Gairah Istri Muda

Gairah Istri Muda
Pingin Nyerah


__ADS_3

“Mama!” panggil Axel sambil duduk di depan Mama Icha.


“Aku gak bisa ngeliat Anya berdua-duaan sama Dokter Firman. Aku cemburu, Ma! Aku beneran nyerah buat tutupin kondisi mama kalo kayak gini!” ungkap Axel yang uring-uringan di depan mamanya.


“Gak bisa, Axel! Mama gak mau Anya pergi jauh dari keluarga kita. Mama cuma mau Anya didekat kita demi papa. Tanpa papa, kita tidak mungkin bisa hidup seperti ini!” balas Mama Icha yang tetap kukuh menutupi kondisinya agar Anya tetap bersamanya.


“Tapi, Ma …! Axel beneran gak sanggup!” Axel mengusap wajahnya dengan kasar sambil mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan.


“Cuma tiga hari, Axel! Gak lama, kan?”


“Itu lama, Mama! Axel nyerah, Mama!” tutur Axel yang benar-benar tidak sanggup lagi untuk melihat kebersamaan Anya dengan Dokter Firman.


“Jangan, nak! Mama mohon! Bertahan sebentar saja. Toh nantinya kamu juga akan ikut ke rumah Anya bukan untuk mencari data mengenai Mamanya Anya?” balas Mama Icha yang tidak mau jika nantinya Anya justru merasa kecewa setelah mengetahui kepura-puraannya.


Axel kini hanya menghela nafasnya panjang. Sedangkan Mama Icha yang baru kali ini melihat putranya kelimpungan hanya karena seorang perempuan pun langsung memesankan minuman dingin untuk Axel.


Setelah Anya selesai belanja dengan Dokter Firman, mereka berdua langsung menuju ke café dan memesan jus alpukat. Anya sendiri sengaja memanas-manasi Axel dengan terus mengobrol dengan Dokter Firman dan memperlihatkan jika mereka berdua sangat cocok.


Sedangkan Axel terus saja menahan dirinya karena ia masih harus patuh dengan mamanya. Namun, lama kelamaan Axel juga tidak mampu untuk menahannya.


“Anya!” panggil Axel yang mencoba mengalihkan obrolan Anya dengan Dokter Firman.


“Hemm!” balas Anya singkat tanpa memandang sedikit pun ke arah Axel.


“Emm, aku butuh memeriksa beberapa berkas milik Mama Divya untuk mencari tahu tentang kecelakaan yang dialaminya. Kemungkinan besar ada beberapa orang yang pernah terlibat masalah dengannya!” tutur Axel.


“Tapi, Mama tidak pernah tidak pernah punya masalah, Bang!” sanggah Anya yang paham persis siapa saja teman-teman mamanya.

__ADS_1


“Lalu, apa kamu tahu alasan Hellencia sampai rela membuat mama Divya kecelakaan dan sengaja membunuh Mama Divya di tempat? Aku yakin, ada seseorang di masa lampau yang memiliki dendam dengan Mama Divya, Anya!” tegas Axel membuat Anya terdiam sesaat.


Kali ini, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Axel. Sejak mamanya meninggal dunia, teman-teman sosialita Mama Anya sama sekali tidak ada yang menemuinya. Hanya waktu pemakaman saja mereka datang, dan selepas itu tidak ada yang menampakkan batang hidungnya sama sekali.


Bahkan, sahabat mamanya juga tampak enggan menemuinya dan menolongnya saat keadaan Anya sedang genting. Hingga akhirnya, Anya kehilangan bisnis milik papanya dan juga rumah besar milik keluarganya.


Anya menghela nafasnya panjang. “Aku memang tidak pernah berfikiran sampai di situ!” balas Anya sambil menelan ludahnya kasar.


Kenangan kesedihan atas kematian mamanya kembali harus ia ingat dan seperti menelan pil paling pahit seumur hidupnya.


“Apa kau mengingat siapa saja teman dekat mamamu?” tanya Axel kemudian.


“Yah, yang paling dekat ada sekitar 3 orang. Ada tante Sonia, tante Putri, dan satu lagi tante Lidia!”


