Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Kembali Pulang


__ADS_3

Di rumah sakit,


Hellencia sedang memandangi wajahnya di depan kaca sambil memoleskan lipstik di bibirnya. Ia sudah tidak lagi memakai pakaian rumah sakit dan kini sudah duduk di atas kursi roda bersiap menantikan jemputan. Sedangkan Bik Kurni sedang mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pulang.


“Meski penyakitku sudah sangat parah dan sampai dokter angkat tangan untuk menyembuhkannya, setidaknya aku merasa sangat Bahagia bisa kembali pulang ke apartemen dan berjumpa dengan Anya!”


Ucapan Hellencia membuat Bik Kurni geleng-geleng kepala. “Apa Nyonya Hellen tidak sadar diri juga?”


“Penyakit Nyonya sudah sangat parah dan sangat merepotkan banyak orang. Kenapa teguran dari Tuhan yang semacam ini masih saja membuat Nyonya masih menggila dengan menginginkan Nona Anya?” timpal Bik Kurni.


“Memangnya, Nyonya tidak takut jika nanti masuk neraka?”


Pertanyaan Bik Kurni kali ini membuat Hellencia tertawa, “Neraka itu memang tempat ku, Bik. Jadi sekalian aja maksiatnya. Jangan setengah-setengah!” balas Hellen.


Bik Kurni mengelus dadanya sendiri sambil geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Hellencia. Tak lama kemudian, Tian datang untuk menjemput dan langsung disambut Hellencia dengan suka cita.


“Akhirnya kau datang juga Tian!” sambut Hellencia.


“Iya, Miss! Tapi mohon maaf sebelumnya. Tuan Axel meminta anda menandatangani surat cerai ini sebelum pulang.” Tian langsung menyodorkan gugatan surat cerai untuk Hellencia.


Hellencia pun langsung membaca surat gugatan tersebut dan pembagian harta untuknya. Satu apartemen akan diserahkan untuk Hellencia dengan cuma-cuma setelah mereka berdua bercerai. Tidak hanya itu, kali ini Hellencia juga membaca surat pembebasan Anya atas dirinya.


“Anya membebaskan aku dari kantor polisi?” tanya Hellencia dengan mata berkaca-kaca. “Jadi, dia mencabut tuntutannya atas diriku?”


“Benar, Miss. Dan saat ini, Nona Anya menginginkan Miss Hellen untuk menandatangani surat gugatan cerai dari Tuan Axel,” jelas Tian.


“Lalu, kemana kau akan mengantarkan aku pulang? Aku butuh Anya!”


“Nona Anya masih kurang sehat dan saat ini masih di Mansion Utama. Kemungkinan saya akan mengantarkan anda pulang ke Apartemen.”


Hellencia langsung meletakkan kembali surat gugatan tersebut dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku tidak akan tanda tangan jika kau tidak membawaku ke Mansion Utama untuk bertemu dengan Anya!” ancam Hellencia.


Akhirnya, Tian pun menelfon Axel untuk memberitahukan keinginan Hellencia. Kali ini Tian sengaja melakukan panggilan video agar Hellencia mengatakan keinginannya sendiri kepada Axel.


Setelah perdebatan panjang di video call, akhirnya Axel mengizinkan Hellencia untuk pulang ke Mansion Utama terlebih dahulu dan bertemu dengan Anya.


“Oke, kalau kau memperbolehkan aku bertemu dengan Anya, aku akan langsung menandatangani surat ini!” ucap Hellencia dan kali ini Axel menghadapkan layar videonya ke arah Anya.

__ADS_1


“Hai, Miss Hellen!” sapa Anya.


“Tidak masalah, kan jika kali ini hanya aku yang menjadi istri satu-satunya Abang Axel?” tanya Anya yang suaranya terdengar merdu di telinga Hellencia.


“Tentu saja, Anya! Asalkan aku bisa bersamamu setelah ini!” balas Hellencia.


“Aku menunggu kepulanganmu, Miss!” balas Anya membuat hati Hellencia senang bukan main.


“Oke, Sayang! Aku akan segera pulang untukmu!” balas Hellencia yang kini sudah selesai menandatangani surat gugatan cerai dari Axel.


Selepas itu Hellencia pun bergegas untuk meninggalkan rumah sakit bersama dengan Tian dan juga Bik Kurni.


Sedangkan di Mansion, Tim Intel sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Maid Enci yang sengaja diperbantukan membersihkan Gudang pun saat ini sedang menyelidiki barang berbahaya apa saja yang selalu dibawa Jacqueline atau Mbok Tumpi di sakunya.


Sambil menyelidiki, Maid Enci juga mulai mengakrabkan dirinya dengan Jacquelin agar mau bercerita tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuannya datang ke Mansion Utama. Sayangnya, Jacqueline sangat susah untuk percaya dengan orang baru.


