Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Penolakan Halus


__ADS_3

“Anya takut buat ketemu sama Hellencia, Bang! Abang tahu kan, kedatangan Anya selalu memperkeruh keadaan. Takutnya, Hellencia gak jadi mati dan justru hidup lebih lama lagi!” ucap Anya yang sangat trauma dengan perlakuan Hellencia terhadapnya.


“Yaah, bukannya Anya berharap Hellencia cepet mati, Bang! Kalo hidup dengan keadaan seperti itu juga kan kasihan!” lanjut Anya sambil menyiapkan makan siang untuk Axel.


Penuturan Anya memang benar adanya. Apa yang saat ini terjadi pada Hellencia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Anya. Kesulitannya dalam menghadapi ajal juga tak lain adalah karena kesalahan yang ia perbuat selama ini.


Sekarang, Axel justru merasa sangat bersalah dengan istrinya karena sudah menanyakan hal ini kepada Anya. Seharusnya, ia bisa tegas untuk menolak permintaan dari polisi. Apalagi Anya masih sangat trauma dengan sikap Hellencia.


Axel pun berjalan dan memeluk Anya dari belakang. “Maafkan aku yang sudah mengorek kembali rasa takutmu, Cinta!” ucap Axel.


“Dia adalah orang paling mengerikan dalam hidup, Anya, Bang!” ungkap Anya dengan mata yang berkaca-kaca.


“Anya takut!” ungkapnya lagi dan Axel langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.


Tak lama kemudian, ponsel Axel kembali berdering dan menampilkan panggilan masuk dari Kantor Polisi. Axel pun menerima panggilan tersebut tanpa mengendurkan pelukannya sedikitpun.


“Halo!”


“Selamat Siang, Pak Axel! Kami dari kepolisian mengabarkan jika Narapidana bernama Hellencia kini sudah menghembuskan nafas terakhirnya!”


Informasi yang didengar dari kepolisian membuat Axel bernafas lega.


“Huft, syukurlah! Terima kasih untuk informasinya! Saya minta tolong untuk diuruskan segera jenazah Hellencia dan saya akan segera mengirim biaya pemakamannya!” ucap Axel.


Bukan hanya Axel, Anya pun ikut bernafas lega mendengar hal ini. Ia pun semakin mengeratkan pelukannya dengan Axel dan membenamkan wajahnya di dada Axel dengan manja.


Setelah Axel mematikan panggilannya, ia menarik dagu Anya dan menatapnya secara intens, “Sudah tidak ada lagi yang perlu ditakutkan, Cinta!” ucap Axel dan Anya langsung menjawab dengan anggukan kepalanya.


“Hellencia tidak akan lagi menjadi selulit dalam kehidupan kita!”


“Aku hanya ingin hidup Bahagia dengan tenang!” balas Anya yang sudah tidak segusar tadi.


“Dan Kau akan mendapatkan itu, Sayang! Karena Tuhan pasti akan berpihak kepada yang baik!” balas Axel.


Anya pun tersenyum dan melepaskan dirinya dari pelukan Axel.


“Oh iya, Bang! Tadi Anya bikin menu baru loh! Mau Cobain, gak?” tawar Anya.


“Tentu, Cinta! Emang istri Abang ini baru bikin apa, sih?” tanya Axel.

__ADS_1


Anya pun langsung mengambil gelas cantik dan mengisinya dengan minuman eksperimen yang baru saja ia buat. “Ini namanya Matcha Panna Cotta!” tutur Anya sambil menghias minumannya dengan sangat cantik.


“Dibuat dari susu cair yang dicampur dengan coklat putih dan juga matcha, kemudian dipadukan dengan gelatin, air dan juga gula pasir!” jelas Anya membuat mata Axel berbinar.


“Wow! Istriku memang sangat luar biasa!” puji Axel yang kemudian mencicipi minuman buatan Anya.


“Sangat lembut, takaran bahan-bahannya juga pas, rasanya juga … emm, sangat legit dan bisa bikin pengunjung ketagihan!” ucap Axel memberi penilaian.


“Benarkah selezat itu?” tanya Anya sedikit tidak percaya. Anya sendiri belum sempat mencobanya, karena setelah membuatnya, minuman tersebut belum bisa dinikmati sebelum dimasukkan ke dalam kulkas selama 3 jam.


“Mana mungkin aku berbohong, Cinta! Coba saja sendiri!” Axel pun menyendokkan minuman buatan Anya ke mulut istrinya.


“Emmh, buat pemula sih lumayan!” tutur Anya yang membuat penilaian berbeda.


“Lumayan?” Axel mengernyitkan dahinya. “Ini sangat nikmat, Cinta!” tegas Axel yang langsung mematahkan penilaian Anya.


