
Anya kembali menyelimuti tubuhnya dan memejamkan matanya untuk meredakan rasa sakit yang tidak kunjung hilang di kepalanya. Tak lama kemudian, dokter Gita datang untuk memeriksa keadaannya secara menyeluruh.
“Nona Anya, saya mendapat laporan dari Tuan Axel yang terdengar begitu khawatir dengan keadaan anda. Dia meminta saya untuk datang kemari dan memeriksa anda yang jatuh pingsan karena mendengar hal yang sangat mengejutkan.”
“Jujur, mendengar cerita dari Tuan Axel tadi membuat saya juga mengkhawatirkan kondisi anda, Nona! Namun, kali ini saya sangat takjub mendapati kondisi anda tidak seperti yang saya bayangkan!”
Anya pun tersenyum mendengar ucapan dari Dokter Gita, “Awalnya, saya memang sangat shock dokter. Tapi, setelah dipikir-pikir, saya harus tetap siap menghadapi ini. Saya juga tidak ingin berangsur-angsur memikirkan masalah yang membuat saya stress dan nenatinya berpengaruh dengan janin yang saya kandung, dokter!”
“Mungkin masalah ini melatih saya untuk lebih kuat menghadapi masalah yang nantinya lebih besar lagi!” balas Anya membuat Dokter Gita sangat kagum mendengarnya.
“Saya jadi yakin, anak yang anda kandung ini kelak akan menjadi anak yang hebat karena terlahir dari mama yang sangat luar biasa kehebatannya!” timpal Dokter Gita sambil mengusap perut Anya.
“Terima kasih atas doa dan pujiannya, Dokter!” balas Anya sambil tersenyum. “Meskipun begitu, kepala saya masih sedikit terasa sakit!” lanjutnya sambil memijat kepalanya sendiri.
“Itu masih dalam taraf wajar, Nona! Tapi saya tidak akan memberikan obat kali ini. Pereda pusingnya cukup dengan beristirahat dengan baik!” ucap dokter yang hanya memberikan vitamin yang biasa dikonsumsi oleh ibu hamil.
“Ini vitamin untuk ibu hamil dan anda bisa mengkonsumsi susu kehamilan mulai hari ini. Jangan lupa untuk tetap mengkonsumsi makanan yang sehat juga, ya!” tutur Dokter Gita yang langsung dijawab Anya dengan anggukan kepala.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat istirahat, Anya!” ucap Dokter Gita dan undur diri dari hadapan Anya.
Tak lama setelah Dokter Gita keluar dari kamar Anya, Mama Icha masuk ke dalam kamar dengan membawakan makanan untuk Anya.
“Kamu harus makan dulu, kemudian minum vitaminnya, dan setelah itu istirahat dengan baik!” ucap Mama Icha sambil menyuapi Anya.
“Makasih, Mama!” ucap Anya sambil membuka mulutnya.
“Papa mana, Ma?” tanya Anya kemudian.
“Barusan dijemput polisi karena laporan yang dilayangkan oleh Hellencia dan tertuduh dengan perencanaan pembunuhan! Sedangkan Axel kini tengah mengikuti papanya bersama dengan Prima dan juga Tian!” jawab Mama Icha.
“Mama sangat paham, kamu pasti kecewa dengan Papa, Sayang!”
“Mama juga merasakan hal yang sama saat mendengar untuk yang pertama kalinya. Dan mama bingung saat itu harus berkata apa dengan Papa.”
__ADS_1
Mama Icha mengusap lengan Anya dengan lembut, “Kamu tahu, Anya. Axel justru lebih frustasi saat mendengar hal ini.”
“Hampir setiap hari mama lihat dia selalu gusar karena takut kehilangan kamu. Bukan Cuma Axel, Papa juga hampir setiap malam tidak bisa tidur nyenyak. Berguling ke kanan dan ke kiri tidak tentu arah. Matanya sangat sulit untuk dipejamkan karena khawatir, kamu nanti akan membencinya.”
“Akhirnya, mama sarankan untuk menemui montir bengkel dan menanyakan tentang rencananya dulu. Montir bengkel itu awalnya ketakutan karena tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh papa. Tapi akhirnya, ia memberikan rekaman CCTV dimana Hellencia justru membuat mobil Rizal semakin parah.”
“Papa sedikit lega dan tidak begitu merasa bersalah. Kemudian, ia memerintahkan Prima untuk mencari tahu kejadian kecelakaan kedua orang tua kamu. Cukup lama dan sulit karena ini semua butuh waktu hampir satu bulan lamanya.”
“Dan semalam, akhirnya Papa dan Mama mendapatkan informasi tentang rencana pembunuhan Hellencia dari Prima!” cerita Mama Icha kali ini membuat Anya merasa kasihan dengan Papa Richie dan juga Axel.
Rasa kecewa dan juga penyesalannya berangsur-angsur menguar dan di suapan terakhir, Anya merasakan sakit di kepalanya sudah berkurang.
“Mama mohon maafkan Papa, Mama, dan juga suamimu, Sayang!” pinta Mama Icha dengan tatapan penuh harap.
