
Axel dan Anya kini sudah berada di ruang IT dan mulai memeriksa tangkapan CCTV. Tidak perlu menghabiskan waktu yang panjang, mereka sudah menemukan wanita yang ia curigai. Terlebih sebelumnya Dokter Firman sudah memeriksanya terlebih dahulu.
Setelah menemukan wanita yang dicurigai, Dokter Firman langsung memanggil bagian keamanan rumah sakit yang sebelumnya sudah diperintahkan untuk mengcopy kartu identitas setiap pengunjung yang datang ke rumah sakit. Dan dalam waktu yang singkat, mereka mendapatkan identitas pengunjung yang terekam oleh CCTV.
“Miranda?” gumam Anya saat membaca identitas yang masuk di bagian keamanan.
“Iya, Anya. Apa kau mengenalnya?” tanya Dokter Firman dan Anya langsung menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak pernah mengenal nama itu sebelumnya!” timpal Anya yang memang tidak pernah tahu teman mamanya yang bernama Miranda.
“Siapa tahu teman Mama Divya? Gimana kalau kita tanyakan hal ini dengan papa?” tawar Axel dan Anya pun langsung setuju.
“Titip Hellen ya, Dokter!” pinta Axel.
“Oke, Good luck, ya!” balas Dokter Firman.
Anya dan Axel pun bergegas menuju ke parkiran mobil. Namun, tiba-tiba ada perempuan yang berlari dari arah yang berlawanan dan menabrak Anya.
“Awh!” pekik Anya kesakitan karena lengannya terhantam cukup kencang.
“Maaf, Nona! Saya benar-benar minta maaf! Saya baru saja dikejar oleh penagih hutang!” ucap seorang wanita paruh baya dengan rambut yang di gulung ke atas dan kaca mata tebal. Tidak hanya itu pakaian yang ia kenakan cukup tradisional, kebaya kutu baru yang tampak lusuh.
“Lain kali hati-hati, bu! Istri saya ini sedang hamil!” tegur Axel sambil mengusap lengan Anya.
“Anya gak papa kok, Bang! Yuk, kita langsung pergi aja!” ajak Anya yang sedikit curiga dengan wanita yang barusan menabraknya.
Axel pun langsung mengangguk dan kembali melanjutkan langkah mereka ke tempat di mana mobilnya terparkir. Namun, Anya justru mengajak Axel untuk memesan taksi.
“Bang, kita naik taksi aja yaa!” pinta Anya yang permintaannya terdengar tidak wajar.
“Why?” tanya Axel dan Anya langsung mengusap perutnya untuk memberi kode jika dia sedang ngidam untuk naik taksi.
Axel yang sebenarnya sedikit buru-buru pun hanya bisa menghela nafasnya panjang. “Okey, kita pesan taksi ya!” balas Axel membuat Anya menghela nafasnya lega. Ia pun mengambil ponselnya di dalam tas untuk melihat wanita yang tadi menabraknya.
‘Aneh! Ini benar-benar aneh!’ gumam Anya dalam hati.
Sedangkan Axel langsung memanggil sopir taksi yang kebetulan mangkal di depan pintu gerbang rumah sakit. Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam taksi. Tapi perhatian Anya tidak lepas dari wanita yang tadi menabraknya.
__ADS_1
“Ada apa, Sayang?” tanya Axel yang mengikuti pandangan Anya kali ini.
“Apa kau masih menyimpan dendam terhadap wanita paruh baya itu?”
Pertanyaan Axel kali ini pun mengalihkan pandangan Anya.
“Tidak, Bang! Aku hanya merasa sedikit aneh saja. Wanita yang menabrakku tadi tampak sengaja melakukannya dan aku perhatikan tidak ada seorang pun yang mengejarnya!” jawab Anya membuat Axel mulai risau.
"Kali ini kau dalam bahaya, Sayang!" ucap Axel sambil menggenggam tangan istrinya.
"Aku yakin, wanita tadi juga akan mengikuti kita. Lebih baik sekarang kita segera pergi ke tempat yang aman!" balas Axel yang langsung minta diantar oleh sopir taksi ke kantor polisi.
Sedangkan di sisi lain, wanita yang sengaja menabrak Anya tadi pun memang mengikuti taksi yang membawa Axel dan Anya.
"Aku kira mereka datang dengan mobil pribadi. Ternyata dugaanku salah dan aku tidak bisa mengenal plat mobil milik Axel kali ini!" gumam Jacqueline sambil mengemudikan mobilnya.
Sejak semalam menyuntikkan cairan yang menyebabkan disfungsi beberapa organ Hellencia, ia memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah sakit dan memilih untuk beristirahat di mobil.
