
Anya dan Axel sangat terkejut mendengar kematian Regi yang tiba-tiba. Terlebih kematiannya kali ini karena bunuh diri. Kabar mengejutkan ini juga diketahui oleh Papa Richie dan juga Mama Icha. Akhirnya, mereka berempat memutuskan untuk berkumpul di Mansion Utama untuk membicarakan hal ini.
“Kita tidak bisa langsung melayat malam ini juga. Kematian Regi karena bunuh diri pasti membuat polisi mencari tahu sebab musababnya. Papa tidak mau hal ini menjadi masalah dalam keluarga kita!” tegas Papa Richie yang melarang semuanya untuk pergi melayat.
“Abang juga gak setuju kalau istri Abang pergi malam ini juga. Lebih baik besok kita melayat selepas pemakaman. Abang tidak mau terjadi apa-apa denganmu, Cinta!” timpal Axel yang terus menggenggam erat tangan Anya.
Anya terdiam sambil menundukkan kepalanya, “Anya hanya khawatir jika Mbak Regi bunuh diri karena ucapan Intel Ika tadi yang melarangnya menginjakkan kaki di lantai ruang kerja.”
Intel Ika yang kini juga berada di Mansion Utama hanya diam seribu Bahasa. Ia tadi sudah mengatakan jika yang disampaikan kepada Regi adalah hal yang sangat wajar. Tentunya tidak mungkin sampai membuat Regi nekat untuk bunuh diri.
“Sayang, percayalah! Ini pasti bukan karena pekerjaan, ucapanku, ataupun ucapan Intel Ika. Jika memang Regi sakit hati karena kita, pasti dia sudah bunuh diri di Restoran dan menarik kita dalam masalah kematian dia.”
“Tapi, Regi justru bunuh diri di rumahnya. Sudah pasti dia memiliki masalah dengan keluarganya. Bisa jadi juga jika dia tertekan karena orang-orang yang ada di sekitarnya, Cinta.”
“Hamil di luar nikah dan tidak ada pria yang mau bertanggung jawab atas kehamilannya pasti membuat Regi sebagai bahan cibiran,” jelas Axel panjang lebar.
Anya terdiam sambil menganggukkan kepalanya. Apa yang diucapkan suaminya memang benar adanya. Hatinya kini mulai tenang meski masih ada perasaan kasihan dengan keadaan Regi saat ini. Tak lama kemudian, Tian dan juga Prima tiba di Mansion Utama dan membawa kabar yang ia dapatkan dari rumah sakit.
“Polisi sedang menyelidiki Pak Joko dan juga Bu Diba mengenai putrinya yang memutuskan untuk bunuh diri, Tuan Richie!” lapor Prima sambil menyerahkan data yang ia terima dari rumah sakit.
Data dan gambar yang diserahkan oleh Prima memperlihatkan jika polisi memang sedang mencari tahu tentang alasan Regi bunuh diri. Di dalam data tersebut, tertulis jika alasan Regi menghabisi nyawanya sendiri tak lain karena tidak kuat untuk mendengarkan cibiran para tetangga.
Keadaan Regi yang sedang mengandung hampir menginjak usia 8 bulan tidak kuat lagi menghadapi cibiran tetangga karena sampai saat ini tidak ada lelaki yang mau bertanggung jawab menikahinya. Dan kini, bayi Regi berhasil diselamatkan lewat operasi caesar dan langsung masuk ke dalam inkubator.
“Saya juga sudah menyelidiki di sekitar kediaman Regi. Para tetangga juga mengatakan hal demikian, jika Regi meninggal dunia karena tidak kuat menghadapi cibiran tetangga,” jelas Tian yang memang ditugaskan untuk mencari informasi di kediaman Regi.
Penjelasan mereka berdua membuat Anya dan yang lainnya bernafas lega. Setidaknya, kematian Regi saat ini bukanlah karena keluarga besar mereka.
🥠🥠🥠
__ADS_1
Keesokan harinya, Anya, Axel, Papa Richie, dan juga Mama Icha sudah siap untuk ikut serta dalam pemakaman Regi yang akan dimakamkan jam 7 pagi. Keluarga Papa Richie langsung menuju ke pemakaman beserta dengan ajudan mereka yang tak lain adalah Prima, Tian, dan juga Intel Ika.
Sesampainya di gerbang pemakaman, Anya turun dari mobil didampingi oleh Axel. Kedatangan Anya dan yang lainnya membuat semua mata tertuju pada mereka, terutama keluarga besar Anya yang turut hadir dalam pemakaman.
Melihat keadaan Anya yang sudah jauh lebih baik, membuat hampir seluruh keluarga besar Anya menyesal karena pernah mengacuhkannya. Mereka hanya bisa melempar senyum ke arah Anya dan menyapa dengan menganggukkan kepala.
Sampai prosesi pemakaman selesai, mereka baru bisa mendekati Anya dan menyalaminya sambil menanyakan kabar.
