
Malam ini, Hellencia sudah tidak merintih kesakitan lagi. Tetapi, matanya sangat sulit untuk terpejam. Pandangannya menatap ke langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong. Bik Kurni yang sudah mulai ditugaskan untuk menjaga Hellencia pun sudah terlelap di sofa.
‘Aku harus sembuh!’ gumam Hellencia dalam hati.
‘Aku harus berjuang untuk mendapatkan cinta terakhirku dan menguak siapa dalang dari semua masalah ini!’
‘Aku harus mengikat Anya untukku, bukan orang lain! Anya harus hidup bersamaku sampai titik akhir nafasku!’ batin Hellencia yang teruus saja memikirkan Anya.
‘Sekalipun ia menolakku, aku tidak akan pernah merasa kecewa sedikitpun. Karena ia pasti akan balik mencintaiku setelah merasakan sentuhan hangat dariku!’
Hellencia memejamkan matanya dan membayangkan kecantikan Anya yang tidak pernah bisa hilang dari ingatannya. Terlebih lekuk tubuh Anya yang pernah ia lihat beberapa kali saat Anya masih pertama kali jadi madunya.
‘Tuhan, Aku benar-benar mencintai Anya! Beri aku kesempatan hidup satu kali lagi untuk bersamanya!’ doa Helencia dalam hati.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan Hellencia kembali membuka matanya untuk melihat siapa yang datang. Perawat jaga masuk ke dalam ruangan tanpa membawa alat medis. Biasanya, perawat masuk dengan membawa alat medis untuk memeriksanya secara berkala.
Mata Hellen langsung membulat sempurna saat melihat dengan jelas siapa yang datang kali ini dengan menyamar mengenakan seragam perawat.
“Miss Jacqueline!” panggil Hellencia dengan suara tercekat.
“Hai, Sayang! Bagaimana kabarmu?” tanya Jacqueline yang kini sudah duduk di samping Hellencia.
“A-aku …” belum selesai Hellencia menjawab pertanyaannya, Jacqueline langsung memotong kalimatnya.
“Aku sangat prihatin dengan keadaanmu saat ini Hellencia. Meskipun begitu, aku sangat berterima kasih padamu karena sudah membantuku melenyapkan nyawa Miranda dan juga Divya!” ucap Jacqueline menyebutkan dua nama sahabatnya yang salah satunya adalah mama Anya.
“Dan sekarang, sepertinya aku sudah tidak membutuhkanmu lagi melihat keadaanmu yang tidak memungkinkan untuk menjalankan misi.”
Ucapan Jacqueline kali ini membuat Hellencia sedikit tidak terima. “Aku masih bisa menjalankan misi, Miss! Percayalah! Aku akan menghancurkan Anya dan juga keluarga Miranda.”
__ADS_1
Jacqueline terkekeh pelan sambil memindai tubuh Hellencia dari atas sampai ke bawah. “Dengan keadaan seperti ini?” tanya Jacqueline dengan nada yang meremehkan.
“Harusnya, kali ini adalah kematianmu, Hellencia! Karena kau sudah tidak berguna lagi dan bahkan bisa membuatku celaka. Tapi, aku rasa penyakit ganas dan menjijikkan yang bersarang di tubuhmu itu sudah cukup mengantarkanmu ke ambang pintu kematian!” tutur Jacqueline dengan tegas.
“Aku pengikut setiamu, Miss Jacqueline! Aku mohon, percayalah denganku!” pinta Hellencia yang sudah sangat ketakutan.
Senyuman Jacqueline pun merekah sempurna. “Aku sangat percaya, Hellen! Maka dari itu, aku akan membuatmu istirahat sejenak sampai misiku yang selanjutnya berhasil!”
Jacqueline merogoh sakunya dan kemudian mengambil suntikan yang ia simpan. Mata Hellencia pun terbelalak sempurna melihat suntikan yang ada di tangan Jacqueline. Ia pun langsung berteriak untuk membangunkan Bik Kurni.
“Jangaaan, Miss! Tolong, Bik Kurni!” pekik Hellencia bersamaan dengan masuknya suntikan Jacqueline di selang infus Hellencia.
“To – loong b-bik!” suara Hellencia tiba-tiba saja tidak keluar. Tubuhnya langsung kaku dan pandangannya menatap Jacqueline dengan tatapan kebencian.