Sebab, ia pasti akan bertemu dengan Anya keesokan paginya. Benar saja dugaan Jacqueline, Anya datang ke rumah sakit bersama dengan Axel untuk melihat keadaan Hellencia.
Tepat saat taksi yang dinaiki oleh Anya berbelok ke kantor polisi, Jacqueline langsung memukul setir mobilnya dengan kesal.
“Seharusnya sejak awal aku meminta semua alamat tinggal Hellencia selain apartemen yang kini sudah kosong tak berpenghuni!”
Jacqueline yang sedari malam belum istirahat pun mulai lelah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan membuntuti Anya.
Sedangkan Anya yang sedari tadi memperhatikan mobil yang membuntutinya pun langsung merekam nomor polisi mobil tersebut.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan di sini?” tanya Axel yang sudah membayar ongkos taksi.
“Kita harus mencari tahu siapa pemilik mobil dengan nomor polisi ini, Bang!” Anya memperlihatkan nomor polisi yang sudah ia rekam di kepalanya kepada Axel.
“Wow, super genius! Maaf, Sayang! Sedari tadi aku fokus dengan iPadku sampai tidak sadar jika bahaya sedang mengikutimu!” ucap Axel yang mera sangat bersalah.
Anya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak masalah, Bang! Kali ini kita tidak boleh lengah!”
Keduanya pun langsung masuk ke kantor polisi dan menanyakan informasi tentang plat mobil yang sedari tadi mengikuti Anya. Setelah mendapatkan informasi, Anya dan juga Axel pun memutuskan untuk pulang. Kebetulan, Prima juga sudah menjemput mereka.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan papa?” tanya Anya kepada Prima yang sudah mulai mengemudikan mobilnya.
“Sudah lebih baik, Nona! Saat ini Tuan Richie juga sedang menunggu kepulangan anda!” balas Prima.
Sepanjang perjalanan pulang, Axel tidak lagi fokus pada pekerjaannya. Ia justru menggenggam tangan Anya sambil terus memperhatikan belakang mobilnya lewat kaca spion.
“Jika semalaman orang yang ingin mencelakai aku berjuang penuh untuk masuk ke ruang rawat Hellen, kemudian paginya ia menunggu kedatanganku dan bahkan membuntuti kemana aku pergi, pasti saat ini ia sudah kembali ke rumah, Bang! Kecuali anak buahnya sangat banyak!”
“Tapi, aku rasa ia tidak punya anak buah yang mengerikan seperti pembunuh bayaran.”
Penjelasan Anya kali ini membuat Axl mengernyitkan dahinya.
“Bagaimana kau mengetahui hal ini, Sayang?” tanya Axel yang tidak menyangka jika istrinya sangat jeli mengenai hal ini.
“Aku pernah belajar tentang alur seperti ini, Bang! Dulu, mama mempelajari hal ini secara khusus padaku!” jawab Anya.
“Mama Divya memang sangat hebat untuk hal ini dan kini, Aku mengkhawatirkanmu, Sayang!” tukas Axel yang semakin mengeratkan genggamannya.
“Jangan khawatir, Tuan! Saya sudah mulai mengerahkan body guard dan juga mata-mata untuk masalah ini!” timpal Prima yang memang sudah mendapatkan perintah dari Papa Richie.
“Ke depannya, Nona Anya akan selalu dikawal dan ini perintah Tuan Besar Richi karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan putrinya!” lanjut Prima lagi dan tentunya membuat Axel merasa lebih tenang.
“Waspada yang selanjutnya jika pengawalan ketat seperti ini adalah, pengecekan setiap asisten rumah tangga dan bodyguard!” tegas Anya.
“Karena dalam beberapa hari ke depan, orang ini pasti akan menyamar menjadi salah satu dari mereka untuk mendapatkan akses dekat dengan korban yang dituju!” lanjut Anya yang kembali memberi gambaran tentang kemungkinan yang akan terjadi.
“Siap, Nona muda! Saya akan mengeceknya sedetail mungkin bersama Tian!” lanjut Prima.
“Tetap harus ada satu perempuan yang dipercaya, Prim!” timpal Axel.
“Kamu tidak mungkin mengecek seorang perempuan sampai begitu detail, kan?” lanjutnya lagi mengantisipasi jika orang yang akan mencelakai Anya adalah seorang wanita yang menyamar.
“Siap, Tuan!” balas Prima.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Prima pun tiba di kediaman Anya. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya Anya saat semua asisten rumah tangga sedang mengemasi barang-barangnya.
“Papa, Mama, ada apa ini?”
__ADS_1