“Oke, bagaimana kalau kita segera pulang agar masalah ini cepat terleraikan?” tawar Dokter Firman. “Setidaknya, jika masalah cepat selesai, Anya bisa fokus untuk membuka hatinya untukku!” lanjutnya lagi membuat tangan Axel kembali mengepal di bawah meja.


“Maaf, Mas Firman! Anya merem sebentar gak papa kan? Kepala Anya sakti banget. Rasanya kek mau pecah!” tutur Anya sambil memijat kepalanya.


“Iya, gak papa! Agak direndahin lagi kursi mobilnya biar enak posisinya!” balas Dokter Firman yang kemudian membantu men-setting jok yang diduduki Anya.


Kebetulan mobil Axel terparkir di depan mobil Dokter Firman dan ia melihat posisi Dokter Firman yang tampak seperti mencium Anya, padahal tidak.


“Argh, Ma!” Axel memukul stir mobilnya.


“Lihat itu! Aku bener-bener gak rela Anya disentuh sama orang lain! Apalagi sampai berciuman seperti itu!” gerutu Axel yang kemudian turun dari mobilnya dan langsung berjalan ke mobil Dokter Firman.


Axel pun langsung mengetuk kaca pintu mobil Dokter Firman dan membuat Dokter Firman dan juga Anya menoleh ke asal suara. Kemudian, Dokter Firman membuka kaca mobil dan bertanya kepada Axel, “Ada apa?”

__ADS_1


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Axel sambil menatap tajam ke araah Anya.


“Aku hanya mengubah posisi duduk Anya. Emangnya kenapa?” tanya Dokter Firman balik.


“Kepalaku sedikit sakit dan aku memang ingin memejamkan mata sekejap saja!” timpal Anya membuat Axel tengsin karena sudah salah sangka.


“Oooh, jaga Anya baik-baik ya! Aku tidak mau terjadi dengannya sedikit pun!” ucap Axel yang kemudian kembali menuju mobilnya.


Dan Anya kini menghela nafasnya panjang sambil memandang ke arah Axel yang menuju ke mobilnya.


‘See, dia benar-benar memberi kesempatan kepada Dokter Firman untuk mendekatiku. Meski aku tahu, perhatiannya masih sangat besar untukku.”


‘Tapi, tetap saja ia menganggap aku sebagai sebuah barang biasa yang boleh dipinjamkan sesukanya! Huft, dasar menyebalkan!’ gerutu Anya dalam hati.


Ia pun memejamkan matanya saat Dokter Firman mulai menjalankan mobilnya. Selama perjalanan, Dokter Firman sesekali memandangi wajah Anya yang matanya terpejam. Cantik dan sangat menawan, tapi ada guratan kekesalan yang tersirat di wajah Anya kali ini.


‘Emm, apa Anya sungguh-sungguh ingin membuka hatinya untukku?’ gumam Dokter Firman dalam hati.


‘Awalnya, dia tampak acuh tidak merespon dengan baik saat aku menyatakan perasaanku kepadanya. Tetapi, kenapa saat Axel datang mendekat, ia tiba-tiba memegang lenganku dan menyatakan jika ia mau mencoba membuka hati untukku?’ gumam Dokter Firman.


‘Aneh! Aku yakin, Anya sebenarnya tidak sedikit tertekan untuk hal ini! Buktinya, dia sampai sakit kepala dan memilih untuk memejamkan matanya saat perjalanan pulang.’


‘Seharusnya, jika ia memang berniat untuk membuka hati untukku, ia pasti lebih memilih untuk mengobrol dan menghabiskan waktu denganku. Terlebih waktu pendekatan ini sangat singkat!’ batin Dokter Firman yang tentunya sangat paham dengan sikap Anya kali ini. Sebab, ia sendiri sudah banyak menghadapi pasien yang sakit akibat Psikisnya yang kurang baik.


‘Okey, kamu harus tenang, Firman! Kita lihat dulu bagaimana sikap Anya nanti! Jika dia memang berusaha dekat denganmu jika di depan Axel saja, sudah pasti Anya hanya ingin membuat Axel merasa cemburu. Dan itu artinya, Anya sudah sangat mencintai Axel daripada kamu!’ gumam Dokter Firman yang bermonolog dengan dirinya sendiri.


 

__ADS_1


__ADS_2