“Apa kabar, Anya?” tanya Om Luki, adik dari mendiang Mama Divya. “Maaf, Om pernah mengacuhkanmu saat kau meminta tolong beberapa waktu yang lalu, Anya!” ucap Om Luki yang merasa sangat bersalah.
“Maafkan tante juga, Anya! Kita semua hanya mengikuti perintah dari Budhe dan juga Pakdhemu,” timpal Tante Nila, istri Om Luki.
Seluruh keluarga besar Anya pun akhirnya menemui Anya dan saling meminta maaf dengan Anya karena saat Anya membutuhkan, mereka tidak ada yang datang satu pun. Anya pun memaafkan mereka dengan lapang dada dan mengajak keluarga besarnya untuk singgah di Restoran miliknya.
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Anya menyampaikan kepada Axel tentang keinginannya untuk menjalin hubungan kembali dengan keluarga besarnya.
“Abang, tidak masalah bukan jika Anya ingin memperbaiki hubungan Anya dengan keluarga besar Anya?”
“Abang memang tidak begitu mengenal keluarga besar istri tercinta Abang ini. Hanya saja, mengingat mereka pernah mengabaikanmu membuat Abang tidak ingin memberikan kesempatan mereka untuk berubah menjadi baik.”
“Tapi, Abang juga tidak bisa menolak keinginan istri cantik Abang ini.” Axel mengusap kepala istrinya dengan sangat lembut.
“Trus, menurut Abang bagaimana?” tanya Anya kemudian.
“Hanya satu kesempatan saja, Cinta. Jika mereka menggunakan satu kesempatan ini dengan baik, Abang akan terima,” balas Axel yang tidak ingin mengedepankan egonya sendiri.
“Terima kasih, Abang! I love you, so much!” ucap Anya yang langsung mendaratkan ciumannya tepat di bibir Axel.
Tangan Axel pun dengan sigap langsung menekan tengkuk leher Anya dan membalas ciuman istrinya. Keduanya saling berpagutan satu sama lain tanpa menghiraukan Tian yang sedang mengendarai mobil dan juga Intel Ika yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Sstt! Kalo belum punya pacar, gak perlu liat yang di belakang. Takut ntar kamu jadi kepingin loh!” bisik Tian pelan saat mobilnya sedang berhenti di lampu merah.
“Pak Tian kali yang kepingin!” balas Intel Ika dengan santai.
“Eits, kamu kok tahu sih! Saya emang udah kepingin loh, Intel Ika!” balas Tian dengan suara yang pelan.
“Kelihatan kali, Pak!” balas Intel Ika.
“Berarti kamu juga tahu, dong, kalau saya juga pingin begituan sama kamu!”
Blush! Ucapan Tian barusan membuat wajah Intel Ika langsung merah merona. Intel Ika yang pipinya sudah terasa sangat panas pun langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil terkekeh pelan.
“Dasar aneh!” celetuknya pelan.
Axel dan Anya yang sudah melepaskan ciuman mereka pun langsung saling berpelukan dengan mesra karena mereka berdua tidak mungkin melakukan hal yang lebih dari pada itu. Sesampainya di Diorama Restoran, Anya dan Axel langsung menyambut keluarga besar Anya bersama dengan Papa Richie dan juga Mama Icha.
Sedangkan Tian justru kembali menggoda Intel Ika dengan terus saja mengeluarkan kalimat rayuan jitunya. Kalau Prima, jangan ditanya lagi karena dia adalah orang yang sudah memiliki pasangan setia bukan jomblo seperti Tian.
Satu bulan kemudian,
Keluarga besar Anya pun benar-benar menyesali kesalahan mereka dan ingin merubah semuanya. Mereka semua benar-benar tulus memperbaiki hubungan dengan Anya tanpa pamrih sedikit pun. Tidak seperti Budhe Diba dan Pakdhe Joko yang selalu berambisi mendapatkan harta.
Budhe Diba dan Pakdhe Joko juga sudah berhasil menjual bayi cantik Regi kepada seorang yang mandul dan sangat menginginkan anak dengan biaya yang cukup fantastis, yaitu sebanyak 2 miliar. Sayangnya, uang sebanyak itu justru dibawa lari oleh Pakdhe Joko dan membuat Budhe Diba sangat marah.
Budhe Diba meminta bantuan saudara-saudaranya dan tidak ada satupun saudaranya yang mau membantu. Sampai akhirnya Budhe Diba depresi dan mendekam di dalam rumah sakit jiwa.
🍡🍡🍡
Terima kasih banyak untuk yang sudah mengikuti Novel aku “Gairah Istri Muda”. Akhirnya, kehidupan Anya dan Axel sudah bahagia. Anya sudah bukan lagi istri kedua melainkan satu-satunya istri dari Axello Richandra.
__ADS_1
Kira-kira, masih ada yang mau extra part-nya gak sih?
Jangan lupa untuk mampir ke Novel aku yang lainnya yaa, “Target Cinta Om Duda” dan “Lintasan Cinta BadBoy”