
Sesampainya di rumah, Anya langsung membereskan belanjanya bersama Dokter Firman. Kondisi rumah Anya kini sudah sangat bersih. Tentunya dengan kerja keras dari para asisten yang datang dari Mansion Utama.
Tidak hanya itu, berbagai menu makanan juga sudah tersaji di atas meja makan untuk makan malam. Sore ini, para maid juga sudah pulang kecuali Maid Yira yang memang diminta Mama Icha untuk tetap stay di sana.
“Ma, istirahat dulu, yaa! Mama kan masih belum pulih!” ajak Anya yang menggandeng Mama Icha ke kamar papa mamanya.
“Ini kamar siapa?” tanya Mama Icha yang menahan langkahnya untuk tidak masuk ke dalam.
“Kamar papa mama Anya! Cuma ini satu satunya kamar yang paling besar, Ma!” jawab Anya.
“Mama, tidur di kamar Anya aja yaa. Pasti yang ada disitu kan?” balas Mama Icha sambil menunjuk ke pintu kamar Anya.
“Tapi, Ma! Kamar itu gak ada kamar mandinya! Di sini aja gak papa, Ma! Cuma ada barang papa sama mama aja kok.”
“Mereka kan belum pernah tidur di dalam kamar itu sama sekali!” timpal Anya dan Mama Icha langsung menggelengkan kepalanya.
“Bukan begitu, Sayang. Axel datang karena ingin meminta izin memeriksa barang milik mama kamu, kan? Jadi, lebih baik kamu yang nanti tidur di sini, dan Mama tidur di kamar kamu. Mama tidak masalah jika kamar mandinya harus di luar kamar!” tutur Mama Icha.
Mau tidak mau, Anya pun mengantarkan Mama Icha menuju ke kamarnya. Setelah itu, ia meminta Dokter Firman untuk memeriksa Mama Icha. Sedangkan, Anya menuju ke kamar untuk segera membersihkan diri.
Axel yang melihat Dokter Firman sudah masuk untuk memeriksa mamanya pun memiliki kesempatan untuk mendekati Anya. Diam-diam ia mengikuti Anya masuk ke dalam kamarnya dan tentunya membuat Anya langsung berbalik dengan tatapan tajam ke arah Axel.
“Abang mau apa?” tanya Anya dengan ketus.
Sedangkan Axel hanya diam dan terus mengikis jaraknya dengan Anya sambil menutup pintu kamar Anya dan menguncinya.
“Abang gak sopan!” balas Anya sambil memalingkan wajahnya dari Axel.
“Aku sangat cemburu, Anya!” bisik Axel yang seketika membuat tubuh Anya meremang.
“Aku gak sanggup melihatmu dekat dengan pria lain, apalagi sampai mencoba untuk membuka hatimu untuknya!” bisik Axel lagi dan kali ini Anya mencoba mendorong tubuh Axel.
__ADS_1
“Gak usah ngomongin masalah cemburu, Bang! Abang pikir Anya ini apaan?”
“Anya bingung deh sama Abang! Bisa-bisanya abang bilang cemburu di saat Abang sendiri memperbolehkan orang lain buat deketin Anya!”
“Dasar aneh!” Anya langsung menghindar dari Axel dan Axel terus saja mengikuti langkah Anya.
“Abang minta maaf, sayang! Abang salah!” ungkap Axel yang memberanikan dirinya memeluk Anya dari belakang.
Suasana di kamar kini hening seketika. Pelukan Axel kali ini terasa begitu hangat dan tidak bisa dibohongi jika Anya sangat merindukan hal ini. Masalah yang terus saja berdatangan memang membuatnya butuh seseorang yang bisa menjadi sandaran untuknya.
Sayangnya, keputusan Mama Icha dan juga Axel yang memperbolehkan Dokter Firman untuk mendekatinya membuat Anya merasa sangat kecewa dan menganggap cinta dan kasih sayang Axel itu palsu.
“Anya bukan barang yang bisa dipinjamkan ke orang lain, Bang! Anya ini perempuan sebatang kara yang masih punya hati dan perasaan!” ucap Anya lirih memecah keheningan di kamar.
“Anya bukan sebatang kara, Sayang! Abang akan terus ada di samping Anya sampai kapan pun! Ingat, ada calon bayi kita juga yang tumbuh di dalam perut ini!” balas Axel sambil mengusap perut Anya.
Tetapi, Anya justru menepis tangan Axel dan melepaskan dirinya dari pelukan Axel.
“Trus, apa maksud Abang memperbolehkan Dokter Firman untuk mendekati aku?” suara Anya kembali terdengar sinis.
