
Anya duduk termenung di balkon kamarnya sambil memandang ke arah langit dengan tatapan kosong. Axel yang kini mulai menyusun strategi dengan Papa Richie dan juga tim intel mulai resah meninggalkan Anya di kamar sendirian. Kebetulan Mama Icha saat ini tengah mengecek hasil pekerjaan Mbok Tumpi.
“Kali ini, aku tidak ingin terlibat dalam misi dan hanya ingin menemani Anya di kamar saat Hellencia pulang ke Mansion utama. Papa tahu kan? Anya masih sangat shock dengan perlakuan Hellencia terhadapnya. Bahkan ia tadi berusaha sekuat tenaga untuk melakukan panggilan video dengan Hellen agar dia mau menandatangani gugatan cerai.”
Penuturan dari Axel kali ini membuat papanya menghela nafas panjang. “Tidak bisa, Axel! Kita harus turun semua menghadapi Hellencia dengan Jacqueline! Anya biar dijaga sama Mama!” balas Papa Richie.
“Tapi, Pa …”
“Ucapan Tuan Richie memang benar adanya. Nanti dari tim intel yang perempuan juga akan menyamar sebagai Nona Anya untuk mengelabui mereka. Kali ini, cukup Nona Anya dan Nyonya Icha yang tidak keluar dari kamar!” jelas Malvin yang kemudian memanggil tim intel perempuan yang sebelumnya sudah didandani mirip dengan Anya.
“Ika!” panggil Malvin dan anggotanya yang bernama Ika pun langsung datang memenuhi panggilan atasannya.
“Siap, Pak Malvin!” Ika yang datang menghadap Malvin kini sudah recreate make up menyerupai Anya. Bahkan, rambutnya juga ditata persis dengan rambut Anya yang bergelombang dan diikat ke atas seperti ekor kuda.
“Mohon maaf Tuan Richie dan Tuan Axel, jika sebelumnya kami tidak meminta izin terlebih dahulu mengenai hal ini!” ungkap Malvin yang memang bergegas menyusun rencana ini.
“Tidak masalah, Pak Malvin! Kami berdua akan mengikuti arahan!” balas Axel.
Akhirnya, mereka mulai berpencar untuk mempersiapkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan Axel menyempatkan dirinya untuk melihat keadaan Anya di kamar karena kemungkinan Hellencia akan tiba di Mansion Utama sekitar 30 menit lagi.
Axel pun masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Anya duduk termenung di balkon kamar. Ada perasaan tidak tega melihat istrinya termenung sedih dan Axel langsung mendekatinya. Diciumnya pipi istrinya dengan sangat mesra dan kemudian tangannya melingkar memeluk Anya dengan hangat.
“Anya jijik sama Hellencia, Bang!” ucap Anya saat tangan Axel mengusap kepalanya dengan lembut.
“Berdoalah agar hari ini juga masalah kita selesai, sayang! Penyambutan Hellencia sudah dipersiapkan dengan baik!” balas Axel sambil mengecup ubun-ubun kepala Anya.
“Kau tidak perlu keluar untuk menyambut Hellencia, sayang! Intel Ika sudah recreate make up menyerupai kamu!” jelas Axel.
“Benarkah?” tanya Anya dan langsung diangguki oleh Axel yang kemudian mengeluarkan ponselnya.
Axel pun kemudian memperlihatkan rekaman CCTV ruang tamu mansion dimana Intel Ika yang dibuat mirip dengan Anya sudah duduk di sana.
“Ini keren, Bang! Dia benar-benar sangat mirip denganku!” tukas Anya.
__ADS_1
“Masuklah ke kamar dan kamu bisa pantau keadaan di ruang tamu dari sini. Ponselnya Abang tinggal!” Axel pun langsung menggendong tubuh Anya ala bridal style dan membawa istrinya ke kamar.
“Mau di atas ranjang atau di sofa?” tawar Axel.
“Di sofa aja. Di atas ranjangnya nanti sama abang!” balas Anya membuat Axel terkekeh pelan.
“Siap, Cinta!” Axel pun mendudukkan Anya di sofa dan memandangi istrinya secara intens.
“Aku sangat mencintaimu, Anya! Berdoalah untukku agar masalah ini cepat selesai!”
Tangan Anya pun tergerak mengusap rahang suaminya lembut. “Anya doakan semoga sukses dalam rencana kali ini, ya, Bang! Berjuanglah demi kita bertiga!” ucap Anya sambil mengusap perutnya.
Cup! Ciuman Anya mendarat sekilas di bibir Axel.
“Chayoo!” ucapnya lagi menyemangati Axel.