“Mana mungkin?” balas Anya lagi. “Bukankah masih nikmat permainan panas kita?” lanjut Anya sambil mengerlingkan matanya.


“Oh My God! Aku sangat suka istriku yang seperti ini!” Axel langsung meletakkan minumannya di atas meja.


“Kau membuatku ingin menunda makan siang kita dan menggantikannya dengan memakanmu, Cinta!” bisik Axel tepat di telinga Anya.


“Yah, trus bisanya kapan, dong? Nanti malem juga kita mau meeting sama tim Wedding Organizer. Besok malam dan seterusnya, Papa dan Mama pasti akan nyuruh kita buat bercengkerama sama saudara yang udah datang buat acara nikah!”


“Mana tadi malem juga belum sempet bobol gawang lagi!” gerutu Axel mengingat semalam saat ia dan Anya hendak menyatukan milik mereka, tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari papanya yang menanyakan pulang ke Mansion atau tidak.


Wal hasil, setelah menerima panggilan dari Papa Richie, Anya dan juga Axel memutuskan untuk tidur dan tidak melanjutkan permainan panas mereka.


“Emm, kayaknya habis acara pesta pernikahan, deh, Bang!” jawab Anya membuat Axel menghela nafasnya panjang.


“Yaaah, masih minggu depan dong, Cinta! Kasihan atuh, Otong punya Abang!” timpal Axel merajuk.


Cup! Satu kecupan singkat langsung mendarat tepat di bibir Axel.


“Kita puasa dulu, ya, Bang! Kata orang nih yaa, kalo abis puasa lama, nanti mainnya pasti enak banget, deh!” balas Anya sambil terkekeh pelan.


“Serius, nih?” tanya Axel yang tampak tidak percaya.


“Tentu saja! Bahkan kayak baru main untuk yang pertama kalinya loh sama Anya!” balas Anya meyakinkan suaminya.

__ADS_1


“Ck, perasaan punya kamu selalu sempit, deh!” Axel langsung menahan tangan Anya yang sedang menyendokkan nasi ke dalam piringnya.


“Sebelum makan, kasih Abang jatah dulu, yuk!” ajak Axel yang langsung menarik tangan Anya keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke lift.


Tepat saat pintu lift terbuka, ponsel Anya berdering dan kali ini tampak ada panggilan masuk dari Mama Icha.


“See! Mama Icha udah telfon, nih!” ucap Anya sambil menjawab panggilan masuk dari Mama Icha.


“Alamaaak! Jadi ini beneran harus puasa ya?” gumam Axel sambil mengusap wajahnya kasar.


“Halo, Sayang! Mama udah ada di Resto bawah ini. Lagi nunggu depan lift mau ke ruangan kamu!” ucap Mama Icha di ujung panggilan.


“Oh, mama udah dateng, ya?” tanya Anya yang langsung menarik tangan Axel untuk kembali masuk ke dalam lift dan balik ke ruangannya.


“Iya, Sayang! Memangnya Anya sekarang lagi apa?” tanya Mama Icha.


“Baru dari roof top nih, sama Abang! Mama Icha belum makan siang, kan? Nanti kita makan siang bareng, ya!” ajak Anya.


“Dari roof top? Mama gak lagi ganggu kalian berdua, kan?”


“Jelas enggak, dong, Ma! Ini Anya sama Abang juga baru mau makan siang!” balas Anya


Axel yang sengaja mendekatkan telinganya ke ponsel Anya pun langsung menggerutu kesal,


“Ck, kata siapa gak ganggu! Mama tuh ganggu banget siang ini!” celetuk Axel.


Mama Icha yang mendengar kekesalan putranya hanya tertawa di ujung panggilan.


“Omongan Abang gak usah di dengerin, ya, Ma! Ya udah, sampai ketemu di ruangan Anya, Ma!” Anya pun langsung mengakhiri panggilannya dan menatap tajam ke arah Axel.


“Ish, Abang ini ya bikin malu Anya aja!” protes Anya sambil mencubit pinggang Axel.


“Awh, sakit, Cinta!” keluh Axel sambil mengusap pinggangnya.


Pintu lift pun terbuka dan Anya sengaja berjalan lebih dulu dari Axel. “Salah siapa udah bikin Anya malu!”


“Iya, deh! Iya! Kali ini Abang ngalah dan minta maaf. Abang janji gak akan ulangi lagi!” balas Axel sambil mengejar langkah istrinya.


“Berarti, Abang setuju kan buat puasa dulu sampai pesta pernikahan?” tanya Anya kemudian.

__ADS_1


Axel menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Iya deh, Abang setuju!” balas Axel dengan sangat terpaksa.


__ADS_2