!”


Papa Richie yang tadinya hendak komplain tentang keamanan Anya di dalam Ruang ICU tadi pun akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih untuk kembali ke rumah.


“Perawat, saya butuh kursi roda untuk membawa putriku!” pinta Mama Icha saat ada seorang perawat yang datang memberikan minuman untuk Anya.


“Baik, Nyonya!” jawab perawat tersebut yang langsung berbalik untuk mengambilkan kursi roda.


Namun, Axel langsung mencegahnya, “Tidak perlu! Biar aku sendiri yang membawa istriku sampai di luar!”


Axel langsung mendekati Anya dan menggendongnya ala bridal style. “Kita pulang, sayang!”


“Dan aku tidak akan pernah mengizinkan mu untuk bertemu dengan Hellencia meski keadaannya sekarat sekalipun!” tegas Axel.


Anya pun langsung menyandarkan kepalanya di dada Axel. “Makasih banyak, Bang!” ucap Anya.


Mereka pun langsung keluar dari rumah sakit. Namun, kali ini tim intel tidak mengikuti mereka dengan jarak yang dekat. Hanya Prima dengan Tian saja yang mengiringi Axel dan keluarganya karena mereka mulai menjalankan trik yang selanjutnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2