Senyum Axel pun merekah sempurna dan ia pun mendekatkan bibirnya ke bibir Anya untuk membalas ciuman Anya tadi. Sayangnya, belum sempat bibirnya mendarat sempurna, pintu kamar Anya terbuka dan tampak Mama Icha sudah berdiri di pintu.
“Ehmm! Axel!” panggil Mama Icha sambil menutup pintu kamar Anya dan masuk ke dalam.
“Nanti kita lanjutkan lagi, ya, Cinta!” ucap Axel sambil mengusap kepala Anya. “Titip Anya, ya, Ma!”
“Berees pokoknya! Mama pasti akan jaga Anya baik-baik!” balas Mama Icha.
Axel pun bergegas keluar dari kamar Anya dan menuruni anak tangga karena suara mobil Tian sudah terdengar memasuki gerbang. Kini tinggal Anya dengan Mama Icha yang duduk berdampingan dan sama-sama fokus menatap ke layar ponsel Axel yang terhubung dengan CCTV di ruang tamu.
“Sayang, coba kita sambungkan ke TV aja, ya!” usul Mama Icha.
“Iya, Ma! Anya sambungkan dulu!”
🎉🎉🎉
Di sisi lain, Jacqueline yang baru selesai membersihkan Gudang pun langsung membersihkan dirinya untuk ikut menyambut kedatangan Hellencia. Kali ini, Maid Enci terus mendampingi Jacqueline sesuai dengan yang direncanakan.
__ADS_1
“Maid Enci! Kok di sini?” tanya Mbok Tumpi yang baru saja masuk ke dalam kamarnya selepas membersihkan dirinya di kamar mandi khusus Maid.
Maid Enci yang duduk di tepi ranjang Mbok Tumpi pun langsung berdiri dan meminta maaf. “Maaf Mbok, tadi saya disuruh Maid Yira untuk memanggil Mbok!” jawab Enci.
“Tunggulah di luar! Aku akan mengganti bajuku sebentar. Setidaknya aku harus rapi untuk menyambut istri pertama dari Tuan Axel.” Mbok Tumpi sengaja mengusir Maid Enci dan tentunya meninggalkan kecurigaan yang besar.
“Baik, Mbok! Enci tunggu di luar yaa!” Enci pun langsung keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Mbok Tumpi. Kemudian, ia menajamkan pendengarannya dengan menempelkan telinganya di pintu kamar Mbok Tumpi.
“Huft! Untung saja aku bisa meminta Enci untuk menunggu di luar. Kali ini, aku harus bisa membunuh Hellencia dan juga Anya sekaligus!” tutur Mbok Tumpi sambil membuka pintu lemari dan kemudian menutupnya.
Ucapan Mbok Tumpi barusan membuat Enci berjaga-jaga dan segera melaporkan kepada tim intel, apa yang baru saja ia dengar barusan. Tak lama kemudian, Mbok Tumpi pun keluar dari kamar dan meminta Ika untuk berjalan lebih dulu di depannya.
“Maid Enci, aku sedikit gugup bertemu dengan istri pertama Tuan Axel! Bisakah kau berjalan lebih dahulu di depanku?” tanya Mbok Tumpi.
“Aduh, maaf Mbok! Enci kebelet nih!” balas Enci yang langsung berbalik dan berlari menuju ke kamar mandi.
Sedangkan Maid Yira tiba-tiba datang dari arah pantry dan memanggil Mbok Tumpi untuk mengantarkan minuman ke ruang tamu.
“Mbok Tumpi!” panggil Maid Yira sambil melambaikan tangannya. “Sini, sebentar!”
“Nona Muda Anya minta untuk didampingi Mbok Tumpi di ruang tamu!” lanjut Maid Yira.
Perintah Maid Yira barusan membuat Mbok Tumpi melangkahkan kakinya dengan semangat ke arahnya. ‘Kesempatan yang sangat baik!’ gumam Mbok Tumpi dalam hati.
‘Jika seperti ini, aku akan dengan mudah menghabisi nyawa mereka berdua!’ batin Jacqueline.
Sedangkan Maid Enci yang diam-diam mengintip Gerakan Mbok Tumpi dari balik dinding kamar mandi pun langsung membeliakkan matanya saat melihat ada sebuah benda yang tersimpan di saku pakaian yang dikenakan oleh Mbok Tumpi.
‘Gawat! Ternyata Mbok Tumpi menyimpan pistol revolver yang bisa menembus dan meledakkan objeknya!’ batin Enci saat melihat ujungnya yang tanpa sengaja keluar dari sakunya.
🎉🎉🎉
Sambil menunggu cerita selanjutnya, mampir yuk ke Novel aku yang lain yuk.
__ADS_1