Mereka hanya saling bercerita jika tujuannya bekerja di Mansion Utama tidak lain untuk mendapatkan uang. Enci yang terhubung dengan tim intel lainnya pun kini mulai memancing untuk bercerita mengenai Anya dan juga Hellencia.


“Mbok tau gak, sebenarnya Non Anya itu istri mudanya Tuan Axel loh!” tutur Enci sambil mengelap kaca jendela.


“Istri tuanya masih di rumah sakit karena kanker serviks. Kemarin Nyonya Hellencia juga sempat koma karena sengaja disuntik dengan suntik mati. Untung saja pelakunya cepat tertangkap dan Nyonya berhasil melewati masa kritisnya di ruang ICU.”


“Oh, yaaa? Ajaib sekali!” timpal Jacqueline sambil tercengang. Ia tidak menduga jika Hellencia bisa pulih secepat ini.


“Benar, Mbok! Dan yang membuat Nyonya Hellencia bisa melewati masa kritisnya, tidak lain adalah Nona Anya! Denger-denger sih karena Nyonya Hellencia benar-benar mengharapkan kedatangan Non Anya.”


“Dan …” Enci kali ini sengaja menjeda kalimatnya.


“Dan, apa Maid Enci?” tanya Jacqueline yang sudah tidak sabar dengan cerita selanjutnya.


“Karena cinta Nyonya Hellencia terhadap Anya begitu besar.”


Jawaban dari Enci barusan membuat Hellencia tampak terkejut. “Benarkah? Apa yang kau maksud itu sebenarnya Hellencia adalah seorang l35bi4n?” tanya Jacqueline


“Benar, Mbok!”


Jawaban dari Maid Enci kali ini membuat tangan Mbok Tumpi mengepal dengan geram.

__ADS_1


'Sial! Jadi Hellencia benar-benar sudah selamat dari koma dan penyelamatnya adalah Anya!' rutuk Jacqueline dalam hati.


'Tidak boleh dibiarkan! Aku harus berfikir dengan cepat untuk menghancurkan mereka berdua secara sekaligus.'


"Mbok! Tolong yang di ujung sana dibersihkan lagi! Masih ada bangkai tikus yang tercecer di sana!" Maid Enci menunjuk ke ujung ruangan yang dekat dengan pintu kamar mandi.


"Aduh, jijik banget yang di sana itu Enci!" tukas Mbok Tumpi yang sudah bergidik saat melihat ada 5 bangkai tikus yang masih tertinggal.


"Bisa gak kalo kamu yang bersihkan!" pinta Mbok Tumpi yang sangat trauma dengan kejadian kemarin.


Maid Enci pun melangkahkan kakinya untuk membersihkan bangkai tikus yang hampir mengering. Tapi, baunya yang begitu menyengat membuat Maid Enci mual dan langsung memuntahkan isi perutnya ke lantai yang baru saja dibersihkan oleh Mbok Tumpi.


Bau menyengat dari bangkai tikus di ujung ruangan, kini bercampur dengan bau muntahan Maid Enci yang tadi pagi baru saja makan cumi saus tiram.


"Yaa Ampuuun, Maid Enci!" Mbok Tumpi langsung lemas melihat lantai yang sudah bersih, kini kembali kotor dan semakin parah.


"Maaf, Mbok! Enci memang gak bisa bau-bau yang seperti itu. Tapi kalo iki tidak langsung dibersihkan, nanti Nyonya besar semakin marah dan menambahkan hukuman untuk kita!" jelas Maid Enci mengiba.


Mendengar kata hukuman, Mbok Tumpi sendiri juga merasa sangat takut jika dihukum dengan yang lebih parah dari tugasnya saat ini.


"Ya udah. Kamu mendingan balik bersihkan kaca lagi. Biar aku yang bersihkan semuanya!" tukas Mbok Tumpi.


Maid Enci yang sudah lemas pun akhirnya memutuskan untuk keluar untuk menghirup udara segar.


"Maaf, ya, Mbok! Enci mau keluar dulu dari pada nanti muntah muntah lagi."


"Hemmm!" jawab Mbok Tumpi singkat sambil melanjutkan membersihkan ruangan.


'Sial banget sih! Sekali nya dapet temen, ini malah nambahin kerjaan. Bukannya bantuin!' gerutu Mbok Tumpi salam hati.


Sedangkan Maid Enci yang sudah keluar dari gudang pun langsung disambut oleh Maid Yira yang sudah membawakan minuman hangat untuknya.


"Diminum dulu, Neng Enci. Habis ini langsung istirahat saja karena kata Pak Malvin, akan ada tugas menanti sekitar satu jam ke depan!" tutur Maid Yira.


"Makasih banyak, Maid Yira!" balas Enci yang langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


 

__ADS_1


__ADS_2