“Atau abang memang menganggap Anya sebagai adik tiri Abang karena status kita sekarang bukan apa-apa lagi?”
Axel mengusap wajahnya kasar. Pertanyaan Anya kali ini membuatnya sangat bimbang harus menjawab apa. Ia sendiri juga tidak menginginkan keadaan ini. Namun, ia juga belum bisa menjelaskan secara gamblang kepada Anya apa alasannya.
“Kenapa Abang diam? Abang itu memang gak pernah cinta sama Anya!” cerocos Anya lagi.
Axel menghela nafasnya panjang. Kini ia harus berfikir cepat untuk meleraikan masalah ini.
“Abang benar-benar sangat mencintaimu, Sayang. Abang tulus dan tidak bisa kehilanganmu. Kondisi Hellen memang semakin kritis dan abang belum bisa menceraikannya karena ini pasti dianggap tidak fair, sayang!”
“Pengacara akan segera mengurusnya jika Hellencia sudah pulih. Dan Abang tidak pernah memperbolehkan Dokter Firman untuk mendekatimu sedikit pun, Anya Sayang! Percayalah, karena hal ini sangat menyiksa!” jelas Axel.
__ADS_1
“Anya bukan perebut suami orang, Bang! Anya gak pernah menuntut perceraian Abang dengan Miss Hellen!” balas Anya. “Anya cuma butuh bukti nyata, mana sikap abang yang memang cinta dan sayang sama Anya?”
Lagi-lagi Axel terdiam cukup lama dan membuat Anya semakin geram.
“Udah lah, Bang! Anya mau mandi dulu! Selepas mandi, Anya akan bantu abang mengecek berkas dan barang peninggalan Mama!”
Anya pun langsung mengambil handuk yang ada di dalam lemari dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Axel sendiri memilih untuk menenangkan dirinya dan keluar dari kamar Anya. Namun, saat Axel keluar dari kamar, ia sangat terkejut melihat Dokter Firman sudah berdiri di depan kamar.
“Aku sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas, Axel!” ucap Dokter Firman membuat raut wajah Axel langsung pucat.
“Maaf, harusnya aku tidak gegabah, Dokter! Aku benar-benar tidak sanggup melihat Anya jalan bersamamu!” ungkap Axel tanpa ia tutup-tutupi.
“Tidak masalah, Axel! Kali ini, aku mengaku kalah. Anya tidak akan pernah membuka hatinya untukku! Ucapannya tadi saat di supermarket, tidak lain adalah untuk membuatmu merasa cemburu.”
“Aku akan tetap menjaga rahasia Nyonya Icha dan aku juga akan mengubur perasaan cintaku untuk Anya! Aku pulang dulu, ya. Selamat berjuang untuk mengobati luka yang ada di hati Anya karena egoku.”
“Oh, iya. Titip surat ini untuk Anya. Aku memang sudah mempersiapkannya kemarin jika nantinya Anya akan menolak perasaanku. Dan, satu lagi, jangan lupa untuk membawa Anya pergi ke puncak di akhir pekan nanti. Dia sangat menginginkan makan strawberry yang baru saja di petik!” ucap Dokter Firman panjang lebar.
Axel pun langsung memeluk Dokter Firman dengan sangat erat. Kini, ia mulai bisa bernafas lega karena tidak perlu lagi melihat Anya berdekatan dengan pria lain selain dirinya.
“Terima kasih banyak, Dokter Firman. Kau benar-benar saingan yang kini justru menjadi sahabatku!” ungkap Axel yang sangat terharu dengan kebesaran hati Dokter Firman.
“Sama-sama, Axel! Kini, aku juga sangat senang memiliki sahabat sepertimu! Kalau begitu, aku permisi dulu yaa!”
“Jangan lupa sampaikan salamku kepada Anya!” Dokter Firman melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Axel sebelum ia pergi meninggalkan rumah Anya.
“Akan aku sampaikan salam darimu! Aku doakan kau juga akan segera mendapatkan wanita lain yang pantas bersanding denganmu!” balas Axel.
Dokter Firman pun menjawabnya dengan anggukan kepalanya. Meski berat, namun langkahnya terasa sangat ringan. Kini, ia tidak lagi menyakiti perasaan orang lain dengan sikap egonya.
Tangannya pun merogoh ke saku celananya dan mengambil kotak cincin yang sudah ia siapkan jika Anya memang bisa membuka hati untuknya.
__ADS_1
“Ternyata, bukan kotak ini yang aku berikan kepada Anya, melainkan surat kekalahanku yang merelakan Anya hidup bahagia dengan pria yang ia cintai.”