“Anya sudah memaafkan kalian semua! Terima kasih sudah hadir dan memberikan kehangatan buat Anya, Ma!” ucap Anya membuat Mama Icha terharu.
Keduanya pun langsung saling berpelukan dengan erat. “Terima kasih banyak, Anya Sayang! Hatimu memang sebaik bidadari! Tidak salah jika Axel sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu, Anya!”
“Anya juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian!” balas Anya.
“Mama di sini aja sama Anya!” pinta Anya dengan nada merengek. “Anya juga pingin tahu bagaimana perkembangan informasi dari Abang!” lanjutnya lagi.
Akhirnya Mama Icha pun memanggil Bik Kurni untuk membereskan piring bekas makanan Anya dan menemani Anya di kamar.
Sedangkan di sisi lain, pikiran Axel kali ini mulai bercabang kemana-mana. Selain memikirkan Papanya yang saat ini dibawa oleh polisi, Axel juga terus memikirkan Anya karena belum sempat meminta maaf kepadanya. Apalagi mengingat Anya yang baru kali ini mengacuhkannya, membuat Axel tidak bisa berfikir jernih.
“Tuan Axel kayaknya kepikiran sama Non Anya deh!” gumam Tian yang kini duduk di samping Prima yang tengah mengemudikan mobil.
“Iyalah, pastinya. Tapi kalo Tuan Axel gak ikut kita, siapa yang mau menjamin Tuan Richie di kantor polisi?” balas Prima yang sengaja menurunkan nada bicaranya.
“Setelah menandatangani surat jaminan Papa di kantor polisi, aku langsung pulang naik taksi. Tolong atur semuanya dengan baik, Prima!” timpal Axel.
“Siap, Tuan!” balas Prima. “Kebetulan saya juga sudah memanggil montir bengkel ke kantor polisi sebagai saksi kuat agar Tuan Richie bisa bebas hari ini juga!”
__ADS_1
Axel hanya manggut-manggut karena saat ini yang dipikirannya hanyalah Anya. Sesampainya di kantor polisi, Axel langsung mengurus berkas laporan yang baru saja selesai diketik dan langsung menandatangani berkas tersebut sebagai penjamin dan juga penanggung jawab Papanya.
Setelah itu Axel menemui papanya sebentar yang sedang menunggu untuk di BAP oleh polisi untuk memberitahukan jika ia tidak bisa menemani papanya.
“Papa!” panggil Axel yang kemudian duduk di samping papanya.
“Maaf, Pa! Kali ini Axel tidak bisa menemani papa karena Axel masih harus menemani Anya! Meskipun ada Mama di sana, tetap saja Axel tidak tenang sebelum mendapatkan maaf dari Anya.”
Papa Richie pun menganggukkan kepalanya, “Anya lebih penting, Axel! Sampaikan maaf papa juga untuknya. Apapun keputusannya dan penilaiannya terhadap papa, papa akan tetap menerimanya!” ucap Papa Richie berbesar hati.
“Oke, pa! nanti akan Axel sampaikan! Selamat berjuang dan Axel tunggu kepulangan papa!” ucap Axel yang kemudian mencium tangan papanya dan memeluknya sebentar untuk memberikan semangat.
Tepat saat Axel hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, Hellencia keluar daru ruangan polisi dengan penampilan yang berbeda.
Baju yang dikenakan oleh Hellencia tadi kini sudah berganti menjadi baju tahanan polisi dan wajahnya mulai tampak pucat pasi.
“Aku tidak akan tinggal diam, Axel! Aku akan menuntut Anya dan membuatnya mendekam di penjara bersamaku!” ancam Hellencia.
Axel pun berbalik dan membalas ancaman yang dilontarkan Hellencia kepadanya, “Dan aku tidak akan membiarkan Anya menginjakkan kakinya masuk ke dalam pintu jeruji sel selangkahpun, Hellen!” balas Axel.
Kini ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan kantor polisi. Namun, sebelum memesan taksi, ia memanggil Tian untuk membantunya.
“Tian, aku rasa Prima bisa menemani papa sendiri. Apalagi montir bengkel juga sebentar lagi akan datang.”
“Kali ini, aku butuh bantuanmu untuk memanggil pengacara yang mengurus surat perjanjian kontrak pernikahan antara aku dengan Anya!” titah Axel.
“Baik, Tuan! Saya akan segera memanggilnya untuk merapat ke apartemen.”
“Terima kasih, Tian!” Axel kemudian beralih memandang ke arah Prima. “Terima kasih juga, Prima!”
“Aku mengandalkan kalian berdua untuk membantu menyelesaikan masalah ini!”
“Sama-sama Tuan Axel!” jawab Tian dan Prima beriringan.
__ADS_1
“Tian, kamu bisa gunakan mobilnya.” Prima melemparkan kunci mobil ke arah Tian. “Kemungkinan aku akan berada di sini cukup lama. Selepas urusanmu selesai, kau bisa kembali lagoi untuk menjemput kami!”
“Oke, Prima!” Tian pun langsung menjalankan perintah dari Axel. Sedangkan Axel bergegas pulang ke Apartemen dengan taksi yang sudah menunggunya di depan kantor polisi.