Sedangkan Jacqueline hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. erlebih saat melihat Bik Kurni yang sama sekali tidak terjaga meski Hellencia sudah berteriak membangunkannya.
“Kali ini aku sudah tidak membutuhkanmu! Aku harus mendapatkan Anya dengan tanganku sendiri. Karena aku justru akan menyiksanya terlebih dahulu dan menjadikannya budak ku sebelum aku menghabisi nyawanya!”
Ucapan Jacqueline kali ini membuat Hellencia menitikkan air matanya. Tubuhnya yang terasa kaku dan sulit untuk digerakkan membuatnya sangat menyesal sudah bekerja dengan Jacqueline. Bahkan, awal ketidak normalannya ini juga karena pengaruh Jacqueline yang sangat besar.
Kini, penyesalannya sudah tidak berarti apa-apa lagi. Terlebih keadaannya sudah semakin parah dibuat oleh Jacqueline. Hellencia hanya bisa mengumpat dalam hati saat Jacqueline mulai beranjak meninggalkannya. Tak lama kemudian, matanya mulai tertutup dan Hellencia sudah tidak sadarkan diri.
😔😔😔
Pagi harinya, Anya yang masih berada di pelukan Axel pun mulai membuka matanya saat ponsel Axel terus saja berdering. Tangan Anya pun tergagap mencari ponsel Axel dan tampak panggilan dari Dokter Firman. Kemudian Anya langsung menggoyangkan tubuh Axel agar terbangun dari tidurnya.
“Bang, ada telfon dari Dokter Firman! Aku rasa ada kabar penting dari rumah sakit!”
Dengan berat, Axel membuka matanya dan menerima panggilan dari Dokter Firman.
__ADS_1
“Halo, Dokter! Ada apa?” tanya Axel dengan suara serak khasnya yang baru bangun tidur.
“Hellencia koma! Sekarang dia dipindahkan di ruang ICU.” Kabar dari Dokter Firman kali ini membuat Axel menghela nafasnya panjang.
“Benar-benar menyusahkan! Harusnya dia mengatakan terlebih dahulu siapa dalang pembunuhan Mama Divya sebelum mendekati ajalnya!” timpal Axel yang sudah tidak peduli dengan keadaan Hellencia.
“Aku rasa keadaan Hellencia kali ini tidak biasa, Axel. Sebelumnya, ada yang menemukan bekas suntikan mematikan di dalam saku baju perawat yang kotor.”
Penjelasan Dokter Firman kali ini membuat Axel sangat terkejut, “Apa maksudnya? Apa menurutmu keadaan Hellencia ini karena ulah sengaja seseorang yang ingin melenyapkannya?”
“Ya, datanglah segera ke rumah sakit! Agar masalah ini segera diusut secepatnya!” titah Dokter Firman yang baru saja mengecek bekas suntikan di laboratorium dan hasilnya adalah suntikan tersebut bekas larutan barbiturat , paralitik , dan kalium yang biasa digunakan untuk mematikan syaraf.
“Oke, aku akan segera merapat!” balas Axel yang langsung mematikan panggilannya.
Sedangkan Dokter Firman kini tengah memanggil beberapa perawat yang menjaga tadi malam untuk diinterogasi satu persatu. Suster Hulya yang kebetulan terjaga penuh tadi malam pun langsung bercerita.
“Semalam, saya memang melihat ada seorang perawat yang masuk ke dalam ruangan Nyonya Hellencia. Namun, ia tidak kembali ke ruang perawat jaga, melainkan justru berjalan menuju ke arah kamar mandi.”
“Saya pikir, ia memang mau buang air di sana. Tapi sudah satu jam lebih, tidak ada perawat yang keluar dari kamar mandi. Karena khawatir, saya mencoba menyusul ke kamar mandi. Sayangnya, saya tidak menemukan orang sama sekali dan menemukan seragam yang digunakan perawat di tong sampah!” jelas Hulya panjang lebar.
“Lalu, apa sebelumnya kamu melihat ada orang lain yang keluar dari kamar mandi?” tanya Dokter Firman yang langsung dijawab Hulya dengan anggukan kepalanya.
“Ada sekitar 3 orang, dokter!” jawab Hulya.
“Kalau begitu, segera minta bagian IT untuk mengecek CCTV tadi malam!” titah Dokter Firman.
Meskipun Dokter Firman tidak bisa mendapatkan cinta dari Anya, dia masih ingin membantu Anya untuk menyelesaikan masalah.
__ADS_1